
Lao Denuo melirik ke arah Lu Dayou sambil tersenyum, lalu meneruskan, "Aku lihat di tengah-tengah aula belakang, duduk seorang pendeta Tao bertubuh pendek kecil yang seluruh tubuhnya dibalut jubah hijau, ia kira-kira berumur lima puluh tahun, wajahnya cekung. Kalau melihat penampilannya, berat tubuhnya tak lebih dari tujuh atau delapan puluh jin saja. Menurut perkataan orang di dunia persilatan, ketua Qingcheng Pai adalah seorang pendeta bertubuh kerdil, tapi kalau tidak melihat sendiri, aku tidak percaya bahwa ia begitu mungil, dan juga tidak percaya bahwa dia adalah Ketua Yu yang begitu terkenal di kolong langit ini. Banyak murid-murid yang mengelilinginya, mereka semua memandang tanpa berkedip keempat murid yang sedang berlatih pedang. Setelah melihat beberapa jurus, aku segera tahu jurus apa yang sedang mereka mainkan, yaitu jurus-jurus baru yang sedang mereka pelajari beberapa hari belakangan itu".
"Aku tahu bahwa pada saat itu keadaan sangat berbahaya, kalau sampai diketahui orang Qingcheng Pai, tak hanya diriku sendiri yang terkena aib, kalau sampai tersebar keluar, nama baik perguruan kita juga akan tercoreng. Ketika da shige menendang jatuh pemimpin 'Empat Ksatria Qingcheng' Hou Renying dan Hong Renxiong dari loteng, walaupun shifu menghukum pukul da shige, mengatakan bahwa dia melanggar peraturan perguruan, membuat onar dan menyinggung teman, namun dalam hati ia bisa-bisa malah merasa senang. Bagaimanapun juga, da shige telah mengharumkan nama perguruan, 'Empat Ksatria Qingcheng' saja tak sanggup menangkis tendangan murid kepala perguruan kita. Tapi kalau aku mencuri lihat rahasia mereka, lalu tertangkap, aku akan lebih rendah dari maling yang mencuri harta orang. Begitu aku pulang, shifu akan murka dan mengeluarkan aku dari perguruan".
"Tapi aku lihat mereka berlatih dengan sangat seru, mungkin masalah ini ada hubungannya dengan perguruan kita, bagaimana aku bisa memalingkan kepala? Dalam hati aku berkata, 'Aku hanya akan melihat beberapa jurus saja, lalu pergi'. Tapi setelah melihat beberapa jurus, aku melihat beberapa jurus lagi. Ilmu pedang keempat orang itu sangat aneh, seumur hidupku aku belum pernah melihat ilmu pedang seperti itu. Tapi kalau ada yang berkata bahwa ilmu pedang ini kuat, aku rasa juga tidak. Aku cuma merasa ada sesuatu yang aneh, 'Kelihatannya tidak ada yang luar biasa di dalam ilmu pedang ini, untuk apa Qingcheng Pai siang malam meningkatkan latihannya? Jangan-jangan ilmu pedang ini adalah lawan ilmu pedang Huashan Pai kita? Sepertinya tidak'. Setelah menyaksikan beberapa jurus lagi, aku tak berani terus menonton, maka selagi mereka berempat sedang bertarung dengan seru, aku segera diam-diam kembali ke kamar. Kalau aku menunggu sampai mereka berhenti berlatih pedang, dan tidak lagi mengeluarkan suara, nanti aku tidak bisa meloloskan diri lagi. Ilmu silat Ketua Yu begitu hebat, di luar aula aku cuma berani berjalan selangkah demi selangkah, khawatir kalau dia menemukan aku".
"Malam itu, walaupun suara pedang tidak berhenti terdengar, tapi aku tak berani pergi menonton. Sebenarnya, kalau aku sudah tahu terlebih dahulu bahwa mereka berlatih pedang di hadapan Ketua Yu, bagaimanapun juga aku tak akan berani mencuri lihat. Kejadian sebelumnya cuma kebetulan saja. Adik keenam memuji keberanianku, aku rasa aku tak pantas mendapat pujian itu. Malam itu kalau kau melihat wajahku yang pucat pasi, aku akan sangat malu, dan kau pasti akan memaki kakak kedua sebagai orang paling penakut di kolong langit ini. Aku harus banyak berterima kasih padamu".
Lao Denuo meneruskan, "Setelah itu, akhirnya Ketua Yu sudi menemuiku. Perkataannya sangat sopan, ia berkata bahwa shifu sebenarnya tak perlu menghukum berat da shige. Huashan dan Qingcheng Pai selalu berhubungan baik, murid-muridnya kadang-kadang suka bercanda, berkelahi seperti anak kecil, kenapa harus dianggap serius? Malam itu ia menjamuku. Esok harinya pagi-pagi, aku mohon diri. Ketua Yu mengantarkan sampai ke gerbang utama Kuil Songfeng. Aku seseorang yang kedudukannya lebih rendah, maka waktu mohon diri aku harus bersujud. Lutut kiriku sudah berlutut, tapi tangan kanan Ketua Yu pelan-pelan mengangkatku supaya bangkit berdiri. Kekuatannya memang benar-benar luar biasa, aku merasa seluruh tubuhku gemetar, sama sekali tak bertenaga. Kalau dia mau melempar aku sepuluh zhang lebih, mungkin aku akan jungkir balik tujuh atau delapan kali. Saat itu aku sama sekali tidak bisa melawan. Ia tersenyum kecil, lalu bertanya, 'Da shigemu dibandingkan denganmu masuk perguruan berapa tahun lebih dahulu? Kau sudah punya ilmu sebelum berguru, benar tidak?' Setelah ia mengangkatku, aku tak bisa bernapas, setelah agak lama aku baru menjawab, 'Benar, murid sudah punya ilmu sebelum berguru. Ketika murid masuk ke Huashan Pai, da shige sudah belajar di perguruan selama dua belas tahun!'. Ketua Yu tersenyum dan berkata, 'Lebih dari dua belas tahun, hmm, lebih dari dua belas tahun' ".
Si gadis bertanya, "Ia berkata 'lebih dari dua belas tahun' apa maksudnya?" Lao Denuo berkata, "Waktu itu air mukanya sangat aneh, aku pikir ia menganggap ilmu silatku biasa-biasa saja, kalaupun da shige belajar kungfu dua belas tahun lebih dahulu dibanding aku, dia belum tentu jauh lebih pandai". Si gadis mendehem dan tak berbicara lagi.
Lao Denuo meneruskan, "Setelah pulang ke gunung, aku menyampaikan surat balasan Ketua Yu kepada shifu. Isi surat itu sangat sopan dan rendah hati, setelah selesai membacanya guru sangat senang, ia bertanya tentang keadaan di Kuil Songfeng. Aku melaporkan tentang kejadian murid-murid Qingcheng berlatih di tengah malam. Guru menyuruh aku memperagakan beberapa jurus. Aku cuma ingat tujuh atau delapan jurus saja, yang segera kuperagakan. Setelah selesai melihat, guru berkata, 'Ini adalah Pixie Jianfa Biro Pengawalan Fu Wei milik keluarga Lin!' "