Hina Kelana

Hina Kelana
Bab 35



Tubuh Yu Canghai berkelebat, sepasang tangannya mengayun, memukul kearah suara itu berasal, lalu tangan kirinya menekan bingkai jendela, dan dengan memanfaatkan daya gerak, ia melompat ke atap, kaki kirinya bertumpu pada pinggiran atap. Ia memandang ke segala penjuru, namun ia hanya melihat kegelapan malam yang diselubungi tirai hujan rintik-rintik. Sama sekali tak ada sesosok manusia pun. Ia berpikir, “Orang ini tak mungkin bisa menghilang dengan begitu cepat tanpa jejak, pasti ia masih bersembunyi di dekat sini”. Ia tahu orang itu adalah lawan yang tangguh, maka ia menghunus pedang untuk melindungi tubuhnya, lalu mencari-cari di sekeliling Wisma Liu dengan sangat lincah.


Saat itu, Pendeta Tianmen tetap duduk di kursinya karena ingin menjaga martabatnya, namun Dingyi Shitai, He Sanqi, Tuan Wen, Liu Zhengfeng, Lao Denuo dan lain-lain semua telah melompat ke atas atap. Mereka melihat sosok seorang pendeta Tao yang pendek dan kecil sedang berjalan dengan cepat sambil membawa pedang, di tengah kegelapan, kilau pedangnya seakan memancarkan seberkas sinar putih. Ia sedang mengelilingi sepuluh bangunan yang ada di Wisma Liu dengan sangat cepat. Semua orang diam-diam mengagumi ilmu ringan tubuh Yu Canghai yang tinggi.


Walaupun Yu Canghai bergerak dengan cepat, namun seluruh sudut Wisma Liu, pepohonan maupun semak-semak, tidak ada yang luput dari pandangan matanya. Ia tidak melihat ada sesuatu yang aneh, maka ia segera melompat masuk ke dalam ruang tamu lagi. Ia melihat kedua muridnya masih tertelungkup di lantai, di atas pantat mereka jelas tertera jejak kaki, yang seakan berubah menjadi ribuan wajah orang dunia persilatan yang mengejek Qingcheng Pai yang kehilangan muka.


Yu Canghai membalikkan tubuh salah seorang dari mereka, ia melihat bahwa murid itu ialah Shen Renjun, yang satunya lagi tak perlu dibalik, dari belakang kepalanya sudah terlihat bahwa ia berjanggut, ia adalah teman akrab Shen Renjun, Ji Rentong. Ia menotok titik-titik jalan darah di pinggang Shen Renjun dua kali, lalu bertanya, "Siapa yang melakukan hal ini?" Shen Renjun membuka mulut hendak berbicara, namun ia sama sekali tak bisa bersuara.


Yu Canghai terkejut, ketika ia menotoknya dua kali, karena banyak jago-jago yang menonton di sampingnya, ia sengaja berpura-pura bahwa ia melakukan hal yang sangat mudah. Sebenarnya ia memakai ilmu tenaga dalam tingkat tinggi Qingcheng Pai, tapi titik-titik di tubuh Shen Renjun secara mengejutkan tetap tak bisa terbuka. Ia terpaksa diam-diam mengerahkan tenaga dalam dan terus menerus menyalurkannya melalui titik Lingtai di punggung Shen Renjun.


Setelah beberapa saat, Shen Renjun dengan terbata-bata berseru, "Shi......shifu". Yu Canghai tidak menjawab dan terus menyalurkan tenaga dalam. Shen Renjun berkata, "Murid......murid tidak melihat musuh itu siapa". Yu Canghai berkata, "Dimana musuh menyerang?" Shen Renjun berkata, "Murid dan Ji Shidi pergi bersama-sama keluar untuk ke belakang, murid hanya merasa punggung terasa kesemutan, lalu jatuh ke tangan anak kura-kura itu". Wajah Yu Canghai berubah masam, ia berkata, "Orang itu adalah jago dunia persilatan, jangan memakinya". Shen Renjun berkata, "Ya".


Yu Canghai tak habis pikir darimana musuh berasal, ketika ia melihat air muka Pendeta Tianmen yang acuh tak acuh, seakan sama sekali tidak perduli dengan masalah itu, ia berpikir, "Mereka Wuyue Jianpai adalah cabang dari pohon yang sama, Renjie telah membunuh Linghu Chong, kelihatannya Tianmen juga ikut menyalahkan aku". Tiba-tiba ia teringat sesuatu, "Jangan-jangan musuh masih berada di aula besar". Ia melambaikan tangan kepada Shen Renjun, lalu bergegas keluar dari ruang tamu.


Para hadirin yang ada di aula masih ramai berbicara, mereka menebak-nebak siapa gerangan yang membunuh seorang murid Taishan Pai dan seorang murid Qingcheng Pai itu. Ketika Yu Canghai tiba-tiba memasuki ruangan, ada yang mengenali dia sebagai ketua Qingcheng Pai, namun ada juga yang tidak mengenalinya. Mereka ini melihat bahwa orang ini tingginya tidak lebih dari lima chi, namun pembawaaannya seperti seorang jago silat papan atas, penampilannya tenang dan berwibawa, maka semua orang pun diam.


Pandangan mata Yu Canghai menyapu ke wajah para hadirin, orang-orang yang hadir di aula besar itu adalah tokoh-tokoh dari angkatan muda dunia persilatan, walaupun tidak banyak yang dikenalinya, namun begitu melihat pakaian dan penampilan mereka, ia bisa mengetahui dari perguruan mana mereka berasal. Ia berpikir bahwa murid-murid angkatan muda dari semua perguruan itu tidak ada yang memilki tenaga dalam yang begitu kuat. Kalau orang itu ada di aula besar, penampilannya pasti berbeda dengan hadirin yang lain. Ia memandangi setiap orang satu persatu, tiba-tiba pandangan matanya yang setajam pisau itu berhenti pada sebuah sosok.


Penampilan orang ini sangat buruk, otot-otot wajahnya seperti terpelintir, wajahnya ditempeli beberapa lembar koyo, punggungnya berpunuk besar, rupanya ia adalah seorang bongkok.


Pandangan para hadirin di aula besar beralih kepada orang bongkok yang sedang dipandangi oleh Yu Canghai itu. Beberapa orang berpengalaman yang tahu banyak tentang dunia persilatan berseru kaget. Liu Zhengfeng cepat-cepat maju ke depan sambil menjura, "Aku tak tahu tuan yang terhormat datang, mohon maaf karena tidak menyambut tuan dengan sepantasnya. Aku benar-benar telah berbuat salah".


Sebenarnya si bongkok itu bukan seorang jago dunia persilatan, ia adalah tuan muda Biro Pengawalan Fu Wei, Lin Pingzhi. Ia sangat takut dikenali orang sehingga ia selalu menundukkan kepalanya dan menyembunyikan dirinya di sudut aula. Kalau Yu Canghai tidak meneliti tiap orang satu persatu, tak akan ada orang yang memperhatikan dia. Sekarang pandangan mata semua orang tertuju padanya, Lin Pingzhi langsung merasa malu, ia cepat-cepat berdiri lalu membalas penghormatan Liu Zhengfeng, ia berkata, "Aku tak berani menerima penghormatan anda!"


Liu Zhengfeng tahu bahwa Mu Gaofeng adalah seorang tokoh dari utara, tapi orang di depannya berbicara dengan logat selatan, usianya juga jauh lebih muda, mau tak mau ia merasa sangsi. Tapi ia tahu bahwa Mu Gaofeng datang dan pergi seperti hantu, tak bisa diukur dengan ukuran orang biasa, maka ia tetap bersikap sopan, "Caixia Liu Zhengfeng, bolehkah aku menanyakan nama tuan yang mulia?"


Tak pernah terpikir oleh Lin Pingzhi bahwa akan ada orang yang menanyakan namanya, dengan terbata-bata ia mengucapkan beberapa kata tapi tak menjawab. Liu Zhengfeng berkata, "Tuan dengan Mu Daxia ......" Di benak Lin Pingzhi muncul sebuah ide, "Aku bermarga 'Lin', maka aku hanya akan memakai separuh namaku, pura-pura bermarga 'Mu'". Ia cepat-cepat berkata, "Marga caixia Mu".


Liu Zhengfeng berkata, "Tuan Mu sudi datang ke Heng Shan, wajah si Liu ini seperti disepuh emas. Entah bagaimana tuan memanggil 'Si Bongkok Dari Utara' Mu Daxia?" Ia melihat bahwa usia Lin Pingzhi masih sangat muda, sementara itu wajahnya ditempeli beberapa lembar koyo, jelas-jelas ia sengaja menutupi wajah aslinya, tentunya ia bukan 'Si Bongkok Dari Utara' Mu Gaofeng yang sudah terkenal selama puluhan tahun.


Lin Pingzhi belum pernah mendengar nama 'Si Bongkok Dari Utara' pendekar Mu itu, tapi ia mendengar Liu Zhengfeng berbicara dengan penuh hormat tentang orang bermarga Mu itu, dan melihat Yu Canghai yang raut mukanya bengis masih memandanginya dengan curiga. Kalau sampai jati dirinya terungkap, ia khawatir ia akan terbunuh di tangannya. Keadaannya saat itu sangat runyam, maka ia terpaksa mengarang cerita, " 'Si Bongkok Dari Utara' Mu Daxia? Dia adalah......dia adalah sesepuh di keluarga caixia". Ia berpikir bahwa karena orang ini telah menyebut Mu Gaofeng seorang "pendekar besar", maka Mu Gaofeng bisa digolongkan sebagai seorang "sesepuh".


Yu Canghai melihat bahwa di aula besar itu tidak ada orang lain yang mencurigakan. Ia menduga bahwa orang inilah yang mempermalukan murid-muridnya Shen Renjun dan Ji Rentong. Ia berkata dengan sinis, "Qingcheng Pai tidak punya hubungan dengan Tuan Mu, entah bagaimana kami telah membuat Tuan Mu tersinggung?"


Lin Pingzhi berdiri berhadap-hadapan dengan pendeta Tao bertubuh pendek itu, ia terkenang akan kejadian dalam beberapa hari silam ini ketika rumahnya dihancurkan dan keluarganya tercerai berai, serta orang tuanya ditawan. Sampai hari ini ia tidak tahu apakah mereka masih hidup atau tidak. Semua itu disebabkan oleh pendeta Tao kerdil ini. Walaupun ia tahu bahwa ilmu silat Yu Canghai seratus kali lebih hebat daripadanya, namun darah panas bergejolak di dadanya, ia ingin sekali menghunus senjata untuk menikamnya. Akan tetapi dalam beberapa hari belakangan ini ia telah mengalami banyak penderitaan, ia bukan lagi pemuda kaya dari Fuzhou yang suka menyabung ayam dan menunggang kuda bagus, maka ia cepat-cepat meredam amarahnya dan berkata, "Qingcheng Pai banyak melakukan perbuatan buruk, setiap kali Pendekar Mu melihat ketidakadilan, ia harus turun tangan sendiri. Beliau baik hati dan welas asih, seumur hidupnya selalu membela keadilan. Ia paling suka membela orang yang lemah, untuk apa ia perduli kalau kau membuat dia tersinggung atau tidak?"


Ketika Liu Zhengfeng mendengar perkataan itu, mau tak mau ia tertawa dalam hati. Walaupun ilmu silat Si Bongkok Dari Utara Mu Gaofeng tinggi, namun kelakuannya buruk. Ia cuma asal berbicara saja ketika menyebut Mu Gaofeng seorang "pendekar besar". Sebenarnya, Mu Gaofeng tak hanya tak pantas disebut sebagai 'pendekar besar', disebut 'pendekar' pun ia tak patut. Orang ini suka menjilat pihak yang berkuasa, dan tak pernah memegang janji. Tapi ilmu silatnya tinggi dan sikapnya selalu waspada, orang yang membuatnya tersinggung akan sulit untuk menghindari pembalasannya. Orang-orang di dunia persilatan takut dan jeri padanya, tak ada seorang pun yang menghormatinya. Ketika Liu Zhengfeng mendengar perkataan Lin Pingzhi, ia yakin bahwa pemuda itu pasti anak atau keponakan Mu Gaofeng. Ia khawatir Yu Canghai akan melukainya, maka ia cepat-cepat berkata, "Ketua Yu, Saudara Mu, kalian berdua telah sudi berkunjung ke rumahku yang sederhana ini, maka kalian semua adalah tamu-tamu caixia yang terhormat. Oleh karena itu, mari kita minum arak persahabatan. Ambilkan arak!" Para pelayan menjawab dengan lantang dan menuangkan arak.