Hina Kelana

Hina Kelana
Bab 29



Dingyi menjadi murka, ia mengebrak meja dan bangkit berdiri, lalu berkata dengan bengis, "Bocah ini benar-benar bajingan! Sampai saat itu kau masih belum pergi juga?"


Yilin berkata, "Aku takut membuat dia marah, maka aku pergi. Begitu keluar gua, aku mendengar suara senjata beradu dengan sengit. Aku pikir kalau penjahat Tian Boguang itu menang, dia bisa menangkap aku lagi. Kalau 'Lao Shixiong' itu yang menang, begitu ia keluar gua dan melihat aku, aku khawatir akan mencelakai dia sampai "judi pasti kalah", maka aku menggertakkan gigi dan lari secepat-cepatnya untuk mengejar shifu, dan mohon shifu untuk membantu membereskan Tian Boguang si penjahat".


Dingyi mendehem, lalu mengangguk.


Tiba-tiba Yilin bertanya, "Shifu, sayang setelah itu Linghu Shixiong tewas, apa karena......karena melihatku nasibnya jadi jelek?"


Dingyi berkata dengan gusar, "Apa itu "begitu lihat biksuni, pasti kalah judi"? Itu cuma omong kosong yang tidak benar, bagaimana kau bisa mempercayainya? Disini ada banyak orang, semua sudah melihat kita guru dan murid, apa mereka semua akan bernasib buruk?"


Semua orang yang mendengar tersenyum, namun tak ada yang berani tertawa.


Yilin berkata, "Benar. Aku berlari sampai hari terang, ketika kota Hengyang terlihat, hatiku jadi agak lega. Aku pikir kemungkinan besar aku bisa bertemu shifu di Hengyang, siapa yang tahu pada saat itu, Tian Boguang ternyata sudah berhasil mengejarku. Begitu aku melihat dia, kakiku menjadi lemas, hanya dalam beberapa langkah, ia sudah menangkapku. Aku pikir karena dia sudah mengejar sampai disitu, Lao Shixiong dari Huashan Pai itu tentunya telah dibunuh olehnya di gua itu, hatiku terasa amat sedih. Tian Boguang melihat banyak orang lalu-lalang di jalan, ia tak berani kurang ajar padaku, maka ia hanya berkata, 'Kalau kau menurut padaku, aku tak akan berbuat kurang ajar padamu. Kalau kau bandel, aku akan langsung menelanjangimu, supaya semua orang di jalan ini menertawaimu'. Aku ketakutan dan tak berani melawan, hanya mengikuti dia masuk ke kota".


"Ketika tiba di depan kedai arak bernama Kedai Huiyan itu, ia berkata, 'Biksuni kecil, kau begitu cantik......begitu cantik sampai bisa menjatuhkan angsa[10]. Kedai Huiyan ini memang dibuka khusus untukmu. Kita minum-minum sampai mabuk dan bersenang-senang'. Aku berkata, 'Orang yang hidup membiara tidak makan daging dan minum arak, ini adalah peraturan Biara Baiyun kami'. Ia berkata, 'Peraturan Biara Baiyunmu banyak amat. Apa kau akan menuruti semuanya? Aku akan mengajarimu untuk melanggar aturan. Semua larangan dan aturan itu cuma untuk membohongi orang. Shifumu......shifumu......' Berbicara sampai disini, ia sembunyi-sembunyi melirik Dingyi, tak berani meneruskan berbicara.


Dingyi berkata, "Penjahat itu bicara sembarangan, tak usah kau sampaikan, kau hanya ceritakan apa yang terjadi setelah itu saja".


Yilin berkata, "Baik. Setelah itu, aku berkata, 'Kau bicara sembarangan, shifuku tidak pernah sembunyi-sembunyi minum arak dan makan daging anjing' ". Semua orang ketika mendengarnya tak bisa menahan tawa. Walaupun Yilin tak menyampaikan perkataan Tian Boguang secara langsung, namun dari jawaban yang disampaikannya, semua orang tahu bahwa Tian Boguang menuduh Dingyi "sembunyi-sembunyi minum arak dan makan daging anjing".


Wajah Dingyi berubah masam, katanya di dalam hati, "Anak ini polos dan jujur, tidak tahu apa yang boleh dibicarakan atau tidak".


Dia berkata kalau aku tidak mau makan, ia akan mencabik-cabik bajuku. Shifu, bagaimanapun juga aku tak berani makan, umat Buddha dilarang makan daging, murid sama sekali tak bisa melanggar pantangan. Kalau penjahat itu ingin mencabik-cabik bajuku, walaupun hal itu tidak baik, namun itu bukan kesalahan murid".


"Tepat pada saat itu, ada seseorang masuk ke kedai arak itu, di pinggangnya tergantung pedang, wajahnya pucat pasi, seluruh tubuhnya bernoda darah. Ia duduk di sebelah meja kami tanpa berkata apa-apa, mengambil mangkuk arak yang ada di depan kami, lalu menenggaknya dengan sekali teguk. Ia sendiri menuang semangkuk arak lagi, mengangkatnya ke arah Tian Boguang dan berkata, 'Mari minum!' Kepadaku ia juga berkata, 'Mari minum!' Lalu ia meminumnya. Begitu aku mendengar suaranya, mau tak mau aku terkejut sekaligus gembira, ternyata dia adalah 'Lao Shixiong' yang menolongku di gua itu. Syukur pada langit dan bumi, dia belum dibunuh oleh Tian Boguang, hanya sekujur tubuhnya berlumuran darah, demi menyelamatkan aku, ia menderita luka yang tidak ringan".


"Tian Boguang menatapnya dari telapak kaki sampai ke ubun-ubun dan berkata, 'Ternyata kau!' Ia berkata, 'Ternyata aku!' Tian Boguang mengacungkan jempolnya ke arahnya dan memujinya, 'Kau seorang gagah!' Ia juga mengacungkan jempolnya ke arah Tian Boguang dan memujinya, 'Ilmu golok yang hebat!' Mereka berdua tertawa terbahak-bahak, lalu bersama-sama menenggak semangkuk arak. Aku merasa sangat heran, kemarin malam mereka bertarung dengan begitu sengit, bagaimana saat ini mereka bisa menjadi sahabat? Orang itu tak mati, aku sangat senang; tapi ternyata dia adalah teman si penjahat Tian Boguang itu, maka murid menjadi khawatir lagi".


"Tian Boguang berkata, 'Kau bukan Lao Denuo! Lao Denuo adalah seorang tua bangka, sedangkan kau masih muda dan gagah'. Aku sembunyi-sembunyi melihat orang itu, dia masih berumur dua puluhan tahun, ternyata kemarin malam ketika ia berkata bahwa 'aku si tua ini sudah hidup tujuh atau delapan puluh tahun', itu hanya untuk menipu Tian Boguang saja. Orang itu tersenyum dan berkata, 'Aku bukan Lao Denuo'. Tian Boguang mengebrak meja dan berkata, 'Betul. Kau adalah Linghu Chong dari Huashan, seorang tokoh dunia persilatan' ".


"Saat itu Linghu Chong sudah mengakui jati dirinya, ia tersenyum, 'Aku tak berani menerima sebutan itu! Linghu Chong adalah lawan yang telah kau kalahkan, sangat patut ditertawakan'. Tian Boguang berkata, 'Kalau kita tak berkelahi, kita tak akan pernah bertemu. Bagaimana kalau kita berteman saja? Kalau Saudara Linghu suka pada biksuni kecil yang cantik ini, ia akan kuberikan padamu. Untuk apa kita menempatkan cinta diatas persahabatan?' "


Wajah Dingyi menjadi masam, ia hanya berkata, "Penjahat itu benar-benar keterlaluan! Benar-benar keterlaluan!"


Air mata Yilin hampir mengucur, sambil tersedu ia berkata, "Shifu, Linghu Shixiong tiba-tiba memaki aku, ia berkata, 'Wajah biksuni kecil ini pucat pasi, sehari-hari cuma makan sayur dan tahu, wajahnya tak enak dipandang. Kakak Tian, seumur hidupku setiap melihat biksuni aku selalu marah, aku ingin sekali membunuh semua biksuni di kolong langit ini!' Tian Boguang tertawa dan bertanya, 'Memangnya kenapa?' "


Linghu Shixiong berkata, 'Aku tak bisa menyembunyikannya dari Kakak Tian, seumur hidup adik punya sebuah kebiasaan, yaitu cinta judi lebih dari hidupku sendiri. Begitu melihat kartu domino atau dadu, marga sendiri pun aku lupa. Tapi begitu melihat biksuni, seharian tak ada gunanya berjudi, karena setiap kali bertaruh pasti kalah, hal ini benar-benar sudah berkali-kali terbukti. Bukan cuma aku seorang, semua saudara seperguruan di Huashan Pai juga begitu. Oleh karena itu kami murid-murid Huashan, setiap kali melihat para paman dan saudari seperguruan dari Hengshan Pai, walaupun tampang kami penuh rasa hormat, tapi dalam hati kami semua berteriak sialan!' "


Dingyi murka, ia membalikkan tangannya, "Plak!" Ia menampar wajah Lao Denuo dengan nyaring. Tamparannya cepat dan keras, Lao Denuo tak sempat menghindar,


ia hanya merasa kepalanya pusing tujuh keliling dan hampir terjatuh.