Hina Kelana

Hina Kelana
Bab 12



Lin Pingzhi meringkuk di bawah jendela, ingin bergerak namun tak berani bergerak, sambil memicingkan mata ia melihat sosok buntak lelaki marga Ji itu, kelihatannya dialah yang menendang pantatnya waktu itu.


Setelah beberapa saat, si marga Ji itu membawa sebaskom air panas ke kamar, ia berkata, "Shen Shige, kali ini shifu mengirim kita lebih dari sepuluh saudara seperguruan, kelihatannya kita berdualah yang paling berhasil, berkat keberuntungan Shen Shige, mukaku ini akan jadi gilang gemilang. Jiang Shige menyerang kantor cabang Guangzhou, Ma Shige menyerang kantor cabang Hangzhou, tapi mereka begitu ceroboh, kalaupun mereka melihat peti mati itu, mereka tak akan berpikir bahwa dalam peti mati itu tersembunyi barang-barang berharga". Si marga Shen tertawa, "Fang Shige, Yu Shige dan Jia Renda menyerang kantor pusat di Fuzhou, seharusnya barang rampasan mereka lebih banyak dari kita, tapi putra kesayangan Jiang Shiniang kehilangan nyawanya di Fuzhou, tentunya hal itu akan lebih diperhitungkan dibandingkan dengan jasa mereka". Si marga Ji berkata, "Shifu sendiri yang mengatur serangan ke kantor pusat Biro Pengawalan Fu Wei itu, Fang Shige dan Yu Shidi cuma pengintai. Kemungkinan besar, shifu tak akan menyalahkan Fang Shige dan kawan-kawan atas kematian Yu Shidi. Kali ini kita telah melakukan operasi besar-besaran, kita telah menyerang kantor pusat dan kantor cabang propinsi secara serentak, ternyata ilmu keluarga Lin itu tidak seperti yang dikatakan orang, hanya perlu Fang Shige bertiga untuk menangkap suami istri Lin. Kali ini, shifu saja tidak menyangka. Hahaha!"


Begitu mendengar hal itu, keringat dingin bercucuran di dahi Lin Pingzhi, ia berkata dalam hati, "Ternyata Qingcheng Pai sudah lama merencanakan hal ini, serentak menyerang kantor pusat kami dan setiap kantor cabang propinsi. Bencana ini bukan disebabkan karena aku membunuh si marga Yu itu. Kalau aku tidak membunuh bandit tengik marga Yu itu, mereka juga akan tetap menyerang biro pengawalan kami. Yu Canghai sendiri datang ke Fuzhou, pantas saja Tapak Penghancur Jantung itu begitu lihai. Tapi aku tak mengerti, biro pengawalan keluargaku pernah melakukan kejahatan apa terhadap Qingcheng Pai? Mengapa mereka turun tangan dengan begitu kejam?" Saat itu, walaupun perasaan bersalahnya berkurang, namun perasaan marahnya sebaliknya malah meluap-luap. Kalau saja ilmu silatnya cukup tinggi untuk melawan musuh, ia benar-benar ingin mendobrak jendela dan masuk ke ruangan itu, lalu membunuh dua bajingan itu. Terdengar suara air dari ruangan itu, mereka sedang mencuci kaki.


Si marga Shen berkata, "Shifu bukan salah melihat, waktu itu pamor Biro Pengawalan Fu Wei mengetarkan segala penjuru, sepertinya mereka memang benar-benar punya ilmu tinggi, Pixie Jianfa sangat terkenal di dunia persilatan, tak mungkin semua itu hanya tipuan. Kemungkinan besar anak cucu generasi berikutnya yang tak becus, sehingga tidak bisa menguasai ilmu nenek moyangnya". Di tengah kegelapan, wajah Lin Pingzhi menjadi merah padam sampai ke kupingnya, ia merasa sangat malu. Si marga Zhen berkata lagi, "Sebelum kita turun gunung, shifu mengajarkan Ilmu Pixie Jianfa kepada kita, walaupun dalam hanya beberapa bulan sulit bagi kita untuk mempelajari semuanya, namun aku lihat ilmu pedang ini punya kekuatan yang tidak kecil, tapi sulit untuk dikeluarkan. Ji Shidi, berapa banyak yang kau mengerti?" Si marga Ji tertawa, "Aku dengar shifu berkata, Lin Zhennan sendiri juga tak bisa memahami inti ilmu pedang itu, maka aku juga enggan berusaha sungguh-sungguh untuk menguasainya. Shen Shige, shifu memberi perintah supaya semua murid perguruan kita kembali ke Heng Shan untuk berkumpul di sana, maka Fang Shige dan kawan-kawan tentunya akan membawa suami istri Lin ke Heng Shan. Aku ingin tahu bagaimana kemampuan pewaris Pixie Jianfa itu sebenarnya".


Ketika Lin Pingzhi mendengar bahwa orang tuanya masih hidup, dan bahkan akan dibawa ke Heng Shan, hatinya terguncang, ia merasa gembira dan sedih sekaligus.


Si marga Shen tertawa, "Beberapa hari lagi, kau juga akan bertemu mereka, tak ada jeleknya kalau kau minta petunjuk dari dia tentang Pixie Jianfa".


Tiba-tiba terdengar suara batuk-batuk, pintu jendela didorong hingga terbuka. Lin Pingzhi terkejut, ia mengira mereka telah menemukan dirinya, ia hendak lari, namun tiba-tiba, "Byur!" Sebaskom air panas jatuh menimpa kepalanya. Hampir saja ia berteriak kaget, setelah itu keadaan menjadi gelap, sinar lampu di dalam kamar sudah dipadamkan.


Ia berpaling, sekonyong-konyong ia melihat sebuah bayangan yang sangat panjang muncul di jendela, bayangan itu nampak bergetar. Ia terkejut dan cepat-cepat berjongkok, ternyata daun jendela masih berayun-ayun, rupanya si marga Ji itu setelah membuang air cuci kaki, belum mengunci daun jendela. Lin Pingzhi berpikir, "Ini adalah kesempatan emas untuk membalas dendam!" Tangan kanannya menghunus pedang yang tergantung di pinggangnya, tangan kirinya dengan hati-hati membuka daun jendela, perlahan-lahan ia masuk ke kamar, lalu menutup daun jendela. Cahaya rembulan menembus masuk lewat kertas penutup jendela, ia melihat di kedua sisi ranjang masing-masing berbaring satu orang. Yang seorang menghadap ke tembok, rambutnya agak jarang, sedangkan yang seorang lagi tidur terlentang, dagunya ditumbuhi jenggot pendek yang berantakan seperti rumput liar. Di atas meja di depan ranjang ada lima buah buntalan dan dua bilah pedang.


Lin Pingzhi mengangkat pedangnya, pikirnya, "Sekali tebas, semudah membalik telapak tangan". Ia hendak menebas leher lelaki yang sedang tidur terlentang, namun timbul pikiran lain di benaknya, "Kalau aku sembunyi-sembunyi membunuh kedua orang ini, apakah ini tindakan seorang ksatria? Di kemudian hari setelah aku menguasai ilmu silat warisan keluarga, aku akan membasmi kawanan bandit Qingcheng ini, inilah tindakan seorang lelaki sejati". Perlahan-lahan ia mengambil kelima buntalan itu dan menaruhnya di atas meja di sisi jendela, membuka daun jendela dengan hati-hati, lalu meloncat keluar. Ia menyelipkan pedang di pinggangnya dan mengambil buntalan-buntalan itu. Tiga buah buntalan diikat erat-erat di punggungnya, sedangkan sepasang tangannya masing-masing membawa sebuah buntalan. Selangkah demi selangkah ia menuju ke halaman belakang, ia sangat takut menimbulkan suara dan membangunkan kedua orang itu.


Ia membuka pintu belakang, keluar dari kantor cabang itu, mencari-cari arah, lalu menuju ke gerbang selatan. Saat itu gerbang masih digembok, maka ia berjalan ke sebuah gundukan di sebelah tembok kota dan bersandar pada gundukan itu untuk menenangkan diri. Ia takut jangan-jangan kedua orang Qingcheng Pai itu sadar lalu mengejarnya, hatinya berdebar-debar seakan mau copot. Ketika sinar mentari terbit menyinari kota, ia keluar dari gerbang dan lari secepat-cepatnya. Setelah berlari beberapa li jauhnya, ia merasa aman. Sejak meninggalkan Fuzhou, saat itu hatinya baru merasa tenang. Ia melihat di pinggir jalan di depannya ada sebuah kedai mi kecil, ia masuk ke dalam kedai itu dan membeli semangkuk mi untuk dimakan, ia tak berani tinggal berlama-lama, setelah selesai makan mi, ia segera mengambil sebatang uang perak kecil dari buntalan untuk membayar. Pemilik kedai mengumpulkan seluruh uang kepeng yang ada di kedai itu untuk uang kembalian, namun masih tak cukup. Di sepanjang jalan, Lin Pingzhi selalu mengalah dan menerima hinaan orang. Saat ini ia hanya melambaikan tangan dan berkata dengan lantang, "Ambil saja, tak perlu kembalian!" Akhirnya ia kembali menjadi seorang tuan muda, anak pemilik biro pengawalan yang angkuh dan biasa hidup mewah.


Setelah berjalan tiga puluh li lebih, ia tiba di sebuah kota besar. Lin Pingzhi pergi ke sebuah penginapan dan menyewa kamar, mengunci pintu dan jendela, lalu membuka kelima buntalan yang dibawanya. Empat buntalan berisi batangan emas dan uang perak serta perhiasan, sedangkan buntalan kecil yang kelima berisi sebuah kotak berlapis kain brokat, di dalamnya ada sepasang kuda kumala putih yang tingginya lima cun. Ia berpikir, "Di kantor cabang Changsha saja tersimpan begitu banyak barang berharga, pantas saja Qingcheng Pai menjadi serakah". Ia mengambil pecahan-pecahan uang perak dan menaruhnya di kantongnya, mengabungkan isi kelima buntalan itu menjadi satu, menaruhnya di punggungnya, lalu pergi ke pasar untuk membeli dua ekor kuda yang bagus. Ia menaiki kedua ekor kuda itu bergantian, tiap hari ia hanya tidur tiga shichen, siang malam ia terus-menerus menempuh perjalanan.


* * *