Hina Kelana

Hina Kelana
Bab 25



Di perut mayat yang tergeletak di atas daun pintu itu tertancap sebuah pedang tajam. Pedang yang tertancap di perut orang mati itu tertusuk miring. Pedang itu panjangnya tiga chi, namun bagian yang berada di luar tubuh mayat itu hanya tiga cun lebih. Ujung pedang menembus tenggorokan mayat itu. Jurus yang menikam dari bawah secara kejam seperti ini sungguh jarang ditemui di dunia persilatan. Yu Canghai mengumam, "Linghu Chong, hah, Linghu Chong, kau.......kau begitu kejam".


Murid Taishan Pai itu berkata, "Tianbai Shishu mengirim orang untuk menyampaikan berita bahwa lebih baik kalau satu atau dua orang paman guru disini ikut membantunya untuk mencari kedua maling cabul itu". Dingyi dan Yu Canghai serentak berkata, "Kami akan pergi!"


Saat itu dari balik pintu terdengar suara yang lembut dan merdu, suara itu berseru, "Shifu, aku sudah pulang!"


Air muka Dingyi tiba-tiba berubah, ia berkata dengan lantang, "Apa itu kau, Yilin? Cepat masuk kesini!"


Semua orang serentak memandang ke mulut pintu, mereka ingin melihat seperti apa rupa biksuni kecil yang tanpa malu-malu minum-minum di kedai arak bersama dua orang maling cabul yang sangat jahat itu.


* * *


Tirai yang menutupi pintu terbuka, mata semua orang tiba-tiba seakan disinari cahaya terang, seorang biksuni kecil berjalan tanpa suara masuk ke dalam ruang tamu itu. Wajahnya begitu cantik dan halus, raut mukanya bercahaya, benar-benar seorang wanita cantik yang kecantikannya sukar ditandingi. Ia masih berumur enam atau tujuh belas tahun, sosok tubuhnya luwes dan anggun, walaupun tubuhnya dibalut oleh jubah hitam yang longgar, namun jubah itu tak dapat menyembunyikan pembawaannya yang halus dan lemah gemulai. Ia berjalan ke hadapan Dingyi, lalu dengan luwes memberi hormat, serunya, "Shifu......" Baru saja kata itu terucap, tiba-tiba tangisnya meledak.


Dengan wajah tenang Dingyi berkata, "Kau......kau baik-baik saja? Bagaimana kau bisa pulang?"


Yilin berkata sambil menangis, "Shifu, kali ini murid......kali ini hampir saja tak bisa bertemu dengan shifu lagi". Suaranya ketika berbicara begitu manis dan menawan. Sepasang tangannya yang panjang dan langsing mencengkeram lengan baju Dingyi, kulitnya begitu putih hingga seakan tembus pandang. Semua orang mau tak mau berpikir, "Wanita secantik ini, kenapa jadi biksuni?"


Yu Canghai melirik ke arahnya, lalu tak memandangnya lagi karena pandangannya terpaku pada pedang yang tertancap di mayat Luo Renjie. Ia melihat bahwa rumbai sutra berwarna hijau yang menempel di gagang pedang itu melambai-lambai ditiup angin, dan di bagian mata pedang yang dekat dengan gagang pedang, terukir lima huruf kecil yaitu 'Linghu Chong Huashan'. Pandangan matanya berpindah, ia melihat bahwa pedang yang tergantung di pinggang Lao Denuo persis sama, juga memiliki rumbai hijau yang melambai-lambai. Tiba-tiba ia mendekat, tangan kirinya dengan cepat terjulur, menikam ke arah sepasang mata Lao Denuo, jarinya bergerak secepat angin, dalam sekejap ujung jarinya telah menyentuh kelopak matanya.


Lao Denuo sangat terkejut, ia cepat-cepat melancarkan jurus 'Menyalakan Api Menyangga Langit', ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi untuk menangkis. Yu Canghai tertawa dingin, tangan kirinya membuat gerakan melingkar yang sangat kecil, lalu mencengkeram sepasang tangan Lao Denuo dengan telapaknya, disusul dengan tangan kanannya yang terjulur, "Wus!" Pedang di pinggang Lao Denuo pun terhunus. Sepasang tangan Lao Denuo terkunci di telapak lawan, ia meronta, namun lawan sama sekali tak bergeming. Ujung pedangnya sendiri menuding ke arah dadanya, ia berteriak kaget, "Tak......tak ada hubungannya denganku!"


Yu Canghai memandang mata pedang itu, ia melihat bahwa di permukaannya terukir lima huruf yaitu 'Huashan Lao Denuo', bentuk dan ukuran hurufnya persis sama dengan yang terdapat di pedang satunya. Ia menurunkan pergelangan tangannya sehingga ujung pedang menuding ke perut Lao Denuo, lalu berkata dengan suara yang mendirikan bulu roma, "Jurus yang menusuk miring ke atas ini adalah jurus yang mana dari ilmu pedang Huashan Paimu yang mulia?"


Keringat dingin bercucuran di dahi Lao Denuo, dengan suara gemetar ia berkata, "Dalam ilmu pedang Huashan Pai kami......tidak......tidak ada jurus semacam itu".


Yu Canghai berpikir, "Jurus yang membunuh Renjie ini, gerakan pedangnya menusuk perut sampai tembus ke tenggorokan, apakah Linghu Chong membungkukkan tubuhnya, lalu menusuk dari bawah? Setelah membunuh orang, kenapa ia tak mencabut pedangnya? Apakah ia sengaja meninggalkan bukti? Apakah dia punya maksud untuk menantang Qingcheng Pai?" Tiba-tiba terdengar suara Yilin berkata, "Yu Shishu, jurus Linghu Shixiong ini sepertinya bukan jurus Huashan Pai".


Dingyi berkata dengan gusar, "Memangnya aku tak punya kuping? Sampai harus kau ingatkan?" Ketika ia mendengar Yilin memanggil Linghu Chong sebagai 'Linghu Shixiong' ia sudah merasa kesal. Kalau saja Yu Canghai menunggu sejenak sebelum mengucapkan kata-kata itu, ia sendiri sudah akan menegur Yilin, namun tak nyana Yu Canghai telah berbicara terlebih dahulu, apalagi cara berbicaranya juga kasar, maka ia malah berbalik melindungi muridnya. Ia berkata, "Dia cuma asal bicara saja, memangnya kenapa?" Kita anggota Wuyue Jianpai menjadi saudara demi perserikatan, diantara kelima perguruan kita, semua adalah saudara seperguruan, apanya yang aneh?"


Yu Canghai tersenyum dan berkata, "Baik, baik!" Ia mengerahkan tenaga yang tersimpan di dantian dan mengeluarkannya dari tangan kirinya untuk mendorong Lao Denuo. "Buk!" Dengan keras ia menubruk tembok, plester atap rumah pun langsung berguguran. Yu Canghai berkata dengan lantang, "Menurut kalian apa bagusnya orang ini? Di sepanjang jalan ia sembunyi-sembunyi memata-mataiku, apa maksudnya sebenarnya?"


Setelah Lao Denuo didorong olehnya, seluruh organ dalam tubuhnya seakan jungkir balik, ia menjulurkan tangannya untuk bertumpu pada tembok, ia merasa kedua lututnya lemas tak bertenaga seperti sehelai benang basah, ia ingin duduk di tanah, namun berusaha sekuat tenaga untuk tetap berdiri. Ketika ia mendengar Yu Canghai berkata demikian, diam-diam ia mengeluh, "Ternyata ketika aku dan xiao shimei memata-matai mereka, kami meninggalkan jejak, sehingga pendeta kerdil yang licik ini tahu".


Dingyi berkata, "Yilin, kemarilah, bagaimana kau bisa bisa jatuh ke tangan mereka? Katakanlah secara jelas kepada shifu". Seraya berbicara ia menarik tangannya dan membawanya keluar ruang tamu. Semua orang jelas-jelas mengerti bahwa seorang biksuni yang begitu cantik tanpa tanding seperti ini, apabila jatuh ke tangan Tian Boguang si maling cabul pemetik bunga, bagaimana bisa tetap menjaga kesuciannya? Mengenai hal-hal tertentu, ia tidak mau membeberkannya di depan orang lain, maka Dingyi Shitai harus mengajak dia ke tempat dimana tidak ada orang lain, baru menanyainya secara tuntas.


Tiba-tiba berkelebat sebuah bayangan hijau, dengan secepat kilat, Yu Canghai telah berada di depan pintu dan menutupi jalan keluar mereka, katanya, "Masalah ini menyangkut nyawa dua orang, mohon minta Xiao Shifu Yilin untuk berbicara disini". Ia berhenti sejenak, lalu berkata lagi, "Keponakan Qi Baicheng adalah orang Wuyue Jianpai, semua murid kelima perguruan adalah saudara seperguruan, ketika ia dibunuh Linghu Chong, mungkin Taishan Pai tidak tersinggung. Akan tetapi muridku Luo Renjie ini tidak pantas memanggil Linghu Chong saudara seperguruannya".


Dingyi adalah seseorang yang berkepribadian kuat, biasanya, bahkan kakak-kakak seperguruannya Dingjing dan Dingxian sang ketua juga agak mengalah padanya, bagaimana ia bisa membiarkan Yu Canghai menghalangi jalannya dan menyindirnya? Ketika ia mendengar perkataan itu, kedua alisnya pun langsung terangkat.


Liu Zhengfeng sudah lama tahu tentang sifat Dingyi Shitai yang berangasan, begitu melihat sepasang alisnya terangkat, ia memperkirakan bahwa akan terjadi pertarungan. Pada saat ini, ia dan Yu Canghai adalah sama-sama jago kelas satu di dunia persilatan, kalau mereka berdua bertarung, keadaan akan menjadi sangat runyam. Ia langsung melangkah ke depan, menjura, lalu berkata, "Kalian berdua telah sudi berkunjung ke rumahku yang sederhana ini, kalian semua adalah tamu-tamuku yang terhormat, mohon pandang mukaku yang tak berarti ini, mohon jangan merusak persahabatan. Ini semua adalah akibat si Liu ini yang tak becus melayani tamu". Sambil berbicara ia berkali-kali menjura.


"Ha!" Dingyi tertawa, "Perkataan Tuan Ketiga Liu sangat lucu. Aku sendiri yang marah pada si hidung kerbau ini, apa hubungannya denganmu? Dia melarang aku pergi, tapi aku tetap akan pergi. Kalau ia tidak menghalangi jalanku, aku juga tidak keberatan tinggal disini".


Yu Canghai sebenarnya juga agak jeri pada Dingyi, kalau ia berkelahi dengannya, ia tidak sepenuhnya yakin akan menang. Lagipula, walaupun kakak seperguruannya Dingxian ramah kepada orang, semua orang tahu bahwa ilmu silatnya tinggi. Kalaupun hari ini ia bisa menang terhadap Dingyi, kakak seperguruannya sang ketua tak akan melepaskannya begitu saja. Lagipula, Hengshan Pai adalah salah satu dari Wuyue Jianpai, kelima perguruan itu sama-sama berjaya atau sama-sama runtuh, kalau ia menyinggung Hengshan Pai, akan timbul masalah yang tiada habisnya di masa depan, maka ia segera tertawa terbahak-bahak dan berkata, "Aku hanya berharap Xiao Shifu Yilin mau menceritakan kejadian yang sebenarnya di hadapan kita semua. Siapakah Yu Canghai ini hingga berani menghalangi jalan ketua Biara Baiyun dari Hengshan Pai?" Sembari berbicara sosok tubuhnya berkelebat, kembali ke tempat duduknya.


Dingyi berkata, "Bagus kalau kau tahu hal itu". Ia menarik tangan Yilin dan membawanya kembali ke tempat duduknya semula, lalu bertanya, "Pada hari itu setelah kau terpisah dengan yang lainnya, apa yang terjadi setelah itu?" Ia khawatir Yilin yang masih muda dan tak berpengalaman akan mengatakan hal-hal yang bisa mempermalukan dirinya dan perguruannya sendiri, maka ia cepat-cepat menambahkan, "Hanya ceritakan yang penting saja, yang tak ada hubungannya tak perlu diketahui".


Yilin menjawab, "Baik! Murid tidak melakukan sesuatu yang melanggar perintah shifu, tapi Tian Boguang penjahat itu, penjahat itu......dia......dia......dia......" Dingyi mengangguk, "Baiklah. Kau tak usah cerita, aku sudah tahu semuanya. Aku harus membunuh dua maling cabul Tian Boguang dan Linghu Chong itu untuk melampiaskan amarahmu......"


Yilin membuka sepasang matanya yang bening lebar-lebar, raut wajahnya memperlihatkan rasa terkejut, ia berkata, "Linghu Shixiong? Dia......dia......" Tiba-tiba air matanya berlinang, ia berkata sambil tersedu-sedan, "Dia......dia sudah mati!"