Hina Kelana

Hina Kelana
Bab 55



Linghu Chong tertawa terbahak-bahak, "Katamu raja itu sifatnya tidak sabaran, sebenarnya ia sama sekali tidak bersifat seperti itu, bukankah ia telah menunggu dua belas tahun? Kalau aku jadi tabib kerajaan itu, dalam sehari, aku bisa membuat putri yang masih bayi itu berubah menjadi seorang gadis berumur tujuh atau delapan belas tahun yang langsing, anggun dan luar biasa cantiknya". Yilin membuka matanya lebar-lebar seraya bertanya, "Bagaimana caranya?" Linghu Chong tersenyum kecil, "Obat luarnya adalah Perekat Penyambung Langit Harum yang dioleskan, obat minumnya Pil Empedu Beruang Awan Putih". Yilin tersenyum, "Itu adalah obat untuk menyembuhkan luka, bagaimana bisa membuat seseorang cepat tumbuh besar?" Linghu Chong berkata, "Aku tak perduli obat itu bisa menyembuhkan luka atau tidak, tapi kau harus ikut membantu". Yilin tersenyum, "Aku harus membantu?" Linghu Chong berkata, "Benar. Setelah membawa pulang putri yang masih bayi itu, aku akan memanggil empat tukang jahit......" Yilin makin heran, ia bertanya, "Buat apa memanggil empat tukang jahit?"


Linghu Chong berkata, "Untuk buat baju baru. Aku ingin mereka mengukur tubuhmu, lalu malam itu juga aku suruh mereka membuat gaun untuk seorang putri raja. Pagi-pagi besoknya kau akan memakainya, di kepalamu kau pakai mahkota burung hong[10] yang indah, gaunmu terbuat dari brokat seratus bunga putih, kakimu memakai sepatu yang bersulam emas dan bertahtakan mutiara, dengan begitu cantik kau akan melenggang dengan anggun ke Aula Lonceng Emas[11], setelah mengucapkan panjang umur tiga kali, kau akan menjura dan bersujud, lalu berseru, "Ayahanda yang mulia, setelah ananda makan obat ajaib tabib kerajaan Linghu Chong, dalam semalam ananda telah tumbuh menjadi besar". Ketika sang raja melihat seorang putri yang begitu cantik molek, ia akan jungkir balik saking gembiranya dan tak akan bertanya apakah kau putri asli atau palsu. Dan aku Linghu Chong sang tabib kerajaan tentunya akan dianugrahi bertumpuk-tumpuk hadiah".


Yilin tertawa terpingkal-pingkal tanpa henti, setelah mendengarkan sampai Linghu Chong selesai berbicara, ia tertawa begitu keras sampai terbungkuk-bungkuk. Setelah beberapa saat, ia baru berkata, "Kau memang jauh lebih pintar dari tabib di Kitab Seratus Perumpamaan itu, cuma sayang sekali aku, aku......begitu jelek, sama sekali tak seperti seorang putri raja". Linghu Chong berkata, "Kalau kau jelek, di kolong langit ini tidak ada wanita cantik. Sejak dahulu kala, ada seribu satu putri raja, tapi mana ada yang secantik kau?" Ketika Yilin mendengar ia terang-terangan memujinya, hati gadisnya diam-diam merasa senang, ia berkata sembari tersenyum, "Apa kau sudah pernah melihat seribu satu putri raja itu?" Linghu Chong berkata, "Tentu saja. Aku sudah pernah melihat mereka semua satu persatu dalam mimpiku". Yilin tertawa dan berkata, "Kau ini orang macam apa, masa selalu mimpi tentang putri raja!" Linghu Chong tertawa terkekeh-kekeh, "Aku pikir......" Tapi ia segera ingat bahwa Yilin adalah seorang biksuni muda belia yang polos dan naif, menemaninya bercanda saja sudah melanggar larangan perguruannya, bagaimana ia bisa membual gila-gilaan dengan dia? Setelah ia berpikir tentang hal itu, wajahnya langsung berubah serius dan ia lantas pura-pura menguap.


Yilin berkata, "Ah, Linghu Shixiong, kau sudah capek, pejamkanlah matamu dan tidurlah sejenak". Linghu Chong berkata, "Baiklah. Leluconmu itu benar-benar mujarab, lukaku sudah tak sakit lagi". Ia ingin Yilin membuat lelucon supaya air matanya berubah menjadi senyuman, sekarang setelah melihat ia tersenyum dan berbicara dengan riang, tujuannya telah tercapai, maka ia perlahan-lahan memejamkan matanya.


Yilin duduk di sisinya sambil melambai-lambaikan ranting pohon dengan lembut untuk mengusir lalat. Dari sebuah kali yang jauh di pegunungan itu, terdengar suara katak mendengkung bersahut-sahutan seperti sebuah lagu nina bobo. Saat itu, Yilin mulai merasa amat lelah, kelopak matanya terasa berat, ia tak lagi bisa membuka matanya, akhirnya ia pun masuk ke alam mimpi.


Dalam mimpinya, ia seakan mengenakan gaun indah sang putri, melangkah masuk ke dalam sebuah istana yang megah, di sisinya seorang pemuda tampan menggandeng tangannya, samar-samar sepertinya ia adalah Linghu Chong, lalu mereka berdua berjalan di atas awan, melayang-layang di udara, bahagianya tak terlukiskan. Tiba-tiba seorang biksuni tua berwajah bengis datang mengejar mereka sambil membawa sebilah pedang. Dialah sang guru. Yilin terkejut, ia mendengar sang shifu berkata dengan lantang, 'Binatang kecil, kau telah melanggar larangan agama, berani-beraninya kau berpura-pura jadi putri raja dan main gila dengan berandalan ini!' Ia mencengkeram lengannya dan menariknya keras-keras. Pandangan matanya langsung menjadi gelap, Linghu Chong tak terlihat, sang shifu pun tak terlihat, dirinya berulang-ulang jatuh ke dalam awan gelap. Yilin ketakutan dan berteriak, "Linghu Shixiong, Linghu Shixiong!" Ia merasa sekujur tubuhnya nyeri dan lemas, tangan dan kakinya tak punya daya untuk bergerak, sedikit pun tak bisa meronta.


Ia berteriak beberapa kali, lalu terbangun, ternyata semua itu hanya mimpi belaka. Ia menatap sepasang mata Linghu Chong yang terbuka lebar dan sedang memandangi dirinya.


Kedua pipi Yilin bersemu merah, dengan rikuh ia berkata, "Aku......aku....." Linghu Chong berkata, "Kau mimpi, ya?" Wajah Yilin menjadi merah padam, ia berkata, "Aku tak tahu". Dalam sekejap, ia melihat wajah Linghu Chong berubah menjadi sangat aneh, seakan sedang menahan rasa sakit yang hebat, ia cepat-cepat berkata, "Apa...... apakah lukamu sakit sekali?" Ia mendengar Linghu Chong berkata, "Tidak terlalu sakit!" Namun suaranya bergetar, setelah beberapa saat, butiran-butiran keringat sebesar biji kedelai muncul di dahinya, ia sangat kesakitan, tanpa bertanya pun Yilin sudah tahu.


Yilin sangat cemas, ia berkata, "Bagaimana sebaiknya? Bagaimana sebaiknya?" Dari saku dadanya ia mengambil sehelai sapu tangan katun untuk menyeka butiran-butiran keringat di dahi Linghu Chong. Ketika kelingkingnya menyentuh dahinya, ia seakan menyentuh bara. Ia pernah mendengar gurunya berkata bahwa setelah seseorang terluka karena pedang atau golok, kalau ia demam, keadaannya akan menjadi kritis. Di tengah kecemasannya, ia tak bisa menahan diri untuk merapalkan sebuah doa, "Apabila semua makhluk hidup yang tak terhitung jumlahnya menderita kesukaran, dan ia memanggil nama Bodhisatwa Guanyin dengan sepenuh hati, maka Bodhisatwa Guanyin akan segera mendengarkannya dan membebaskan dirinya. Kalau orang yang memanggil namanya masuk ke dalam api yang berkobar-kobar, api tak bisa membakarnya karena kekuatan Bodhisatwa Guanyin. Kalau ia tenggelam dalam air bah, dengan memanggil namanya, ia akan sampai ke tempat yang dangkal......"


Makin lama mendengarkan, Linghu Chong makin merasa geli, akhirnya ia pun tertawa. Yilin berkata dengan heran, "Apa......apanya yang lucu?" Linghu Chong berkata, "Kalau aku sudah tahu dari dulu, tak ada gunanya belajar ilmu silat segala, kalau ada orang jahat atau musuh yang ingin mencelakai atau membunuhku, aku......aku tinggal memanggil nama Bodhisatwa Guanyin, maka golok dan tongkat orang jahat itu akan hancur berkeping-keping, bukankah aku akan selamat......selamat dengan begitu mudah?"


Dengan wajah tegas Yilin berkata, "Linghu Shixiong, berhentilah menghujat sang bodhisatwa. Kalau hati tak tulus, tak ada gunanya berdoa". Ia terus berdoa dengan lirih,


"Apabila binatang buas mengepung dengan gigi dan cakar mereka yang tajam, panggillah nama Guanyin, maka mereka akan berpencar. Apabila kau bertemu dengan ular sanca, kalajengking dan binatang beracun lain, panggillah nama Guanyin, maka mereka akan kembali ke sarangnya. Apabila guntur dan kilat mengelegar, hujan es dan hujan deras menimpa, panggillah nama Guanyin, maka cuaca buruk akan segera berlalu. Semua makhluk berada dalam marabahaya, menderita kesulitan yang tak tertahankan, namun kebijaksanaan dan kekuatan Guanyin dapat menyelamatkan dunia dari penderitaan......"


Linghu Chong mendengar bahwa ia berdoa dengan khusyuk, walaupun suaranya lirih, namun jelas bahwa ia memohon pertolongan Bodhisatwa Guanyin dengan sepenuh hati, seakan segenap jiwanya berseru memohon dengan tulus kepada sang bodhisatwa, mohon supaya sang bodhisatwa membebaskan dirinya dari penderitaan dengan kekuasaannya yang besar. Ia seakan berkata, "Bodhisatwa Guanyin, aku mohon dengan sangat supaya kau menghindarkan Linghu Shixiong dari rasa sakit, pindahkanlah rasa sakitnya ke tubuhku. Walaupun aku harus berubah menjadi binatang, atau masuk ke neraka juga tak apa, tapi bebaskanlah Linghu Shixiong dari penderitaan......" Setelah itu, Linghu Chong tak lagi bisa mengerti arti doanya, hanya bisa mendengar suaranya yang berdoa dengan khusyuk, begitu tulus, begitu sungguh-sungguh. Tanpa sadar, air mata Linghu Chong berlinangan. Sejak kecil, ia tak punya ayah ibu, walaupun shifu dan shiniangnya memperlakukannya dengan baik, namun ia terlalu bandel sehingga ia lebih sering dihukum pukul daripada memperoleh kasih sayang; diantara para saudara dan saudari seperguruan, semua memperlakukannya sebagai da shige yang dihormati, tak ada yang berani menentangnya; Lingshan,Shimei walaupun dekat dengannya, namun belum pernah menunjukkan perhatian yang begitu besar dan penuh kasih seperti ini; hanya Yilin, adik seperguruan dari Hengshan Pai inilah yang secara tak disangka-sangka rela menanggung segala penderitaan di dunia ini demi keselamatan dan kebahagiaannya.


Mau tak mau perasaan mengharu biru bergolak di dadanya, di matanya, cahaya yang suci murni seakan samar-samar terpancar dari tubuh biksuni kecil itu.


Suara Yilin yang merapalkan kitab suci makin lama makin lirih, di depan matanya, seakan benar-benar ada tangan yang melambaikan sebuah ranting dan menebarkan embun sejuk di mana-mana, yaitu tangan sang Bodhisatwa berbaju putih penolong orang yang kesusahan. Setiap kalimat 'namo Bodhisatwa Guanyin' begitu khusyuk diucapkannya untuk mendoakan Linghu Chong.


Linghu Chong merasa berterima kasih sekaligus terhibur, di tengah suara doa yang lembut dan khusyuk itu ia pun masuk ke alam mimpi.