Hina Kelana

Hina Kelana
Bab 37



Ketika kedua orang itu tengah menghimpun tenaga untuk mulai bertarung, tiba-tiba terdengar suara berdesir, lalu dua orang melayang masuk. "Bruk!" Mereka jatuh ke lantai, terkapar tak berkutik. Kedua orang itu memakai jubah hijau, di pantat mereka tertera jejak kaki. Terdengar suara jernih seorang gadis kecil berseru, "Inilah jurus andalan Qingcheng Pai, yaitu jurus 'Pantat Menghadap Belakang, Angsa Mendarat Di Pasir' !"


Yu Canghai murka, ia menoleh, tanpa melihat dengan jelas siapa yang berkata, ia bergegas melompat ke arah suara itu. Ia melihat seorang gadis kecil berbaju hijau berdiri di samping kursi, ia menjulurkan tangannya dan mencengkeram lengannya. Gadis kecil itu berteriak, "Ma!", dan menangis.


Yu Canghai terkejut, tadinya ketika ia mendengar makian keluar dari mulut gadis kecil itu, ia murka dan tak bisa berpikir dengan jelas. Tentunya apa yang terjadi pada kedua murid Qingcheng Pai itu ada hubungannya dengan dia, maka ia mencengkeram tangan gadis kecil itu keras-keras. Ketika ia mendengarnya menangis, ia baru sadar bahwa dia adalah seorang gadis kecil yang tak patut dikasari. Di hadapan para pendekar di kolong langit ini, bukankan perbuatan ini akan menurunkan martabat ketua Qingcheng Pai? Ia cepat-cepat melepaskan cengkeramannya. Ternyata gadis itu makin keras menangis, serunya, "Kau mematahkan tulangku! Ma, lenganku patah! Huhuhu, aduh sakitnya, aduh sakitnya! Huhuhu!"


Ketua Qingcheng Pai ini telah bertarung ratusan kali, sudah kenyang makan asam garam dunia persilatan, namun ia belum pernah mengalami kejadian yang begitu memalukan seperti ini. Ia melihat ratusan pasang mata menatap ke arahnya, namun sinar mata mereka semua mencelanya dan bahkan memandang rendah dirinya. Mau tak mau wajahnya menjadi merah, ia tak tahu harus berbuat apa, maka dengan suara pelan ia berkata, "Jangan menangis, jangan menangis, lenganmu tidak patah, tak mungkin patah". Gadis kecil itu berkata sambil menangis, "Sudah patah, kau menganiaya orang, orang dewasa memukul anak kecil, benar-benar tak tahu malu, aiyo sakit sekali, huhuhu, huhuhu!"


Para hadirin melihat bahwa gadis kecil itu berusia tiga atau empat belas tahun, ia memakai pakaian hijau zamrud, kulitnya seputih salju, wajahnya yang manis berbentuk bulat telur, mau tak mau mereka bersimpati padanya. Beberapa orang yang berangasan berseru, "Pukul hidung kerbau ini!" "Gebuk sampai mati pendeta kerdil ini!"


Keadaan sangat runyam bagi Yu Canghai, dalam hati ia sadar bahwa ia telah mengundang kemarahan orang banyak, ia tak berani menjawab dengan sinis, maka ia berbisik, "Adik kecil, jangan menangis! Maafkan aku. Aku akan memeriksa lenganmu apakah terluka atau tidak". Sambil berbicara ia hendak menggulung lengan baju gadis kecil itu. Gadis kecil itu berseru, "Tidak, tidak, jangan sentuh aku! Mama, mama, pendeta kerdil ini mematahkan lenganku".


Yu Canghai merasa tak berdaya, saat itu seorang lelaki berjubah hijau melangkah dari kerumunan orang, ia adalah murid Qingcheng Pai yang paling cerdik, Fang Renzhi. Ia berkata pada si gadis kecil, "Nona berpura-pura, tangan guruku sama sekali tak menyentuh lengan bajumu, bagaimana ia bisa mematahkan lenganmu?" Si gadis kecil berseru, "Mama, ada seorang lagi yang datang memukul aku!"


Sejak tadi Dingyi Shitai telah melihat kejadian itu, dengan gusar ia bergegas maju ke depan dan menampar wajah Fang Renzhi, lalu berkata dengan lantang, "Orang dewasa menganiaya anak kecil, tak tahu malu". Fang Renzhi mengangkat lengannya untuk menangkis, namun tangan kanan Dingyi dengan cepat menjulur ke depan dan mencengkeram telapak tangannya, lalu menekan sikunya dengan lengan kirinya. Kalau ia benar-benar menekan, lengan Fang Renzhi akan langsung patah. Yu Canghai menarik pulang tangannya dan menotok punggung Dingyi sehingga Dingyi terpaksa melepaskan Fang Renzhi, Dingyi membalikkan tangannya untuk menyerang balik. Yu Canghai tidak ingin berkelahi dengannya, maka ia berkata, "Mohon maaf!", lalu melompat mundur dua langkah.


Dingyi mengengam tangan gadis kecil itu dan berkata dengan lembut, "Anak manis, mana yang sakit? Perlihatkanlah padaku, nanti aku obati" Ia meraba-raba lengannya, namun tak ada yang patah, sehingga ia merasa agak lega. Ia menggulung lengan baju gadis kecil itu, dan melihat bahwa di lengannya yang putih salju dan montok itu tertera dengan jelas empat memar bekas jari yang kebiruan. Dingyi berkata dengan gusar kepada Fang Renzhi, "Bocah pembohong! Kalau tangan gurumu tak pernah menyentuh lengannya, siapa yang mencubit dia sampai meninggalkan empat bekas jari ini?"


Nona kecil itu berkata, "Si kura-kura itu yang mencubitku, si kura-kura itu yang mencubitku". Sambil berkata, ia menunjuk ke punggung Yu Canghai.


Tiba-tiba, tawa meledak diantara para hadirin, ada yang tertawa sampai air teh yang ada di mulutnya tersembur keluar, ada pula yang tertawa sampai terbungkuk-bungkuk, aula besar itu dipenuhi gelak tawa.


Liu Zhengfeng melihat lirikannya dan langsung tahu bahwa Yu Canghai menyalahkan dirinya. Ia segera maju selangkah dan berkata kepada gadis kecil itu, “Adik kecil, dari mana kau berasal? Siapa ayah ibumu?” Ia menanyakan kedua kalimat itu untuk, pertama, memberi penjelasan pada Yu Canghai, dan kedua, untuk menunjukkan bahwa ia sendiri juga curiga pada gadis kecil itu dan ingin tahu darimana ia berasal.


Gadis kecil itu berkata, “Ayah dan ibuku sedang pergi, mereka menyuruh aku duduk dengan manis disini dan tak pergi kemana-mana, katanya nanti akan ada pertunjukan akrobat dimana dua orang akan melayang masuk lalu terkapar tak berkutik, katanya ini adalah jurus andalan Qingcheng Pai yang namanya “Pantat Menghadap Ke Belakang, Angsa Mendarat di Pasir”, pasti seru!” Sambil berbicara ia bertepuk tangan. Air mata di wajahnya yang sebening kristal belum lagi terhapus, akan tetapi sekarang ia tertawa gembira.


Begitu para hadirin melihatnya, mau tak mau mereka ikut merasa senang, mereka tahu jelas bahwa kata-kata itu ditujukan untuk menghina Qingcheng Pai. Mereka melihat bahwa kedua murid Qingcheng itu masih tergeletak tak bergerak, pantat mereka menghadap ke langit, dan di pantat mereka jelas-jelas tertera jejak kaki. Qingcheng Pai benar-benar telah dipermalukan.


Yu Canghai menepuk-tepuk tubuh salah seorang muridnya, ternyata kedua orang itu telah kena totok, sama seperti yang terjadi pada Shen Renjun dan Ji Rentong. Akan tetapi akan makan banyak waktu untuk membuka jalan darah mereka dengan menggunakan tenaga dalamnya. Tak hanya Mu Gaofeng yang menanti di sisinya bagai seekor harimau lapar, ada seorang musuh besar lain yang masih bersembunyi. Saat ini ia tidak bisa membuang-buang tenaga dalamnya demi membuka jalan darah murid-muridnya. Ia segera berbisik kepada Fang Renzhi, “Usung mereka keluar”. Fang Renzhi melambaikan tangannya kepada beberapa saudara seperguruannya, beberapa murid Qingcheng Pai lantas datang berlari untuk mengusung saudara-saudara seperguruan mereka keluar aula.


Tiba-tiba gadis kecil itu berseru, “Banyak sekali orang Qingcheng Pai! Seekor angsa yang jatuh di pasir harus diusung dua orang! Dua ekor angsa yang jatuh di pasir harus diusung empat orang! Tiga ekor angsa ...”


Wajah Yu Canghai pucat pasi, ia berkata pada gadis kecil itu, “Ayahmu marga apa? Perkataan yang baru kau ucapkan ini apakah diajarkan oleh ayahmu?” Ia berpikir bahwa kalimat-kalimat yang diucapkan gadis kecil itu begitu sinis, kalau bukan diajarkan oleh seorang dewasa, gadis kecil yang masih begitu belia itu tak akan bisa mengatakannya. Ia berpikir lagi, " 'Pantat Menghadap Ke Belakang, Angsa Mendarat di Pasir” itu adalah omong kosong ciptaan si bocah Linghu Chong itu, kemungkinan besar Huashan Pai tak terima Linghu Chong dibunuh Luo Renjie, lalu mencari-cari masalah dengan Qingcheng Pai kami. Orang yang menotok mereka ilmu silatnya sangat tinggi, jangan-jangan...jangan-jangan ketua Huashan Pai Yue Buqun yang diam-diam mempermainkan aku?” Kalau Yue Buqun berkomplot melawannya, ilmu silatnya tak hanya luar biasa, tapi ia juga anggota Wuyue Jianpai. Kalau hari ini mereka semua ikut bertarung, Qingcheng Pai akan kalah telak. Ketika ia berpikir tentang hal itu, mau tak mau air mukanya berubah.


Gadis kecil itu tidak menjawab pertanyaannya, sambil tersenyum ia berseru, "Dua kali satu sama dengan dua, dua kali dua sama dengan empat, dua kali tiga sama dengan enam, dua kali empat sama dengan delapan, dua kali lima sama dengan sepuluh......" Ia berulang-ulang merapalkan hafalan perkalian. Yu Canghai berkata, "Hei, aku sedang bertanya padamu!" Suaranya sungguh bengis. Bibir gadis itu bergetar, "Huhuhu!", ia lagi-lagi menangis, lalu menyembunyikan wajahnya di dada Dingyi Shitai.


Dingyi menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut untuk menghiburnya seraya berkata, "Jangan takut, jangan takut! Anak manis, jangan takut". Ia menoleh ke arah Yu Canghai dan berkata, "Untuk apa kau menakut-nakuti anak kecil?"


Yu Canghai mendengus, pikirnya, "Hari ini Wuyue Jianpai berseteru dengan Qingcheng Pai kami, aku harus berhati-hati".


Gadis kecil itu mengangkat kepalanya dari dada Dingyi, ia tersenyum dan berkata, "Biksuni tua, dua kali dua sama dengan empat, dua orang dari Qingcheng Pai yang pantatnya menghadap ke belakang dan mendarat di pasir, diusung empat orang, dua kali tiga sama dengan enam, tiga orang yang pantatnya menghadap ke belakang dan mendarat di pasir diusung enam orang, dua kali empat sama dengan delapan......" Ia tidak berbicara lagi karena saat itu ia sudah tertawa cekikikan.