Hina Kelana

Hina Kelana
Bab 51



Yilin melihat raut wajahnya tidak senang, maka ia tak berani bicara lagi, ia menuruti perkataannya dan pergi ke sebelah kiri jalan untuk mencari semangka. Setelah berjalan dua li lebih, ia melihat beberapa kebun yang penuh semangka, dari pepohonan ramai terdengar suara tonggeret, namun di segala penjuru tak nampak seorang manusiapun. Ia berpikir, "Linghu Shixiong ingin makan semangka, tapi semangka ini ada yang punya. Bagaimana aku bisa seenaknya mencuri milik orang lain?" Setelah berjalan dengan cepat sejauh sekitar satu li lagi, ia tiba di sebuah bukit tinggi. Ia memandang ke segala penjuru, namun sama sekali tak terlihat ada orang, bahkan rumah atau gubuk petani pun juga tidak terlihat. Ia terpaksa kembali ke kebun semangka, setelah cukup lama ragu-ragu, ia menjulurkan tangan untuk memetik sebuah semangka, namun ia menarik tangannya kembali karena teringat ajaran gurunya yang disampaikan dengan sungguh-sungguh tentang larangan agama. Ia memutuskan bahwa ia tak bisa mencuri milik orang lain dan hendak pergi, tapi di benaknya muncul wajah Linghu Chong yang bibirnya kering. Ia mengertakkan gigi dan menangkupkan kedua telapaknya, lalu diam-diam berdoa, "Bodhisatwa, murid tak berani sengaja mencuri. Sebenarnya ini karena Linghu Shixiong......Linghu Shixiong ingin makan semangka". Ia memikirkan hal itu lagi, dan merasa bahwa lima kata itu, yaitu "Linghu Shixiong ingin makan semangka" bukanlah alasan yang kuat, hatinya menjadi cemas dan air matanya pun bercucuran. Sepasang tangannya memegang sebuah semangka dan mengangkatnya, namun tangkainya langsung putus, ia berkata dalam hati, "Ia menyelamatkan nyawamu, kalau kau harus masuk neraka demi dia, selamanya menderita samsara[6], memangnya kenapa? Kalau seseorang melakukan suatu perbuatan, ia sendiri yang akan menanggung akibatnya. Aku sendiri,Yilin, yang melanggar larangan, tidak ada hubungannya dengan Linghu Shixiong". Ia membawa semangka itu kembali ke tempat Linghu Chong berada.


Linghu Chong tak pernah memperdulikan adat istiadat dan dogma yang umum berlaku di dunia ini, ketika ia mendengar Yilin bermaksud untuk minta sedekah sebuah semangka, ia berpikir bahwa biksuni ini masih muda dan tak mengerti seluk beluk kehidupan manusia, ia sama sekali tak menyangka bahwa demi memetik buah semangka itu, perang telah berkecamuk dalam batin Yilin. Melakukan hal itu adalah sesuatu yang sangat sulit baginya. Ketika ia melihatnya membawa pulang semangka, ia sangat senang dan memuji, "Adik yang baik, nona kecil yang manis".


Ketika Yilin mendengar ia tiba-tiba memanggilnya seperti itu, hatinya terguncang, hampir saja semangka yang dibawanya jatuh ke tanah, ia cepat-cepat membungkusnya dengan bagian depan jubahnya. Linghu Chong tertawa dan berkata, "Kenapa kau begitu gugup seperti ini? Habis mencuri semangka, apa ada orang yang mengejarmu?" Wajah Yilin memerah, "Tidak, tidak ada orang yang mengejarku". Perlahan-lahan, ia duduk di tanah.


Hari itu adalah hari yang cerah, sang mentari telah terbit dari timur, ia dan Linghu Chong duduk di sisi bukit yang terlindung dari sinar matahari, pepohonan di bukit itu nampak hijau dan segar karena telah dicuci oleh hujan, hawa pegunungan yang bersih dan segar bertiup ke wajah mereka.


Yilin menenangkan dirinya sendiri, ia menghunus pedang patah yang tergantung di pinggangnya. Ketika ia memandang ujung pedang yang patah, ia berpikir, "Ilmu silat penjahat Tian Boguang itu sungguh hebat, kalau hari itu Linghu Shixiong tidak mempertaruhkan nyawanya untuk menolong aku, bagaimana saat ini aku bisa tenang-tenang duduk disini?" Ia melirik Linghu Chong dan melihat bahwa rongga matanya cekung, wajahnya sama sekali tak ada rona merahnya, pikirnya, "Demi dia, walaupun aku harus melanggar lebih banyak lagi larangan, aku tak akan menyesal, aku telah mencuri sebuah semangka, memangnya kenapa?" Karena pikiran itu, rasa tak tenang di hatinya yang timbul karena melanggar larangan langsung hilang tanpa bekas, dengan bagian depan jubahnya ia mengelap pedang patah sampai bersih, lalu membelah semangka itu. Aroma harum yang samar-samar pun merebak.


Linghu Chong mencium-cium udara beberapa kali dan berseru, "Semangka bagus!" Ia berkata lagi, "Adik, aku ingat sebuah lelucon. Saat yuanxiao[7] tahun ini, kami para saudara seperguruan minum-minum arak bersama. Lingshan Shimei membuat sebuah teka teki yang ditulis di lentera yang bunyinya begini, 'Di sebelah kiri ada anjing kecil, di sebelah kanan ada si dungu, tebak hurufnya'. Waktu itu yang duduk di sebelah kirinya adalah adik keenam kami Lu Dayou, ia adalah adik seperguruan yang kemarin malam masuk rumah mencariku. Aku duduk di sebelah kanannya". Yilin tersenyum, "Ia membuat teka-teki seperti itu untuk mengolok-olok kau dan Saudara Lu itu". Linghu Chong berkata, "Benar. Teka-teki ini tidak sukar diterka. Dalam namaku Linghu Chong ada huruf 'hu'. Lelucon yang dibuatnya ini adalah lelucon kuno yang dibacanya dari sebuah buku. Kebetulan adik keenam duduk di sisi kirinya, dan aku duduk di sisi kanannya. Kebetulan saat ini di sisiku ada seekor anjing kecil, dan di sisi lainnya ada sebuah semangka besar". Sambil berbicara, ia menunjuk-nunjuk semangka, lalu menunjuk-nunjuk Yilin, mimik lucu muncul di wajahnya[8].


Yilin tersenyum, "Baiklah, kau sembunyi-sembunyi mengataiku seekor anjing kecil". Ia mengiris-iris semangka itu, membuang bijinya dan memberikan seiris padanya. Linghu Chong mengigit semangka itu, rasanya harum dan manis, dengan beberapa gigitan saja ia telah menghabiskannya. Ketika Yilin melihat betapa ia menikmati semangka itu, hatinya amat senang. Ia melihat lagi bahwa karena ia makan semangka sambil berbaring, bagian depan jubahnya basah kena air semangka, maka ia memotong-motong irisan semangka yang kedua menjadi kecil-kecil, lalu memberikan potongan-potongan kecil itu kepadanya sehingga air semangka tak lagi mengotori bajunya. Ia memperhatikan bahwa setiap kali ia mengambil potongan semangka, mau tak mau ia harus menjulurkan lengannya sehingga lukanya terasa sakit. Ia merasa tak tega, maka ia lantas menyuapkan potongan-potongan semangka kecil itu kepadanya.


Linghu Chong telah menghabiskan hampir separuh semangka itu, ketika ia sadar bahwa Yilin sama sekali belum makan sepotong pun. Ia berkata, "Kau makanlah juga". Yilin berkata, "Kau makan dulu sampai kenyang, baru aku makan". Linghu Chong berkata, "Aku sudah kenyang, kau makanlah!"


Sekonyong-konyong Linghu Chong memuji, "Ah, cantik sekali!" Nada suaranya penuh rasa kagum. Yilin merasa sangat rikuh, pikirnya, bagaimana ia bisa tiba-tiba memuji bahwa aku sangat cantik? Ia langsung ingin kabur, namun saat itu ia belum bisa mengambil keputusan, ia hanya merasa sekujur tubuhnya panas dingin, ia begitu malu hingga lehernya pun memerah.


Terdengar Linghu Chong berkata lagi, "Lihat, indah sekali! Apa kau sudah lihat?" Yilin sedikit mengeser tubuhnya, ia melihat Linghu Chong menunjuk ke arah barat, ia memandang ke arah yang sama dan melihat seberkas pelangi di kejauhan. Pelangi itu membentang dari balik pepohonan, tujuh warnanya berselang-seling, sungguh sangat indah. Sekarang ia baru sadar bahwa tadi ketika ia berkata "ah, cantik sekali!", ia sedang berkata tentang pelangi itu. Ia sendirilah yang salah tanggap, mau tak mau ia merasa malu. Namun di dalam rasa malu yang saat ini dirasakannya ada juga sedikit rasa kecewa, sedangkan rasa malu yang dirasakannya sebelumnya bercampur dengan rasa jengah, perasaan bahagia yang disimpan di dalam lubuk hatinya juga tak sama.


Linghu Chong berkata, "Dengar baik-baik, apa yang kau dengar?" Yilin mendengarkan dengan seksama, dari tempat pelangi itu berada sayup-sayup terdengar bunyi air mengalir, ia berkata, "Sepertinya sebuah air terjun".


Linghu Chong berkata, "Benar. Beberapa hari ini turun hujan, di pegunungan ini tentunya muncul air terjun dimana-mana, ayo kita lihat". Yilin berkata, "Kau......kau harus berbaring dengan tenang dulu". Linghu Chong berkata, "Tempat ini cuma bukit berbatu yang tandus, sama sekali tak ada pemandangannya yang indah, lebih baik kita pergi melihat air terjun itu".


Yilin tak tega menentang keinginannya, ia memapahnya supaya bisa berdiri, seberkas rona merah muncul di wajahnya untuk sekejap, pikirnya, "Aku sudah dua kali membopong dia, kali pertama ketika aku mengira dia sudah mati, kali kedua ketika melarikan diri dari bahaya. Kali ini walaupun tubuhnya terluka parah, namun ia masih sadar, bagaimana aku bisa membopongnya? Ia ingin pergi ke air terjun di sana, mungkinkah......mungkinkah ia mau aku......"


Ketika ia sedang ragu-ragu, ia melihat bahwa Linghu Chong telah mengambil sebatang dahan patah, dengan bertumpu pada dahan itu, ia perlahan-lahan melangkah maju, ternyata lagi-lagi ia salah sangka.


Yilin cepat-cepat ikut melangkah dan menjulurkan tangannya untuk menyangga lengan Linghu Chong, diam-diam ia menyalahkan dirinya sendiri, "Kenapa sih aku ini? Linghu Shixiong jelas-jelas adalah seorang ksatria yang terhormat, kenapa hari ini pikiranku kacau, selalu memikirkan yang tidak-tidak?" Mungkin karena aku selalu sendirian bersama seorang lelaki, sehingga aku merasa perlu berjaga-jaga. Sebenarnya, walaupun dia dan Tian Boguang sama-sama lelaki, namun bedanya bagai langit dan bumi, bagaimana bisa dipersamakan?"