
Pengamen tua itu tiba-tiba berdiri, perlahan-lahan berjalan ke sisinya, ia menelengkan kepalanya dan memandangi si buntak untuk beberapa saat. Si buntak berkata dengan marah, "Tua bangka, kau mau apa?" Orang tua itu mengeleng, "Kau omong sembarangan!" Ia membalikkan tubuhnya dan pergi. Si buntak murka, ia menjulurkan tangan hendak menjambak punggung orang tua itu.
Lin Pingzhi ingin bangkit dan bertarung mati-matian dengan Fang Renzhi dan Yu Renhao berdua, namun beberapa titik di punggungnya telah kena totok, bagian bawah tubuhnya dari pinggang ke bawah sama sekali tak bisa bergerak, ia berpikir bahwa kalau urat tangannya sampai diputuskan dan tulang selangkanya ditindik, dan sejak saat itu ia akan menjadi seorang cacat, ia lebih baik langsung mati saja. "Aah, aah!" Tiba-tiba terdengar dua jeritan panjang yang memilukan dari dapur belakang, suara itu adalah suara Jia Renda.
Fang Renzhi dan Yu Renhao serentak bangkit sambil menghunus pedang, lalu lari ke belakang. Di mulut pintu nampak berkelebat bayangan seseorang, seseorang yang tanpa suara telah melompat masuk, lalu menjambak kerah Lin Pingzhi dan membawanya pergi. "Ah", desah Lin Pingzhi ketika melihat wajah orang itu yang bopeng-bopeng penuh bekas cacar, ternyata dia adalah gadis buruk rupa penjual arak yang menyebabkan segala kemalangan ini.
Gadis buruk rupa itu menyeretnya keluar pintu, ketika mereka sampai di bawah pohon besar dimana kuda-kuda diikat, tangan kirinya menjambak punggungnya, lalu dengan kedua tangannya ia menaikkannya ke punggung seekor kuda. Lin Pingzhi tercengang, ia melihat bahwa tangan gadis buruk rupa itu memegang sebilah pedang, sinar putih pun berkilat, ternyata gadis buruk rupa itu telah menebas putus tali pengikat kuda, lalu menepuk-nepuk perlahan pantat kuda dengan pedangnya. Kuda itu merasa kesakitan, ia meringkik pilu, menderapkan keempat kakinya, dan lari seperti kesetanan ke dalam hutan.
Lin Pingzhi berteriak keras-keras, "Ma, ayah!" Dalam hati ia mengkhawatirkan ayah ibunya, ia tak mau melarikan diri sendirian. Tanpa memperdulikan keselamatan dirinya, ia menekan punggung kuda dengan kedua tangannya dan turun dari kuda sampai terguling-guling di tanah beberapa kali. Ia terjatuh ke balik rerumputan panjang. Kuda itu sama sekali tak berhenti, ia berlari secepat kilat sampai jauh. Lin Pingzhi menarik batang kayu yang ada diatas semak-semak, ia ingin berdiri, namun sepasang kakinya sama sekali tak bertenaga. Ia hanya mampu bangkit satu chi saja, lalu langsung terjatuh, pinggang dan pantatnya terasa amat sakit. Rupanya disebabkan karena saat ia jatuh dari punggung kuda, ia menabrak akar pohon dan batu-batuan di hutan itu.
Terdengan beberapa suara teriakan dan langkah kaki, ada seseorang yang datang mengejar, Lin Pingzhi cepat-cepat bersembunyi di balik rerumputan panjang. Ia mendengar suara senjata beradu, rupanya ada beberapa orang yang sedang bertarung sengit. Lin Pingzhi diam-diam menjulurkan kepalanya, mengintip dari tempat kosong di balik rerumputan panjang. Ia melihat dua pihak sedang bertarung, salah satu pihak adalah Yu Renhao dan Fang Renzhi dari Qingcheng Pai, sedangkan pihak lainnya adalah gadis buruk rupa itu, dan seorang lelaki, namun lelaki itu menutupi wajahnya dengan kain hitam, rambutnya kelabu, tentunya seorang tua. Lin Pingzhi terperangah ketika sadar bahwa dia adalah kakek gadis buruk rupa itu, si tua Sa, ia berpikir, "Dahulu aku kira mereka orang Qingcheng Pai, tak nyana nona ini malah datang menolong aku. Ai, kalau dari dulu aku tahu ilmu silatnya seperti ini, aku tentunya tidak perlu turun tangan, berkelahi membela keadilan segala dan mengundang bencana seperti ini". Ia kembali berpikir, "Pertarungan mereka begitu sengit, aku harus pergi menolong ayah dan ibu". Namun totokan di pungungnya masih belum terbuka, hingga ia sama sekali tak bisa bergerak.
Fang Renzhi berkali-kali meneriakkan sebuah pertanyaan, "Kau......kau sebenarnya siapa? Kenapa kau bisa menggunakan ilmu pedang Qingcheng Pai kami?" Orang tua itu tak menjawab, tiba-tiba seberkas sinar putih berkilauan, pedang yang ada di tangan Fang Renzhi terlepas dan terbang melayang. Fang Renzhi cepat-cepat melompat ke belakang, Yu Renhao bergegas maju untuk menangkis serangan. Orang tua bertopeng itu dengan cepat melancarkan beberapa jurus. Yu Renhao berteriak, "Kau......kau......" Suaranya terdengar panik, tiba-tiba, "Trang!", pedangnya terpelintir jatuh dari tangannya. Gadis buruk rupa itu bergegas maju selangkah, lalu dengan cepat menikam dengan pedangnya. Orang tua bertopeng itu menebaskan pedangnya untuk menangkis tikaman itu, ia berkata, "Jangan bunuh mereka!" Gadis buruk rupa itu berkata, "Mereka sangat kejam dan sudah membunuh banyak orang". Orang tua itu berkata, "Ayo kita pergi". Gadis buruk rupa itu agak bimbang. Orang tua itu berkata, "Jangan lupa perintah shifu". Gadis buruk rupa itu berkata, "Baiklah, kali ini kulepas mereka". Ia berbalik dan pergi masuk ke dalam hutan. Orang tua bertopeng itu mengikuti dibelakangnya, dalam sekejap mereka telah berlari jauh.
Perasaan takut dalam diri Yu dan Fang berdua agak berkurang, mereka berdua memungut pedang masing-masing. Yu Renhao berkata, "Aneh sekali! Bagaimana orang itu bisa menggunakan ilmu pedang kita?" Fang Renzhi berkata, "Mereka cuma bisa beberapa jurus, tapi......tapi jurus 'Angsa Terbang Di Langit' itu cara memakainya benar-benar......ai!" Yu Renhao berkata, "Mereka datang menyelamatkan bocah marga Lin itu......" Fang Renzhi berkata, "Aiyo, jangan-jangan ini bagian dari tipuan memancing harimau turun gunung. Suami istri Lin Zhennan!" Yu Renhao berkata, "Ya!" Kedua orang itu berbalik dan berlari pulang.
Setelah beberapa saat, terdengar derap kaki kuda perlahan-lahan menghampiri, dua penunggang kuda masuk ke dalam hutan, Fang Renzhi dan Yu Renhao masing-masing menuntun seekor kuda. Diatas punggung kuda nampak Lin Zhennan dan Nyonya Lin yang diikat erat-erat. Lin Pingzhi membuka mulut hendak berteriak, "Ma! Ayah!" Untung saja ia segera menarik kembali perkataannya itu. Dalam hati ia sadar bahwa kalau pada saat ini ia mengeluarkan suara sedikit pun, tak hanya sia-sia menghantar nyawa, kesempatan untuk menolong ayah ibunyapun juga akan hilang.
Fang Renzhi berkata dengan suara keras, "Jia Shidi, mengenai suami istri marga Lin itu, shifu sudah menegaskan bahwa kita harus menangkap mereka hidup-hidup. Kalau sampai terjadi sesuatu pada mereka, lihat saja berapa lapis kulitmu yang akan dikupas oleh beliau". Jia Renda mendengus, ia tak berani bersuara lagi.
* * *
Ketika Lin Pingzhi mendengar ketiga orang Qingcheng Pai itu membawa pergi ayah ibunya, di dalam hati ia malah merasa agak lega, "Mereka membawa ayah dan ibu ke Gunung Qingcheng, tentunya mereka tak akan membuat susah ayah dan ibu di jalan. Dari Fuzhou ke Gunung Qingcheng di Sichuan, jaraknya sangat jauh, bagaimanapun juga aku harus memikirkan cara untuk menyelamatkan ayah dan ibu". Ia berpikir lagi, "Begitu sampai di kantor cabang, aku harus cepat-cepat mengirim orang ke Luoyang untuk memberi kabar waigong".
Ia berbaring di tengah rerumputan tanpa bersuara mau pun bergerak, nyamuk dan lalat datang mengigit, namun ia tak perduli. Setelah lewat beberapa shichen, hari sudah gelap, titik-titik jalan darah yang tertotok di punggungnya akhirnya terurai, ia berusaha untuk berdiri, lalu perlahan-lahan kembali ke depan kedai nasi.
Ia berpikir, "Aku harus menganti penampilan dan bajuku, supaya kalau kedua orang jahat itu melihatku, mereka tak bisa mengenaliku, kalau tidak aku akan langsung dibunuh, lalu bagaimana bisa menolong ayah ibu?" Ia masuk ke kamar pemilik kedai nasi, lalu menyalakan lampu minyak, ia ingin mencari satu setel pakaian. Akan tetapi orang miskin di pegunungan itu benar-benar sangat melarat, satu setel baju gantipun mereka tak punya. Ia melihat bahwa mayat suami istri pemilik kedai nasi itu masih tergeletak di lantai, pikirnya, "Apa boleh buat, aku harus bertukar pakaian dengan orang mati". Ia melucuti pakaian orang mati itu, lalu membawanya di tangannya, namun hidungnya mencium bau yang sangat memuakkan. Ia ingin mencucinya terlebih dahulu, baru dipakai, tapi ia mengurungkan niatnya, "Kalau hanya karena ingin bersih sesaat, aku membuang waktu sehingga kehilangan kesempatan emas untuk menyelamatkan ayah dan ibu, bukankan aku akan menyesal selamanya?" Sambil mengertakkan gigi, ia melepaskan seluruh pakaiannya, lalu memakai pakaian orang mati itu.
Ia menyalakan sebuah obor untuk menerangi tempat di sekitarnya. Ia melihat pedang milik ayahnya dan miliknya sendiri, serta golok emas ibunya, semuanya tergeletak di lantai. Ia memungut pedang sang ayah, dibungkusnya dalam sebuah kain gombal, lalu diselipkannya dalam punggung bajunya. Ketika meninggalkan kedai nasi itu, ia mendengar sayup-sayup suara kodok bernyanyi dari sebuah kali kecil di gunung itu, tiba-tiba ia merasa sengsara, hampir tak kuasa menahan tangis. Ia mengangkat tangannya dan melemparkan obor, cahayanya menorehkan seberkas lingkaran merah di tengah kegelapan malam, sebelum akhirnya jatuh ke sebuah kolam, apinya langsung padam, dan seluruh penjuru alam pun kembali gelap gulita.
Ia berpikir, "Lin Pingzhi, ah, Lin Pingzhi, kalau kau tak bisa berhati-hati dan menahan diri, lalu jatuh di tangan bandit jahat Qingcheng Pai itu, kau akan jadi seperti obor yang jatuh ke dalam kolam yang airnya bau itu". Ia mengangkat lengan bajunya untuk menyeka matanya, namun ketika lengan baju itu menyentuh wajahnya, bau busuk langsung menyergap hidungnya hingga ia ingin muntah. Ia berkata dengan suara keras, "Bau yang cuma sedikit ini harus bisa kutahan, kalau tidak tak pantas aku disebut lelaki sejati". Ia langsung melangkah pergi.
Baru berjalan beberapa langkah, pinggangnya terasa amat sakit, ia mengertakkan gigi dan malah berjalan dengan lebih cepat. Ia berjalan tak tentu arah, karena ia tak tahu ke arah mana ayah ibunya dibawa. Ia berjalan hingga fajar menyingsing, sinar mentari bersinar ke arah wajahnya dan membuat matanya menjadi silau. Lin Pingzhi merasa cemas, "Bandit jahat itu membawa ayah dan ibu ke Gunung Qingcheng, Sichuan ada di sebelah barat Fuzhou, tapi kenapa aku malah berjalan ke timur?" Ia segera berbalik, lalu berjalan membelakangi matahari dengan cepat. Ia berkata dalam hati, "Ayah dan ibu sudah berjalan lebih dari setengah hari, aku juga berjalan ke arah yang salah selama setengah malam, sudah terpisah jauh dengan mereka. Lebih baik aku membeli seekor kuda tunggangan, hanya saja aku tak tahu masih punya uang berapa". Ia meraba-raba sakunya, lalu mengeluh. Ketika mereka baru berangkat, emas, perak dan perhiasan semuanya ditaruh di dalam kantong kulit di sisi pelana, Lin Zhennan dan Nyonya Lin membawa uang, namun ia sendiri sama sekali tak membawa sepeser pun. Ia makin bingung, dihentakkannya kakinya ke tanah seraya berseru, "Sekarang aku harus bagaimana? Sekarang aku harus bagaimana?" Setelah beberapa saat, ia berpikir, "Kalau mau menyelamatkan ayah dan ibu, hal yang paling penting adalah tidak boleh mati kelaparan". Ia pun berjalan ke kaki gunung.