
Yilin melihat bahwa ia berbicara mengenai semua itu dengan bersemangat, maka ia bertanya, "Apakah kalian sudah selesai melatihnya?" Linghu Chong menggeleng, "Belum, belum! Menciptakan ilmu silat baru, lebih mudah dikatakan daripada dilakukan. Lagipula, kami berdua tak bisa menciptakan ilmu baru, kami hanya mengotak-atik ilmu pedang perguruan sendiri yang diajarkan shifu, lalu memakainya untuk menusuk dan menikam di bawah air terjun. Kalaupun kami punya jurus baru, itu hanya untuk bercanda saja, saat menghadapi musuh sama sekali tak ada gunanya. Kalau tidak, bagaimana aku bisa sama sekali tak berdaya melawan Tian Boguang?" Ia berhenti bicara sejenak sambil perlahan-lahan menggerak-gerakkan tangannya di udara, lalu berkata dengan gembira, "Aku sedang memikirkan sebuah jurus, setelah lukaku sembuh, aku dan xiao shimei akan mencobanya".
Yilin berkata dengan lembut, "Ilmu pedang kalian ini apa namanya?" Linghu Chong tersenyum, "Tadinya aku berkata bahwa tidak perlu diberi nama. Tapi xiao shimei berkeras untuk memberinya nama, kata dia namanya adalah 'Ilmu Pedang Chong Ling', karena ilmu itu ciptaan kami berdua bersama-sama".
Yilin berkata dengan lembut, "Ilmu Pedang Chong Ling, Ilmu Pedang Chong Ling. Hmm, di dalam nama ilmu pedang ini ada namamu, dan ada juga namanya, kelak kalau ilmu itu diwariskan kepada generasi mendatang, semua orang akan tahu bahwa kalian......kalian berdualah yang menciptakannya". Linghu Chong tersenyum, "Xiao shimeiku sifatnya seperti anak kecil, dengan mengandalkan kemampuan kami yang cuma begini saja, bagaimana kami bisa menciptakan ilmu pedang baru? Kau sama sekali tak boleh membicarakannya dengan orang lain, kalau ketahuan orang, apa mereka tidak tertawa sampai gigi mereka rontok?"
Yilin berkata, "Baik, aku tak akan mengatakannya pada orang lain". Ia berhenti sejenak, lalu berkata sembari tersenyum kecil, "Orang lain sudah tahu dulu bahwa kau telah menciptakan ilmu pedang baru". Linghu Chong terkejut, ia bertanya, "Benarkah? Apa Lingshan Shimei yang bicara kepada orang lain?" Yilin tertawa, "Kau sendiri yang mengatakannya pada Tian Boguang. Bukankah kau berkata bahwa kau telah menciptakan ilmu pedang menusuk lalat sambil duduk?" Linghu Chong tertawa terbahak-bahak, "Aku cuma membual padanya, tapi kau mengingat-ingatnya".
Karena ia tertawa keras-keras, lukanya terasa sakit lagi, dahinya berkerut. Yilin berkata, "Aiyo, ini semua salahku. Aku membuatmu capek sehingga lukamu sakit. Sudah, jangan bicara lagi. Tidurlah dengan tenang sebentar".
Linghu Chong memejamkan matanya, tapi tak lama kemudian, ia membuka matanya kembali dan berkata, "Aku kira pemandangan disini bagus, tapi ternyata di sisi air terjun ini aku tak bisa melihat pelangi". Yilin berkata, "Air terjun punya keindahannya sendiri, pelangi pun juga sama". Linghu Chong mengangguk-angguk, "Perkataanmu itu benar. Di dunia ini mana ada sesuatu yang sempurna? Orang bersusah payah untuk mengejar sesuatu, namun setelah ia mendapatkannya, ternyata sesuatu itu cuma biasa-biasa saja, sesuatu yang sudah ada di gengamannya sebelumnya malah terlepas". Yilin tertawa kecil, "Linghu Shixiong, perkataanmu ini mirip dengan perumpamaan Buddha. Sayang sekali pengertianku masih dangkal, tak bisa menangkap kebenaran yang ada di dalamnya. Kalau shifu mendengarnya, ia tentu bisa menjelaskan artinya". Linghu Chong menghela napas dan berkata, "Perumpamaan apa, memangnya aku tahu apa? Ai, capeknya!" Perlahan-lahan, ia memejamkan matanya, sedikit demi sedikit napasnya menjadi teratur, dan masuklah ia ke dalam alam mimpi.
* * *
Yilin berjaga di sampingnya, ia mematahkan sebuah cabang pohon yang masih berdaun, lalu dengan lembut ia mengipasi Linghu Chong untuk menghalau nyamuk, lalat dan serangga kecil lainnya. Setelah duduk selama satu shichen, ia pun merasa agak lelah, ia mengantuk dan memejamkan matanya, namun tiba-tiba ia berpikir, "Kalau dia bangun nanti, pasti dia lapar. Disini tak ada sesuatu untuk dimakan, aku akan memetik beberapa buah semangka lagi untuk menghilangkan haus dan menganjal perut". Maka ia cepat-cepat berlari ke kebun semangka, lalu memetik dua buah semangka lagi. Ia khawatir bahwa selama ia meninggalkannya, ada orang atau binatang liar yang menganggu Linghu Chong, maka ia bergegas kembali. Begitu melihat bahwa ia masih tidur dengan tenang, barulah hatinya lega, dengan perlahan-lahan ia duduk kembali di sisinya.
Linghu Chong membuka matanya dan berkata sembari tersenyum kecil, "Kukira kau telah pergi". Yilin berkata dengan heran, "Aku pergi?" Linghu Chong berkata, "Guru dan para saudari seperguruanmu bukannya sedang mencarimu? Mereka pasti sangat khawatir". Yilin belum pernah memikirkan hal ini, ketika mendengar ia berbicara, langsung timbul rasa khawatir di hatinya, lagi-lagi ia berpikir, "Kalau aku bertemu shifu nanti, entah dia akan menyalahkanku atau tidak?"
Hati Yilin terasa pilu, diam-diam ia berpikir, "Ternyata ia ingin ditemani xiao shimeinya, ia hanya ingin supaya aku cepat pergi untuk memanggil dia". Ia tak bisa menahan diri lagi, air matanya pun bercucuran.
Ketika Linghu Chong melihat air matanya bercucuran, ia merasa amat heran dan bertanya, "Kau......kau......kenapa kau menangis? Takut kalau kau pulang akan dimarahi shifumu, ya?" Yilin mengeleng-gelengkan kepalanya. Linghu Chong berkata lagi, "Ah, aku tahu. Kau takut bertemu Tian Boguang lagi di jalan. Tak usah takut, sejak saat ini, begitu melihatmu dia akan langsung kabur, setelah itu ia tak berani melihat mukamu lagi". Yilin mengeleng-gelengkan kepalanya, air matanya bercucuran makin deras.
Linghu Chong melihat bahwa sedu sedannya makin keras, ia sangat bingung, "Baik, baik, aku salah bicara. Aku minta maaf. Shimei, kau jangan marah".
Ketika Yilin mendengarnya berbicara dengan lembut, ia agak terhibur, namun setelah mempertimbangkannya lagi, ia berpikir, "Ia bicara begini cuma untuk mengambil hatiku, jelas bahwa ia sudah biasa minta maaf pada adik kecilnya, sekarang ini ia cuma asal bicara saja". "Huhuhu!" Sekonyong-konyong tangisnya meledak, ia menghentakkan kakinya dan berkata, "Aku bukan xiao shimeimu, kau......kau......kau cuma ingat xiao shimeimu saja". Begitu ia mengucapkan kata-kata itu, ia langsung ingat bahwa ia adalah orang yang hidup membiara, bagaimana ia bisa berbicara seperti ini kepadanya? Benar-benar tak pantas. Mau tak mau wajahnya menjadi merah padam, ia cepat-cepat memalingkan wajahnya.
Linghu Chong melihat bahwa wajahnya menjadi merah padam, air matanya mengalir tiada putus-putusnya, bagai kelopak bunga merah yang terpercik tetesan air terjun, wajahnya lembut dan menawan tak terlukiskan. Ia berpikir, "Ternyata ia begitu cantik, sepertinya lebih cantik dari Lingshan Shimei. Ai, dia seorang yang hidup membiara, bagaimana aku bisa membandingkan kecantikannya dengan xiao shimei? Linghu Chong, kau jadi orang kenapa begitu bodoh......" Ia merasa cemas, katanya dengan lembut, "Kau jauh lebih muda dariku, kita Wuyue Jianpai, adalah cabang dari pohon yang sama, kita semua adalah kakak beradik seperguruan, tentu saja kau juga adalah xiao shimeiku. Bagaimana aku telah membuatmu tersinggung, katakan padaku, ya?"
Yilin berkata, "Kau tak membuat aku tersinggung. Aku tahu, kau ingin aku cepat-cepat pergi supaya kau tak melihatku, lalu jadi marah dan bernasib sial. Kau kan pernah bilang, begitu lihat biksuni, pasti......" Ketika ia berbicara sampai disini, tangisnya kontan meledak lagi.
Linghu Chong tak bisa menahan tawa, ia berpikir, "Ternyata dia mau membuat perhitungan denganku untuk peristiwa di loteng Huiyan itu. Memang aku benar-benar harus minta maaf". Ia berkata, "Linghu Chong memang pantas mati, bicaranya tak keruan. Hari itu di loteng Huiyan aku bicara sembarangan, aku sudah menyinggung seluruh perguruanmu yang terhormat, aku pantas dipukul, pantas dipukul!" Ia mengangkat tangannya, "Plak, plak!", ia menampar pipinya sendiri dua kali.