
Kelima orang itu menunggang kuda pulang ke kota, ketika hampir sampai di kantor, dari kejauhan mereka melihat obor menyala di luar gerbang, banyak orang berkumpul disana. Jantung Lin Zhennan berdebar-debar, ia memacu kudanya. Beberapa orang berkata, "Ketua sudah pulang!" Lin Zhennan turun dari kuda, ia melihat wajah istrinya, Nyonya Lin, penuh kemarahan. Nyonya Lin berkata, " Kau lihat! Hah, ada orang yang hendak menganiaya kita di rumah sendiri".
Terlihat dua batang tiang bendera yang patah tergeletak di tanah, di masing-masing ujungnya terdapat sebuah bendera, yaitu bendera-bendera besar yang biasanya berkibar di depan gerbang biro pengawalan. Seseorang telah memotong kedua tiang bendera itu hingga jatuh ke tanah. Bagian tiang bendera yang terpotong begitu halus, jelas telah dipotong dengan pisau atau pedang bermutu tinggi yang tajam.
Nyonya Lin tidak membawa senjata, maka ia mengambil pedang dari pinggang suaminya, lalu, "Sret! Sret!" Ia memotong kedua bendera dari tiangnya. Digulungnya bendera-bendera itu, lalu dibawa masuk ke balik gerbang. Lin Zhennan memberi perintah, "Pengawal Cui, sisa tiang bendera ini sekalian dipotong saja! Hah, ingin menganggu Biro Pengawalan Fu Wei, tidak segampang ini!" Pengawal Cui berkata, "Baik" Pengawal Li memaki, "Sialan! Anjing buduk ini begitu pengecut, mengambil kesempatan di saat ketua sedang tidak ada di rumah, datang mengendap-endap melakukan tindakan yang keterlaluan seperti ini". Lin Zhennan melambaikan tangannya ke arah sang anak, kedua orang itu lalu masuk ke dalam. Pengawal Li masih memaki-maki,"Anjing buduk! Haram jadah bau!"
Ayah dan anak berdua tiba di aula timur, Nyonya Lin telah mengelar kedua bendera itu diatas dua buah meja. Kedua mata singa kuning yang tersulam di bendera pertama telah dicungkil sehingga menampakkan dua lubang kosong, sedangkan di bendera yang satu, dimana tersulam empat huruf 'Biro Pengawalan Fu Wei', huruf 'Wei' nya telah dibuang. Walaupun Lin Zhennan pandai menahan diri, namun hal ini sukar diterimanya. "Brak!" Ia menjulurkan tangan dan mengebrak meja keras-keras. "Krak!" Kaki ba xian zhuo [20] yang terbuat dari kayu hua li[21] itu pun patah.
Lin Pingzhi berkata dengan suara gemetar, "Ayah, semua......semua ini salahku. Karena aku bencana besar ini menimpa kita!" Lin Zhennan berkata dengan suara tinggi, "Kita marga Lin, kalau mau bunuh orang memangnya kenapa? Orang macam ini kalau bertemu ayahmu, juga akan kubunuh". Nyonya Lin bertanya, "Membunuh siapa?" Lin Zhennan berkata, "Nak, beritahu ibumu".
Maka Lin Pingzhi pun menceritakan satu demi persatu mengenai bagaimana ia telah membunuh lelaki dari Sichuan itu dan bagaimana Pengawal Shi meninggal di kedai arak kecil itu. Mengenai hal kematian mendadak Pengawal Zheng dan Bai Er, Nyonya Lin telah mengetahuinya sebelumnya, ketika mendengar kematian mengenaskan Pengawal Shi, Nyonya Lin tidak takut dan malah sebaliknya murka, ia mengebrak meja dan bangkit dengan geram, lalu berkata, "Kakak, kenapa Biro Pengawalan Fu Wei membiarkan orang datang untuk melakukan penganiayaan semacam ini? Kita panggil orang-orang kita, lalu pergi ke Sichuan minta pertanggungjawaban Qingcheng Pai. Kita juga bisa minta ayahku, kakak dan adikku datang". Sejak kecil, perangai Nyonya Lin meledak-ledak bagai guntur, semasa gadis, ia sering menghunus golok melukai orang. Keluarganya, yaitu keluarga Golok Emas Wang adalah keluarga yang berpengaruh di kota Luoyang. Siapapun yang memandang muka ayahnya sang Golok Emas Tanpa Tanding Wang Yuanba selalu mengalah kepadanya. Walaupun putranya sekarang telah begitu besar, namun tabiatnya yang keras masih tak melunak.
Lin Zhennan berkata, "Siapa musuh kita saat ini masih belum jelas, belum tentu Qingcheng Pai. Aku rasa mereka tidak mungkin hanya memotong dua buah tiang bendera, membunuh dua orang pengawal, lalu masalah selesai......" Nyonya Lin menyela, "Mereka mau apa lagi?" Lin Zhennan melirik ke arah putranya, Nyonya Lin tahu apa maksud suaminya, jantungnya berdebar-debar seakan hendak melompat, air mukanya pun langsung berubah.
Nyonya Lin berkata, "Hah! Kalau mereka ingin menyentuh selembar rambutmu, mereka harus bunuh ibumu dulu. Bendera Biro Pengawalan Fu Wei keluarga Lin telah berdiri selama tiga generasi, tak pernah kehilangan pamor sedikit pun". Ia menoleh ke arah Lin Zhennan dan berkata, "Kalau kata-kata ini cuma omong kosong saja, kita tak ada gunanya jadi manusia". Lin Zhennan mengangguk dan berkata, "Kita akan mengirim orang untuk menyelidiki semua tempat baik di dalam maupun diluar kota, untuk mencari orang asing dari dunia persilatan. Lalu menambah orang untuk meronda di dalam dan diluar kantor. Kau temani Ping er menungguku disini, jangan perbolehkan dia berkeliaran diluar". Nyonya Lin berkata, "Baiklah. Aku mengerti". Suami istri itu tahu, bahwa musuh datang untuk turun tangan terhadap putra mereka. Musuh bersembunyi dalam kegelapan, namun mereka berada di tempat yang terang benderang. Begitu Lin Pingzhi melangkah keluar Biro Pengawalan Fu Wei, nyawanya akan langsung terancam.
Lin Zhennan pergi ke aula besar dan memanggil para pengawal, lalu memberi tugas kepada masing-masing pengawal untuk menyelidik, meronda atau berjaga. Semua pengawal telah tahu sebelumnya mengenai apa yang terjadi. Peristiwa pemotongan tiang bendera Biro Pengawalan Fu Wei adalah tamparan keras di muka setiap orang. Kebencian mereka terhadap musuh berkobar-kobar, jauh sebelumnya, mereka telah mengenakan seragam dan membawa senjata, begitu selesai menerima perintah, mereka segera melaksanakan tugas.
Lin Zhennan melihat bahwa semua orang di kantor, mulai dari yang pangkatnya paling rendah sampai paling tinggi semua bersatu, mengerahkan tenaga melawan musuh, ia merasa agak lega. Ia kembali ke aula dan berkata pada putranya, "Ping er, beberapa bulan terakhir ini, ibumu sedang tidak sehat, sekarang ada musuh mendatangi, beberapa malam mendatang ini kau tidurlah di bangku panjang di luar kamar kita, menjaga ibumu". Nyonya Lin tersenyum, "Hei, aku mau dia......" Sebelum selesai berbicara, tiba-tiba ia sadar, suaminya mau sang putra melindungi ibunya hanya alasan saja, sebenarnya pasangan itulah yang ingin dekat sang anak untuk melindunginya. Bocah ini ambisius dan angkuh, kalau dia harus berlindung di bawah ketiak ayah ibunya, bisa-bisa ia akan merasa sebal. Kalau ia sendirian keluar menantang musuh, tentunya akan sangat berbahaya, maka ia segera menarik kembali kata-katanya, "Betul. Ping er, beberapa bulan belakangan ini, penyakit rematik mama kumat, kaki tanganku linu-linu dan lemas. Ayahmu harus mengurus seluruh kantor, tak bisa seharian menemaniku. Kalau ada musuh yang menerobos masuk ke dalam gedung, mama khawatir tidak bisa melawan". Lin Pingzhi berkata, "Aku pasti akan menemani mama".
Malam itu Lin Pingzhi tidur di bangku panjang di luar kamar ayah ibunya. Lin Zhennan dan istrinya membiarkan pintu kamar terbuka, lalu menaruh senjata di sebelah ranjang. Mereka tak melepas baju dan sepatu, hanya menutupi tubuh dengan selimut tipis, menunggu tanda bahaya, siap untuk menghadapi musuh.
* * *