Hina Kelana

Hina Kelana
Bab 36



Yu Canghai memandang pemuda bongkok yang ada di depannya itu dengan sebelah mata, akan tetapi ia ingat perkataan orang dunia persilatan tentang berbagai perbuatan Mu Gaofeng yang kejam dan licik, maka ia juga tak berani bertindak gegabah. Ia hanya memandangi para pelayan Wisma Liu menuang arak, namun ia sendiri tidak langsung mengambilnya, karena ia ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh lawan.


Perasaan marah dan takut berkecamuk dalam diri Lin Pingzhi, namun perasaan marahlah yang akhirnya berada di atas angin, ia berpikir, "Mungkin saat ini ayah dan ibu sudah dibunuh oleh pendeta Tao kerdil ini, lebih baik aku mati saja daripada harus minum bersama dia". Dengan sinar mata yang penuh amarah, ia menatap Yu Canghai, namun tak juga mengambil cawan arak.


Yu Canghai melihat bahwa ia sangat benci kepadanya, maka ia menjadi murka. Ia menjulurkan tangannya dan mencengkeram pergelangan tangan Lin Pingzhi seraya berkata, "Bagus! Bagus! Bagus! Dengan memandang muka emas Tuan Ketiga Liu, siapa yang berani berlaku kurang ajar di Wisma Liu ini? Saudara Mu, mari kita berteman saja".


Lin Pingzhi meronta sekuat tenaga, tapi ia tak bisa membebaskan diri. Begitu ia mendengar kata 'berteman' ia merasakan pergelangan tangannya amat sakit, tulang-tulangnya bergemeretakan, seakan akan remuk. Yu Canghai mengendurkan cengkeramannya, ia hendak memaksa Lin Pingzhi minta ampun. Namun ternyata hati Lin Pingzhi dipenuhi rasa benci luar biasa, sehingga walaupun pergelangannya terasa amat sakit sampai ke tulang sumsum, ia sama sekali tak mengerang.


Liu Zhengfeng yang berdiri di sisinya melihat bahwa butiran keringat sebesar biji kedelai berjatuhan dari dahinya, namun air mukanya masih tetap angkuh pantang menyerah, sama sekali tak mau kalah. Ia kagum pada tekad kuat pemuda itu, maka ia berkata, "Ketua Yu!" Ia ingin mendamaikan dan memisahkan mereka, namun tiba-tiba ia mendengar sebuah suara yang melengking berkata, "Ketua Yu! Kenapa kau suka sekali menganiaya anak cucu Mu Gaofeng?"


Semua orang serentak berpaling, mereka melihat bahwa di pintu aula berdiri seorang bongkok gembrot, wajahnya dipenuhi parut-parut putih yang diapit tahi-tahi lalat hitam, ditambah lagi dengan punuk di punggungnya yang sangat besar. Benar-benar sangat aneh dan buruk rupa. Semua orang di aula itu belum pernah melihat wajah Mu Gaofeng yang sebenarnya, setelah mereka mendengar ia mengumumkan namanya dan melihat penampilannya yang begitu aneh, mereka menjadi tercengang.


Tubuh orang bongkok itu begitu gemuk, namun gerakannya ternyata sangat lincah, mata semua orang melihat sebuah bayangan kabur, lalu tiba-tiba si bongkok itu terlihat sudah berdiri disamping Lin Pingzhi. Ia menepuk bahu Lin Pingzhi sambil berkata, “Cucuku yang baik, cucuku yang manis, kau telah menyanjung kakek sebagai pendekar penegak keadilan dan pembela orang lemah. Kakek sangat senang mendengarnya!” Setelah berbicara, ia lagi-lagi menepuk bahu pemuda itu.


Ketika ia pertama kali menepuk pundaknya, Lin Pingzhi merasa seluruh tubuhnya terguncang, lengan Yu Canghai juga terasa panas, sehingga hampir saja ia terpaksa melepaskan tangan Lin Pingzhi, tapi ia segera mengerahkan tenaga dalam dan bisa tetap mencengkeram pergelangan pemuda itu dengan kencang. Mu Gaofeng belum berhasil melepaskan kelima jari Yu Canghai dari pergelangan Lin Pingzhi, sambil berbicara ia terus mengerahkan tenaga dalamnya. Saat ia menepuk pundak pemuda itu untuk kedua kalinya, ia mengerahkan sepuluh persen tenaga dalamnya. Pandangan Lin Pingzhi menjadi gelap, terasa ada sesuatu yang manis di tenggorokannya, ternyata darah segar telah menyembur dari mulutnya. Ia berusaha untuk tetap bertahan, walaupun tulangnya bergemeretakan, ia pun menelan darah segar yang ada di mulutnya.


Telapak tangan Yu Canghai diantara ibu dan telunjuk jarinya terasa amat sakit, ia tak bisa lagi mengenggam sehingga ia melepaskan pergelangan tangan Lin Pingzhi. Ia mundur selangkah dan berkata dalam hati, "Si bongkok ini sangat kejam, nama besarnya bukan isapan jempol belaka. Demi memaksa aku melepaskan cengkeramanku, ia rela membiarkan cucunya menderita luka dalam".


Lin Pingzhi menghimpun tenaganya dan mencoba tertawa, ia berkata pada Yu Canghai,


"Ketua Yu, ilmu silat Qingcheng Pai tidak ada apa-apanya, masih jauh kalau dibandingkan dengan 'Si Bongkok Dari Utara' Mu Daxia . Aku rasa kau lebih baik masuk perguruan Mu Daxia, minta diajari beberapa jurus, supaya......supaya......ilmu silatmu agak ada......ada kemajuan......" Ia menderita luka dalam dan pikirannya penuh amarah. Ia merasa kelima organ tubuhnya seakan jungkir balik, akhirnya ia berhasil menyelesaikan perkataannya, namun tubuhnya terhuyung-huyung hampir ambruk.


Mu Gaofeng mundur beberapa langkah dan berkata sambil tersenyum, "Cucu, aku khawatir ilmumu masih dangkal, bukan tandingan ketua Qingcheng Pai, kau bisa terbunuh olehnya. Kakek senang punya cucu yang bongkok dan tampan seperti kau, aku akan sedih kalau kau sampai dibunuh orang. Bagaimana kalau kau bersujud pada kakek supaya kakek mewakilimu bertarung?"


Lin Pingzhi melirik ke arah Yu Canghai, ia berpikir dalam hati, "Kalau aku gegabah bertarung dengan Yu Canghai, saat kemarahannya memuncak, bisa-bisa ia akan benar-benar membunuhku. Kalau nyawaku melayang, bagaimana aku bisa membalaskan dendam ayah ibu? Tapi aku Lin Pingzhi adalah seorang lelaki sejati, bagaimana aku bisa memanggil si bongkok ini kakek tanpa alasan yang jelas? Kalau aku sendiri yang dipermalukan, hal ini bukan sesuatu yang penting, tapi aku juga akan membuat ayah dipermalukan, hingga seumur hidupnya ia tak bisa mengangkat kepalanya lagi. Kalau aku bersujud di hadapannya, artinya aku berlindung di bawah ketiak 'Si Bongkok Dari Utara' dan setelah itu tak bisa mandiri lagi". Untuk sesaat ia tidak bisa menentukan sikapnya, sekujur tubuhnya gemetar, tangan kirinya bertumpu pada sebuah meja.


Yu Canghai berkata, "Menurutku kau tak punya nyali! Mau minta orang mewakilimu berkelahi, beberapa kali bersujud saja, apa susahnya?" Ia telah melihat bahwa hubungan diantara Lin Pingzhi dan Mu Gaofeng agak aneh. Mu Gaofeng jelas bukan benar-benar kakeknya, kalau tidak kenapa Lin Pingzhi memanggilnya 'sesepuh' dan sama sekali tak pernah memanggilnya 'kakek'? Mu Gaofeng juga tak mungkin menyuruh cucunya sendiri bersujud. Dengan perkataannya itu, ia ingin memancing Lin Pingzhi supaya berkelahi, sehingga ia sendiri dapat menggunakan kesempatan yang akan muncul.


Berbagai kenangan muncul dalam benak Lin Pingzhi, ia teringat akan beberapa hari silam, ketika Biro Pengawalan Fu Wei dianiaya oleh Qingcheng Pai dengan berbagai cara, kenangan akan berbagai penghinaan yang mereka terima silih berganti muncul di otaknya. Ia berpikir, "Asalkan di kemudian hari aku bisa memulihkan martabatku, tidak jadi soal kalau hari ini aku menerima hinaan". Ia segera berbalik, menekuk lututnya dan berkali-kali bersujud kepada Mu Gaofeng. Ia berkata, "Kakek, Yu Canghai membunuh orang tak berdosa tanpa pandang bulu, merampok harta orang, semua orang di dunia persilatan boleh membunuh dia. Mohon tegakkan keadilan dan enyahkan penjahat besar ini dari dunia persilatan".


Mu Gaofeng dan Yu Canghai sama sekali tak menyangka bahwa Lin Pingzhi akan melakukan hal itu. Ketika pemuda bongkok itu berada dalam cengkeraman Yu Canghai, ia tak pernah menyerah, jelas bahwa ia punya pendirian yang kuat. Tak nyana ia bersedia bersujud minta tolong, terlebih lagi di depan umum. Para hadirin mengira bahwa pemuda bongkok itu adalah cucu Mu Gaofeng, kalaupun bukan cucu kandung, tentunya cucu murid atau keponakan. Hanya Mu Gaofeng yang tahu bahwa dia tak punya hubungan apapun dengan orang ini. Walaupun Yu Canghai tahu ada sesuatu yang janggal, tapi ia masih tak bisa menebak apa hubungan mereka sesungguhnya. Ia hanya tahu bahwa Lin Pingzhi terdengar sangat kikuk ketika memanggilnya "kakek", kemungkinan besar ia melakukannya hanya karena terdesak.


Mu Gaofeng tertawa terbahak-bahak lalu berkata, "Cucuku yang baik, cucuku yang manis, ada apa? Apa kita mau main-main?" Walaupun mulutnya memuji Lin Pingzhi, namun wajahnya menghadap ke arah Yu Canghai, sehingga dua kalimat itu, yaitu "cucuku yang baik, cucuku yang manis" seperti ditujukan untuk kepada Yu Canghai.


Yu Canghai murka, namun ia tahu bahwa pertarungan hari ini bukan hanya menyangkut soal hidup dan mati dirinya, tapi juga menyangkut kehormatan Qingcheng Pai, diam-diam ia segera meningkatkan kewaspadaannya. Ia tersenyum kecil dan berkata, "Tuan Mu ingin memamerkan jurus tanpa tandingnya di hadapan teman-teman sekalian agar mata kita terbuka. Pindao akan mempertaruhkan nyawaku untukmu, Tuan". Barusan ini, Mu Gaofeng dua kali menepuk pundak Lin Pingzhi hingga lengannya tergetar, Yu Canghai tahu bahwa tenaga dalamnya sangat hebat dan ampuh. Begitu mereka bertarung, ia akan menyerang seperti halilintar yang menguncang gunung dan samudra. Ia berpikir, "Kabarnya si bongkok ini sangat sombong, kalau ia tak bisa mengalahkan aku dengan cepat, ia akan menyerang dengan gegabah. Dalam seratus jurus pertama aku harus hanya bertahan saja dan tidak menyerang, sampai aku berada diatas angin, setelah lewat seratus jurus, aku pasti bisa menemukan kelemahannya".


Mu Gaofeng melihat bahwa tubuh pendeta Tao yang pendek itu seperti anak kecil, kalau diangkat mungkin tak lebih dari delapan puluh jin beratnya, namun cara berdirinya sangat kokoh bagai gunung, pembawaannya seperti seorang jago papan atas, nampak jelas bahwa tenaga dalamnya cukup hebat. Ia berpikir, "Pendeta Tao kerdil ini benar-benar punya kepandaian luar biasa, di masa lalu banyak tokoh terkenal muncul dari Qingcheng Pai, si hidung kerbau ini adalah ketua perguruan, tentunya bukan orang biasa. Hari ini si bongkok tak boleh sampai kalah, kalau tidak nama besar yang sudah dipupuk seumur hidup akan hilang begitu saja".


* * *