
Tirai yang menutupi pintu terbuka, seorang biksuni kecil berjalan tanpa suara masuk ke dalam ruang tamu itu. Wajahnya begitu cantik dan halus, raut mukanya bercahaya, sosok tubuhnya luwes dan anggun, walaupun tubuhnya dibalut oleh jubah hitam yang longgar, namun jubah itu tak dapat menyembunyikan pembawaannya yang halus dan lemah gemulai. Ia berjalan ke hadapan Dingyi, lalu dengan luwes memberi hormat.
Lao Denuo berkata lagi, "Waktu itu aku bertanya pada shifu, 'Apakah kekuatan Pixie Jianfa keluarga Lin ini sangat besar? Kenapa Qingcheng Pai begitu bersungguh-sungguh melatihnya?' Shifu tak menjawab, ia memejamkan matanya sambil berpikir selama beberapa saat, baru berkata, 'Denuo, sebelum kau masuk perguruan kita, kau sudah lama berkelana di dunia persilatan, kau pasti sudah pernah mendengar apa yang dikatakan orang di dunia persilatan tentang ketua Biro Pengawalan Fu Wei Lin Zhennan?' Aku berkata, 'Kata teman-teman di dunia persilatan, Lin Zhennan murah hati, cukup setia kawan, semua orang mempercayainya dan tidak mengusik biro pengawalannya. Tentang kungfunya, aku tak tahu jelas'. Shifu berkata, 'Tepat sekali! Beberapa tahun belakangan ini Biro Pengawalan Fu Wei maju pesat karena kebanyakan teman-teman di dunia persilatan memberi muka padanya. Tapi aku dengar, pada saat guru Ketua Yu, Zhang Qingzhi, masih muda, ia pernah dikalahkan oleh Pixie Jianfa Lin Yuantu?' Aku berkata, 'Lin......Lin Yuantu? Ayah Lin Zhennan?' Shifu berkata, 'Bukan, Lin Yuantu adalah kakek dari pihak ayah Lin Zhennan, dialah pendiri Biro Pengawalan Fu Wei. Bertahun-tahun yang lalu, ketika dengan tujuh puluh dua jurus Pixie Jianfa ia mendirikan biro pengawalan itu, tak seorang di dunia hitam mampu melawannya. Saat itu para pendekar dari aliran lurus yang mendengar nama besarnya, juga ingin mengadu ilmu dengannya, itu sebabnya Zhang Qingzhi bisa dikalahkan dengan beberapa jurus Pixie Jianfa'. Aku berkata, 'Kalau begitu, Pixie Jianfa itu benar-benar sangat lihai?' Shifu berkata, 'Mengenai kekalahan Zhang Qingzhi, kedua belah pihak tutup mulut rapat-rapat, sehingga seluruh dunia persilatan tidak tahu. Zhang Qingzhi dan kakek gurumu adalah sahabat baik, dan belakangan ia berbicara tentang hal itu kepada kakek guru. Ia menganggap hal itu sebagai hal yang paling memalukan seumur hidupnya, tapi karena ia pikir ia tidak akan pernah bisa mengalahkan Lin Yuantu, ia tidak bisa membalas kekalahan itu. Setelah itu kakek gurumu dan dia mempelajari Pixie Jianfa untuk mencari kelemahan ilmu pedang itu, namun tujuh puluh dua jurus ilmu pedang itu kelihatannya biasa-biasa saja, tidak ada keanehannya. Tapi di dalamnya tersembunyi misteri yang tak bisa ditebak oleh orang lain, yang membuatnya tiba-tiba bisa berubah menjadi secepat setan, membuat orang sulit untuk mempertahankan diri. Kedua orang itu mempelajarinya dengan teliti selama beberapa bulan, namun tetap tak bisa memecahkannya. Waktu itu aku baru masuk perguruan, hanya seorang anak berumur sepuluh tahunan, tapi saat mengambilkan teh, aku melihat semuanya. Ketika kau memperagakan satu jurus, aku langsung tahu bahwa itu ialah Pixie Jianfa. Ai, waktu seperti air mengalir, peristiwa itu sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu' ".
Sejak Lin Pingzhi dipukul oleh murid-murid Qingcheng Pai tanpa sedikit pun bisa membalas, ia sama sekali tidak punya kepercayaan terhadap ilmu silat warisan keluarganya, ia hanya ingin berguru pada orang lain supaya bisa membalas dendam. Ketika ia mendengar Lao Denuo berbicara tentang nama besar kakek dari pihak ayahnya Lin Yuantu, mau tak mau ia menjadi bersemangat, pikirnya dalam hati, "Ternyata Pixie Jianfa keluargaku benar-benar tidak bisa disepelekan, saat itu tokoh-tokoh pemimpin Qingcheng dan Huashan Pai tak bisa mengalahkannya. Kalau begitu kenapa ayah tak bisa melawan anak muda Qingcheng Pai yang masih hijau? Kemungkinan besar ayah tidak memahami misteri kelihaian ilmu pedang itu".
Terdengar Lao Denuo berkata, "Aku bertanya pada shifu, 'Apa kemudian Zhang Qingzhi qianbei berhasil membalas dendam?' Shifu berkata, 'Kekalahan dalam bertanding, sebenarnya tidak perlu dibalas. Lagipula, saat itu Lin Yuantu sudah lama terkenal, seorang pendekar yang dikagumi di dunia persilatan. Zhang Qingzhi cuma pendeta Tao muda yang baru muncul. Seorang bocah yang masih hijau kalah di tangan seorang sesepuh, apalah artinya? Kakek gurumu menghibur dia, dan masalah itu tak pernah diungkit-ungkit lagi. Kemudian Zhang Qingzhi meninggal pada usia tiga puluh enam tahun, barangkali ia masih memendam masalah itu di dalam hatinya, dan mati dengan penuh penyesalan. Setelah bertahun-tahun berlalu, Yu Canghai tiba-tiba memerintahkan semua murid-muridnya untuk bersama-sama mempelajari Pixie Jianfa, apa sebabnya? Denuo, menurutmu apa sebabnya?' "
"Aku berkata, 'Kalau melihat keadaan ketika mereka berlatih di Kuil Songfeng, sikap mereka serius, jangan-jangan Ketua Yu bermaksud menyerang Biro Pengawalan Fu Wei untuk membalas dendam generasi yang lalu?' Shifu mengangguk, 'Aku juga berpikir begitu. Zhang Qingzhi berpikiran sempit, juga terlalu tinggi memandang dirinya sendiri. Kekalahannya di tangan Lin Yuantu tentunya dipendam dalam hatinya, kemungkinan pada saat ia sekarat ia memberi suatu wasiat kepada Yu Canghai. Lin Yuantu lebih dahulu meninggal dari Zhang Qingzhi, kalau Yu Canghai ingin membalas dendam shifunya, ia hanya tinggal mencari putra Lin Yuantu, Lin Zhongxiong, tapi entah kenapa, ia baru menyerang sekarang. Pikiran Yu Canghai benar-benar sulit diselami, ia selalu membuat rencana baru menyerang, kali ini akan terjadi pertarungan sengit diantara Qingcheng Pai dan Biro Pengawalan Fu Wei' ".
"Aku bertanya kepada shifu, "Menurut shifu, dalam pertarungan ini siapa yang akan menang dan siapa yang akan kalah?' Shifu tersenyum, 'Kungfu Yu Canghai 'birunya dibuat dari nila, tapi lebih biru dari nila, pencapaiannya sudah berada di atas Zhang Qingzhi. Walaupun ilmu silat Lin Zhennan tidak diketahui secara jelas oleh orang luar, tapi kemungkinan besar tidak melebihi kakeknya. Yang satu maju dan yang lain mundur, apalagi Qingcheng Pai melakukan perbuatannya secara diam-diam, sedangkan Biro Pengawalan Fu Wei secara terang-terangan, sebelum bertarung, mereka sudah kalah tujuh puluh persen. Kalau Lin Zhennan sudah tahu sebelumnya, dan mengundang Golok Emas Wang Yuanba dari Luoyang, barulah ia bisa melawan. Denuo, kau mau atau tidak melihat keramaian?' Tentu saja aku menerima perintah itu dengan senang hati. Shifu lalu mengajari aku beberapa jurus ilmu pedang kesukaan Qingcheng Pai untuk dipakai membela diri".
Lu Dayou berkata, "Eh, bagaimana shifu bisa ilmu pedang Qingcheng Pai? Ah, tentu saja. Bertahun-tahun yang lalu, ketika Zhang Qingzhi berlatih bersama kakek guru kita, tentunya ia menggunakan ilmu pedang Qingcheng untuk melawan Pixie Jianfa, shifu yang ada di sisinya tentu menyaksikannya".
Di tengah-tengah suara tertawa para murid Huashan, wajah Lin Pingzhi menjadi merah padam, rasa malunya tak tertahankan, pikirnya, "Ternyata mereka berdua dari dahulu sudah sering datang ke kantor kami untuk memata-matai, tapi kami sama sekali tidak tahu, benar-benar tak becus".
Lao Denuo meneruskan, "Kami berdua baru tinggal di luar kota Fuzhou selama beberapa hari, ketika murid-murid Qingcheng mulai berdatangan satu persatu. Yang datang paling dahulu adalah Fang Renzhi dan Yu Renhao berdua. Mereka setiap hari datang ke biro pengawalan untuk mengawasi tempat itu. Aku dan xiao shimei khawatir bertemu dengan mereka, lalu tak datang kesana lagi. Adalah benar-benar suatu kebetulan ketika suatu hari secara tak disangka-sangka tuan muda Lin ini datang ke kedai arak 'Permata Besar' yang dibuka olehku dan xiao shimei, xiao shimei terpaksa mengantarkan arak untuk mereka minum. Waktu itu kami khawatir mereka sudah tahu tentang kami dan sengaja datang untuk membongkar penyamaran kami, tapi setelah berbicara dengan mereka, ternyata mereka sama sekali tidak tahu. Bocah gedongan ini tak tahu apa-apa, tak ada bedanya dengan seorang dungu. Pada saat itu, dua orang yang paling brengsek di Qingcheng Pai, yaitu Yu Renyan dan Jia Renda juga datang ke kedai 'Permata Besar' kami......"
Lu Dayou bertepuk tangan sambil berkata, "Kakak kedua, kedai 'Permata Besar' yang kau buka bersama xiao shimei dagangannya benar-benar laris, uang mengalir dari mana-mana. Kalian bisa jadi kaya di Fujian!"
Si gadis tertawa, "Tentu saja. Kakak kedua sudah dari dahulu jadi orang kaya, berkat keberuntungan sang majikan, aku juga berhasil mengais barang sepeser dua peser". Semua orang tertawa.
Lao Denuo tersenyum, "Walaupun ilmu silat Tuan Muda Lin rendah, bahkan jadi murid xiao shimei pun tak pantas, tapi dia benar-benar berani. Putra Yu Canghai yang tak berguna, Yu Renyan itu begitu buta matanya sampai dia bersikap kurang ajar pada xiao shimei dan mengolok-oloknya. Tak nyana Lin Gongzi ini turun tangan melindungi kami dan melawan ketidakadilan......"
Lin Pingzhi merasa malu dan marah sekaligus, pikirnya, "Ternyata Qingcheng Pai sudah lama merencanakan untuk menyerang perusahaan keluargaku, untuk membalas aib akibat kalah bertanding beberapa generasi yang lalu.Yang datang ke Fuzhou sebenarnya jauh lebih banyak dari hanya Fang Renzhi dan kawan-kawannya berempat. Apakah aku membunuh Yu Renyan atau tidak, boleh dibilang tidak ada hubungannya". Pikirannya kacau sehingga ketika Lao Denuo bercerita tentang bagaimana ia membunuh Yu Renyan, ia tidak benar-benar mendengarkan. Tapi ia mendengar Lao Denuo berbicara diselingi tawa semua orang, jelas menertawakan ilmu silatnya yang sangat rendah.