Hina Kelana

Hina Kelana
Bab 27



Semua orang melihat bahwa air mata bercucuran di mata Yilin yang indah, tak lama kemudian keluarlah suara sedu sedan, roman mukanya sedih namun juga manis, saat itu tak ada seorangpun yang berani menanyainya. Pendeta Tianmen, Liu Zhengfeng, Tuan Wen, He Sanqi dan para sesepuh lain semua mau tak mau merasa kasihan padanya, kalau saja dia bukan seorang biksuni yang hidup membiara, tak sedikit orang yang ingin menjulurkan tangan dan menepuk-nepuk punggungnya atau membelai-belai ubun-ubunnya untuk menghiburnya.


Yilin menghapus air matanya dengan lengan bajunya, sambil tersedu sedan ia berkata, "Penjahat Tian Boguang itu mendesakku dan merobek bajuku. Aku memukulnya dengan telapakku, tapi dua pukulanku berhasil ditangkapnya. Aku berteriak dan memaki dia beberapa kali. Shifu, murid tak berani melanggar pantangan, aku memaki karena orang ini benar-benar kurang ajar. Tepat pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara seseorang tertawa dari luar gua, hahaha, ia tertawa tiga kali, berhenti, lalu tertawa tiga kali lagi. Tian Boguang berkata dengan suara bengis, 'Siapa itu?' Orang yang diluar itu tertawa tiga kali lagi. Tian Boguang memaki, 'Pergilah jauh-jauh sana! Kalau Tuan Besar Tian marah kau bisa kehilangan nyawa!' Orang itu lagi-lagi tertawa tiga kali. Tian Boguang tak memperdulikannya dan mulai merobek-robek bajuku. Dari luar gua terdengar suara tawa orang itu, setiap kali ia tertawa, Tian Boguang makin marah. Aku sungguh berharap supaya orang itu cepat masuk dan menolongku. Tapi orang itu tahu Tian Boguang lihai dan tidak berani masuk gua, hanya tertawa tanpa henti diluar gua".


"Tian Boguang memaki-maki orang itu, menotok jalan darahku, menghela napas, lalu meloncat keluar. Tapi orang itu sudah bersembunyi. Tian Boguang mencarinya untuk beberapa lama, tapi tak berhasil menemukannya, lalu ia kembali masuk ke gua. Ketika ia hampir sampai di tempatku, orang itu tertawa lagi dari luar gua. Aku merasa geli dan tak bisa menahan tawaku".


Dingyi menatapnya, lalu menegur, "Kau sedang dalam keadaan diantara hidup dan mati, tapi kau masih bisa tertawa?"


Rona merah muncul di wajah Yilin, "Benar, murid juga berpikir seharusnya tidak boleh tertawa, tapi entah bagaimana waktu itu aku tertawa. Tian Boguang membungkuk dan berjingkat-jingkat ke mulut gua, hendak menunggu orang itu tertawa lagi, lalu keluar gua. Tapi orang diluar gua itu sangat waspada, ia sama sekali tak mengeluarkan suara. Selangkah demi selangkah, Tian Boguang menuju keluar gua. Aku pikir kalau orang itu tertangkap, keadaan akan menjadi runyam, maka ketika Tian Boguang hendak lari keluar gua, aku berteriak, 'Awas, dia keluar!' Orang itu tertawa tiga kali dari kejauhan, lalu berkata, 'Banyak terima kasih, tapi kau tak akan bisa mengejar aku. Ilmu ringan tubuhmu payah' ".


Semua orang berpikir, Tian Boguang dijuluki 'Kelana Tunggal Selaksa Li', ilmu ringan tubuhnya sangat tinggi dan sudah lama terkenal di dunia persilatan. Orang itu berkata bahwa "ilmu ringan tubuhmu payah" tentunya sengaja untuk membuatnya marah.


Yilin meneruskan, "Penjahat Tian Boguang itu tiba-tiba membalikkan tubuh, ia mencubit wajahku keras-keras, aku kesakitan dan berteriak. Ia melompat keluar dan berseru, 'Hei anjing, ayo adu ilmu ringan tubuh denganku!' Siapa yang tahu kali ini ia kena tipu. Ternyata orang itu sudah bersembunyi di samping gua, begitu Tian Boguang lari keluar, ia segera menyelinap masuk, lalu berbisik, 'Jangan takut. Aku datang untuk menolongmu. Titik-titik mana yang ditotok olehnya?' Aku berkata, 'Yang di bahu kanan dan punggung, sepertinya jianzhen dan dazui. Kau siapa?' Dia berkata, 'Buka jalan darah dulu, baru bicara'. Dia memijat titik jianzhen dan dazui ku".


"Kemungkinan besar aku salah memberitahu titik jalan darahnya, walaupun orang itu sudah memijat kuat-kuat, sama sekali tak bisa terbuka. Terdengar teriakan Tian Boguang makin mendekat. Aku berkata, 'Kau cepat lari, kalau dia kembali, dia pasti akan membunuhmu'. Ia berkata, "Wuyue Jianpai adalah cabang dari pohon yang sama, kalau shimei dalam kesusahan, bagaimana aku bisa tidak menolong?' "


Dingyi bertanya, "Dia juga dari Wuyue Jianpai?"


Yilin berkata, "Shifu, dia adalah Linghu Shixiong, Linghu Chong".


"Oh!" Dingyi dan Pendeta Tianmen, Yu Canghai, He Sanqi, Tuan Wen, Liu Zhengfeng dan yang lain-lain serentak berseru. Lao Denuo menghela napas panjang. Diantara hadirin, ada beberapa orang yang sudah menduga terlebih dahulu bahwa orang itu ialah Linghu Chong, tapi ingin menunggu Yilin sendiri mengatakannya agar bisa memastikan.


Yilin berkata, "Terdengar suara teriakan Tian Boguang makin mendekat. Linghu Shixiong berkata, 'Mohon maaf!' Lalu ia mengendong aku, menyelinap keluar gua dan bersembunyi di balik rerumputan. Baru saja kami bersembunyi, Tian Boguang lari masuk ke gua, ia tak bisa menemukan aku dan menjadi murka. Ia memaki-maki, makiannya sangat kasar, aku juga tak mengerti apa artinya. Ia mengambil pedangku yang sudah patah lalu membacok sembarangan diantara rerumputan. Untungnya hari sudah malam dan turun hujan, bintang dan bulan tak bersinar, ia tak berhasil menemukan kami. Namun ia menduga kami lari tidak jauh, pasti masih bersembunyi di dekat tempat itu, oleh karena itu ia masih tetap membacok. Ada suatu kali yang sangat berbahaya, pedangnya menebas di atas ubun-ubunku, hanya kurang beberapa cun saja. Ia menebas-nebas untuk beberapa saat sambil memaki tiada hentinya, mengucapkan banyak kata-kata kasar, aku juga tak ingat. Ia terus membacok, lalu mencari ke tempat lain".


Dingyi Shitai berkata, "Kau kena tipu, Tian Boguang menipu kalian, ia belum bisa menemukan kalian". Yilin berkata, "Benar. Shifu, waktu itu kau tak ada disana, bagaimana kau bisa tahu?" Dingyi berkata, "Apanya yang sulit ditebak? Kalau ia benar-benar telah melihat kalian, tentunya ia akan langsung menusuk Linghu Chong sampai mati, untuk apa berteriak-teriak? Sepertinya si bocah Linghu Chong ini juga belum berpengalaman".


Yilin menggeleng, "Tidak, Linghu Shixiong juga sudah menebaknya. Ia membekap mulutku, khawatir kalau-kalau aku takut lalu bersuara. Setelah Tian Boguang berteriak-teriak selama beberapa waktu, ia tidak mendengar suara apapun, maka ia mulai menebas-nebas rumput lagi untuk mencari kami. Linghu Shixiong menunggu sampai ia pergi jauh, lalu berbisik, 'Shimei, kalau kita bisa menunggu setengah shichen, ketika tenaga dalam dan darah bisa berjalan dengan lancar melewati jalan darahmu, aku akan bisa membuka totokanmu. Tapi Tian Boguang pasti akan kembali, kali ini aku khawatir kita akan sukar menghindar. Kita harus mengambil resiko dan bersembunyi di dalam gua' ".


Ketika Yilin berbicara sampai disini, Tuan Wen, He Sanqi dan Liu Zhengfeng bertiga serentak bertepuk tangan. Tuan Wen berkata, "Bagus, punya nyali dan juga punya akal!"


Yilin berkata, "Ketika aku mendengar bahwa kami akan masuk kembali ke dalam gua, aku sangat takut, tapi saat itu aku sudah sangat percaya pada Linghu Shixiong. Apa yang dia katakan, tentunya benar, maka aku berkata, 'Baik'. Ia mengendong aku masuk ke dalam gua lagi, lalu menurunkanku. Aku berkata, 'Di saku bajuku ada 'Perekat Tulang Harum Langit', obat luka yang mujarab, mohon kau......mohon kau ambil dan oleskan ke lukamu'. Ia berkata, 'Saat ini bukan saat yang tepat, tunggu sampai kaki dan tanganmu bisa bergerak, setelah itu baru beri aku obat'. Ia menghunus pedang dan memotong lengan bajunya, lalu mengikatkannya di bahu kirinya. Saat itu aku baru tahu, bahwa untuk melindungiku, ketika kami bersembunyi di rerumputan, Tian Boguang telah menyabet bahunya, tapi ia sama sekali tidak bergerak maupun bersuara, sehingga di tengah kegelapan Tian Boguang tak bisa menemukan kami. Dalam hatiku aku merasa kasihan, tapi aku tak tahu saat itu waktu yang tepat atau tidak untuk mengeluarkan obat......"


Dingyi mendengus, "Ternyata Linghu Chong adalah seorang ksatria".


Yilin membuka matanya yang indah dan bercahaya lebar-lebar, wajahnya menampakkan rasa terkejut, ia berkata, "Linghu Shixiong memang orang yang sangat baik. Dia dan aku sama sekali belum pernah bertemu, tapi ia mempertaruhkan nyawa dengan berani untuk menyelamatkan aku".


Yu Canghai berkata dengan sinis, "Walaupun kau dan dia sama sekali tidak kenal, kemungkinan besar dia telah melihat wajahmu, kalau tidak kenapa ia begitu baik hati?" Maksud dari perkataannya ialah bahwa demi kecantikannya yang luar biasa, Linghu Chong rela mempertaruhkan nyawanya.


Yilin berkata, "Tidak, ia berkata bahwa ia belum pernah bertemu denganku. Linghu Shixiong tak mungkin berbohong padaku!" Beberapa kata itu dikatakannya dengan sangat tegas, walaupun suaranya lembut, namun ia mengatakannya dengan penuh keyakinan. Semua orang merasa tergugah oleh keyakinannya yang murni itu dan mau tak mau percaya padanya.


Yu Canghai berpikir, "Linghu Chong begitu berani seakan tak takut pada langit dan bumi, kalau bukan demi paras cantik, tentunya karena ia sengaja ingin bertarung dengan Tian Boguang, supaya namanya terkenal di dunia persilatan".


Yilin meneruskan berbicara, "Setelah membalut lukanya, Linghu Shixiong kembali memijat titik-titik di bahu dan punggungku. Tak lama kemudian, di luar gua terdengar suara berdesir yang makin lama makin dekat, suara Tian Boguang mengayunkan pedang menebas rerumputan dengan sembarangan sampai ke mulut gua. Jantungku berdebar-debar seperti akan copot ketika mendengar dia masuk ke gua, lalu duduk di tanah, sama sekali tak bersuara. Aku menahan napas, tak berani bernapas. Tiba-tiba, bahuku terasa amat sakit, aku terkejut dan mau tak mau mengerang pelan. Keadaan menjadi runyam. Tian Boguang tertawa terbahak-bahak, dengan langkah-langkah lebar, ia menghampiriku. Linghu Shixiong berjongkok di sampingku, sama sekali tak bergerak. Tian Boguang berkata, 'Domba kecil, ternyata selama ini kau sembunyi di gua'. Ia mengangsurkan tangannya dan menangkap aku. Aku mendengar suara berdesir, ternyata Linghu Shixiong telah menikam dia".