
Perlahan-lahan, ia memejamkan matanya, sedikit demi sedikit napasnya menjadi teratur, dan masuklah ia ke dalam alam mimpi. Yilin berjaga di sampingnya, ia mematahkan sebuah cabang pohon yang masih berdaun, lalu dengan lembut ia mengipasi Linghu Chong untuk menghalau nyamuk, lalat dan serangga kecil lainnya.
Ketika Yilin dan gadis kecil itu telah berada di luar aula, Yilin bertanya, "Nona, siapa namamu yang terhormat?" Gadis kecil itu tertawa cekikikan dan berkata, "Margaku terdiri dari dua kata, yaitu Linghu, sedangkan nama panggilanku hanya satu kata saja, yaitu Chong". Jantung Yilin berdebar-debar, wajahnya berubah masam, "Aku tanya kau baik-baik, tapi kenapa kau malah mempermainkan aku?" Gadis kecil itu tersenyum, "Mempermainkanmu bagaimana? Memangnya cuma temanmu yang namanya Linghu Chong?" Yilin menghela napas, hatinya terasa pilu, ia tak bisa menahan air matanya berjatuhan, katanya, "Linghu Shixiong ini telah menyelamatkan nyawaku, akhirnya ia tewas demi aku, aku......aku tak pantas jadi temannya".
Ketika mereka sedang berbicara tentang hal itu, nampak dua orang bongkok buru-buru keluar dari aula, mereka adalah Si Bongkok Dari Utara Mu Gaofeng dan Lin Pingzhi. Si gadis kecil tertawa cekikikan dan berkata, "Di kolong langit ini benar-benar ada hal yang aneh seperti ini, ada seorang bongkok tua bermuka seram dan juga ada seorang pemuda bongkok". Ketika Yilin mendengar ia mengejek orang lain, ia diam-diam merasa kesal, katanya, "Nona, kau cari ayah ibumu sendiri, ya. Kepalaku sangat pusing dan badanku tak enak".
Si gadis kecil berkata, "Aku tahu kau cuma pura-pura sakit kepala dan masuk angin, aku tahu, waktu aku pura-pura jadi Linghu Chong, kau tak senang. Kakak yang baik, gurumu menyuruhmu menemaniku, bagaimana kau bisa meninggalkan aku begitu saja? Kalau aku sampai dianiaya orang jahat, gurumu akan menyalahkanmu habis-habisan". Yilin berkata, "Ilmumu jauh lebih tinggi dari aku, kau juga cerdas, bahkan seorang tokoh yang ternama di kolong langit ini seperti Ketua Yu juga tumbang di tanganmu. Kalau kau tidak menganiaya orang saja, orang itu akan berterima kasih pada langit dan bumi, siapa yang berani menganiayamu?" Gadis kecil itu tertawa terkekeh-kekeh dan berkata, "Jangan menggoda aku. Barusan ini kalau gurumu tidak melindungiku, belum-belum aku sudah akan kena pukul si hidung kerbau itu. Kakak, aku marga Qu, nama panggilanku Feiyan. Kakekku memanggilku Fei Fei, kau juga boleh memanggil aku Fei Fei juga".
Ketika mendengar ia mengatakan nama aslinya, Yilin merasa lebih tenang, ia hanya merasa heran, bagaimana ia tahu bahwa ia selalu memikirkan Linghu Chong, sehingga ia memakai namanya untuk menggoda dirinya? Kemungkinan besar, ketika ia bercerita kepada shifu dan orang-orang lain di ruang tamu, nona yang pintar dan aneh ini bersembunyi di balik jendela dan mencuri dengar. Ia berkata, "Baiklah, Nona Qu, ayo kita cari ayah dan ibumu, kira-kira kau tahu tidak dimana mereka berada?"
Qu Feiyan berkata, "Aku tahu mereka ada di mana. Kalau kau ingin mencari mereka, pergilah sendiri, aku tak ikut". Yilin merasa heran, "Kenapa kau sendiri tak ikut?" Qu Feiyan berkata, "Umurku masih terlalu muda, bagaimana aku bisa pergi ke sana? Tapi kau lain, kau sangat sedih, mungkin kau sangat ingin cepat-cepat pergi kesana". Yilin merasa cemas dan berkata, "Katamu ayah dan ibumu......" Qu Feiyan berkata, "Ayah ibuku sudah lama dibunuh orang. Kalau kau mau cari mereka, kau harus pergi ke akherat". Yilin merasa kesal, "Kalau ayah ibumu sudah tiada, bagaimana kau bisa bercanda tentang mereka? Aku tak mau menemanimu". Qu Feiyan mengenggam tangan kirinya, lalu berkata sambil merengek-rengek, "Kakak yang baik, aku anak yatim piatu yang tak punya siapa-siapa lagi, tak ada orang yang menemani aku bermain. Temani aku sebentar saja".
Ketika Yilin mendengar ia berbicara dengan begitu sedih, ia berkata, "Baiklah, aku akan menemanimu sebentar, tapi kau tak boleh membuat lelucon tolol. Aku adalah orang yang hidup membiara, kau tak boleh memanggilku kakak". Qu Feiyan tersenyum, "Menurutmu aku bicara tak keruan, tapi menurut aku tidak, pikiran setiap orang memang berbeda-beda. Kau lebih tua dari aku, maka aku memanggilmu kakak, kenapa tidak boleh? Masa aku harus memanggilmu adik? Kakak Yilin, kau tak usah jadi biksuni saja, ya?"
Mau tak mau Yilin tertegun, ia mundur selangkah, Qu Feiyan menggunakan kesempatan itu untuk melepaskan tangannya, ia tersenyum lalu berkata, "Apa enaknya jadi biksuni? Tak bisa makan ikan, udang, ayam dan bebek, daging sapi dan daging kambing juga tak boleh dimakan. Kakak, kau begitu cantik, tapi karena kau mencukur gundul kepalamu penampilanmu jadi tak menarik, kalau kau memanjangkan rambutmu, kau akan jadi cantik". Ketika Yilin mendengar perkataannya yang naif itu, ia tertawa, "Aku adalah pengikut Sang Buddha, kami percaya bahwa semua adalah maya, apa gunanya memperdulikan apakah rupa tubuh yang fana ini cantik atau jelek?"
Qu Feiyan menelengkan kepalanya, ia menatap wajah Yilin, saat itu hujan mulai reda, mendung telah tersibak, sinar bulan yang pucat bersinar dari balik awan dan menyinari wajahnya hingga berpendar-pendar keperakan, ia nampak makin cantik. Qu Feiyan menghela napas, lalu berkata dengan lirih, "Kakak, kau benar-benar cantik. Tak heran orang begitu merindukanmu". Rona merah muncul di wajah Yilin, ia berkata dengan gusar, "Kau bicara apa? Kalau kau menggodaku, aku akan pergi". Qu Feiyan tertawa, "Baiklah, aku tak akan bicara lagi. Kakak, beri aku Perekat Penyambung Langit Harum untuk menolong seseorang". Yilin berkata dengan heran, "Kau mau menolong siapa?" Qu Feiyan tersenyum, "Orang ini sangat penting, saat ini aku tak bisa mengatakannya padamu". Yilin berkata, "Kalau kau ingin minta obat luka untuk menyelamatkan nyawa seseorang, tentunya aku bisa memberikannya. Tapi shifu secara tegas mengajarkan bahwa karena Perekat Penyambung Langit Harum ini sulit dibuat, kalau yang terluka adalah seorang jahat, kami tak boleh menolongnya".
Sebelum ia menyelesaikan perkataannya, air muka Yilin berubah, ia berpaling lalu melangkah pergi. Qu Feiyan cepat-cepat menghadang di depannya, ia mementang kedua tangannya sambil tersenyum, tapi tak membiarkannya pergi. Tiba-tiba Yilin teringat akan sesuatu, "Di loteng Huiyan kemarin, ia duduk bersama seorang lelaki lain. Sampai saat Linghu Shixiong tewas dan aku membopong jasadnya sambil berlari menuruni tangga kedai arak, sepertinya dia juga ada disana. Ia telah menyaksikan semua yang terjadi dengan mata kepalanya sendiri, tak perlu mencuri dengar perkataanku. Apakah dia mengikutiku dari belakang?" Ia ingin menanyainya, namun wajahnya memerah dan ia tak bisa membuka mulutnya.
Qu Feiyan berkata, "Kakak, aku tahu kau ingin bertanya padaku, kemana perginya jasad Linghu Shixiong, benar tidak?" Yilin berkata, "Memang benar, kalau nona bisa memberitahu aku, aku......aku......akan sangat berterima kasih sekali".
Qu Feiyan berkata, "Aku tak tahu, tapi ada seseorang yang tahu. Orang ini terluka parah, hidupnya berada di ujung tanduk. Kalau kakak bisa memakai Perekat Penyambung Langit Harum untuk menyelamatkan nyawanya, ia akan bisa memberitahumu dimana jasad Linghu Shixiong berada". Yilin berkata, "Kau sendiri benar-benar tak tahu?" Qu Feiyan berkata, "Aku Qu Feiyan kalau tahu dimana jasad Linghu Shixiong berada, biar aku mati di tangan Yu Canghai besok, biar pedangnya membuat tujuh atau delapan puluh lubang di tubuhku". Yilin cepat-cepat berkata, "Aku percaya, kau tak usah bersumpah. Orang ini siapa?"
Qu Feiyan berkata, "Terserah padamu apa kau mau menolong orang ini atau tidak. Tempat yang akan kita datangi juga bukan tempat yang baik".
Demi untuk menemukan jasad Linghu Chong, mendaki gunung golok dan rimba pedang pun ia rela, apalagi cuma pergi ke tempat yang tidak baik, Yilin mengangguk dan berkata, "Ayo kita pergi kesana".
Kedua orang itu berjalan menuju ke gerbang utama, mereka melihat bahwa di luar gerbang hujan masih turun. Di samping gerbang ada beberapa payung dari kertas berminyak, Yilin dan Qu Feiyan masing-masing mengambil sebuah, lalu keluar gerbang dan berjalan menuju ke timur laut. Saat itu sudah larut malam, orang yang berlalu lalang di jalanan sudah jarang. Ketika mereka berdua lewat, jauh di dalam sebuah lorong dua ekor anjing mengonggong. Yilin memperhatikan bahwa di sepanjang jalan Qu Feiyan selalu melewati jalan-jalan kecil yang sempit dan jauh dari keramaian, namun karena ia sangat ingin tahu dimana jasad Linghu Chong berada, ia tidak memperhatikan kemana Qu Feiyan membawanya pergi.
* * *