Hina Kelana

Hina Kelana
Bab 49



Ia berbicara sambil tertawa, lalu keluar dari balik tubuh Yue Buqun. Di bawah sinar bulan yang temaram, Lin Pingzhi bisa melihat dengan samar-samar sebuah wajah bulat telur yang cantik, sepasang matanya yang jeli menatap wajahnya. Lin Pingzhi menyoja dalam-dalam dan berkata, "Yue Shizi, berkat kebaikan shifu hari ini shidi diterima di perguruan. Yang lebih dahulu masuk perguruan adalah yang lebih senior, tentu saja shidi akan menjadi adik seperguruan".


Yue Lingshan sangat senang, ia berpaling ke arah ayahnya dan berkata, "Ayah, dia sendiri yang mau memanggil aku shizi, bukan aku yang memaksa dia". Yue Buqun tertawa, "Dia baru masuk perguruan kita, kau sudah menyebut kata 'memaksa' itu. Ia pasti berpikir bahwa semua orang di perguruan ini seperti kau, yang senior menekan yang junior, bukankah ini akan membuat dia ketakutan?" Setelah ia berbicara, semua murid tertawa.


Yue Lingshan berkata, "Ayah, da shige bersembunyi di tempat ini untuk menyembuhkan lukanya, dan ia juga telah kena pukul tapak si pendeta Tao bau itu, jangan-jangan ia dalam bahaya, cepat cari dia". Dahi Yue Buqun agak berkerut, ia mengeleng dan berkata, "Daizi, Genming, kalian berdua bawa keluar da shige". Shi Daizi dan Gao Genming serentak menyahut, lalu masuk ke kamar melalui jendela, namun kemudian terdengar mereka berdua berkata, "Shifu, da shige tak ada disini, di dalam kamar ini tidak ada orang". Setelah itu nampak sinar menembus keluar dari jendela, mereka berdua telah menyalakan lilin.


Dahi Yue Buqun makin berkerut, ia enggan masuk ke tempat pelacuran yang kotor seperti ini. Ia berkata pada Lao Denuo, "Kau masuk dan lihat". Lao Denuo berkata, "Baik!" Ia pun masuk lewat jendela.


Yue Lingshan berkata, "Aku juga mau lihat". Yue Buqun membalikkan tangannya, memegang pergelangan tangan putrinya dan berkata, "Macam-macam saja. Tempat seperti ini tak boleh kau masuki". Yue Lingshan begitu cemas sehingga ia hampir menangis, katanya, "Tapi......tapi da shige menderita luka parah......jangan-jangan nyawanya terancam". Yue Buqun berkata dengan pelan, "Jangan khawatir. Dia sudah diolesi Perekat Penyambung Langit Harum Hengshan Pai, dia tak akan mati". Yue Lingshan terkejut sekaligus senang, ia berkata, "Ayah, kau......kau bagaimana bisa tahu?" Yue Buqun berkata, "Hus, jangan cerewet!"


* * *


Linghu Chong sudah terluka parah ketika ia terkena angin pukulan telapak Yu Canghai, lukanya terasa amat sakit, lagi-lagi ia memuntahkan darah, namun ia masih sadar. Ia mendengar pertengkaran diantara Yu Canghai dan Mu Gaofeng, dan bagaimana setelah itu semua orang satu persatu pergi, dan juga mendengar sang guru tiba. Ia selamanya tak pernah takut pada langit dan bumi, hanya takut pada sang guru seorang. Ketika ia mendengar gurunya dan Mu Gaofeng berbicara, ia langsung berpikir bahwa ia telah berbuat onar, entah hukuman apa yang akan dijatuhkan kepadanya begitu mereka tiba di rumah. Untuk sesaat ia lupa akan rasa sakit dari lukanya, ia kembali ke ranjang, lalu berbisik, "Gawat, shifuku sudah datang, kita harus cepat lari". Ia berpegangan pada tembok, lalu keluar dari kamar itu.


Qu Feiyan menarik Yilin keluar dari balik selimut dan ikut keluar dari kamar. Ia melihat Linghu Chong terhuyung-huyung, tak bisa berdiri tegak, maka mereka berdua cepat-cepat maju untuk memapahnya. Linghu Chong mengertakkan giginya, setelah melewati sebuah lorong, ia berpikir bahwa mata dan telinga sang guru sangat tajam, kalau ia keluar, ia akan langsung tahu. Ia melihat bahwa di sebelah kanan ada sebuah kamar besar, ia segera memasukinya dan berkata, "Tutup......tutup pintu dan jendela". Qu Feiyan menuruti perkataannya dan mengunci pintu, juga menutup jendela. Linghu Chong tak sanggup bertahan, ia ambruk di atas ranjang sambil terengah-engah.


Setelah beberapa waktu lagi, terdengar suara seseorang berjingkat-jingkat memasuki halaman sembari berbisik, "Da shige, da shige". Dia adalah Lu Dayou. Linghu Chong berpikir, "Lu si Monyet Keenam adalah orang yang paling dekat denganku". Ia baru saja akan menjawab ketika ia merasakan kelambu ranjang bergetar, ternyata Yilin yang telah mendengar ada orang yang datang mencari mereka, menjadi ketakutan. Linghu Chong berpikir, "Kalau aku menjawab, aku akan menodai nama baik biksuni kecil ini". Ia tetap tak bersuara, telinganya mendengar Lu Dayou masuk melalui jendela sambil terus memanggil, "Da shige, da shige". Sedikit demi sedikit ia menjauh dan suaranya tak kedengaran lagi.


Sekonyong-konyong Qu Feiyan berkata, "Eh, Linghu Chong, apa kau bisa mati?" Linghu Chong berkata, "Bagaimana aku bisa mati? Kalau aku mati, reputasi Hengshan Pai akan rusak, dan membuat orang kecewa". Qu Feiyan berkata dengan heran, "Kenapa?" Linghu Chong berkata, "Obat mujarab penyembuh luka Hengshan Pai sudah dioleskan dan diminumkan kepadaku, kalau masih tak sembuh juga, bagaimana Linghu Chong bisa tidak membuat kecewa......membuat kecewa shimei dari Hengshan Pai ini?" Qu Feiyan tersenyum, "Betul. Kalau kau sampai mati, kau akan membuat dia kecewa".


Yilin melihat bahwa walaupun lukanya parah, ia masih bisa bercanda, ia mengagumi keberaniannya dan juga merasa agak lega, katanya, "Ketua Yu memukulmu dengan telapaknya, aku akan periksa lukamu". Linghu Chong mencoba untuk duduk. Qu Feiyan berkata, "Tak usah sungkan, kau berbaring saja". Seluruh tubuh Linghu Chong tak bertenaga, ia tak bisa duduk, maka ia hanya berbaring saja.


Qu Feiyan menyalakan lilin. Yilin melihat bahwa bagian depan bajunya bersimbah darah segar, maka ia tak lagi memperdulikan aturan kesopanan dan segera membuka jubah panjang Linghu Chong dengan hati-hati, lalu mengambil sebuah handuk yang tergantung di atas tempat baskom cuci muka, mengelap bersih bercak-bercak darah di atas lukanya, dan mengoleskan seluruh Perekat Penyambung Langit Harum yang tersimpan di saku dadanya ke atas lukanya. Linghu Chong berkata sembari tersenyum, "Sayang sekali, obat mujarab yang begitu berharga ini dihabiskan untuk aku".


Yilin berkata, "Linghu Shixiong menderita luka parah ini demi aku, jangankan obat ini, kalau.......kalau......" Ketika berbicara sampai disini, ia kesulitan menemukan kata-kata yang tepat, untuk sesaat, ia berbicara dengan terbata-bata, lalu meneruskan, "Bahkan shifuku sendiri juga memujimu sebagai seorang pendekar muda pembela keadilan, sampai ia bertengkar dengan Ketua Yu". Linghu Chong tertawa, "Tak usah memujiku, asal beliau tidak memakiku, aku sudah akan sangat berterima kasih". Yilin berkata, "Shifuku bagaimana......bagaimana bisa memakimu? Linghu Shixiong, kau harus beristirahat dengan tenang selama dua belas shichen, kalau setelah itu lukamu tak terbuka lagi, kau akan baik-baik saja". Ia mengambil tiga butir Pil Empedu Beruang Awan Putih dan menyuapkannya kepadanya.


Qu Feiyan berkata, "Kakak, kau temani dia disini, hati-hati terhadap orang jahat yang ingin mencelakainya. Kakekku menungguku, aku harus pergi". Yilin berkata dengan cemas, "Jangan! Kau jangan pergi. Bagaimana aku bisa berada disini sendirian?" Qu Feiyan tertawa, "Bukankah Linghu Chong ada disini? Kau tidak sendirian". Sembari berbicara ia berbalik dan melangkah pergi. Yilin sangat cemas, ia melompat ke depan dan mencengkeram lengannya. Dalam keadaan terburu-buru, ia menggunakan ilmu menangkap Hengshan Pai dan berhasil memegang lengannya erat-erat. Ia berkata, "Kau jangan pergi!" Qu Feiyan tertawa, "Aiyo, sekarang main keras, ya?" Rona merah muncul di wajah Yilin, ia melepaskan tangannya dan memohon, "Nona yang baik, mohon temani aku". Qu Feiyan tertawa, "Baik, baik! Aku temani kau sebentar lagi. Linghu Chong bukan orang jahat, kenapa kau begitu takut padanya?"


Yilin merasa agak lega, ia berkata, "Maafkan aku, Nona Qu, apa aku menyakitimu?" Qu Feiyan berkata, "Aku tak merasa sakit. Tapi Linghu Chong kelihatannya sangat kesakitan". Yilin terkejut, saat ia membuka kelambu, ia hanya melihat sepasang mata Linghu Chong tertutup rapat, rupanya ia sudah tertidur nyenyak. Ia menjulurkan tangannya untuk merasakan hembusan napasnya, napasnya teratur, sehingga ia merasa lega. Tiba-tiba ia mendengar Qu Feiyan tertawa dan daun jendela berderit. Yilin cepat-cepat berbalik, namun ia hanya bisa memandangnya melompat keluar dari jendela.