
Angin sepoi-sepoi membelai pohon liu, harumnya bunga memabukkan manusia, musim semi di Selatan memang benar-benar sedang semarak-semaraknya.
Jalan Raya Gerbang Barat di Prefektur Fuzhou, Propinsi Fujian, adalah jalan raya berlapis batu yang membentang sampai ke Gerbang Barat. Di tepi jalan itu berdiri sebuah gedung megah. Di atas kedua altar batu yang berada di kiri kanannya berdiri tiang bendera yang kira-kira dua zhang panjangnya, di pucuknya berkibar bendera hijau. Di bendera sebelah kanan tersulam dengan benang sutra berwarna kuning seekor singa jantan, pembawaannya gagah siap menerkam. Ketika bendera berkibar-kibar ditiup angin, singa jantan itu seakan bergerak-gerak, semakin gagah perkasa. Di atas kepala singa jantan itu tersulam dengan benang sutra hitam seekor kelelawar yang sedang terbang dengan sayap terbentang. Di bendera sebelah kiri tersulam empat huruf berwarna hitam 'Biro Pengawalan Fu Wei', dengan bordiran berwarna perak, kelihatannya sangat mentereng.
Gerbang utama rumah itu dipernis dengan lak berwarna merah, dihiasi dengan paku-paku tembaga sebesar cawan teh yang berkilauan. Di atas gerbang terdapat papan melintang bertuliskan empat huruf besar 'Biro Pengawalan Fu Wei', yang ditulis dengan lak emas. Dibawahnya tertulis melintang dengan dua huruf yang lebih kecil 'Kantor Pusat'. Di balik gerbang terdapat dua bangku panjang, dimana duduk delapan orang lelaki gagah berseragam, punggung mereka masing-masing tegak bagai buluh, jelas bukan orang sembarangan.
Tiba-tiba dari halaman belakang terdengar derap kaki kuda, kedelapan lelaki itu serentak berdiri, berebut keluar gerbang. Terlihat dari pintu samping barat muncul lima penunggang kuda. Mereka menuju ke pintu gerbang lalu berhenti di depannya. Paling depan nampak seekor kuda yang seluruh tubuhnya berwarna putih salju, pelana dan sanggurdinya seluruhnya disepuh perak. Diatas pelana duduk seorang pemuda berpakaian brokat, umurnya sekitar delapan belas atau sembilan belas tahun, di atas pundak kirinya bertengger seekor elang, di pinggangnya tergantung sebilah pedang bermata dua, di punggungnya tersandang sebuah busur panjang, dengan gagahnya ia duduk diatas kuda. Di belakangnya menyusul empat penunggang kuda, keempatnya memakai pakaian hitam pendek.
Ketika kelima penunggang kuda itu mencongklang melewati pintu gerbang biro pengawalan, tiga diantara kedelapan lelaki tadi serentak berseru, "Tuan muda pergi berburu!" Pemuda itu tertawa terbahak-bahak, suara cemeti kudanya mengelegar di langit luas, suaranya berkumandang di udara, kuda putih yang ditunganginya meringkik panjang, berderap di jalan raya berlapis batu. Seorang lelaki berteriak, "Pengawal Shi, hari ini bawa pulang babi hutan, supaya kita semua bisa makan sepuasnya." Di belakang pemuda itu menyusul seorang lelaki berumur empat puluhan tahun. Sambil tertawa ia berkata, "Ekor babi hutan pasti untukmu, tapi kau jangan mabuk-mabukan dulu." Diiringi derai tawa, rombongan itu dengan cepat telah pergi jauh.
Ketika kelima penunggang kuda itu telah melewati gerbang kota, sang tuan muda, Lin Pingzhi, dengan lembut menggunakan kedua betisnya untuk memacu sang kuda putih, yang keempat kakinya segera berderap dengan cepat. Keempat penunggang kuda lainnya langsung tertinggal jauh di belakang. Setelah sampai di sebuah lereng, ia melepaskan elang untuk menangkap seekor kelinci kuning yang muncul dari hutan. Ia mengambil busur panjang yang tergantung di punggungnya, lalu mengambil anak panah berukir dari kantong panah di sisi pelana. Dipasangnya anak panah pada busur, dan dengan suara berdesir langsung terpanahlah seekor kelinci kuning. Selagi memanah, seekor kelinci lain telah lari bersembunyi di balik rerumputan tebal. Pengawal Zheng langsung berkuda menghampiri, dan berkata sambil tertawa, "Tuan muda, ilmu memanahmu sungguh hebat!" Terdengar suara Pengiring Bai berteriak dari kiri hutan, "Tuan muda, cepat kesini, disini ada ayam hutan!"
Lin Pingzhi segera memacu kuda mendatangi. Ia melihat seekor ayam hutan terbang keluar dari hutan. Lin Pingzhi segera melepaskan anak panah. Ia melihat ayam hutan itu terbang diatas kepalanya, tak disangka-sangka tak kena terpanah. Dengan tangkas, Lin Pingzhi melecutkan cemetinya ke udara. Lecutan yang kuat itu mengenai sang ayam hutan, yang langsung jatuh ke tanah dengan suara berdebam, bulunya yang berwarna-warni berterbangan ke segala penjuru. Mereka berlima bersorak sorai. Pengawal Shi berkata," Tuan muda hanya dengan sekali lecut, tak hanya ayam hutan, burung elangpun bisa dijatuhkan!"
Selagi kelima orang itu berburu di hutan, Pengawal Shi dan Zheng, serta para Pengiring Bai dan Chen, untuk menyenangkan hati sang tuan muda, selalu mengiring binatang buruan ke arahnya untuk memberinya kesempatan emas untuk membunuh binatang buruan itu, tapi mereka sendiri tak ikut turun tangan. Setelah berburu selama dua shichen , Lin Pingzhi telah berhasil memanah dua ekor kelinci dan dua ekor ayam hutan, hanya saja belum mendapatkan binatang buruan besar seperti babi hutan dan rusa. Karena belum puas, ia berkata," Mari kita pergi ke gunung di depan sana mencari buruan lagi."
Pengawal Shi berpikir, "Kalau pergi ke gunung itu, bisa-bisa sampai hari gelap belum selesai, kalau kita pulang nanti pasti akan kena omel nyonya". Ia lalu berkata, "Hari sudah hampir gelap, di puncak gunung sana banyak batu tajam, jangan sampai kaki kuda putih terluka. Di lain hari kita bisa bangun pagi-pagi untuk berburu babi hutan besar". Kuda jantan itu dibeli dengan harga mahal oleh nenek dari pihak ibu Lin Pingzhi di Luoyang, dua tahun yang lalu kuda itu diberikan kepadanya sebagai hadiah ulang tahun ketujuh belasnya.
Benar saja, begitu mendengar kalau kaki kuda bisa terluka, Lin Pingzhi langsung mengkhawatirkan kudanya. Ia berkata," Naga salju kecilku ini sangat pintar, pasti bisa menghindari batu tajam, tapi kuda-kuda kalian ini takutnya tidak bisa. Baiklah, kita semua pulang, jangan sampai pantat Chen Qi hancur berkeping-keping".
Sambil tertawa terbahak-bahak, kelima orang itu berbalik pulang. Lin Pingzhi melarikan kudanya, tapi tak mengikuti jalan pulang sebelumnya, malah menuju ke utara. Setelah berkuda beberapa saat, ia merasa puas, lalu perlahan-lahan mengendurkan kekang kudanya. Ia melihat di tepi jalan sana terdapat papan nama sebuah kedai arak. Pengawal Zheng berkata," Tuan muda, bagaimana kalau kita minum arak? Masakan daging kelinci dan ayam hutan segar sungguh lezat kalau ditemani arak". Lin Pingzhi berkata sambil tertawa, "Kau cuma pura-pura ikut berburu denganku, sebenarnya yang kau pentingkan cuma minum arak. Kalau sekarang tak kuundang minum arak, besok kau pasti akan malas ikut denganku". Diikatnya kudanya, lalu ia turun dari punggung kuda dan melenggang dengan santai menuju kedai arak itu.
Dahulu, si tua Cai pemilik kedai akan cepat-cepat mengambil tali kekang dari tangan mereka. "Tuan muda hari ini telah mendapatkan begitu banyak binatang buruan, ilmu memanahnya pasti sangat hebat, di dunia ini sungguh jarang ada!" Demikianlah puja puji yang sering dilantunkannya. Akan tetapi sekarang ini, saat tiba di depan kedai arak itu, suasana sangat sepi, di sisi tungku arak hanya terlihat seorang gadis muda berbaju hijau, rambutnya dikonde dua dan masing-masing dihiasi sebuah tusuk konde. Sepertinya ia sedang sibuk menata arak dagangannya, wajahnya menghadap ke dalam, seakan ia tak ingin membalikkan tubuhnya. Pengawal Zheng berteriak,"Mana si tua Cai? Kenapa tak keluar urus kuda kita?" Pengiring Bai dan Chen Qi menarik keluar bangku panjang, membersihkan debu dengan lengan baju mereka, lalu mempersilahkan Lin Pingzhi duduk. Pengawal Zheng dan Shi berdua duduk di sebelah kanan meja, kedua pengiring duduk di meja lain.
Suara batuk-batuk terdengar dari ruang belakang, lalu keluarlah seorang tua berambut putih. "Tamu-tamu silahkan duduk. Mau minum arak?" Ia berbicara dengan logat utara. Pengawal Zheng berkata,"Tak mau minum arak, masa mau minum teh? Ambilkan tiga jin arak Daun Bambu Hijau. Si tua Cai kemana? Bagaimana kedai arak ini bisa berganti pemilik?" Orang tua itu berkata,"Baik. Baik. Wan Er, ambilkan tiga jin arak Daun Bambu Hijau. Aku tak bisa pura-pura di hadapan tamu. Aku si tua marga Sa, asli dari daerah ini, dari kecil sudah pergi berdagang, putra dan menantuku semua sudah meninggal. Aku pikir pohon yang sudah tinggi, daunnya akan luruh kembali ke akarnya, maka kubawa cucu perempuanku pulang kampung. Aku tahu setelah meninggalkan rumah empat puluh tahun lebih, sanak saudara dan handai taulan di kampung sudah tiada. Kebetulan si tua Cai pemilik kedai ini sudah tak mau kerja lagi, kedai ini dijual dengan harga 30 tahil perak kepada aku si tua. Ai, akhirnya aku pulang kampung, bisa dengar orang bicara dengan logat kampung halaman, betapa senangnya aku. Aku sendiri si tua ini benar-benar malu tak bisa bicara dengan logat kampung halaman lagi".
Sang gadis kembali membawa nampan kayu sambil menunduk. Di hadapan Lin Pingzhi sekalian, ia menata cawan dan sumpit, lalu meletakkan tiga poci arak diatas meja. Ia pergi sambil terus menunduk, tak sekalipun melihat ke arah para tamu.
Lin Pingzhi melihat bahwa tubuh gadis itu ramping dan gerakannya lincah. Kulitnya berwarna hitam dan kasar. Di wajahnya nampak tidak sedikit bekas-bekas cacar. Roman wajahnya benar-benar jelek. Ia pikir gadis ini tentunya baru saja mulai menjual arak, pembawaannya masih kaku, maka seketika itu juga ia tak memperhatikannya lagi.
Pengawal Shi mengambil seekor ayam hutan dan seekor kelinci kuning, lalu memberikannya kepada si tua Sa sambil berkata,"Cuci dan kuliti sampai bersih, lalu ditumis, dan hidangkan dalam dua piring". Si tua Sa berkata," Baik. Baik! Tuan tuan ini mau minum arak. Perlu ditemani daging sapi, kacang panjang dan kacang tanah". Tanpa menunggu perintah sang kakek, Wan Er langsung membawa daging sapi, kacang panjang dan lain-lain ke atas meja. Pengawal Zheng berkata,"Tuan muda Lin ini adalah putra pemilik Biro Pengawalan Fu Wei. Seorang pendekar muda pembela keadilan. Buang duit seperti air. Kalau kalian berdua bisa memasakkan masakan yang sesuai dengan selera tuan muda, tak sampai dua bulan modal kalian yang sebesar tiga puluh tahil perak itu pasti sudah akan kembali". Si tua Sa berkata," Baik. Baik! Banyak terima kasih. Banyak terima kasih!", lalu pergi membawa ayam hutan dan kelinci kuning itu.
Pengawal Zheng menuangkan arak untuk Lin Pingzhi dan Pengawal Shi. Ia mengeringkan cawannya, menjilat bibir, lalu berkata, "Kedai arak sudah bertukar pemilik, tapi rasa araknya masih sama". Sekali lagi ia menuang secawan arak, namun selagi hendak minum, tiba-tiba ia mendengar derap kaki kuda. Dua penunggang kuda datang dari utara, mencongklang di jalan raya.
Kedua penunggang kuda itu cepat sekali datangnya, tiba-tiba mereka sudah sampai di depan kedai, lalu terdengar suara seseorang berkata, "Disini ada kedai arak, ayo minum barang secawan dua cawan!" Pengawal Shi mendengar mereka berbicara dengan logat Sichuan, ia berpaling untuk memperhatikan mereka. Ia melihat dua lelaki berjubah hijau turun dari kuda di bawah pohon beringin yang tumbuh di depan kedai, lalu masuk ke kedai sambil melirik Lin Pingzhi dan kawan-kawannya. Mereka duduk dengan sikap angkuh.
Kepala kedua orang itu terlilit secarik kain putih, sekujur tubuh mereka terbalut jubah hijau. Dari cara berpakaiannya, sepertinya mereka bukan orang sembarangan. Akan tetapi kedua kaki mereka yang memakai sepatu rami telanjang. Pengawal Shi tahu bahwa orang Sichuan memang begitu cara berpakaiannya. Kepala mereka dililit kain putih untuk mengenang saat meninggalnya Zhuge Liang. Orang Sichuan berkabung untuknya, karena mereka benar-benar mencintai sang Adipati Wu. Walaupun seribu tahun telah berlalu, kain putih masih terlilit di kepala. Lin Pingzhi mau tak mau menjadi heran, pikirnya, "Kedua orang ini bukan sastrawan, tapi juga bukan pendekar. Dari penampilannya kelihatannya mereka sangat aneh". Terdengar si pemuda berseru,"Ambilkan arak! Propinsi Fujian sialan ini penuh gunung, bikin capai kuda saja".
Wan Er dengan kepala tertunduk menghampiri meja kedua orang itu, lalu dengan suara lirih bertanya, "Tuan tuan ingin arak apa?" Walaupun lirih, suaranya jernih dan merdu, enak didengar. Si lelaki muda tampak kaget, tiba-tiba ia menjulurkan tangan kanannya lalu mengangkat dagu Wan Er. Ia berkata sambil tertawa,"Sayang sekali! Sayang sekali!" Wan Er terkejut, lalu cepat-cepat pergi ke belakang. Lelaki yang satunya lagi berkata sambil tersenyum, "Adik Yu, potongan tubuh nona cacar ini sebenarnya boleh juga. Mukanya bulat telur, tapi penuh taji seperti kulit buah delima atau kulit rami". Si marga Yu tertawa terbahak-bahak.
Lin Pingzhi naik pitam, dijulurkannya tangannya untuk mengebrak meja keras-keras, lalu ia berkata,"Kalian bicara apa! Kalian dua anak anjing buduk yang tak punya mata, datang ke Prefektur Fuzhou kami ini cuma untuk mengacau!"
Lelaki muda bermarga Yu itu berkata sambil tertawa,"Adik kedua Jia, orang ini memaki orang lain di depan orang banyak, coba kau tebak, si anak kelinci ini memaki siapa?" Wajah Lin Pingzhi mirip ibunya, roman mukanya halus, benar-benar cantik. Dalam keadaan biasa, kalau ada lelaki yang main mata dengannya seperti ini, pasti sudah kena bogem mentah. Saat ini, mendengar dia disebut 'anak kelinci' bagaimana ia bisa menahan diri? Diangkatnya poci arak yang ada diatas meja, lalu dilemparkannya. Si marga Yu itu menghindar sehingga poci itu mendarat di rerumputan di balik pintu kedai arak itu. Arak pun tumpah di atas tanah. Pengawal Shi dan Zheng bergegas mendatangi, langsung menuju ke sisi kedua orang itu.
Pengawal Zheng berkata dengan lantang, "Dia ini adalah Lin Gongzi putra pemilik Biro Pengawalan Fu Wei. Nyali kalian besar sekali, berani-beraninya menantang langit dan bumi?" Begitu kata 'bumi' keluar dari mulut, tangan kirinya langsung mengepal untuk menyerang ke arah muka. Tangan kiri lelaki marga Yu itu menangkis, memegang pergelangan tangan Pengawal Zheng, lalu menarik dengan sekuat tenaga. Pengawal Zheng terhuyung, tubuhnya membentur meja dengan keras. Lelaki marga Yu itu memakai siku kirinya untuk memukul keras-keras tengkuk Pengawal Zheng. Sambil mengerang, Pengawal Zheng ambruk bersama dengan meja itu dan menyeret orang-orang lainnya ikut jatuh ke lantai.
Walaupun bukan termasuk jagoan di Biro Pengawalan Fu Wei, Pengawal Zheng juga bukan jago kelas kambing. Begitu melihat bahwa secara tak disangka-sangka ia langsung ambruk dalam sekali gebrak, Pengawal Shi tahu musuh bukan lawan yang enteng. Ia bertanya, "Anda siapa? Di dunia persilatan, siapa yang berani memandang Biro Pengawalan Fu Wei dengan sebelah mata?" Si lelaki marga Yu tertawa dingin, "Biro Pengawalan Fu Wei? Dari dulu sampai sekarang belum pernah dengar! Binatang apa itu?"
Lin Pingzhi melompat sambil bersuara dengan lantang,"Khusus untuk menghajar bajingan seperti kalian!" Telapak kirinya memukul, tapi sebelum tangan kirinya terjulur penuh, telapak kanannya sudah memukul dari bawah telapak kiri. Ini adalah jurus 'Langit dan Bumi Dibalik Awan' dari ilmu 'Tapak Pembalik Langit' warisan keluarganya. Si marga Yu berkata," Banci kecil ini ternyata punya satu dua tipuan juga". Ia membuka telapak tangannya, tangan kanannya lantas mencengkeram bahu Lin Pingzhi. Lin Pingzhi sedikit menurunkan bahu kanannya untuk menghindar, tangan kirinya menyarangkan pukulan. Si marga Yu memiringkan kepala untuk menghindar, tak disangka-sangka tiba-tiba telapak kiri Lin Pingzhi membuka, berubah dari tinju menjadi telapak, pukulan lurus berubah menjadi meluas. Dengan jurus 'Melihat Bunga Dibalik Kabut', "Plak!", ia menamparnya. Si marga Yu marah besar, ia segera menyarangkan sebuah tendangan ke arah Lin Pingzhi. Lin Pingzhi melesat ke kanan, menangkis tendangan itu.
Saat itu Pengawal Shi juga sudah beradu pukul dengan si marga Jia. Pengiring Bai memayang Pengawal Zheng. Pengawal Zheng memaki-maki sambil menyerang si marga Yu dari depan. Lin Pingzhi berkata, "Bantu Pengawal Shi. Anjing buduk ini biar aku yang urus". Pengawal Zheng tahu ia harus menang telak, tak mau dibantu orang lain, maka ia mengambil kaki meja yang patah dari lantai lalu memukulkannya ke kepala si marga Jia.
Kedua pengiring segera lari keluar pintu, yang seorang mengambil pedang Lin Pingzhi dari sisi pelana, yang seorang lagi membawa tombak untuk berburu sambil menunjuk-nunjuk dan memaki si marga Yu. Di perusahaan ilmu silat mereka tidak menonjol, tapi karena sudah terbiasa meneriaki para pengawal, suara mereka semuanya lantang dan keras. Mereka memaki dengan dialek Fuzhou, kedua orang Sichuan itu satu katapun tak mengerti, tapi tahu bahwa itu pasti bukan kata-kata yang baik.
Lin Pingzhi melancarkan satu demi satu jurus-jurus dari 'Tapak Pembalik Langit' yang diajarkan sendiri oleh ayahnya, setelah berkelahi lebih dari sepuluh jurus, keangkuhannya mulai berkurang, dengan terkejut ia menyadari bahwa musuh yang sedang dihadapinya benar-benar gagah. Orang itu membuka tangannya, mulutnya masih berbicara tak jelas, "Adik kecil, semakin lama kulihat, kau semakin tak mirip laki-laki, malahan seperti nona besar yang menyamar. Mukamu itu ada rona merahnya tapi juga putih mulus, cium aku dengan wajahmu yang wangi itu, kita tak usah berkelahi lagi, ya?
Lin Pingzhi makin geram. Ketika ia melirik ke arah Pengawal Shi dan Zheng, ia melihat bahwa walaupun mereka berdua berkelahi dua lawan satu melawan si marga Jia, mereka berdua masih berada di bawah angin. Hidung Pengawal Zheng kena pukulan bertubi-tubi hingga mengalirkan darah, bagian depan jubahnya penuh darah segar. Lin Pingzhi cepat-cepat melancarkan pukulan, tiba-tiba, 'Plak! Ia berhasil menampar wajah si marga Jia itu, pukulannya kali ini benar-benar keras, si marga Jia menjadi murka dan berkata dengan lantang, Gui er zhi kurang ajar, bapakmu lihat kau ini seperti nona besar, tadi aku cuma main-main saja. Anak kura-kura, ayo kita berkelahi sungguhan! Ilmu pukulannya berubah, tiba-tiba menjadi seperti hujan badai yang jatuh bertubi-tubi. Kedua orang itu berkelahi sampai keluar kedai arak itu.
Lin Pingzhi melihat lawan meninju ke arah pusarnya, ia mengingat-ingat jurus buyar yang diajarkan ayahnya, dan langsung mengangsurkan tangan kirinya untuk menangkis dan membuyarkan tenaga tinjunya. Ia tak mengira bahwa tenaga si marga Yu ini sangat kuat, tak disangka-sangka tak dapat dibuyarkan. Buk! Tinju mendarat tepat di ulu hatinya. Sekujur tubuh Lin Pingzhi terguncang, kerahnya telah dicengkeram oleh tangan kiri lawannya. Lengan orang itu sangat kuat, ia menekan bagian atas tubuh Lin Pingzhi ke bawah dengan menggunakan jurus 'Gerbang Besi'. Ia menekan tengkuknya sambil tertawa terbahak-bahak, "Anak kura-kura, kau sujud dan panggil aku paman yang baik tiga kali, baru kulepas kau!
Pengawal Shi dan Zheng sangat terkejut, mereka ingin menghindar dari lawan mereka untuk cepat-cepat menolong Lin Pingzhi, namun si marga Jia itu terus menerus memukul dan menendang, tak membiarkan mereka pergi. Pengiring Bai Er melemparkan tombak berburu ke punggung si marga Yu sambil berteriak, Masih tak mau melepaskan tuan muda kami? Kalau kau punya otak, Kaki kiri si marga Yu menendang ke belakang, menendang tombak berburu itu hingga melayang beberapa zhang jauhnya. Setelah itu kaki kanannya juga menendang Pengiring Bai hingga terguling-guling tujuh atau delapan kali, sampai-sampai untuk beberapa saat ia tak bisa berdiri. Chen Qi memaki-maki, Haram jadah pecundang! Bajingan tengik! Nenekmu tak punya mata! Setiap memaki satu kalimat, ia mundur selangkah, setelah memaki delapan atau sembilan kalimat, ia telah mundur delapan atau sembilan langkah.
Si marga Yu tertawa, Nona besar, kau mau sujud atau tidak! Ia menambah kekuatan di lengannya dan menekan kepala Lin Pingzhi ke bawah, makin ditekan makin rendah hingga dahinya hampir menyentuh lantai. Lin Pingzhi membalikkan tangannya dan meninju lengannya, namun pukulannya selalu kurang dekat beberapa cun sehingga tak sampai pada sasarannya. Ia merasakan rasa sakit yang aneh di tulang lehernya, tulangnya seperti akan patah, matanya berkunang-kunang, telinganya berdenging. Kedua tangannya memukul dan menjambak tak keruan, dan tiba-tiba mengenai sebuah benda keras tersembunyi di betisnya, ia terkejut, tanpa berpikir panjang, benda itu langsung ditariknya keluar dan ditusukkannya pada perut si lelaki marga Yu itu.
Si lelaki marga Yu itu berteriak dan melepaskan kedua tangannya, lalu mundur dua langkah, di wajahnya muncul ekspresi ketakutan luar biasa. Terlihat sebilah pisau telah menancap di perutnya, tembus sehingga hanya gagangnya yang nampak. Wajahnya sedang menghadap ke barat, dan gagang pisau yang berlapis emas itu pun berkilauan ditimpa sinar mentari yang hampir tenggelam. Ia membuka mulut ingin berbicara, namun tak bisa berbicara, ia mengangsurkan tangan ingin menarik pisau itu keluar, namun tak berani melakukannya.
Lin Pingzhi ketakutan, hatinya melonjak seakan hendak melompat keluar dari mulutnya, ia cepat-cepat mundur beberapa langkah. Si marga Jia dan kedua Pengawal Shi dan Zheng berhenti berkelahi, tertegun melihat si lelaki marga Yu itu.
Terlihat tubuhnya bergoyang-goyang beberapa kali, tangan kanannya mencengkeram gagang pisau dan menariknya sekuat tenaga. Begitu pisau tercabut dari perut, darah segar langsung menyembur keluar sampai beberapa chi jauhnya. Orang-orang yang melihatnya berteriak kaget. Lelaki marga Yu itu berteriak, "Jia..!Jia..!katakan pada ayah...balas.....balaskan dendamku". Ia melambaikan tangan kanannya ke belakang untuk melemparkan pisau itu. Si marga Jia berseru, Adik Yu, Adik Yu, lalu cepat-cepat pergi. Si marga Yu menunduk dan terjatuh ke lantai, tubuhnya berkelojotan beberapa kali, lalu tak bergerak lagi.
Pengawal Shi berkata dengan suara pelan, "Ambil senjata!" Ia lari ke sisi kudanya dan mengambil pisaunya. Ia sudah kenyang makan asam garam dunia persilatan dan ia tahu bahwa setelah melihat nyawa temannya melayang, si marga Jia pasti akan membalas dendam walaupun dengan taruhan nyawa.
Si marga Jia itu memandangi Lin Pingzhi dengan tajam untuk beberapa saat, bergegas mengambil pisau, lalu lari ke kudanya. Ia melompat ke punggung kuda tanpa membuka tali pengikat kuda. Dengan pisau itu ia memotongnya, lalu dengan kedua kakinya ia memacu kuda dan mencongklang ke utara.
Chen Qi menghampiri mayat si marga Yu dan menendangnya sampai terguling. Ketika ia melihat bahwa darah segar masih mengalir tak henti-hentinya dari lukanya, ia berkata, "Kau membuat jengkel tuan muda kami, sekarang kau telah mendapat pelajaran."
Lin Pingzhi belum pernah membunuh orang, saat ini ia begitu ketakutan sehingga wajahnya pucat pasi, dengan suara bergetar ia berkata, "Pengawal!Pengawal Shi, sekarang bagaimana ini? Aku sebenarnya...sebenarnya tidak bermaksud membunuh dia."
Pengawal Shi berkata dalam hati, "Biro Pengawalan Fu Wei sudah tiga generasi menjalankan usaha pengawalan, di dunia persilatan, berkelahi dan membunuh orang adalah hal yang sulit dihindarkan. Tapi orang yang jadi korban biasanya tokoh dunia hitam dan selain itu pertarungan semacam itu biasanya terjadi di pegunungan yang sepi atau hutan belantara. Orang yang terbunuh segera dikubur dan masalah selesai. Masa ada perampok yang melaporkan Biro Pengawalan Fu Wei ke pejabat setempat? Tapi orang yang terbunuh kali ini jelas-jelas bukan perampok, dan juga terjadinya dekat kota. Kasus yang menyangkut nyawa manusia sangat penting, bukan masalah sepele. Jangankan tuan muda biro pengawalan, bahkan anak gubernur sendiri kalau membunuh orang, juga tidak gampang membereskan masalahnya". Sambil mengerutkan dahi ia berkata, "Ayo kita pindahkan mayat ini ke dalam kedai arak, disini dekat jalan besar, jangan sampai kelihatan orang". Untung saja hari sudah hampir malam, di jalan itu sudah tak ada orang lain. Bai Er dan Chen Qi mengotong mayat itu ke dalam kedai. Pengawal Shi berbisik, "Tuan muda, kau masih punya uang?" Lin Pingzhi cepat-cepat berkata, "Punya, punya, punya!" Ia mengambil dua puluhan tahil perak dari balik kantung dadanya dan mengeluarkan semuanya.
Pengawal Shi menjulurkan tangan dan mengambilnya, lalu masuk ke kedai arak dan menaruhnya di atas meja. Ia berkata pada si tua Sa, "Pak Tua Sa, orang luar itu melecehkan nona keluargamu, tuan muda kami berusaha menegakkan keadilan dengan menolong nonamu, tapi ia terpaksa membunuh orang itu. Kita semua sudah melihatnya dengan mata kepala sendiri. Masalah ini timbul karena dirimu, kalau ada yang mengorek-ngorek masalah ini, siapa yang bisa menghindar? Beberapa tail perak ini kau ambil dulu, sekarang kita akan mengubur mayat ini, lalu perlahan-lahan lupakan saja semuanya". Si tua Sa berkata, "Iya! Iya! Iya". Pengawal Zheng berkata, "Kita dari Biro Pengawalan Fu Wei dalam menjalankan tugas, jika membunuh beberapa perampok lu lin adalah benar-benar hal yang biasa. Dua tikus Sichuan ini memang mencurigakan. Menurutku, kalau mereka bukan perampok besar tentunya penjahat besar pemetik bunga. Kemungkinan besar mereka datang ke Prefektur Fuzhou ini untuk berbuat jahat. Tuan muda kita mengetahui tipu daya mereka, ia membereskan mereka untuk menjaga keamanan di Prefektur Fuzhou. Seharusnya dia pergi menghadap pejabat setempat untuk minta hadiah, akan tetapi tuan muda takut merepotkan, ia tak menginginkan reputasi kosong seperti ini. Pak tua, tutup mulutmu rapat-rapat, kalau hal ini sampai bocor, kami akan bilang bahwa kau yang menyuruh kedua perampok besar ini datang kemari. Kau buka kedai arak ini hanya untuk menyamar, tapi sebenarnya kau mata-mata mereka. Kalau mendengar logatmu, sama sekali tak mirip orang sini. Kalau tidak kenapa dua orang ini yang tadinya tidak mau datang, tiba-tiba setelah kau buka kedai arakmu lantas datang? Di kolong langit ini mana ada kebetulan semacam itu? Si tua Sa pun berkali-kali berjanji.
Pengawal Shi menyuruh Bai Er dan Chen Qi mengubur mayat itu di kebun sayur di belakang kedai arak, dan juga mencangkuli serta membalik tanah di depan pintu kedai arak sehingga bercak-bercak darah benar-benar hilang. Pengawal Zheng berkata kepada si tua Sa, "Dalam sepuluh hari ini, kalau kami tidak dengar ada cerita yang bocor, kami akan beri lima puluh tahil perak lagi kepadamu untuk beli peti mati. Tapi kalau kau omong-omong tak keruan, hah, sudah ratusan perampok terbunuh di bawah golok Biro Pengawalan Fu Wei, kalau cuma bunuh kalian si tua dan si muda dan menguburkan dua mayat lagi di kebun sayurmu, apa susahnya?" Si tua Sa berkata, "Banyak terima kasih, banyak terima kasih! Tak berani bicara, tak berani bicara!"
* * *