
Sekonyong-konyong dari depan rumah terdengar suara tawa dingin, "Tian Boguang, muridku Peng Renqi, bukankah kau yang membunuhnya?" Yu Canghai, ketua Qingcheng Pai telah tiba.
Tian Boguang berkata, "Maaf, maaf! Bahkan ketua Qingcheng Pai sendiri datang berkunjung. Sejak saat ini Wisma Kumala akan sangat termasyur di kolong langit ini, dagangannya akan sangat laris, tamu-tamunya akan membeludak. Bocah yang kubunuh, ilmu silatnya biasa-biasa saja, agak mirip dengan ilmu silat Qingcheng Pai. Apakah dia bernama Peng Renqi atau tidak, aku tak sempat menanyainya".
Terdengar suara berdesir, Yu Canghai telah masuk ke dalam kamar, diikuti dengan dentang denting suara senjata beradu yang begitu sengit sehingga terdengar seperti mutiara yang berjatuhan. Tian Boguang dan Yu Canghai telah mulai bertarung di dalam ruangan itu.
Dingyi Shitai berdiri diatas atap sambil mendengarkan suara senjata kedua orang itu beradu, diam-diam ia merasa kagum, "Kungfu si Tian Boguang ini benar-benar tak bisa diremehkan, ia bisa melayani setiap tebasan pedang ketua Qingcheng Pai dengan tebasan goloknya. Mereka berdua seimbang".
"Brak!" Sekonyong-konyong suara senjata beradu langsung berhenti.
Yilin mengengam tangan Qu Feiyan, telapak tangannya mengeluarkan keringat dingin, ia tak tahu siapa yang akan menang atau kalah dalam pertarungan diantara Tian dan Yu, semestinya, setelah Tian Boguang menganiayanya, ia seharusnya berharap agar Tian Boguang dikalahkan oleh Yu Canghai, tapi secara mengejutkan dia malah berharap agar Yu Canghailah yang dikalahkan oleh Tian Boguang. Yang paling baik adalah kalau Yu Canghai cepat-cepat pergi dan shifu juga cepat-cepat pergi, supaya Linghu Chong bisa menyembuhkan lukanya dengan tenang disini. Ia sekarang sedang berada di titik kritis diantara hidup dan mati, kalau ia melihat Yu Canghai masuk ke kamar, ia akan menjadi terkejut, lalu lukanya akan terbuka lagi dan ia pasti akan mati.
Terdengar suara Tian Boguang berseru dari kejauhan, "Ketua Yu, kamar ini sangat kecil, kaki dan tangan kita tidak leluasa bergerak. Mari kita pergi ke tempat yang lapang dan bertarung dua atau tiga ratus ronde, kita lihat pada akhirnya siapa yang lebih lihai. Kalau kau menang, aku akan memberikan sundal tua yang molek, si Yu Baoer ini padamu, kalau kau kalah, si Yu Baoer ini jadi milikku".
Yu Canghai begitu marah hingga dadanya seakan meledak, perkataan si maling cabul itu mengandung arti bahwa ia dan dia berkelahi demi memperebutkan cinta Yu Baoer, seorang pelacur dari "Wisma Kumala". Barusan ini ketika mereka bertarung di dalam kamar, mereka telah bertukar lima puluh jurus lebih, ilmu golok Tian Boguang luar biasa, mengandung gerakan menyerang dan bertahan secara bersamaan. Yu Canghai menduga bahwa ilmu silat lawan tidak berada di bawahnya. Kalaupun mereka bertarung tiga atau empat ratus jurus lagi, belum tentu ia akan dapat meraih kemenangan.
Dalam sekejap mata, keempat penjuru menjadi sunyi senyap. Yilin seakan-akan bisa mendengar bunyi dag dig dug dari jantungnya sendiri yang melonjak-lonjak, ia mendekatkan kepalanya ke telinga Qu Feiyan dan bertanya dengan suara pelan, "Mereka......mereka bisa masuk atau tidak?" Sebenarnya usia Qu Feiyan lebih muda darinya beberapa tahun, namun dalam keadaan gawat seperti saat ini, Yilin sama sekali tak berdaya. Qu Feiyan sama sekali tak menjawab, tangannya membekap mulut Yilin.
Tiba-tiba terdengar suara Liu Zhengfeng berkata, "Ketua Yu, si Tian Boguang ini telah banyak melakukan kejahatan, di hari kemudian pasti tak akan mati baik-baik. Kita harus membuat perhitungan dengannya, tapi tak usah sekarang juga. Rumah pelacuran ini menjadi sarang penjahat dan tempat melakukan perbuatan yang tak bermoral, dari dahulu adik sudah bermaksud untuk menghancurkannya, biar adik yang membereskan hal ini. Danian, Weiyi, ayo kita masuk dan mencari dia, orang itu tidak boleh dibiarkan lari". Murid-murid Liu, Xiang Danian dan Mi Weiyi, serentak menjawab. Setelah itu terdengar Dingyi Shitai memberikan perintah dengan cepat, memerintahkan sekalian muridnya untuk mengepung tempat itu dari segala penjuru.
Dalam sekejap mata terdengar para murid Liu mendatangi, Yilin begitu cemas hingga ia hampir pingsan, pikirnya, "Shifu datang menolong aku, tapi aku sama sekali tak menjawab panggilannya. Aku berada di rumah pelacuran, bersama Linghu Shixiong di satu kamar malam-malam begini. Walaupun ia terluka parah, tapi kalau begitu banyak lelaki dari Heng Shan Pai dan Qingcheng datang dan masuk kesini, kalau aku punya seratus mulut pun aku tak bisa membela diriku. Aku......aku bagaimana bisa tidak membuat malu shifu dan saudari-saudari seperguruan?" Ia menghunus pedangnya, hendak mengayunkannya ke lehernya sendiri.
Begitu mendengar suara pedang ditarik dari sarungnya, Qu Feiyan sudah menduga apa yang akan terjadi, di tengah kegelapan ia membalikkan tangan kirinya dan mencengkeram pergelangan tangan Yilin, ia berseru, "Jangan! Kau dan aku lari keluar saja".
Tiba-tiba terdengar suara gemerisik, ternyata Linghu Chong telah duduk di atas ranjang, ia berbisik, "Nyalakan lilin!" Qu Feiyan berkata, "Buat apa?" Linghu Chong berkata, "Aku suruh kau nyalakan lilin!" Suaranya terdengar sangat tegas. Qu Feiyan tak bertanya lagi, ia mengambil pemantik dan batunya, membuat api, lalu menyalakan lilin.
Dibawah cahaya lilin, Yilin melihat wajah Linghu Chong pucat pasi bagai mayat, ia tak bisa menahan diri dan berseru kaget.
Linghu Chong menunjuk ke arah mantel besarnya yang tergantung di samping ranjang dan berkata, "Selimuti......selimuti tubuhku". Sekujur tubuh Yilin gemetar, ia membungkuk untuk mengambilnya, lalu menyampirkannya di bahunya. Linghu Chong menarik bagian depan mantel itu untuk menutupi bercak darah dan luka di dadanya. Ia berkata, "Kalian berdua, tidurlah di atas ranjang". Qu Feiyan tertawa cekikikan dan berkata, "Asyik, asyik!" Ia menarik tangan Yilin, lalu menyusup ke bawah selimut.
Saat itu orang-orang diluar sudah melihat nyala lilin di kamar itu, mereka berteriak-teriak dengan ramai, "Cari di sebelah sini". Mereka pun datang mengerubungi kamar itu. Linghu Chong menarik napas panjang, lalu bergegas menutup pintu dan memasang palang pintu. Ia berbalik ke arah ranjang, membuka kelambu dan berkata, "Sembunyi di bawah selimut!"
Yilin berkata, "Kau......kau jangan bergerak, awas lukamu". Linghu Chong menjulurkan tangan kirinya dan menekan kepalanya masuk ke balik selimut, akan tetapi tangan kanannya malah menarik keluar rambut Qu Feiyan yang panjang dan menebarkannya di atas bantal. Gerakan tarik ulur itu membuat darah segar mengalir tanpa henti dari lukanya lagi, kedua lututnya terasa lemas, ia duduk di tepi ranjang.
Saat itu ada seseorang yang mengedor-gedor pintu kamar, seseorang berkata, "Bangsat, buka pintu!" "Bruk!" Seseorang menendang pintu sampai terbuka, lalu tiga atau empat orang serentak menerjang masuk.
Yang berada paling depan ialah murid Qingcheng Hong Renxiong. Ia terkejut melihat Linghu Chong dan berkata, "Linghu......ia adalah Linghu Chong". Ia cepat-cepat mundur dua langkah. Xiang Danian dan Mi Weiyi tidak kenal Linghu Chong, tapi mereka tahu bahwa ia telah dibunuh Luo Renjie. Ketika mendengar Hong Renxiong meneriakkan namanya, pikiran mereka terguncang, tanpa berpikir lagi, mereka ikut mundur. Mereka membuka mata lebar-lebar dan menatap Linghu Chong tanpa berkedip.