Hina Kelana

Hina Kelana
Bab 13



Tak sampai sehari kemudian, ia tiba di kota Heng Shan. Ia melihat bahwa di jalanan banyak sekali orang-orang dunia persilatan yang berlalu-lalang. Lin Pingzhi takut bertemu dengan Fang Renzhi dan kawan-kawannya, maka ia menundukkan kepala dan cepat-cepat mencari penginapan. Siapa yang tahu bahwa setelah bertanya di beberapa penginapan, semua telah terisi penuh. Pelayan di penginapan berkata, "Dua hari lagi adalah hari baik Paman Liu mencuci tangan di baskom emas, penginapan kecil kami sudah penuh, silahkan bertanya di tempat lain!"


Lin Pingzhi pergi ke jalan yang sepi untuk mencari penginapan, setelah bertanya di tiga tempat, ia berhasil mendapatkan sebuah kamar kecil. Ia berpikir, "Walaupun wajahku sudah kulumuri debu, namun si Fang Renzhi ini sangat pintar, aku takut ia akan mengenaliku". Ia pergi ke toko obat dan membeli tiga lembar koyo, lalu menempelkannya di mukanya sehingga kedua alisnya tertarik ke bawah, bibir kirinya juga tertarik ke bawah hingga terbalik dan memperlihatkan separuh giginya. Ketika ia berkaca di cermin, ia melihat sebuah wajah yang sangat menyedihkan, ia sendiri merasa muak melihatnya; lalu ia membungkus semua emas, perak dan perhiasan menjadi satu buntalan besar, mengikatnya erat-erat di punggungnya dan menutupinya dengan bajunya. Ia membungkuk sedikit, dan berubahlah ia menjadi seorang bongkok berpunuk besar. Ia berpikir, "Penampilanku begitu aneh seperti ini, ayah ibu pun tak akan mengenaliku, oleh karena itu aku tak perlu khawatir".


Setelah makan semangkuk mi paikut(4) , ia berjalan-jalan di jalanan, berharap akan bertemu dengan orang tuanya, atau paling tidak mendengar kabar tentang Qingcheng Pai. Setelah setengah hari berlalu, ia mendengar suara gemericik, rupanya turun hujan. Di tepi jalan, ia membeli sebuah caping besar, lalu memakainya. Ia melihat bahwa cakrawala nampak sangat gelap, nampaknya hujan deras akan turun dengan tiada henti-hentinya. Ia berbelok ke jalan lain dan melihat kedai teh penuh orang, ia masuk ke dalamnya lalu mencari tempat duduk. Pelayan kedai teh membawakan sepoci teh, sepiring kecil kuaci dan kacang panjang.


Ia minum secawan teh dan makan kuaci untuk menghalau rasa bosan, tiba-tiba terdengar suara seseorang berbicara, "Bongkok, kita duduk-duduk disini, boleh tidak?" Tanpa menunggu jawaban Lin Pingzhi, ia langsung duduk dengan sikap angkuh, diikuti oleh dua orang lain.


Mula-mula Lin Pingzhi bingung, tidak menyadari bahwa orang itu berbicara kepadanya, ia menjadi panik, namun setelah menyadari bahwa 'Si Bongkok' itu adalah dirinya, ia cepat-cepat tersenyum dan berkata, "Boleh, boleh! Silahkan duduk, silahkan duduk!" Ia memperhatikan ketiga orang itu, mereka semua memakai pakaian hitam, di pinggang mereka tergantung senjata.


Ketiga lelaki itu mengobrol sendiri tanpa mengacuhkan orang lain, mereka juga tak memperdulikan Lin Pingzhi. Seorang pemuda berkata, "Upacara cuci tangan di baskom emas Tuan Ketiga Liu ini benar-benar meriah, masih dua hari lagi, tapi kota Heng Shan ini sudah penuh orang yang ingin memberi selamat". Seorang lelaki lain yang matanya buta sebelah berkata, "Sudah tentu. Heng Shan Pai sendiri tenar namanya, dan juga anggota Wuyue Jianpai yang lebih besar lagi namanya, siapa yang tak mau berteman dengan mereka? Apalagi ilmu silat Tuan Ketiga Liu Zhengfeng juga luarbiasa. Ilmunya bernama tiga puluh enam jurus 'Pedang Angin Puyuh Menjatuhkan Angsa'. Kabarnya dia adalah jagoan nomor dua di Heng Shan Pai, hanya kalah sedikit dari ketua perguruan Tuan Mo Da. Dari dulu sudah banyak orang yang ingin berteman dengannya. Tapi dia tak pernah merayakan ulang tahun, pesta pernikahan atau menikahkan anak, tak ada kesempatan untuk menemuinya. Begitu mendengar kabar tentang perayaan cuci tangan di baskom emas kali ini, tentu saja semua orang gagah dari dunia persilatan segera berkumpul disini. Aku lihat dua hari berikut ini kota Heng Shan pasti akan sangat ramai".


Orang lain yang janggutnya kelabu berkata, "Tapi tak semua orang datang kesini untuk berteman dengan Liu Zhengfeng, kita bertiga tentunya tidak datang kesini untuk melakukan hal itu, benar tidak? Setelah Liu Zhengfeng mencuci tangannya di baskom emas, berarti sejak saat itu ia tidak akan pernah bertarung lagi, sama sekali tidak akan mencampuri urusan dunia persilatan, di dunia persilatan tidak akan ada lagi tokoh seperti dia. Kalau dia sudah bersumpah tak akan pernah menghunus pedang lagi, tiga puluh enam jurus 'Pedang Angin Puyuh Menjatuhkan Angsa' yang hebat itu apa gunanya? Setelah upacara cuci tangan di baskom emas ini, ia akan menjadi seperti orang biasa, jagoan yang begitu kuat akan menjadi seperti orang cacat. Untuk apa orang lain ingin berteman dengannya?" Sang pemuda berkata, "Walaupun setelah itu Tuan Ketiga Liu tidak akan bertarung lagi, namun dia akan tetap menjadi tokoh kedua di Heng Shan Pai. Berteman dengan Tuan Ketiga Liu berarti juga berteman dengan Heng Shan Pai, dan sekaligus berteman dengan Wuyue Jianpai!" Si janggut kelabu tertawa sinis, "Berteman dengan Wuyue Pai, memangnya kau pantas berteman dengan mereka?"


Si buta berkata, "Kakak Peng, kau tak bisa bilang begitu. Orang dunia persilatan yang banyak temannya tidak banyak, yang sedikit musuhnya tidak sedikit. Walaupun ilmu silat Wuyue Jianpai tinggi dan namanya termasyur, namun mereka juga tidak bisa memandang rendah teman-teman di dunia persilatan. Kalau mereka begitu angkuh, tak mau memandang orang lain, kenapa begitu banyak orang berbondong-bondong memberi selamat kepada Heng Shan Pai?"


Si marga Peng yang berjanggut kelabu itu mendengus, ia tak berbicara lagi, setelah beberapa saat, ia berkata dengan suara pelan, "Kebanyakan cuma orang yang ingin dekat dengan kekuasaan, aku si tua ini sebal melihatnya".


Lin Pingzhi berharap ketiga orang itu tak berhenti mengobrol, mungkin ia bisa mendengar kabar tentang Qingcheng Pai, namun ternyata ketiga orang itu tak sepaham, maka mereka masing-masing minum teh dan tak berbicara lagi.


Tiba-tiba ia mendengar seseorang berbicara dengan suara pelan dari belakang punggungnya, "Paman Kedua Wang, katanya Tuan Ketiga Liu dari Heng Shan Pai itu baru lima puluhan tahun lebih umurnya, ilmu silatnya sedang hebat-hebatnya, kenapa tiba-tiba ingin cuci tangan di baskom emas? Bukankah ia menyia-nyiakan kepandaiannya?" Suara seorang tua berkata, "Banyak sebab orang dunia persilatan mencuci tangan di baskom emas. Kalau dia perampok besar dari dunia hitam yang seumur hidupnya melakukan kejahatan, setelah selesai cuci tangan, ia tidak lagi merampok, membunuh dan membakar. Pertama, ia sudah bertobat dan berubah menjadi baik, memberi nama baik bagi anak cucunya; kedua, kalau di daerahnya ada kejahatan besar, ia tidak akan dicurigai. Tapi keluarga Tuan Ketiga Liu di Heng Shan sudah kaya sejak beberapa generasi yang lalu, jadi hal semacam itu sama sekali tak relevan". Seorang lain berkata, "Benar, sama sekali tak relevan".


Si janggut kelabu yang duduk di seberang Lin Pingzhi berbicara pada dirinya sendiri, "Diantara yang kuat ada yang lebih kuat lagi, diatas orang yang cakap, ada lagi yang lebih cakap lagi. Siapa yang berani menyebut dirinya tak tertandingi di kolong langit ini?" Suaranya begitu rendah sehingga kedua orang yang berada di belakang tak bisa mendengarnya.


Terdengar Paman Kedua Wang berkata, "Seperti para pengawal itu kalau sudah cukup mengumpulkan harta, lalu mengundurkan diri secepatnya, cuci tangan di baskom emas dan tak lagi menjual nyawa di ujung pedang, itu baru tindakan yang cerdas". Beberapa kalimat itu menusuk telinga Lin Pingzhi, benar-benar membekas di hatinya, pikirnya, "Kalau saja ayahku sudah terlebih dahulu mengundurkan diri beberapa tahun yang lalu, cuci tangan di baskom emas, apakah keadaan akan menjadi seperti sekarang ini?"


Si janggut kelabu kedengaran berbicara pada dirinya sendiri, "Gentong air selalu pecah dekat sumur, seorang jenderal selalu gugur dalam pertempuran. Orang yang menonton selalu lebih tahu dari yang bermain, dua kata 'mengundurkan diri' ini lebih mudah diucapkan daripada dilaksanakan". Si buta berkata, "Betul. Oleh karena itu beberapa hari ini aku si tua mendengar orang berkata, 'Nama besar Tuan Ketiga Liu saat ini seperti matahari di langit, namun tiba-tiba mengundurkan diri, sungguh luar biasa, membuat orang sangat kagum' ".


Tiba-tiba seorang lelaki setengah baya berpakaian sutra yang duduk di meja sebelah kiri berkata, "Beberapa hari yang lalu ketika aku berada di Wuhan, aku mendengar kawan-kawan dunia persilatan berkata bahwa Tuan Ketiga Liu cuci tangan di baskom emas untuk mengundurkan diri sebenarnya karena terpaksa, karena suatu masalah yang tak bisa diberitahukan kepada umum". Si buta berpaling dan berkata, "Teman-teman di Wuhan bilang begitu, teman yang ada disini ini bisakah memberitahu aku?" Orang itu tertawa dan berkata, "Perkataan seperti ini tidak apa-apa kalau dikatakan di Wuhan, tapi di kota Heng Shan ini aku tak boleh bicara sembarangan". Seorang lain yang buntak tubuhnya berkata dengan kasar, "Masalah ini sudah diketahui banyak orang, kenapa kau pura-pura merahasiakannya? Semua orang berkata, karena ilmu silat Tuan Ketiga Liu terlalu tinggi, dan hubungannya dengan orang lain pun terlalu baik, saat ini ia tak punya pilihan selain cuci tangan di baskom emas".


Suaranya begitu keras, seketika itu juga di kedai teh itu banyak mata yang memandang ke wajahnya. Beberapa orang serentak bertanya, "Kenapa kalau ilmu silatnya terlalu tinggi, hubungan dengan orang lain terlalu baik, lantas harus mundur dari dunia persilatan, apakah hal ini tidak aneh?"


Si buntak membual dengan bangga, "Orang yang tak tahu cerita sebenarnya tentu akan menganggapnya aneh, yang tahu sama sekali tidak menganggapnya aneh". Seseorang bertanya, "Apa cerita sebenarnya itu?" Si buntak hanya tersenyum tanpa berbicara apa-apa. Seorang kurus kering yang duduk di meja lain berkata dengan sinis, "Kenapa kalian banyak bertanya? Dia sendiri juga tak tahu, cuma omong sembarangan saja". Si buntak menjadi gusar, ia berkata dengan suara keras, "Kata siapa aku tidak tahu? Tuan Ketiga Liu cuci tangan di baskom emas demi kebaikan semua pihak, untuk menghindari persaingan di Heng Shan Pai".


Beberapa orang serentak berbicara, "Apa maksudnya demi kebaikan semua pihak?" "Mereka menghindari persaingan apa?" "Apa ada perseteruan diantara saudara seperguruan?"


Si buntak berkata, "Orang luar berkata bahwa Tuan Ketiga Liu adalah jago nomor dua di Heng Shan Pai, tapi semua orang di dalam Heng Shan Pai sendiri tahu kalau kepandaian Tuan Ketiga Liu dengan tiga puluh enam jurus 'Pedang Angin Puyuh Menjatuhkan Angsa' nya dari dahulu sudah jauh melebihi ketua perguruan yaitu Tuan Mo Da. Tuan Mo Da dengan satu tikaman bisa menusuk tiga ekor angsa, tapi Tuan Ketiga Liu dengan satu tikaman bisa menusuk lima ekor. Murid-murid Tuan Ketiga Liu, semuanya juga lebih pandai dari murid-murid Tuan Mo Da. Saat ini, keadaannya makin lama makin tegang. Setelah beberapa tahun, nama besar Tuan Mo Da tentunya akan dikalahkan oleh Tuan Ketiga Liu, kabarnya kedua belah pihak diam-diam sudah beberapa kali berbenturan. Tuan Ketiga Liu berasal dari keluarga kaya, ia tak mau berebut pengaruh dengan kakak seperguruannya, oleh karena itu ia ingin cuci tangan di baskom emas, supaya setelah itu ia bisa hidup dengan aman sentosa bersama keluarganya yang makmur".


Cukup banyak orang menganggukkan kepala, "Ternyata begitu. Tuan Ketiga Liu benar-benar memegang teguh prinsip keksatriaan, ini adalah hal yang sangat sukar dilakukan". Seseorang berkata, "Tuan Mo Da itu melakukan sesuatu yang tidak benar. Ia memaksa Tuan Ketiga Liu untuk keluar dari dunia persilatan, bukankah ini akan memperlemah kekuatan Heng Shan Pai sendiri?" Si lelaki setengah umur yang berpakaian sutra tertawa dingin, "Urusan di kolong langit ini, mana bisa kita ketahui dengan tuntas? Aku hanya ingin menduduki kursi ketua, masa bodoh kalau perguruanku bertambah kuat atau malah makin lemah".


Si buntak minum beberapa teguk teh, "Ting, ting!" Ia mengketuk-ketuk tutup poci teh, sambil berteriak, "Buatkan teh, buatkan teh!" Ia berkata lagi, "Kalau begitu, ini jelas adalah masalah besar di Heng Shan Pai, setiap perguruan sudah mengirim orang untuk memberi selamat, tapi Heng Shan Pai sendiri......"