Hina Kelana

Hina Kelana
Bab 41



Yilin merasa bahwa bordil ini menyembunyikan banyak rahasia, untungnya Tian Boguang berada di dalam kamar sebelah barat, ia berpikir bahwa makin jauh dirinya dari Tian Boguang makin baik, maka ia segera memberanikan diri untuk ikut masuk. Di dalam ada sebuah kamar, tapi tanpa sinar lentera, hanya diterangi oleh cahaya lilin yang menerobos masuk dari balik pintu rahasia. Ia melihat bahwa kamar itu sangat kecil, namun di dalamnya ada sebuah ranjang yang kelambunya mengantung rendah, samar-samar sepertinya ditiduri seseorang. Yilin berhenti di ambang pintu, tak berani masuk.


Qu Feiyan berkata, "Kakak, pakailah Perekat Penyambung Langit Harum untuk menyembuhkan lukanya!" Yilin ragu-ragu, ia berkata, "Apakah dia......dia benar-benar tahu dimana jasad Linghu Shixiong?" Qu Feiyan berkata, "Mungkin dia tahu, mungkin juga ia tak tahu, aku tak bisa bilang". Yilin berkata dengan khawatir, "Barusan ini kau bilang dia tahu". Qu Feiyan berkata, "Aku bukan lelaki sejati, perkataanku tak bisa dipegang, betul tidak? Kalau kau ingin mencobanya, tak ada jeleknya kalau kau obati lukanya. Kalau tidak, kau sekarang pergi saja, tak ada yang menghalangimu". Yilin berpikir, "Bagaimanapun juga, aku harus mencari jasad Linghu Shixiong, kalaupun cuma ada satu kesempatan kecil, tak boleh kulepaskan". Ia berkata, "Baiklah, akan kuobati lukanya". Ia berbalik keluar ruangan dan mengambil sebatang lilin, lalu masuk kembali ke dalam ruang rahasia dan berdiri di samping ranjang. Ia membuka kelambu dan melihat seseorang terlentang di atas ranjang, wajahnya ditutupi dengan sapu tangan brokat hijau, setiap kali ia bernapas, sapu tangan hijau itu ikut bergerak-gerak dengan perlahan. Karena Yilin tak bisa melihat wajahnya, hatinya terasa agak tenang, ia berpaling dan bertanya, "Dimana ia terluka?"


Qu Feiyang berkata, "Di dada, lukanya parah, hampir mengenai jantungnya".


Dengan hati-hati Yilin membuka selimut tipis yang menyelubungi tubuh orang itu, ia melihat bahwa dada orang itu telanjang, ia seorang lelaki, di dadanya nampak luka yang besar, darah telah berhenti mengalir, namun lukanya amat dalam, jelas sangat berbahaya. Yilin menenangkan dirinya sendiri, ia berkata dalam hati, "Bagaimanapun juga, aku harus menyelamatkan nyawanya". Ia memberikan lilin yang dipegangnya kepada Qu Feiyan, dari saku dadanya ia mengeluarkan kotak kayu tempat Perekat Penyambung Langit Harum. Ia membuka kotak kayu itu, menaruhnya di atas meja kecil di sebelah ranjang, lalu menekan-nekan dengan lembut di sekeliling luka orang itu. Qu Feiyan berbisik, "Untuk menghentikan aliran darah, titik-titik jalan darahnya sudah terlebih dahulu ditotok, kalau tidak bagaimana ia masih tetap hidup sampai sekarang?"


Yilin mengangguk, ternyata titik-titik darah di sekitar lukanya sudah ditutup, cara menotoknya sungguh lihai pula, jauh melebihi dari apa yang dapat dilakukannya, oleh karena itu ia perlahan-lahan membuka perban yang menutupi lukanya, begitu perban dibuka, darah segar langsung menyembur keluar. Sebelumnya Yilin telah belajar cara menyembuhkan luka dari guru-gurunya, tangan kirinya menekan mulut luka, sedangkan tangan kanannya mengoleskan Perekat Penyambung Langit Harum di luka itu. Setelah itu ia memasang perban kembali. Perekat Penyambung Langit Harum ini adalah obat penyembuh luka mujarab milik Hengshan Pai, begitu dioleskan di luka, tak lama kemudian darah akan berhenti mengalir. Yilin mendengar orang itu bernapas dengan terengah-engah, ia tak tahu apakah orang itu bisa tetap hidup, mau tak mau ia berkata, "Tuan pendekar, biksuni ini ingin minta petunjuk, aku harap tuan pendekar bersedia memberikannya".


Tiba-tiba Qu Feiyan memiringkan tubuhnya, tempat lilin yang dipegangnya ikut miring sehingga api lilin langsung padam dan ruangan itu menjadi gelap gulita. "Aiyo!", teriak Qu Feiyan, "Lilinnya mati".


Yilin menjulurkan tangannya namun tak bisa melihat kelima jari tangannya sendiri, ia merasa bingung, pikirnya, "Tempat seperti ini apakah boleh didatangi orang yang hidup membiara? Aku harus cepat-cepat bertanya dimana jasad Linghu Shixiong berada, lalu segera meninggalkan tempat ini". Dengan suara gemetar ia berkata, "Tuan pendekar, apakah rasa sakitmu sudah agak berkurang?" Orang itu hanya mendehem, sama sekali


Qu Feiyan berkata, "Dia sedang demam, rabalah dahinya, demamnya sangat tinggi". Yilin tak mejawab, tangan kanannya menangkap tangan Qu Feiyan dan menaruhnya di dahi orang itu. Ternyata sapu tangan brokat yang menutupi wajahnya telah diambil oleh Qu Feiyan, ketika menyentuh dahi orang itu, Yilin merasakan panas yang seperti bara, mau tak mau timbul rasa kasihan dalam hatinya. Ia berkata, "Aku masih punya obat luka untuk diminum, lebih baik aku meminumkannya sekarang. Nona Qu, tolong nyalakan lilin". Qu Feiyang berkata, "Baik, kau tunggu disini, aku akan pergi mencari pemantik untuk menyalakan lilin". Ketika Yilin mendengar bahwa ia akan pergi, ia merasa cemas, ia cepat-cepat menarik lengan bajunya dan berkata, "Jangan, jangan, kau jangan pergi. Temani aku disini sebentar lagi, nanti aku bagaimana?" Qu Feiyan tertawa pelan dan berkata, "Ambillah obat luka yang untuk diminum itu".


Yilin mengeluarkan sebuah botol porselen dari saku dadanya, membuka tutupnya, lalu mengeluarkan tiga butir pil obat. Ia menaruhnya di telapak tangannya dan berkata, "Aku sudah mengeluarkan obat luka, berikanlah kepadanya". Qu Feiyan berkata, "Jangan sampai obat jatuh di tengah kegelapan, ini menyangkut nyawa orang, kita tak boleh main-main. Kakak, kau tak berani ditinggal disini, aku saja yang menunggu disini, kau keluar cari pemantik". Ketika Yilin mendengar bahwa Qu Feiyan ingin dirinya berkeliaran sendirian di bordil itu, ia menjadi makin takut. Ia cepat-cepat berkata, "Jangan, jangan! Aku tak mau pergi". Qu Feiyan berkata, "Menolong orang harus sampai tuntas. Tempelkan botol obat luka itu di mulutnya, lalu beri dia minum teh, bisa kan? Di tengah kegelapan ini dia juga tak tahu kau siapa, kau takut apa? Eh, ini dia cawan tehnya, hati-hati memegangnya, jangan sampai jatuh".


Perlahan-lahan Yilin menjulurkan tangannya, memegang cawan teh, untuk sesaat ia ragu-ragu, pikirnya, "Shifu sering berkata, orang yang hidup membiara harus bersikap welas asih, menyelamatkan nyawa seseorang lebih baik daripada membangun pagoda bertingkat tujuh. Kalaupun orang ini tak tahu dimana jasad Linghu Shixiong, hidupnya dalam bahaya dan aku harus menyelamatkannya". Maka dengan perlahan-lahan ia menjulurkan tangan kanannya hingga punggung tangannya menyentuh dahi orang itu. Ia membalikkan tangannya, lalu memasukkan tiga butir obat minum penyembuh luka yang bernama 'Pil Empedu Beruang Awan Putih' ke mulut orang itu. Orang itu membuka mulutnya dan menelan pil-pil itu, lalu minum beberapa teguk dari cawan teh yang dibawakan Yilin ke dekat mulutnya. Ia mengumamkan sesuatu yang sepertinya "Banyak terima kasih".


Yilin berkata, "Tuan pendekar, kau menderita luka parah, kau harus beristirahat dengan tenang, tapi aku ingin bertanya mengenai suatu hal yang mendesak kepadamu. Linghu Chong, Pendekar Linghu, dibunuh orang, jasadnya......" Orang itu berkata, "Kau......kau tanya tentang Linghu Chong....." Yilin berkata, "Betul! Apa tuan tahu dimana jasad Pendekar Linghu Chong berada?" Orang itu berkata dengan bingung, "Jasad......jasad apa?"


Yilin berkata, "Betul. Apa tuan tahu dimana jasad Linghu Chong, Pendekar Linghu, berada?" Orang itu mengumamkan beberapa kata, namun suaranya amat lirih, sama sekali tak terdengar. Yilin bertanya sekali lagi, ia mendekatkan telinganya ke wajah orang itu, namun ia hanya bisa mendengar napas pendek-pendek orang itu, kelihatannya ia ingin mengatakan sesuatu namun tak bisa.


Tiba-tiba Yilin ingat, "Perekat Penyambung Langit Harum dan Pil Empedu Beruang Awan Putih milik perguruan kami sangat ampuh, namun efeknya juga sangat kuat, terutama Pil Empedu Beruang Awan Putih, orang yang meminumnya sering pingsan selama setengah hari. Ini adalah saat-saat kritis dalam penyembuhan luka, bagaimana aku bisa memaksanya menjawab pertanyaanku?" Ia menghembuskan napas perlahan-lahan, bertumpu pada kursi yang ada di depan ranjang, lalu langsung terduduk, ia berbisik, "Aku akan tunggu dia agak baikan, baru bertanya". Qu Feiyan berkata, "Kakak, apa orang ini akan selamat?" Yilin berkata, "Aku harap ia bisa sembuh sepenuhnya, tapi luka di dadanya sangat dalam. Nona Qu, dia.......dia ini siapa?"