Hina Kelana

Hina Kelana
Bab 18



Beberapa murid serentak berseru, "Ternyata hari itu ketika kau buru-buru turun gunung, kau pergi ke Qingcheng?" Si orang tua berkata, "Benar. Hari itu shifu memerintahkan padaku untuk tidak memberitahu saudara-saudara yang lain, untuk menghindari timbulnya hal-hal yang tidak diinginkan". Lu Dayou bertanya, "Hal-hal yang tak diinginkan seperti apa? Shifu sangat hati-hati. Kalau beliau memerintahkan sesuatu, pasti ada maksudnya, siapa yang berani tak menurut?"


Si jangkung berkata, "Kau tahu apa? Walaupun kakak kedua bicara padamu, tapi kau tentu bisa kelepasan bicara pada da shige. Walaupun da shige tidak berani melawan perintah shifu, tapi ia bisa membuat onar dengan Qingcheng Pai menggunakan akal bulus yang licik dan aneh-aneh".


Si orang tua berkata, "Adik ketiga benar. Da shige punya banyak teman di dunia persilatan, kalau dia ingin melakukan sesuatu, belum tentu ia sendiri yang turun tangan. Shifu berkata kepadaku, bahwa seluruh isi surat itu adalah permintaan maaf kepada Ketua Yu, yaitu bahwa murid-muridnya telah berbuat onar, bahwa ia sangat menyesal, dan bahwa mereka seharusnya dikeluarkan dari perguruan, akan tetapi kalau ia melakukan hal ini, dunia persilatan akan mengira bahwa ada perselisihan diantara kedua perguruan kita yang mulia, tentunya akan sangat tidak enak dilihat, saat ini ia mempunyai dua murid yang bandel......" Berkata sampai disini, ia melirik Lu Dayou.


Lu Dayou nampak sebal, ia berkata dengan kesal, "Aku murid yang bandel!" Si gadis berkata, "Kau kalau dianggap sama dengan shige, apa kau merasa terhina?" Lu Dayou langsung merasa senang, ia berseru, "Betul! Betul! Ambilkan arak! Ambilkan arak!"


Kedai teh itu hanya menjual teh tidak menjual arak, pelayan kedai berlari menghampiri dan berkata, "Ha ni jia, Ha kedai kecil ini hanya punya Dongting Chun, Shuixian, Longqing, Qimen, Puer dan Tieguanyin[17]. Ha ni jia, tidak jual arak, ha ni jia". Orang dari Hengyang dan daerah Heng Shan, kalau berbicara sering menambahkan kata 'ha' di awal kalimat. Pelayan kedai teh ini termasuk yang parah. Ni jia adalah singkatan ni lao ren jia[18], sebuah panggilan yang menunjukkan rasa hormat.


Lu Dayou berkata, "Ha ni jia, ha kedaimu yang mulia ini tidak jual arak, ha aku mau minum teh saja, tidak minum arak tidak apa-apa, ha ni jia". Pelayan kedai teh berkata, "Baik! Baik! Ha ni jia". Ia menuang air mendidih ke dalam beberapa poci teh sampai penuh.


Si orang tua berkata, "Di dalam surat shifu, disebutkan bahwa kedua murid bandel sudah dihukum berat dengan dipukul, seharusnya keduanya dikirim ke Qingcheng untuk mohon maaf sebesar-besarnya, akan tetapi setelah dipukul kedua murid itu terluka parah, susah berjalan, maka ia mengirim murid kedua Lao Denuo untuk mengambil alih tanggung jawab. Keonaran ini seluruhnya disebabkan karena murid-murid yang bandel itu, ia berharap agar Ketua Yu sudi mengingat hubungan yang selalu baik diantara kedua perguruan, Qingcheng dan Huashan, dan tidak merasa tersinggung, di kemudian hari bila ia bertemu dengan Ketua Yu, ia sendiri akan minta maaf secara pribadi".


Lin Pingzhi berkata dalam hati, "Ternyata namamu Lao Denuo. Kalian anggota Huashan Pai, salah satu dari Wuyue Jianpai. Surat itu menyebut-sebut 'hubungan yang selalu baik diantara kedua perguruan' ". Mau tak mau jantungnya berdebar-debar, "Lao Denuo ini dan si gadis buruk rupa sudah pernah melihatku dua kali, aku tak boleh membiarkan diriku dikenali oleh mereka".


Terdengar Lao Denuo kembali berkata, "Ketika aku tiba di Qingcheng, Hou Renying sudah tak mempersalahkan masalah itu, si Hong Renxiong masih merasa mendendam, beberapa kali ia mengeluarkan kata-kata pedas dan mencoba mengajak aku berkelahi......"


Lu Dayou berkata, "Sialan, orang-orang Qingcheng Pai itu begitu garang! Kakak kedua, kalau mau berkelahi, berkelahi saja, kau takut apa? Aku tahu si marga Hong itu bukan tandinganmu". Lao Denuo berkata, "Shifu menyuruh aku naik ke Gunung Qingcheng untuk mohon maaf, bukan untuk membuat onar. Saat itu aku bersikap sabar dan tidak membalas. Aku menunggu selama enam hari di Gunung Qingcheng, sampai hari ketujuh aku baru diterima oleh Ketua Yu". Lu Dayou berkata, "Hah! Sombong sekali! Kakak kedua, jangan-jangan enam hari dan malam itu adalah saat-saat yang tidak enak bagimu".


Si pembawa sempoa berkata, "Mungkin Qingcheng Pai baru mendapatkan kitab ilmu pedang kuno yang dirahasiakan, atau mungkin Ketua Yu baru menciptakan ilmu pedang baru, oleh karena itu ia mengajarkannya kepada murid-muridnya".


Lao Denuo berkata, "Waktu itu aku juga punya pikiran yang sama, tapi setelah kupikir dengan hati-hati, kurasa itu tidak benar. Dengan taraf ilmu pedang Ketua Yu yang tinggi, kalau ia menciptakan jurus pedang baru, tentunya jurus-jurus pedang itu luar biasa. Kalau berasal dari kitab ilmu pedang rahasia, ilmu pedangnya tentunya sangat tinggi, kalau tidak dia tentunya hanya akan memandang sebelah mata dan tidak menyuruh murid-muridnya mempelajarinya. Bukankah hal ini bisa merusak ilmu pedang perguruannya sendiri? Kalau jurus-jurus itu sangat hebat, murid-murid biasa tidak akan bisa memahaminya, kemungkinan besar ia akan memilih tiga atau empat murid yang berkepandaian tinggi untuk diajari, bukan menyuruh empat puluh lebih murid untuk serentak mempelajarinya. Ini seperti seorang guru silat yang mengajar hanya demi uang semata, apakah ini perbuatan seorang pendekar besar dari perguruan terkenal aliran lurus? Di pagi hari berikutnya, ketika aku melewati tempat berlatih di belakang kuil, aku melihat mereka masih berlatih pedang. Aku tak berani berhenti melangkah, namun dengan melihat sekilas, aku berhasil mengingat-ingat dua jurus, aku pikir setelah pulang nanti aku akan minta penjelasan shifu. Saat itu Ketua Yu masih belum menemui aku, mau tak mau aku mengira bahwa Qingcheng Pai memendam rasa permusuhan terhadap Huashan Pai kita. Jurus-jurus pedang baru yang mereka pelajari, mungkin akan dipakai untuk menghadapi perguruan kita, maka aku mau tak mau harus lebih berhati-hati".


Si jangkung berkata, "Kakak kedua, mungkinkah mereka sedang berlatih formasi pedang baru?"


Lao Denuo berkata, "Mungkin saja. Tapi waktu itu aku melihat mereka berlatih berpasangan, pihak yang menyerang dan bertahan, keduanya memakai jurus-jurus yang sama, tidak seperti formasi pedang. Pagi-pagi pada hari ketiga, aku sedang berjalan-jalan melewati tempat latihan, tapi kulihat tempat latihan itu sunyi senyap, sama sekali tak ada seorang pun disana. Aku tahu mereka sengaja menghindariku, di dalam hati aku merasa curiga. Aku cuma berjalan-jalan biasa, hanya bisa melihat dari jauh, memangnya bisa melihat rahasia apa? Kelihatannya mereka sedang mempelajari suatu ilmu pedang lihai untuk menghadapi perguruan kita, kalau tidak kenapa mereka begitu khawatir? Malam itu, ketika tidur di atas ranjang aku bolak-balik memikirkan hal itu, sama sekali tak bisa tidur. Tiba-tiba dari kejauhan sayup-sayup terdengar suara senjata beradu. Aku terkejut, jangan-jangan kuil ini kedatangan musuh yang hebat? Hal pertama yang terpikir olehku adalah, mungkinkah setelah da shige menerima hukuman dari guru, ia menjadi gusar dan menyerang Kuil Songfeng? Dia sendirian melawan orang banyak, bagaimanapun juga aku harus membantunya. Kali ini di Gunung Qingcheng, aku tak membawa senjata, karena terburu-buru, aku tak bisa mencari pedang, terpaksa maju dengan tangan kosong......"


Lu Dayou tiba-tiba memuji, "Luar biasa! Kakak kedua, kau benar-benar pemberani! Aku tak berani melawan ketua Qingcheng Pai hanya dengan tangan kosong, Ketua Kuil Songfeng Yu Canghai!"


Lao Denuo berkata dengan gusar, "Monyet Keenam, kau ini bicara apa? Aku tidak bilang aku ingin melawan Ketua Yu dengan tangan kosong, tapi bahwa aku khawatir da shige sedang dalam bahaya. Aku tahu jelas bahaya menghadang, namun mau tak mau aku harus menghadapinya. Apa kau suruh aku bersembunyi seperti seekor kura-kura yang menyembunyikan kepalanya?"


Ketika mendengar perkataan itu, para adik seperguruan tertawa. Lu Dayou membuat mimik muka yang lucu, lalu tertawa, "Aku kagum padamu, aku memujimu, kenapa kau malah naik darah?" Lao Denuo berkata, "Terima kasih. Pujian semacam ini tidak enak kedengarannya di telingaku". Beberapa adik seperguruan serentak berkata, "Kakak kedua cepat teruskan ceritamu, jangan biarkan Monyet Keenam menganggumu".


Lau Denuo meneruskan, "Aku segera diam-diam bangkit, lalu mencari asal suara itu, tapi makin dekat suara senjata beradu itu makin keras, hatiku meloncat-loncat tak keruan, diam-diam aku berpikir, 'Kita berdua ada di kolam naga dan sarang harimau, ilmu silat da shige hebat, mungkin dia bisa kembali hidup-hidup, namun aku dalam keadaan bahaya'. Aku dengar suara senjata beradu dari belakang aula, di jendela belakang aula nampak sinar lentera bersinar terang benderang, aku membungkukkan badan dan perlahan-lahan berjalan mendekati, lalu melihat ke dalam lewat sela-sela jendela, saat itu aku menghembuskan napas panjang dan hampir tak bisa menahan tawa. Ternyata kecurigaanku menciptakan ketakutan yang aneh-aneh, beberapa hari belakangan itu Ketua Yu tak memperdulikan aku, aku jadi membayangkan yang tidak-tidak, selalu berpikir tentang hal-hal yang buruk. Dari mana da shige datang untuk mencari musuh dan membuat onar? Aku melihat di dalam aula nampak dua pasang orang yang sedang beradu pedang, yang sepasang adalah Hou Renying dan Hou Renxiong, sedangkan yang sepasang lagi adalah Fang Renzhi dan Yu Renhao".


Lu Dayou berkata, "Hei! Murid-murid Qingcheng Pai ternyata sangat rajin belajar, malam-malam masih berlatih. Ini namanya mengasah tombak sebelum pergi berperang, atau membakar dupa di hari-hari biasa, atau mencengkeram kaki Buddha ketika dalam kesulitan[19]".