Hina Kelana

Hina Kelana
Bab 32



Para hadirin ketika mendengar hal ini, diam-diam menyetujui. Mereka semua tahu bahwa dalam pertarungan diantara para jago, kalau ada yang terburu nafsu, maka boleh dibilang bahwa ia sudah kalah tiga puluh persen terlebih dahulu. Linghu Chong berbicara begitu jelas untuk membuat lawan marah. Sekarang Tian Boguang murka, maka ia sudah jatuh selangkah ke dalam jebakan.


Dingyi berkata, "Bagus sekali! Lalu bagaimana?"


Yilin berkata, "Linghu Shixiong menyengir lebar lalu berkata, 'Aku berlatih ilmu pedang ini hanya untuk main-main saja, bukan untuk bertanding dengan orang lain. Kakak Tian jangan salah paham, adik tidak berani menyamakan Kakak Tian dengan lalat di kakus'. Aku tak bisa menahan tawa. Tian Boguang murka, ia mencabut golok pendeknya, meletakkannya di meja, lalu berkata, 'Baik, ayo bertarung sambil duduk'. Aku lihat sinar matanya menjadi ganas, aku sangat takut, dia jelas punya maksud membunuh Linghu Shixiong".


"Linghu Shixiong tersenyum dan berkata, 'Kalau bertarung sambil duduk, kungfuku lebih hebat, kau tak akan bisa mengalahkan aku. Hari ini Linghu Chong baru bertemu teman seperti Kakak Tian, untuk apa merusak persahabatan diantara kita? Lagipula, Linghu Chong adalah seorang lelaki sejati, aku tidak mau menggunakan kungfu yang menjadi keahlianku untuk mengalahkan teman'. Tian Boguang berkata, 'Ini adalah kemauanku Tian Boguang sendiri, tak usah bilang bahwa kau mengambil kesempatan dalam kesempitan'. Linghu Shixiong berkata, 'Kalau begitu, Kakak Tian pasti mau bertanding?' Tian Boguang berkata, 'Pasti mau bertanding!' Linghu Shixiong berkata, 'Pasti mau bertanding sambil duduk?' Tian Boguang berkata, 'Benar, pasti mau bertanding sambil duduk!' Linghu Shixiong berkata, 'Kalau begitu, kita harus menyetujui satu peraturan, saat menang dan kalah belum pasti, siapa yang lebih dahulu berdiri akan dianggap kalah'. Tian Boguang berkata, 'Benar, saat menang dan kalah belum pasti, siapa yang lebih dahulu berdiri akan dianggap kalah' ".


"Linghu Shixiong berkata, 'Setelah kalah lalu bagaimana?' Tian Boguang berkata, 'Menurutmu bagaimana?' Linghu Shixiong berkata, 'Biar aku pikir-pikir dulu. Baiklah, pertama, orang yang kalah, sejak saat itu setiap melihat biksuni kecil ini, tidak boleh mengucapkan kata-kata yang tidak sopan di hadapannya. Begitu lihat dia, harus dengan sopan menjura memberi hormat dan berkata, 'Shifu kecil, murid Tian Boguang datang menghadap'. Tian Boguang berkata, 'Bah! Bagaimana kau tahu bahwa aku pasti akan kalah? Bagaimana kalau kau yang kalah?' Linghu Shixiong berkata, 'Aku juga sama, siapapun yang kalah, harus masuk Hengshan Pai dan menjadi cucu murid biksuni tua Dingyi, dan menjadi murid biksuni kecil ini'. Shifu, menurutmu perkataan Linghu Shixiong itu lucu tidak? Mereka berdua bertanding, dan yang kalah harus masuk Hengshan Pai? Bagaimana aku bisa menerima mereka sebagai murid?"


Ketika berbicara tentang hal itu, di wajahnya mengembang senyum yang samar-samar. Rasa khawatir di wajahnya menghilang, diganti dengan lesung pipit yang membuat wajahnya makin cantik.


Dingyi berkata, "Laki-laki kasar dari dunia persilatan seperti itu memang suka bicara sembarangan, kenapa kau anggap serius? Linghu Chong jelas ingin membuat Tian Boguang marah". Ketika berbicara sampai disini, ia mengangkat kepalanya, memejamkan sepasang matanya, dan memikirkan cara apa yang akan dipakai Linghu Chong untuk meraih kemenangan. Kalau dia kalah, bagaimana ia akan bisa mengingkari perkataannya sendiri? Setelah berpikir sejenak, ia sadar bahwa kepintarannya kalah jauh dengan berandalan seperti Linghu Chong, ia tak ambil pusing lagi, maka ia pun bertanya, "Apa jawaban si Tian Boguang itu?"


Yilin berkata, "Tian Boguang melihat Linghu Shixiong begitu percaya diri, wajahnya terlihat ragu-ragu, aku rasa dia agak khawatir, sepertinya ia berpikir, 'Jangan-jangan ilmu pedang sambil duduk Linghu Chong jauh lebih hebat dariku?' Linghu Shixiong menantang dia, 'Kalau kau tak mau masuk Hengshan Pai, kita tak usah bertanding saja'. Tian Boguang berkata dengan gusar, 'Omong kosong! Baik, kalau begitu, kalau aku kalah aku akan mengangkat biksuni kecil ini jadi guru!' Aku berkata, 'Aku tak bisa menerima kalian sebagai murid, kungfuku tidak cukup tinggi, lagipula, shifu tidak akan mengizinkannya. Di Hengshan Pai kami, tak perduli apakah orang yang hidup membiara atau orang awam, harus perempuan, bagaimana bisa......bagaimana bisa......' "


Linghu Shixiong melambaikan tangannya dan berkata, “Aku dan Kakak Tian sedang berunding, kau terima atau tidak, itu bukan urusanmu'. Ia berpaling kearah Tian Boguang dan berkata, “Kedua, orang yang kalah, harus mengayunkan goloknya dan membuat dirinya sendiri menjadi kasim”. Shifu, apa artinya mengayunkan goloknya dan membuat dirinya sendiri menjadi kasim?”


Ketika ia bertanya seperti itu, semua orang tertawa. Dingyi juga tak bisa menahan tawa, air mukanya yang tegas berubah menjadi geli, katanya, “Perkataan kasar berandalan seperti itu, nak, kau tak mengerti dan juga tak usah ditanyakan, tak ada gunanya”.


Ketika semua orang mendengar ia mengucapkan tujuh kata itu, yaitu “ketua Mo Jiao Dongfang Bubai”, wajah semua kontan orang berubah.


Yilin sadar bahwa wajah semua orang tiba-tiba berubah, ia menjadi terkejut, dan juga takut kalau-kalau ia telah mengatakan sesuatu yang salah. Ia bertanya, “Shifu, apa perkataan ini tidak benar?” Dingyi berkata, “Jangan kau sebut nama orang ini. Tapi apa kata Tian Boguang?”


Yilin berkata, “Tian Boguang mengangguk-anggukkan kepalanya dan berkata, “Kau bilang Dongfang Bubai adalah yang nomor satu, aku setuju, tapi kau mengaku nomor dua, ini agak terlalu sombong. Bukankah ini berarti kau lebih hebat dari gurumu yang terhormat Tuan Yue?” Linghu Shixiong berkata, “Aku bicara tentang berkelahi sambil duduk. Kalau berkelahi sambil berdiri, guruku nomor delapan, aku nomor delapan puluh sembilan, aku masih kalah jauh dari beliau”. Tian Boguang mengangguk, “Ternyata begitu! Kalau bertarung sambil berdiri, aku nomor berapa? Memangnya siapa yang menentukannya?” Linghu Shixiong berkata, “Ini adalah sebuah rahasia besar. Kakak Tian, aku beritahu kau, hanya kepadamu, sekali-sekali tak boleh kau bocorkan, kalau tidak hal ini akan membuat kekacauan besar di dunia persilatan. Tiga bulan yang lalu, kelima ketua dari Wuyue Jianpai kami bertemu di Huashan untuk membicarakan peringkat jago-jago terkenal di dunia persilatan. Ketika kelima guru itu sedang merasa senang, mereka iseng membuat peringkat jago-jago terkenal di kolong langit ini. Kakak Tian, aku tak bisa menyembunyikannya darimu, kelima guru itu menganggap pribadimu tak ada harganya, tapi mengenai ilmu silatmu, mereka menganggapnya benar-benar luar biasa. Kalau bertarung sambil berdiri, kau bisa ditempatkan di peringkat ke empat belas di kolong langit ini” “.


Pendeta Tianmen dan Dingyi serentak berkata, “Linghu Chong bicara sembarangan, mana ada hal seperti itu?”


Yilin berkata, “Ternyata Linghu Shixiong cuma membohongi dia. Tian Boguang juga cuma setengah percaya, tapi ia berkata, “Ketua Wuyue Jianpai semuanya adalah tokoh luar biasa di dunia persilatan. Kalau mereka berkata bahwa Tian Boguang ada di peringkat keempat belas, mereka cuma memberikan pujian kosong. Saudara Linghu, ketika kau berada di hadapan kelima ketua itu, apa kau mempertunjukkan ilmu pedang kakusmu yang baunya minta ampun itu? Kalau tidak, bagaimana mereka bisa menempatkanmu di peringkat kedua?” “


“Linghu Shixiong tersenyum, “Ilmu pedang kakus ini? Tidak enak kalau diperlihatkan di muka umum, mana berani aku unjuk kebodohan di depan kelima guru itu? Gerakan ilmu pedang ini tidak sedap dipandang, tapi sangat lihai. Linghu Chong pernah berbicara dengan beberapa jago dari aliran sesat, mereka berpendapat bahwa selain Ketua Dongfang, di kolong langit ini tidak ada orang yang bisa menandinginya. Tapi, Kakak Tian, perkataan yang sudah diucapkan tak bisa ditarik kembali, walaupun ilmu pedangku ini luar biasa, selain untuk menusuk lalat di kakus, sebenarnya tidak ada gunanya. Coba pikir, kalau kita benar-benar bertarung dengan seseorang, siapa yang mau duduk diam? Kalaupun kau dan aku setuju untuk bertarung sambil duduk, jika kau kalah, kau tentunya akan naik darah dan berdiri. Kalau bertarung sambil berdiri kau nomor empat belas di kolong langit, tentu gampang membunuh aku yang nomor dua kalau bertarung sambil duduk dengan sekali sabet. Oleh karena itu, kau memang benar-benar nomor empat belas di kolong langit kalau bertarung sambil berdiri, tapi reputasiku sebagai nomor dua ketika bertarung sambil duduk, adalah nama kosong belaka, dan tidak ada gunanya disebut-sebut” “.


“Tian Boguang mendengus dengan dingin dan berkata, “Saudara Linghu, kau memang pandai bicara. Bagaimana kau tahu bahwa kalau aku bertarung sambil duduk aku akan kalah darimu, dan bagaimana juga kau tahu bahwa aku akan marah, lalu berdiri dan membunuhmu?” “


“Linghu Shixiong berkata, “Kalau kau berjanji setelah kalah tidak membunuhku, aku juga tak akan berkeras menyuruhmu untuk jadi kasim, supaya garis keturunanmu tidak putus dan tak punya generasi penerus. Baiklah, tak usah banyak omong lagi, kita mulai saja!” Ia mengangkat tangannya dan membalikkan meja hingga semua poci dan cawan arak yang ada di meja melayang. Kedua orang itu duduk berhadap-hadapan, yang satu mengengam golok, sedangkan yang satunya menghunus pedang”.


“Linghu Shixiong berkata, “Silahkan mulai! Siapa yang lebih dahulu berdiri, yang pantatnya meninggalkan kursi, dia yang kalah”. Tian Boguang berkata, “Baik, lihat saja siapa yang lebih dahulu berdiri!” Kedua orang itu lantas bertarung, Tian Boguang melirik ke arahku, tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak dan berkata, “Saudara Linghu, aku kagum padamu. Ternyata kau diam-diam telah menyembunyikan bala bantuan, hari ini kau memang sudah bermaksud untuk membuat susah Tian Boguang. Ketika aku dan kau bertarung dan tak boleh bangkit dari kursi, teman-temanmu akan masuk mengeroyok aku, atau bisa juga biksuni kecil ini yang akan melakukan sesuatu di belakang punggungku untuk memaksa aku berdiri” “.