Hina Kelana

Hina Kelana
Bab 6



Namun malam itu berlalu dengan tenang dan damai. Pada hari kedua ketika hari baru mulai terang, seseorang berbisik dari luar jendela, "Tuan muda, tuan muda!" Lin Pingzhi tak bisa tidur setengah malam sebelumnya, saat fajar menyingsing ia baru bisa tidur nyenyak, maka ia tidak terbangun. Lin Zhennan berkata, "Ada apa?" Orang yang diluar itu berkata, "Kuda tuan muda......kuda itu mati". Lin Pingzhi sangat menyayangi kuda putih itu, ketika orang yang diserahi tugas untuk mengurus kuda melihat kuda itu telah mati, dengan sangat gugup ia datang melapor. Lin Pingzhi mendengar berita itu dalam keadaan masih mengantuk, ia bangun dan cepat-cepat berkata, "Aku akan pergi melihatnya". Lin Zhennan tahu bahwa ada sesuatu yang aneh, maka ia segera melangkah menuju istal. Ia melihat kuda putih itu terbaring di lantai, kelihatannya sudah lama mati, akan tetapi di sekujur tubuhnya sama sekali tidak ada bekas luka.


Lin Zhennan bertanya, "Apa tadi malam tidak ada yang dengar suara ringkikan kuda? Apa tidak ada suara gerakan?" Pengurus kuda itu berkata, "Tidak ada". Lin Zhennan menarik tangan putranya sambil berkata, "Tak usah sedih. Ayah akan panggil orang untuk membelikan kuda yang bagus untukmu". Lin Pingzhi membelai dan mengelus-elus tubuh kuda itu, air matanya jatuh berderai-derai.


Tiba-tiba Pengiring Chen Qi mendadak lari masuk, ia berkata dengan sangat gugup, "Ketua......ketua, celaka! Para pengawal......para pengawal itu telah dicabut nyawanya oleh roh jahat itu". Lin Zhennan dan Lin Pingzhi serentak bertanya dengan kaget, "Apa?"


Chen Qi hanya berkata, "Mati! Semua mati!" Lin Pingzhi berkata dengan gusar, "Bagaimana mereka semua bisa mati?" Sambil berbicara, ia menarik baju Chen Qi, lalu diguncang-guncangkannya orang itu beberapa kali. Chen Qi berkata, "Tuan......tuan muda......sudah mati". Lin Zhennan mendengar ia berkata 'tuan muda sudah mati', begitu kata-kata yang mengandung firasat buruk itu masuk ke telinganya, ia langsung merasa sangat muak dan marah, akan tetapi kalau sekarang ia menegur Chen Qi maka ia akan menunjukkan perasaannya sendiri. Terdengar suara ribut di luar, ada yang berkata, "Ketua bagaimana? Cepat lapor kepada beliau". Ada suara lain yang berkata, "Roh jahat ini sangat lihai. Kita harus bagaimana?"


Lin Zhennan berkata dengan suara keras, "Aku ada disini. Ada apa?" Begitu mendengar suaranya, dua orang pengawal dan tiga pengiring segera lari mendatangi. Seorang pengawal terlebih dahulu berkata, "Ketua, semua saudara yang kita kirim, tak ada seorangpun yang kembali". Ketika mendengar perkataan orang itu, Lin Zhennan mengira bahwa mereka telah mati mendadak, akan tetapi malam sebelumnya ia telah mengirim dua puluh dua pengawal dan pengiring untuk bersama-sama mengadakan penyelidikan, bagaimana mereka semua bisa binasa? Ia segera bertanya, "Apa ada yang meninggal? Kemungkinan besar, mereka sedang sibuk menanyai orang, sehingga terlambat pulang". Pengawal itu mengeleng, "Sudah ditemukan tujuh belas jenazah......" Lin Zhennan dan Lin Pingzhi serentak berseru kaget, "Tujuh belas jenazah?" Pengawal itu berkata dengan wajah ketakutan, "Benar. Tujuh belas jenazah, termasuk Pengawal Fu, Qian dan Shi. Jenazah ditaruh di aula besar". Lin Zhennan tak bisa berbicara, ia cepat-cepat menuju aula besar. Di aula besar ternyata semua meja dan kursi telah dipinggirkan, di lantainya tergeletak tujuh belas mayat dalam keadaan berantakan.


Lin Zhennan telah banyak mengalami berbagai gelombang dalam hidupnya, namun ketika tiba-tiba melihat pemandangan semacam itu, kedua tangannya mau tak mau menjadi gemetar, lututnya menjadi lemas, ia hampir tak mampu berdiri. Ia bertanya, "Kenapa......kenapa......kenapa?" Tenggorokannya kering tak bisa mengeluarkan suara.


Terdengar suara seseorang dari luar aula, "Ai, Pengawal Gao selalu tulus dan baik pada semua orang, tak nyana juga ikut dibunuh oleh roh jahat". Terlihat empat atau lima orang tetangga mengusung masuk sebuah jenazah yang diletakkan di atas daun pintu. Mereka dipimpin oleh seorang lelaki setengah baya yang berkata, "Ketika hamba membuka pintu hari ini, hamba melihat orang ini mati di jalan. Hamba mengenali dia sebagai Pengawal Gao dari perusahaan tuan yang terhormat. Hamba kira dia terkena wabah penyakit, oleh karenanya kubawa kesini". Lin Zhennan menjura sambil berkata, "Terima kasih banyak, terima kasih banyak". Kepada seorang pengiring ia berkata, "Beri tiga tahil perak kepada masing-masing tetangga yang baik ini, pergilah ke ruang pembukuan untuk mengambilnya". Para tetangga itu melihat aula penuh dengan mayat, mereka tak berani tinggal berlama-lama, begitu menerima perak dan mengucapkan terima kasih, mereka langsung pergi.


* * *


Tak lama kemudian, ada orang yang datang mengantarkan tiga mayat pengawal lagi, Lin Zhennan memeriksa jumlahnya, kemarin malam ia telah mengirim dua puluh dua orang, saat ini baru ada dua puluh satu mayat, hanya tinggal mayat Pengawal Chu yang belum ditemukan, namun sepertinya ini hanya soal waktu saja.


Ia kembali ke aula timur, lalu minum secangkir teh hangat, pikirannya kacau balau, namun ia tak bisa menenangkan dirinya. Ia pergi keluar gerbang dan memandang kedua tiang bendera yang telah dipotong, hatinya bertambah khawatir, sampai saat ini, musuh telah turun tangan membunuh dua puluh pengawal lebih, namun dari awal sampai akhir ia belum menunjukkan wajahnya, dan juga belum menyampaikan tantangan atau memberitahukan jati dirinya. Ia menoleh, memandang papan diatas pintu gerbang yang bertuliskan empat huruf keemasan 'Biro Pengawalan Fu Wei' itu sambil termenung-menung untuk beberapa saat lamanya. Ia berpikir, "Biro Pengawalan Fu Wei telah berjaya selama puluhan tahun di dunia persilatan, tak nyana hari ini harus hancur di tanganku".


Tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda di jalan, seekor kuda perlahan-lahan mendekat, di punggung kuda itu terkulai seseorang. Dalam hati Lin Zhennan sudah memiliki suatu dugaan, ia datang menghampirinya, dan benar saja mayat yang terkulai diatas punggung kuda itu ialah Pengawal Shi, rupanya ia dibunuh orang saat dalam perjalanan, lalu mayatnya dibiarkan tetap terkulai di atas kuda. Kuda itu tahu jalan pulang dan berjalan pulang sendiri.


Lin Zhennan menghela nafas panjang, air matanya jatuh bercucuran, berjatuhan diatas tubuh Pengawal Chu, ia mengendong mayat itu masuk ke aula dan berkata, "Adik Chu, kalau aku tak bisa membalaskan dendammu, aku bersumpah aku bukan manusia, hanya sayang......sayang, ai, kau pergi terlalu cepat, tak sempat memberitahukan nama musuh". Pengawal Chu ini termasuk tidak menonjol di perusahaan dan tidak mempunyai hubungan dekat dengan Lin Zhennan, tapi karena suasana hati Lin Zhennan sedang galau, ia tak dapat menahan air matanya. Air mata ini pun lebih banyak disebabkan karena rasa marah dibanding dengan rasa sedih.


Nyonya Lin berdiri di pintu aula, tangan kirinya mengengam golok emas, tangan kanannya menunjuk ke halaman sambil menegur dengan suara keras, "Haram jadah, bisanya menyelinap dan menusuk orang dari belakang, kalau kau benar-benar lelaki jantan, datanglah secara terang-terangan ke Biro Pengawalan Fu Wei, hunus senjatamu, ayo bertarung sampai mati. Perbuatan sembunyi-sembunyi seperti ini hanya pantas untuk tikus pencuri. Di dunia persilatan, siapa yang akan menaruh hormat padamu?" Lin Zhennan berkata dengan suara pelan, "Istriku, apa yang kau lihat?" Pada saat yang sama, ia meletakkan mayat Pengawal Chu di lantai.


Lin Zhennan berteriak. Sinar hijau berkilauan. Ia menarik pedang dari sarungnya, menjejakkan kedua kakinya ke tanah lalu naik ke atas atap. Inilah jurus, 'Menyapu Roh Jahat'. Ujung pedangnya bagai bunga yang bertebaran di angkasa, dengan cepat melesat ke arah musuh. Ia memendam rasa kesal yang amat sangat karena selamanya tak pernah melihat wajah musuh, dalam satu jurus itu ia menumpahkan tenaga yang telah dihimpunnya seumur hidup, sama sekali tak memberi ampun. Namun ia tahu bahwa ia hanya mengenai udara kosong, sudut rumah itu kosong melompong, mana ada bayangan manusia? Ia melompat ke atap aula timur, namun disitu juga tak ada jejak musuh.


Nyonya Lin dan Lin Pingzhi naik ke atap dengan membawa senjata untuk membantunya. Nyonya Lin mengamuk, dengan suara lantang ia berseru, "Haram jadah, kalau kau punya nyali, cepat keluar untuk bertarung sampai mati. Kalau kau cuma bisa sembunyi-sembunyi, kau tak ada bedanya dengan bajingan tengik!" Lalu ia bertanya kepada sang suami, "Bajingan itu sudah lari? Orang macam apa dia itu?" Lin Zhennan mengeleng sambil berbisik, "Jangan bikin kaget orang lain". Ketiga orang itu sekali lagi memeriksa atap, lalu melompat turun ke halaman. Lin Zhennan bertanya dengan suara pelan, "Senjata rahasia apa yang dilempar ke golok emasmu?" Nyonya Lin memaki, "Dasar bajingan! Tak tahu!" Ketiga orang itu memeriksa halaman, tapi tak menemukan senjata rahasia apapun, mereka hanya melihat di bawah pohon guihua [22] banyak sekali serpihan bata tersebar di atas tanah, rupanya musuh menggunakan sepotong bata kecil untuk memukul jatuh golok emas yang dipegang Nyonya Lin.


Walaupun Nyonya Lin memaki, 'Haram jadah, bajingan tengik', ketika melihat serpihan-serpihan bata kecil itu, rasa marahnya tak bisa tidak berubah menjadi rasa takut. Ia berdiam diri selama beberapa saat, tanpa berkata-kata ia masuk ke aula timur, mengikuti suami dan putranya. Setelah menutup pintu, ia berkata dengan suara pelan, "Ilmu silat musuh sungguh mengerikan, kita bukan tandingannya, sekarang bagaimana......sekarang bagaimana......" Lin Zhennan berkata, "Minta tolong pada teman-teman kita! Di dunia persilatan, kita saling membantu dalam kesusahan, ini sudah biasa". Nyonya Lin berkata, "Sahabat-sahabat akrab kita memang tidak sedikit, akan tetapi tidak ada yang ilmu silatnya lebih tinggi dari kita suami istri. Dibandingkan dengan kita cukup banyak kurangnya, kalau kita minta mereka datang juga tak ada gunanya". Lin Zhennan berkata, "Perkataanmu tidak salah, tapi banyak orang juga banyak ide, kalau kita mengundang beberapa orang untuk berunding juga bagus". Nyonya Lin berkata, "Baiklah. Menurutmu, siapa yang harus kita undang?" Lin Zhennan berkata, "Yang paling dekat yang kita undang dahulu. Pertama-tama kita akan memindahkan pendekar-pendekar tangguh dari ketiga kantor cabang di Hangzhou, Nanchang dan Guangzhou kesini, lalu kita akan mengundang jago-jago dunia persilatan dari empat propinsi yaitu Min, Zhe, Yue dan Gan[23] ".


Nyonya Lin berkata sambil mengerutkan dahi, "Kalau kita buru-buru minta tolong, dan beritanya tersebar di dunia persilatan, nama besar Biro Pengawalan Fu Wei akan benar-benar tenggelam". Lin Zhennan tiba-tiba berkata, "Istriku, kau tahun ini akan berumur tiga puluh sembilan tahun, benar tidak?" "Bah!", cela Nyonya Lin, di saat seperti ini kau malah bertanya berapa umurku? Aku shio macan. Apa kau tak tahu berapa umurku?" Lin Zhennan berkata, "Aku akan mengirimkan undangan untuk merayakan ulang tahun keempat puluhmu......" Nyonya Lin berkata, "Kenapa kau tiba-tiba ingin menambah umurku setahun? Apa aku kurang cepat menjadi tua?" Lin Zhennan mengeleng sambil berkata, "Kau kapan mejadi tua? Selembar rambut putih pun kau tak punya. Aku berkata akan merayakan ulang tahunmu, adalah alasan untuk mengundang teman dan handai taulan, siapapun tak akan merasa curiga. Pada saat para tamu sudah datang, kita bisa diam-diam berbicara dengan sahabat-sahabat kita, dengan cara ini reputasi perusahaan kita tak akan tercoreng". Nyonya Lin menelengkan kepala sambil berpikir selama beberapa saat, lalu berkata, "Baiklah. Terserah kau saja. Tapi kau akan beri kado apa untukku?" Lin Zhennan berbisik di telinganya, "Kuberi kado besar --- tahun depan kita akan punya bayi lelaki yang gemuk!"


Nyonya Lin mencemooh, wajahnya memerah, "Bah! Tua-tua tak tahu malu, pada saat seperti ini, masih bisa bicara begini". Lin Zhennan tertawa terbahak-bahak, lalu pergi ke ruang pembukuan untuk menyuruh orang menulis surat undangan untuk para sahabat. Sebenarnya dia merasa sangat cemas, tadi ia bergurau hanya untuk mengurangi rasa takut istrinya. Dalam hati ia menduga-duga, "Air yang jauh sukar memadamkan api yang dekat, kemungkinan besar malam ini akan terjadi sesuatu disini. Pada saat teman-teman yang diundang sudah datang, entah di dunia ini masih akan ada Biro Pengawalan Fu Wei atau tidak?"


Ketika ia sampai di depan pintu ruang pembukuan, dua pengiring lelaki mendatanginya dengan wajah ketakutan, dengan suara gemetar mereka berkata, "Ketua......ketua......ce......celaka!" Lin Zhennan berkata, "Ada apa?" Pengiring lelaki yang seorang berkata, "Barusan ini tuan kasir menyuruh Lin Fu untuk membeli peti mati. Dia......dia......begitu melewati belokan Gang Timur dia jatuh dan mati". Lin Zhennan berkata, "Ada masalah apa lagi ini? Dia dimana?" Pengiring lelaki itu berkata, "Masih di jalan". Lin Zhennan berkata, "Pergi ambil mayatnya". Ia berpikir, "Di siang bolong begini, musuh tak disangka-sangka membunuh orang di tengah keramaian, benar-benar nekad". Kedua pengiring lelaki itu berkata, "Baik......baik......", tapi mereka diam saja. Lin Zhennan berkata, "Ada apa?" Kedua pengiring itu berkata, "Mohon ketua melihat......melihat......"


Lin Zhennan tahu benar bahwa telah terjadi sesuatu yang aneh. Ia mendehem, lalu pergi ke pintu gerbang. Di pintu gerbang nampak tiga orang pengawal dan lima orang pengiring yang memandang keluar gerbang, muka mereka pucat pasi, mereka sangat ketakutan. Lin Zhennan berkata, "Ada apa?" Tak satu pun dari mereka yang menjawab, mereka sudah tahu apa yang terjadi. Di atas batu hijau yang melapisi jalan diluar gerbang, enam huruf besar ditulis dengan darah segar yang masih menetes-netes, 'Keluar gerbang sepuluh langkah akan mati'. Kira-kira sepuluh langkah dari pintu gerbang, nampak sebuah garis selebar satu cun yang terbuat dari darah segar.


Lin Zhennan berkata, "Kapan ini ditulis? Bagaimana mungkin tidak ada yang melihat?" Salah seorang pengawal berkata, "Ketika Lin Fu meninggal di Gang Timur, kami semua pergi melihat, tidak ada orang di depan gerbang, tentu saja tidak ada yang melihat siapa yang menulisnya. Entah siapa yang membuat lelucon ini!" Lin Zhennan berkata dengan lantang, "Si marga Lin sudah bosan hidup, aku ingin tahu apakah kalau keluar gerbang sepuluh langkah aku akan benar-benar mati!" Dengan langkah-langkah lebar ia keluar dari gerbang.


Kedua pengawal itu serentak berseru, "Ketua!" Lin Zhennan melambaikan tangannya, lalu melangkahi garis darah itu seorang diri. Ia melihat bahwa huruf dan garis darah itu masih basah, maka ia menjulurkan kakinya dan menghapus keenam huruf darah itu sehingga tak kelihatan lagi bentuknya, lalu masuk kembali ke pintu gerbang. Ia berkata kepada ketiga pengawal itu, "Ini cuma permainan untuk menakut-nakuti orang, kalian takut apa? Adik bertiga tolong pergi ke toko peti mati, lalu setelah itu pergi ke Kuil Tianning di Kota Barat, mohon Pendeta Ban untuk datang memimpin upacara selama beberapa hari, mendoakan almarhum dan mengusir wabah".


Ketiga pengawal itu melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana sang ketua melangkahi garis darah itu, mereka merasa aman dan tenang, maka mereka langsung menyetujui permintaan itu. Setelah mengambil senjata, mereka berjalan berendeng keluar gerbang. Lin Zhennan memandang mereka melewati garis darah, lalu berbelok di sudut jalan. Ia menunggu beberapa saat, lalu masuk ke rumah.


Ia masuk ke ruang pembukuan, lalu berkata pada Tuan Huang si pemegang buku, "Guru Huang, mohon tulis beberapa lembar surat undangan untuk perayaan ulang tahun istriku, undang sanak saudara dan handai taulan untuk minum arak ulang tahun". Tuan Huang berkata, "Baik. Apa sekiranya tuan sudah tahu harinya?" Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki, seseorang berlari masuk, Lin Zhennan berpaling, ia mendengar suara berdebam, ada seseorang yang jatuh ke lantai. Lin Zhennan bergegas mengikuti suara itu, ia melihat Pengawal Di, yaitu salah seorang dari tiga pengawal yang baru saja disuruhnya pergi ke toko peti mati, tubuhnya masih mengeliat-geliat. Lin Zhennan mengangsurkan tangannya untuk memapahnya berdiri seraya bertanya dengan bingung, "Adik Di, ada apa?" Pengawal Di berkata, "Mereka sudah mati. Aku.......aku lari pulang". Lin Zhennan berkata, "Musuh seperti apa?" Pengawal Di berkata, "Tak......tak......tak tahu". Tubuhnya berkelojotan, lalu ia berhenti bernapas.