
Ia melihat ada lima kursi kehormatan yang diatur berjejer, namun empat diantaranya kosong, hanya di kursi yang menghadap ke timur duduk seorang pendeta Tao yang sosoknya tinggi besar dan wajahnya merah. Lao Denuo tahu bahwa lima kursi kehormatan itu disediakan untuk kelima ketua Wuyue Jianpai. Ketua empat perguruan, yaitu Songshan, Hengshan, Huashan dan Heng Shan, semua belum datang. Pendeta Tao berwajah merah itu adalah ketua Taishan Pai, Pendeta Tianmen. Di kedua sisinya duduk sembilan belas sesepuh dunia persilatan, Dingyi Shitai dari Hengshan Pai, Yu Canghai dari Qingcheng Pai, He Sanqi dari Yandangshan di Zhejiang, semua ada disitu. Di sisi selatan duduk seseorang yang memakai jubah sutra berwarna merah tua, tubuhnya buntak, penampilannya seperti seorang kaya setengah baya, ia adalah sang tuan rumah Liu Zhengfeng. Lao Denuo terlebih dahulu memberi hormat kepada tuan rumah Liu Zhengfeng, lalu bersujud kepada Pendeta Tianmen dan berkata, "Murid Huashan Lao Denuo menghadap Tianmen Shishu".
Wajah Pendeta Tianmen dipenuhi nafsu membunuh, seakan amarah luar biasa yang terpendam dalam hatinya akan meledak. Tangan kirinya mengebrak keras-keras sandaran tangan kursi kehormatan yang didudukinya, ia berkata dengan lantang, "Mana Linghu Chong?" Suaranya ketika mengatakan kalimat itu sangat keras, benar-benar seperti petir yang menguncang separuh langit.
* * *
Semua orang di aula besar mendengar teriakannya yang ganas itu dari kejauhan, setiap orang sangat terkejut sehingga air muka mereka berubah.
Si gadis Lingshan berkata dengan kaget, "Kakak ketiga, mereka mencari da shige lagi". Liang Fa mengangguk, tapi tak berbicara apa-apa, setelah beberapa saat, ia berkata dengan pelan, "Semua tetap tenang! Di aula besar ini berkumpul banyak orang gagah dari segala penjuru, jangan sampai orang memandang rendah Huashan Pai".
Lin Pingzhi berpikir, "Lagi-lagi mereka mencari Linghu Chong. Si tua bangka Linghu Chong ini telah membuat kekacauan yang tidak sedikit".
* * *
Telinga Lao Denuo terguncang hingga berdenging mendengar teriakan keras Pendeta Tianmen itu, ia berlutut di lantai untuk beberapa saat, lalu bangkit berdiri dan berkata, "Lapor kepada shishu, rombongan kami berpisah dengan Linghu Shixiong di Hengyang. Kami berjanji untuk bertemu di kota Hengyang, lalu bersama-sama datang ke rumah Liu Shishu untuk mengucapkan selamat. Sepertinya hari ini ia belum datang, tapi besok pasti akan datang".
Pendeta Tianmen berkata dengan marah, "Dia masih berani datang? Dia masih berani datang? Linghu Chong adalah murid pertama ketua Huashan Pai kalian, ia tergolong seorang tokoh dari perguruan aliran lurus yang terkemuka. Tak nyana dia malah bergaul dengan bandit besar pemetik bunga Tian Boguang, perampok dan pemerkosa yang tak segan-segan melakukan segala kejahatan itu, untuk apa dia berbuat seperti itu?"
Lao Denuo berkata, "Setahu murid, da shige dan Tian Boguang belum pernah bertemu. Biasanya da shige suka minum-minum, kemungkinan besar ia tak tahu teman minumnya itu Tian Boguang, ia tak sengaja ikut dia minum arak".
Pendeta Tianmen menghentakkan kakinya, ia bangkit dan berkata dengan geram, "Kau masih bicara sembarangan, masih membela bajingan Linghu Chong itu. Muridku Tiansong, kau......kau beritahu dia bagaimana kau terluka. Linghu Chong kenal atau tidak dengan Tian Boguang?"
Kedua daun pintu diletakkan di sisi barat, di atas daun pintu yang satu tergeletak sesosok mayat, di atas daun pintu yang lain terbaring seorang pendeta Tao berjanggut panjang, wajahnya pucat pasi, janggutnya bersimbah darah segar, ia berkata dengan suara pelan, "Pagi hari ini.......aku......aku bersama Chi Shizhi[8] di Hengyang......Huiyan......Kedai Arak Huiyan, melihat Linghu Chong......juga ada Tian Boguang dan seorang biksuni kecil......" Berbicara sampai disini, ia sudah kehabisan napas.
Liu Zhengfeng berkata, "Kakak Tiansong, kau tak usah mengulangi ceritamu, aku akan mengatakan pada dia apa yang baru saja kau ceritakan kepada kami". Ia memalingkan kepala ke arah Lao Denuo dan berkata, "Keponakan Lao, kau dan Keponakan Linghu beserta saudara-saudara seperguruanmu sudah datang dari jauh untuk mengucapkan selamat kepadaku, aku merasa sangat berterima kasih kepada Yue Shixiong dan keponakan semua. Hanya aku tidak mengerti bagaimana Keponakan Linghu bisa kenal dengan Tian Boguang. Kami akan menyelidiki kejadian yang sebenarnya, kalau Keponakan Linghu benar-benar bersalah, kita Wuyue Jianpai adalah satu keluarga, kita harus menasehati dia dengan baik-baik......"
Pendeta Tianmen berkata dengan geram, "Menasehati dia baik-baik! Bersihkan perguruan, penggal kepalanya!"
Liu Zhengfeng berkata, "Yue Shixiong selalu menjalankan peraturan perguruan dengan sangat ketat. Di dunia persilatan, reputasi Huashan Pai selalu nomor satu, hanya kali ini Keponakan Linghu agak keterlaluan".
Lao Denuo berkata, "Liu Shishu, mohon shishu beritahu kami mengenai apa yang terjadi sebenarnya".
Liu Zhengfeng berkata, "Baru saja Pendeta Tiansong berkata, 'Pagi-pagi hari ini, dia dan murid Saudara Tianmen, Keponakan Chi Baicheng, minum arak di Kedai Arak Huiyan di Hengyang. Setelah mereka naik ke loteng kedai, mereka melihat tiga orang sedang makan dan minum disana. Ketiga orang ini adalah si maling cabul Tian Boguang, Keponakan Linghu dan murid Dingyi Shitai, biksuni kecil Yilin. Pada awalnya Saudara Tiansong tidak mengenali ketiga orang itu, hanya dari warna baju mereka ia tahu bahwa salah satunya adalah murid Huashan Pai, dan yang satu lagi adalah murid Hengshan Pai. Dingyi Shitai, mohon jangan marah, Keponakan Yilin dipaksa orang, ia tidak mau berada disana, hal itu jelas terlihat. Saudara Tiansong berkata, orang ketiga adalah seorang lelaki berumur tigapuluhan tahun yang memakai baju kembang-kembang, tapi ia tidak tahu orang ini siapa. Setelah itu ia mendengar Keponakan Linghu berkata, 'Kakak Tian, walaupun ilmu ringan tubuhmu tak tertandingi di kolong langit ini, tapi kalau kau bernasib buruk, walaupun ilmu ringan tubuhmu tinggi, kau juga tak bisa melarikan diri'. Karena marganya Tian dan katanya ilmu ringan tubuhnya tak tertandingi di kolong langit, dia pasti si 'Kelana Tunggal Selaksa Li' Tian Boguang. Saudara Tiansong membenci kejahatan seperti seorang musuh. Ketika ia melihat mereka minum-minum bertiga satu meja, ia jadi naik darah".
Lao Denuo menjawab, "Benar!" Ia berpikir, "Di loteng kedai Huiyan, tiga orang minum-minum bersama, yang seorang adalah maling cabul yang terkenal jahat, yang seorang lagi adalah seorang biksuni kecil yang hidup membiara, tapi orang ketiga adalah murid kepala Huashan Pai kita. Benar-benar aneh bin ajaib".
Liu Zhengfeng berkata, "Setelah itu mereka mendengar Tian Boguang berkata, "Aku Tian Boguang datang dan pergi sesuka hatiku, mengacaukan seluruh kolong langit, kenapa harus banyak pikir? Biksuni kecil ini, karena kita sudah melihatnya, biar saja dia menemani kita disini......' "
Ketika Liu Zhengfeng berkata sampai disini, Lao Denuo melirik ke arahnya, dan juga memperhatikan Pendeta Tiansong, rasa curiga terbayang di wajahnya. Liu Zhengfeng langsung mengerti, ia berkata, "Saudara Tiansong terluka parah, ia tidak bisa bicara dengan sejelas ini, aku menambahkan satu dua kata, namun garis besarnya tidak salah. Saudara Tiansong, benar tidak?" Pendeta Tiansong berkata, "Be......benar. Tidak salah......tidak.......tidak salah!"
Liu Zhengfeng berkata, "Saat itu Keponakan Chi Baicheng sudah tak bisa menahan diri lagi, ia mengebrak meja sambil memaki, 'Kau ini maling cabul Tian Boguang bukan? Semua orang di dunia persilatan akan membunuhmu dengan senang hati, tapi kau malah membual sesuka hatimu disini. Apa kau sudah bosan hidup?' Ia menghunus senjatanya dan maju bertarung. Namun sayangnya ia dibunuh oleh Tian Boguang. Nyawa seorang pendekar muda hilang di tangan orang jahat, sangat menyedihkan. Saudara Tiansong segera maju berlaga, ia menjunjung tinggi keadilan, selalu siap untuk membunuh orang jahat. Setelah bertarung seratus jurus lebih, ia kurang berhati-hati, dan secara tak disangka-sangka termakan akal busuk Tian Boguang, dadanya terkena tikam golok. Akan tetapi setelah itu Keponakan Linghu malah duduk bersama maling cabul Tian Boguang itu minum arak. Ia benar-benar tak memperdulikan rasa setia kawan diantara perserikatan Wuyue Jianpai kita. Oleh karena itu Saudara Tiansong sangat marah".
Pendeta Tianmen berkata dengan gusar, "Rasa setia kawan perserikatan Wuyue Jianpai apa, hah, hah! Bagi kita orang yang mempelajari ilmu silat, batas diantara yang benar dan yang salah harus jelas. Bersama maling cabul macam ini......maling cabul macam ini......" Ia begitu marah hingga wajahnya merah padam, setiap helai rambut di janggutnya seakan berdiri tegak. Tiba-tiba dari balik pintu terdengar seseorang berkata, "Shifu, murid hendak melaporkan sesuatu". Pendeta Tianmen mengenali suara itu sebagai suara muridnya, maka ia berkata, "Masuk! Ada apa?"
Seorang lelaki berusia tiga puluhan tahun masuk ke dalam ruangan, pertama-tama ia memberi hormat pada tuan rumah Liu Zhengfeng, lalu ia memberi hormat kepada para sesepuh yang lain, setelah itu ia berpaling kepada Pendeta Tianmen dan berkata, "Shifu, Tianbai Shishu menyampaikan berita bahwa dia memimpin para murid perguruan kita untuk mencari kedua maling cabul Tian Boguang dan Linghu Chong di Hengyang, tapi masih belum menemukan jejak mereka......"
Ketika Lao Denuo mendengar bahwa secara mengejutkan da shigenya juga digolongkan sebagai 'maling cabul', ia sangat malu, tapi sang da shige memang benar-benar bersama Tian Boguang, jadi apa yang bisa ia katakan?
Murid Taishan itu melanjutkan berbicara, "Tapi diluar Kota Hengyang, ditemukan sesosok mayat, di perutnya tertancap sebilah pedang, pedang itu milik si maling cabul Linghu Chong......" Pendeta Tianmen bertanya dengan cemas, "Siapa yang mati?" Tatapan mata orang itu berpindah ke arah Yu Canghai, ia berkata, "Ia adalah seorang kakak dari perguruan Yu Shishu, waktu itu kami tidak mengenalinya, setelah jenazah itu dipindahkan ke kota Hengshan, baru ada orang yang mengenalinya, ternyata ia adalah Luo Shixiong, Luo Renjie......"
"Ah!" ujar Yu Canghai, ia bangkit berdiri dan berkata, "Dia adalah Renjie? Jenazahnya dimana?"
Dari balik pintu terdengar seseorang menyela, "Disini". Yu Canghai merasa sangat
terpukul, orang yang mati itu ialah Luo Renjie, salah satu dari keempat murid utama perguruannya yang dijuluki 'Empat Ksatria Qingcheng', namun ia tetap tenang. Ia berkata, "Mohon supaya keponakan membawa masuk jenazahnya". Di balik pintu seseorang menjawab, "Baik!" Dua orang mengusung sebuah daun pintu dan membawanya masuk. Kedua orang itu yang satu adalah murid Heng Shan Pai, sedangkan yang satu lagi murid Qingcheng Pai.