
Yilin cepat-cepat berbalik dan berkata, "Jangan......jangan pukul......aku......aku tak menyalahkanmu. Aku......aku cuma khawatir membuat kau sial".
Linghu Chong berkata, "Benar-benar pantas dipukul!" "Plak!" Lagi-lagi ia menampar dirinya sendiri.
Yilin berkata dengan cemas, "Aku sudah tidak marah, Linghu Shixiong, kau......kau jangan pukul lagi". Linghu Chong berkata, "Kau bilang kau sudah tidak marah?" Yilin menggeleng. Linghu Chong berkata, "Kau masih tak mau tersenyum, bukankah itu berarti kau masih marah?"
Yilin memaksakan dirinya untuk tersenyum, tiba-tiba, entah kenapa, hatinya terasa remuk redam dan nelangsa, perasaan sedihnya muncul, ia tak bisa lagi menahan diri, air mata pun bercucuran melalui kedua belah pipinya, lalu ia cepat-cepat membalikkan tubuhnya.
Ketika Linghu Chong melihat ia terus-menerus menangis tersedu-sedu, ia segera menghela napas panjang. Yilin perlahan-lahan menghentikan tangisnya, lalu berkata dengan lirih, "Kau......kau kenapa menghela napas?"
Linghu Chong tertawa di dalam hati, "Bagaimanapun juga dia adalah seorang biksuni kecil, masih bisa aku kibuli". Dari kecil ia selalu menemani Yue Lingshan, kadangkala sifat kekanakan gadis itu muncul, ia mengambek dan tak memperdulikannya, apapun yang dikatakannya kepadanya, ia tetap tak mau memperdulikannya. Linghu Chong lantas berpura-berpura melakukan sesuatu untuk menarik perhatiannya, sehingga akhirnya ia mau datang karena ingin tahu. Dari kecil Yilin belum pernah berselisih dengan orang lain, tentu saja ia tidak waspada, maka ia pun masuk ke dalam perangkapnya. Linghu Chong menghela napas panjang, lalu memalingkan muka.
Yilin bertanya, "Linghu Shixiong, apa kau masih marah? Barusan ini akulah yang membuatmu tersinggung, kau......kau jangan masukkan di hati". Linghu Chong berkata, "Tidak. Kau tidak membuat aku tersinggung". Yilin melihat bahwa wajahnya kelihatan masih muram, ia tak tahu bahwa ia diam-diam sedang tertawa terpingkal-pingkal. Air mukanya itu hanya bikin-bikinan saja. Dengan cemas, Yilin berdiri dan berkata, "Aku membuatmu memukul dirimu sendiri, aku......aku akan memukul diriku sebagai pembalasan". Sambil berbicara, ia mengangkat tangannya. "Plak!" Ia menampar pipi kanannya sendiri. Sebelum ia sempat menampar dirinya sendiri untuk yang kedua kalinya, Linghu Chong cepat-cepat duduk dan menangkap pergelangan tangannya, namun karena ia mengerahkan tenaga, lukanya menjadi nyeri, mau tak mau ia mengerang pelan. Yilin berkata dengan khawatir, "Aiyo! Cepat......cepat berbaring. Jangan sampai lukamu jadi makin sakit". Dengan penuh penyesalan, ia menyokongnya supaya ia bisa perlahan-lahan berbaring, "Ai, aku memang bodoh. Semua hal yang kulakukan tidak ada yang beres. Linghu Shixiong, kau......kau merasa sakit sekali, ya?"
Wajah Yilin nampak khawatir, ia tak tahu harus berbuat apa. Linghu Chong menghela napas, "Ai, sakit sekali! Coba......coba kalau adik keenam ada disini". Yilin berkata, "Kenapa? Apa dia punya obat penghilang sakit?" Linghu Chong berkata, "Benar. Mulut dia itu obat penghilang sakit. Dulu aku juga pernah luka, sakitnya bukan main. Adik keenam paling pintar buat lelucon, aku kalau dengar jadi senang, sampai lupa pada rasa sakit. Coba kalau dia ada disini, tentunya akan sangat baik. Aduh......sakitnya......sakitnya......aduh, aduh!"
Yilin merasa sangat kebingungan, semua murid-murid Dingyi Shitai membaca kitab suci dan merapalkan nama Sang Buddha dengan wajah serius, serta bersemedi dan berlatih silat. Di Biara Baiyun amat jarang terdengar suara tawa, tapi sekarang ia harus membuat sebuah lelucon, sesuatu yang baginya setengah mati susahnya. Ia berpikir, "Kakak Lu Dayou itu tidak ada disini, sedangkan Linghu Shixiong ingin mendengar lelucon, cuma aku yang bisa melakukannya, tapi......tapi......satu lelucon pun aku tak tahu". Sekonyong-konyong, sebuah ide muncul di benaknya, ia teringat pada suatu hal dan berkata, "Linghu Shixiong, aku tak bisa buat lelucon, tapi di ruang kitab aku pernah membaca sebuah kitab yang sepertinya sangat menarik, namanya 'Kitab Seratus Perumpamaan'. Kau sudah baca belum?"
Linghu Chong berkata, "Belum. Aku tak pernah baca buku, apalagi kitab agama Buddha". Rona merah samar-samar muncul di wajah Yilin, katanya, "Aku memang bodoh, menanyakan pertanyaan yang tolol seperti itu. Kau bukan murid Buddha, tentu saja tidak pernah membaca kitab agama". Ia berhenti sejenak, lalu meneruskan, "Kitab Seratus Perumpamaan ini ditulis oleh seorang pendeta agung dari India yang bernama Qiesina, di dalamnya banyak kisah-kisah yang menarik". Linghu Chong cepat-cepat berkata, "Aku paling senang mendengar cerita yang menarik. Ceritakanlah beberapa kisah untuk kudengar".
Yilin tertawa kecil, berbagai kisah yang tak terhitung banyaknya dalam Kitab Seratus Perumpamaan itu seakan mengalir di dalam pikirannya, ia berkata, "Baiklah, aku akan menceritakan 'Kisah Bajak Memecahkan Kepala'. Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang botak, di kepalanya tak ada selembar rambut pun, dia adalah seseorang yang sejak lahir gundul. Entah kenapa, si botak ini bertengkar dengan seorang petani. Petani itu membawa sebuah bajak, ia mengangkat bajaknya dan memukulkannya ke kepala si botak hingga berdarah-darah. Tapi si botak hanya diam saja, ia sama sekali tak menghindar, malah tertawa. Orang lain yang melihatnya merasa heran, mereka bertanya kenapa ia tak menghindar dan malah tertawa. Si botak berkata sambil tersenyum, 'Petani itu orang bodoh, ketika ia melihat kepalaku tak ada rambutnya, ia mengiranya sebuah batu, oleh karena itu ia menggunakan bajak untuk memukul kepalaku. Kalau aku menghindar, bukankah itu berarti bahwa dia telah berubah menjadi pintar?"
Ketika ia berbicara sampai disini, Linghu Chong tertawa terpingkal-pingkal, pujinya, "Cerita yang bagus! Si botak itu memang benar-benar pintar, kalau ia dipukul orang sampai mati, bagaimanapun juga ia masih tak akan menghindar".
Ketika Yilin melihatnya tertawa dan kelihatan amat senang, hatinya terasa sangat bahagia. Ia berkata, "Sekarang aku akan bercerita tentang 'Sang Tabib Dan Obat Yang Membuat Putri Raja Tumbuh Besar'. Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang raja yang mempunyai seorang putri. Raja ini sifatnya sangat tidak sabaran, ketika melihat putrinya yang masih bayi, ia ingin supaya ia cepat besar, maka ia memanggil tabib kerajaan untuk meramu obat mujarab untuk diberikan kepada sang putri, supaya dia cepat tumbuh besar. Tabib kerajaan itu menghadap sang raja dan berkata, 'Obat yang mujarab itu ada, tapi untuk mencari bahan-bahan dan meramunya memerlukan banyak waktu dan tenaga. Sekarang aku mohon agar aku boleh membawa pulang tuan putri untuk sekaligus mempercepat pembuatan obat, tapi mohon agar yang mulia tidak mendesakku'. Sang raja berkata, 'Baiklah, aku tak akan mendesakmu'. Maka sang tabib kerajaan mengendong sang putri dan membawanya pulang. Setiap hari ia melapor pada sang raja bahwa obat mujarab itu sedang dibuat. Setelah dua belas tahun berlalu, tabib itu melapor pada sang raja, 'Obat mujarab telah selesai dibuat, hari ini obat itu akan diberikan kepada tuan putri'. Setelah itu ia membawa sang putri ke hadapan raja. Ketika sang raja melihat bahwa sang putri yang dulu masih bayi sekarang telah berubah menjadi seorang gadis yang langsing dan anggun, ia sangat senang dan memuji kepandaian sang tabib kerajaan, 'Dengan sekali minum obat mujarab, ia bisa membuat putriku cepat tumbuh besar!' Sang raja lalu memerintahkan bawahannya untuk menganugrahkan emas, perak dan permata yang tak terkira jumlahnya kepada sang tabib".