Hina Kelana

Hina Kelana
Bab 48



Yue Buqun tahu bahwa si bongkok ini sangat kasar, begitu bertemu langsung berbicara tak keruan, maka ia langsung memotong perkataannya, "Di dunia persilatan, kalau ada yang mengalami kesusahan, siapa pun harus menolong. Menolong bisa dengan cara mempertaruhkan nyawa, bisa juga dengan memberikan nasehat, tidak tergantung pada ketinggian ilmu silat seseorang. Saudara Mu, kalau kau sudah memutuskan untuk menerima dia sebagai murid, tak ada jeleknya kalau kau biarkan dia melapor pada orang tuanya dulu, lalu baru masuk ke perguruanmu yang terhormat, bukankah dengan demikian kedua belah pihak sama-sama puas?"


Mu Gaofeng sadar bahwa begitu Yue Buqun mencampuri urusannya, urusan hari ini sukar untuk diatur sesuai dengan keinginannya, maka ia mengeleng dan berkata, "Tadi si bongkok ingin menerima dia sebagai murid, tapi sekarang sudah tak tertarik lagi. Kalau bocah ini bersujud selaksa kali kepadaku pun aku tak mau menerima dia sebagai murid". Sambil berbicara ia mengangkat kaki kirinya, "Buk!", ia menendang Lin Pingzhi hingga terguling-guling beberapa zhang jauhnya. Hal ini sama sekali diluar dugaan Yue Buqun. Ia sama sekali tak menyangka bahwa ketika Mu Gaofeng mengangkat kakinya ia bermaksud untuk menendang. Sama sekali tak ada tanda-tanda bahwa ia akan melakukan hal itu, sehingga ia tak sempat mencegahnya. Untungnya setelah ia terjatuh, Lin Pingzhi langsung melompat, sepertinya ia sama sekali tak terluka.


Yue Buqun berkata, "Saudara Mu, kenapa kau bersikap seperti anak-anak begini? Menurut aku sekarang malah kau yang menjadi muda kembali". Mu Gaofeng tertawa, "Saudara Yue, jangan khawatir. Walaupun aku punya nyali setinggi langit, aku tak akan berani menyinggung......menyinggung......hahaha......aku juga tak tahu dia apamu, selamat tinggal, selamat tinggal, aku benar-benar tak menyangka bahwa Huashan Pai yang namanya begitu termasyur, juga begitu tamak ingin memiliki Kitab Pixie Jianfa". Seraya berbicara, ia menjura dan melangkah mundur.


Yue Buqun bergegas maju selangkah dan berkata keras-keras, "Saudara Mu, kau bicara apa?" Tiba-tiba wajahnya berubah menjadi keunguan, namun rona keunguan itu hanya nampak sesaat saja lalu hilang, dalam sekejap wajahnya kembali ke warnanya semula yang putih bersih.


Ketika Mu Gaofeng melihat rona keunguan di wajahnya, hatinya tergetar, pikirnya, "Itulah Ilmu Awan Lembayung milik Huashan Pai! Ilmu pedang Yue Buqun sendiri sudah tinggi, selain itu ia juga berlatih ilmu pernapasan sakti ini, si bongkok tak boleh menyinggung dia". Ia segera menyengir, "Si bongkok tak tahu Kitab Pixie Jianfa itu barang apa, aku hanya melihat Yu Canghai dari Qingcheng Pai rela mempertaruhkan nyawanya untuk merebutnya, aku cuma bicara sembarangan, Saudara Yue tak usah masukkan dalam hati". Sambil berbicara ia berbalik dan melangkah pergi dengan jumawa.


Yue Buqun memandang punggungnya menghilang di tengah kegelapan, ia menghela napas dan berkata pada dirinya sendiri, "Di dunia persilatan orang yang mempunyai kungfu seperti dia sungguh jarang, tapi dia sayang dia tetap ingin melakukan......" Dua kata 'perbuatan jahat' itu tidak diucapkannya, ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja.


Tiba-tiba Lin Pingzhi lari menghampiri, menekuk lututnya dan berlutut di tanah, ia berkali-kali bersujud seraya berkata, "Mohon shifu menerimaku ke dalam perguruan, murid akan dengan penuh hormat mematuhi ajaranmu, menaati peraturan perguruan, sama sekali tak akan berani menentang perintah shifu".


Dari balik tembok muncul serombongan orang, mereka adalah murid-murid Huashan. Ternyata orang-orang ini sudah datang terlebih dahulu, namun Yue Buqun memerintahkan mereka untuk bersembunyi di balik tembok sampai Mu Gaofeng pergi, baru mereka boleh menunjukkan diri untuk menghindari si bongkok itu dipermalukan di hadapan orang banyak. Lao Denuo dan yang lain-lain memberi selamat dengan gembira, "Shifu, selamat menerima murid baru". Yue Buqun tersenyum dan berkata, "Pingzhi, kau sudah pernah bertemu dengan beberapa kakak seperguruan ini di kedai teh itu, berilah penghormatan pada kakak-kakak seperguruan ini".


Si orang tua adalah Kakak Kedua Lao Denuo, lelaki yang bertubuh tinggi besar adalah Kakak Ketiga Liang Fa, yang berpenampilan seperti kuli adalah Kakak Keempat Shi Daizi, yang membawa sempoa di tangannya ialah Kakak Kelima Gao Genming, Kakak Keenam ialah Monyet Keenam Lu Dayou, mereka adalah tokoh-tokoh yang sekali dilihat tak dapat dilupakan, selain itu masih ada Kakak Ketujuh Tao Jun dan Kakak Kedelapan Ying Bailuo, dua orang murid yang berusia muda. Lin Pingzhi memberi hormat kepada mereka satu persatu.


Tiba-tiba dari balik tubuh Yue Buqun terdengar suara tawa lembut, sebuah suara yang jernih berkata, "Ayah, sekarang aku terhitung kakak seperguruan, atau masih adik seperguruan?"


Lin Pingzhi menjadi panik, ia mengenali suara itu sebagai suara si gadis penjual arak, semua murid Huashan memanggilnya 'xiao shimei'. Ternyata dia memang putri sang shifu. Separuh wajahnya yang seputih salju nampak di balik tubuh Yue Buqun yang terbalut jubah hijau. Ia meliriknya dengan mata kirinya yang menari-nari, memandanginya dari telapak kaki sampai ke ubun-ubun, lalu bersembunyi lagi di belakang Yue Buqun. Lin Pingzhi berkata dalam hati, "Wajah gadis penjual arak itu buruk, seluruh wajahnya bopeng-bopeng, bagaimana bisa berubah menjadi seperti ini?" Ketika ia pertama kalinya memandanginya, lalu bersembunyi lagi, cahaya bulan remang-remang, sehingga ia tak bisa melihatnya dengan jelas, namun wajah gadis itu cantik, hal itu tak usah dipertanyakan lagi. Lagi-lagi ia berpikir, "Ia berkata bahwa ia menyamar ketika menjual arak di luar kota Fuzhou, Dingyi Shitai juga berkata bahwa penampilannya aneh. Tentunya wajahnya yang jelek itu adalah bagian dari penyamarannya".


Yue Buqun tertawa dan berkata, "Semua orang disini masuk perguruan lebih lambat darimu, tapi semua memanggilmu adik kecil, nama xiao shimei itu memang sudah ditakdirkan untuk melekat padamu, tentu saja kau sekarang juga masih disebut xiao shimei". Gadis itu tersenyum, "Tak bisa. Sejak saat ini aku akan jadi kakak seperguruan. Ayah, Lin Shidi harus memanggilku kakak seperguruan, kalau di kemudian hari kau menerima seratus atau dua ratus murid lagi, aku juga harus tetap dipanggil kakak seperguruan".