Hina Kelana

Hina Kelana
Bab 31



Yilin berkata, "Tian Boguang berkata, 'Ilmu silat hidung kerbau ini lumayan. Sabetan golokku tidak terhitung pelan, tapi tak nyana dia bisa mengkerut tiga cun, sehingga sabetan golok itu tidak membunuh dia. Ternyata dalam ilmu silat Taishan Pai ada keahlian seperti itu. Saudara Linghu, kalau si hidung kerbau itu tidak mati, di kemudian hari kau akan mengalami banyak masalah. Barusan ini aku bermaksud untuk membunuh dia, supaya kau tak kena masalah, sayang ia tak mati kena sabetan golok itu' ".


"Linghu Shixiong tertawa, 'Seumur hidupku, tiap hari aku kena masalah, tak usah urusi dia, kita minum-minum saja. Kakak Tian, kalau kau menyabet seperti itu ke dadaku, karena ilmu silatku tidak sebagus Paman Tiansong, aku pasti tak bisa menghindar'. Tian Boguang tersenyum, 'Barusan ini ketika aku bertarung denganmu, aku memang sengaja menahan diri untuk membalas kebaikanmu tidak membunuh aku di gua itu kemarin malam'. Ketika mendengarnya, aku merasa sangat heran, apakah kemarin ketika mereka berdua bertarung, Linghu Shixiong berada diatas angin dan lalu mengampuninya?"


Raut wajah para hadirin ketika mendengar hal ini menunjukkan rasa tak setuju, mereka semua berpendapat bahwa Linghu Chong seharusnya tak bersahabat dengan maling cabul itu.


Yilin meneruskan ceritanya, "Linghu Shixiong berkata, 'Kemarin malam di gua itu, aku sudah berusaha sebisaku, bagaimana aku bisa berani mengatakan bahwa akulah yang mengampunimu?' Tian Boguang tertawa terbahak-bahak dan berkata, 'Waktu itu kau dan biksuni kecil ini sembunyi di dalam gua, biksuni kecil ini bersuara sehingga aku bisa menemukan kalian, tapi kau menahan napas, aku sama sekali tak mengira bahwa ada orang lain yang menunggu di sampingnya. Aku menarik biksuni kecil ini, hendak membuatnya melanggar semua pantangannya. Kau hanya tinggal menunggu sejenak saja, menunggu saat jiwaku terbang di langit, lalu menikam, pasti kau bisa mencabut nyawaku. Saudara Linghu, kau bukan anak berumur sebelas atau dua belas tahun, masa kau tak tahu apa yang terjadi saat itu? Aku tahu kau adalah seorang lelaki sejati, tak mau memakai cara-cara licik semacam itu, oleh karena itu, hehehe, kau cuma menusukku bahuku pelan-pelan' ".


"Linghu Shixiong berkata, 'Kalau aku menunggu sejenak, biksuni kecil ini bukankah sudah kau lecehkan? Aku berkata padamu, walaupun setiap melihat biksuni aku lantas marah, tapi Hengshan Pai adalah salah satu dari Wuyue Jianpai. Kau menganiaya salah satu anggotanya, aku tak bisa membiarkanmu melakukan hal ini'. Tian Boguang tersenyum, 'Ternyata begitu, tapi kalau tikamanmu lebih maju tiga cun ke depan saja, lenganku akan cacat, kenapa setelah kau menusukku, kau malah menarik pulang pedangmu?' Linghu Shixiong berkata, 'Aku adalah murid Huashan, bagaimana aku bisa menusuk orang dari belakang? Kau menikam bahuku, aku juga balas menikam bahumu, kita bertarung secara terang-terangan dan adil. Tidak ada yang mengambil kesempatan dalam kesempitan'. Tian Boguang tertawa terbahak-bahak, 'Baik, aku senang punya teman sepertimu, ayo minum secawan lagi' ".


"Linghu Shixiong berkata, 'Ilmu silatku kalah darimu, tapi aku lebih kuat minum darimu'. Tian Boguang berkata, 'Aku kalah kuat minum darimu? Belum tentu, mari kita bertanding. Ayo sekarang kita minum sepuluh cawan besar'. Linghu Shixiong mengerutkan dahinya, 'Aku kira kau adalah orang gagah yang tak mau mengambil kesempatan dalam kesempitan, oleh karena itu tadinya aku ingin bertaruh minum arak denganmu, tapi ternyata aku salah besar, aku jadi sangat kecewa' ".


"Tian Boguang memandangnya sambil memicingkan mata, ia bertanya, 'Bagaimana caranya aku mengambil kesempatan dalam kesempitan?' Linghu Shixiong berkata, 'Kau jelas-jelas tahu bahwa aku benci biksuni, begitu lihat biksuni, badanku tidak enak, tak punya selera. Bagaimana aku bisa bertaruh minum arak?' Tian Boguang tertawa terbahak-bahak, 'Saudara Linghu, aku tahu kau mencoba seribu satu macam cara untuk menolong biksuni kecil ini, tapi aku Tian Boguang mencintai paras cantik lebih dari hidupku sendiri, sejak melihat biksuni kecil yang menawan ini, biar bagaimanapun juga aku tak bisa melepaskannya. Kalau kau mau aku melepaskan dia, hanya ada satu jalan'. Linghu Shixiong berkata, 'Baik, katakanlah. Naik ke gunung golok, turun ke kuali minyak mendidih, aku Linghu Chong menerima takdirku, kalau aku ragu aku bukan terhitung orang gagah' ".


"Tian Boguang mengisi dua mangkuk arak sampai penuh sambil menyengir, 'Kau minum dulu secawan arak ini, nanti aku beritahu'. Linghu Shixiong menenggak secawan arak itu sampai habis dalam satu tegukan, lalu berkata, 'Mari minum!' Tian Boguang juga minum secawan arak, lalu tersenyum, 'Saudara Linghu, aku sudah menganggapmu sebagai teman, menurut peraturan dunia persilatan, istri teman tak boleh dipermainkan. Kalau kau berjanji akan menikahi biksuni kecil ini......biksuni kecil ini......' "


Berbicara sampai disini, kedua pipinya menjadi merah padam seperti api, matanya memandang ke bawah, suaranya makin lama makin lirih, sehingga akhirnya tak terdengar lagi.


Dingyi mengebrak meja, "Omong kosong! Makin lama bicaranya makin kotor. Apa lagi setelah ini?"


" 'Bah!' Linghu Shixiong berkata, 'Kau mau membuat aku bernasib sial seumur hidupku? Jangan sebut-sebut hal ini lagi'. Tian Boguang lagi-lagi bicara tak keruan, misalnya tentang setelah rambut tumbuh kembali, bukan lagi biksuni, dan masih banyak lagi omongan gila yang tak bisa disampaikan. Aku menutupi kupingku, tak mau mendengarkan dia. Linghu Shixiong berkata, 'Tutup mulut! Kalau kau terus membuat lelucon tolol seperti ini, Linghu Chong akan langsung jadi sinting. Bagaimana aku bisa bertaruh minum arak denganmu? Kalau kau tak membebaskan dia, ayo bertarung habis-habisan'. Tian Boguang tersenyum, 'Mau berkelahi? Kau tak bisa melawan aku!' Linghu Shixiong berkata, 'Kalau bertarung sambil berdiri, aku bukan tandinganmu. Kalau bertarung sambil duduk, kau bukan tandinganku' ".


Para hadirin sebelumnya telah mendengar penuturan Yilin tentang bagaimana Tian Boguang terus duduk di kursi tanpa berdiri, tapi bisa menangkis dua sampai tiga puluh jurus yang cepat dan ganas dari Pendeta Tiansong, seorang jago kelas wahid. Tentunya ia mahir berkelahi sambil duduk. Rupanya ketika Linghu Chong berkata bahwa "Kalau bertarung sambil berdiri, aku bukan tandinganmu. Kalau bertarung sambil duduk, kau bukan tandinganku", ia sedang berusaha untuk membuat Tian Boguang gusar. He Sanqi menganguk, "Kalau bertemu maling cabul seperti itu, kita harus membuatnya marah terlebih dahulu, setelah itu baru turun tangan bila ada kesempatan. Bisa dibilang bahwa ini adalah rencana yang cemerlang".


Yilin meneruskan ceritanya, "Ketika Tian Boguang mendengarnya, ia tidak marah. Ia cuma menyengir dan berkata, 'Saudara Linghu, Tian Boguang mengagumi sikap ksatria dan keberanianmu, tapi tidak mengagumi ilmu silatmu'. Linghu Shixiong berkata, 'Linghu Chong mengagumi golok kilatmu ketika kau bertarung sambil berdiri, tapi tidak mengagumi ilmu golokmu ketika kau bertarung sambil duduk'. Tian Boguang berkata, 'Ada sesuatu yang tidak kau ketahui, ketika aku kecil, kakiku sakit, selama dua tahun aku terus duduk sambil berlatih ilmu golok, bertarung sambil duduk adalah keahlianku. Barusan ini ketika aku dan hidung......hidung kerbau dari Taishan Pai itu bertarung, aku bukannya menyepelekan dia, tapi aku memang sudah biasa memainkan golokku sambil duduk, maka aku malas berdiri. Saudara Linghu, dalam kungfu seperti ini, kau tak bisa menandingiku'. Linghu Chong berkata, 'Kakak Tian, ada sesuatu yang tidak kau ketahui. Waktu kecil karena kakimu sakit, kau berlatih ilmu golok sambil duduk selama dua tahun, walaupun cukup lama, tapi cuma dua tahun. Kungfuku yang lain tak bisa menandingimu, tapi ilmu pedang sambil dudukku ini lebih hebat darimu. Tiap hari aku berlatih ilmu pedang sambil duduk' ".


Ketika para hadirin mendengar hal ini, mereka memandang ke arah Lao Denuo dan berpikir, "Ternyata di antara ilmu silat Huashan Pai terdapat cara berlatih pedang sambil duduk". Lao Denuo menggeleng, "Da shige cuma membohongi dia, di perguruan kami tidak ada kungfu semacam itu".


Yilin berkata, "Di wajah Tian Boguang muncul rasa heran, katanya, 'Apa benar? Aku ini memang bebal dan tak tahu apa-apa, aku ingin lihat ilmu pedang Huashan Pai yang bernama duduk......duduk......apa namanya?' Linghu Shixiong tersenyum, 'Ilmu pedang ini bukan diajarkan oleh guruku, tapi merupakan ciptaanku sendiri'. Begitu mendengarnya, air muka Tian Boguang langsung berubah, katanya, 'Rupanya begitu. Saudara Linghu orang yang berbakat, membuatku sangat kagum' ".


Semua orang tahu kenapa Tian Boguang begitu tergugah. Di kalangan pesilat, menciptakan ilmu pukulan atau pedang baru lebih mudah dikatakan daripada dilakukan, kalau ilmu silat sudah tinggi, dan juga memiliki kecerdasan dan pengetahuan luas, baru bisa menciptakan jurus-jurus baru. Perguruan yang besar dan terkenal seperti Huashan Pai sudah berdiri selama ratusan tahun, setiap jurus ilmu silatnya sudah berkali-kali diuji dan disempurnakan. Merubah salah satu jurusnya saja sangat sukar, apalagi menciptakan ilmu pedang baru. Lao Denuo berpikir, "Rupanya diam-diam da shige telah menciptakan ilmu pedang baru, kenapa dia tidak memberitahu shifu?"


Terdengar Yilin meneruskan ceritanya, "Saat itu Linghu Shixiong tertawa terpingkal-pingkal, katanya, "Ilmu pedang ini baunya minta ampun. Apanya yang mengagumkan?' Tian Boguang sangat terkejut, ia bertanya, 'Kenapa baunya minta ampun?' Aku juga merasa sangat heran, walaupun ilmu pedang itu tidak cemerlang, tapi kenapa bau? Linghu Shixiong berkata, 'Aku tak bisa menyembunyikannya dari Kakak Tian, setiap hari pagi-pagi aku pergi ke kakus, ketika duduk di kakus, dimana-mana banyak lalat berterbangan, sungguh menjijikkan, maka aku mengambil pedang dan menusuk lalat-lalat itu. Mula-mula aku tak bisa menusuknya dengan jitu, tapi lama kelamaan, karena sering berlatih aku bisa melakukannya dengan sempurna. Setiap kali aku mengayunkan pedang aku bisa menusuk lalat. Sedikit demi sedikit, pikiran dan gerakan pedang menjadi satu, dan dari jurus-jurus menusuk lalat ini aku berhasil menciptakan ilmu pedang baru. Setiap kali aku menggunakan ilmu pedang ini, aku selalu sedang duduk di kakus, bagaimana bisa tidak bau?' "


"Ketika ia berkata begitu, aku tak bisa menahan tawa, Linghu Shixiong ini benar-benar lucu, di kolong langit ini mana ada latihan ilmu pedang seperti itu? Ketika mendengarnya, raut wajah Tian Boguang menjadi gusar, ia berkata dengan marah, 'Saudara Linghu, aku menganggapmu sebagai teman, tapi perkataanmu ini sangat keterlaluan. Kau menyamakan aku Tian Boguang dengan lalat di kakus, benar tidak? Baik, aku mohon petunjuk mengenai ilmumu......ilmumu......' "