Hina Kelana

Hina Kelana
Bab 40



Setelah berjalan beberapa lamanya, Qu Feiyan menyelinap ke sebuah gang yang sangat sempit. Di sebelah kiri jalan, sebuah lentera merah kecil tergantung dari pintu sebuah rumah. Qu Feiyan mengetuk pintunya tiga kali. Seseorang keluar dari rumah itu, ia membuka pintu dan melongok keluar. Qu Feiyan membisikkan beberapa kalimat ke telinga orang itu, dan juga menyelipkan sesuatu ke dalam tangannya. Orang itu berkata, "Baik, baik. Nona silahkan masuk".


Qu Feiyan berpaling dan melambaikan tangannya. Yilin mengikutinya masuk lewat pintu. Di wajah orang itu muncul ekspresi rasa heran yang amat sangat, ia bergegas menunjukkan jalan, setelah melewati sebuah taman kecil, ia membuka tirai yang menutupi pintu sebuah kamar di sayap timur rumah, lalu berkata, "Nona, shifu, silahkan duduk disini". Ketika tirai dibuka tercium bau bedak dan wewangian yang menyengat hidung.


Setelah Yilin memasuki ruangan itu, ia melihat bahwa di ruangan itu terdapat sebuah ranjang besar, di atas ranjang itu terdapat selimut dan bantal brokat yang disulam. Sulaman Xiang terkenal di mana-mana, di atas selimut brokat merah yang besar itu terdapat sulaman sepasang bebek Mandarin yang sedang berenang di air, warna warninya sungguh cemerlang, sulamannya begitu halus sehingga mereka seakan hidup. Sejak kecil Yilin hidup membiara di Biara Baiyun, ia terbiasa memakai selimut dari kain hitam yang kasar. Seumur hidupnya ia belum pernah melihat perangkat tidur yag begitu indah. Ia memandangnya sejenak, lalu berpaling. Ia melihat bahwa diatas sebuah meja kecil terdapat sebatang lilin merah besar, di samping lilin itu terdapat sebuah cermin yang berkilauan dan sebuah kotak riasan. Di depan ranjang diatas lantai tergeletak dua pasang sandal bersulam, yang sepasang milik pria, sedangkan yang sepasang lagi milik wanita, yang diletakkan berjejeran. Tiba-tiba jantung Yilin berdebat-debar, ia mengangkat kepalanya dan melihat sebuah wajah bulat telur yang cantik dan anggun sedang malu-malu kucing, ekspresinya setengah rikuh dan setengah heran, itulah pantulan wajahnya sendiri yang muncul di cermin.


Dari belakang punggungnya terdengar suara langkah kaki, seorang pelayan wanita tua datang membawakan secawan teh harum sambil tersenyum lebar, pakaian pelayan tua itu sangat ketat dan gayanya sangat centil. Makin lama Yilin makin takut, ia bertanya dengan suara pelan pada Qu Feiyan, "Ini tempat apa?" Qu Feiyan tersenyum, ia membungkuk dan membisikkan beberapa kalimat di telinga pelayan itu, pelayan tua itu menjawab, "Baik". Ia mengerucutkan bibirnya, tertawa cekikikan, lalu melenggang dengan genit keluar ruangan. Yilin berpikir, "Perempuan ini tingkahnya dibuat-buat, pasti bukan orang baik-baik". Lagi-lagi ia bertanya pada Qu Feiyan, "Buat apa kau ajak aku kesini?" Qu Feiyan tersenyum kecil, "Tempat ini sangat terkenal di Kota Heng Shan, namanya Wisma Kumala". Yilin bertanya lagi, "Apa itu Wisma Kumala?" Qu Feiyan berkata, "Wisma Kumala adalah bordil nomor satu di Kota Heng,Shan".


Ketika Yilin mendengar dua kata 'bordil' itu, jantungnya langsung berdebar-debar dan ia hampir pingsan. Ia melihat bahwa rumah itu dihias dengan sangat mewah, dari tadi ia sudah merasa tak enak, tapi ia sama sekali tak mengira bahwa tempat itu adalah sebuah bordil. Walaupun ia tak sepenuhnya memahami apa itu bordil, tapi ia pernah mendengar para kakak seperguruan dari kaum awam berkata bahwa pelacur adalah wanita yang paling cabul dan hina di kolong langit, lelaki siapa saja yang mempunyai uang bisa memanggil pelacur untuk menemaninya. Apakah Qu Feiyan mengajaknya ke rumah pelacuran untuk menjadikan dirinya seorang pelacur? Ia merasa cemas dan hampir menangis.


Tepat pada saat itu, dari kamar sebelah terdengar suara seorang lelaki tertawa terbahak-bahak. Suara tertawa itu sudah akrab di telinganya, itulah suara si penjahat 'Kelana Tunggal Selaksa Li' Tian Boguang. Sepasang lutut Yilin menjadi lemas. "Bruk!" Ia terduduk di kursi, wajahnya pucat pasi.


Qu Feiyan terkejut, ia bergegas menghampirinya dan bertanya, "Ada apa?" Yilin berbisik, "Itu adalah si Tian......Tian Boguang!" Qu Feiyan tertawa dengan riang, "Benar. Aku mengenali suaranya, dia adalah muridmu yang manis, Tian Boguang".


Di kamar sebelah, Tian Boguang berkata keras-keras, "Siapa yang menyebut-sebut namaku?"


Qu Feiyan berkata, "Hei! Tian Boguang, shifumu ada disini, ayo cepat datang bersujud!" Tian Boguang berkata dengan gusar, "Shifu apa? Pelacur kecil, kau bicara sembarangan, akan kucabik-cabik mulutmu yang bau". Qu Feiyan berkata, "Bukankah di Kedai Arak Huiyan di Heng Shan kau telah mengangkat si biksuni kecil Yilin sebagai guru? Sekarang dia ada disini, cepat datang!"


Tian Boguang berkata, "Bagaimana dia bisa berada di tempat seperti ini? Eh, bagaimana kau......kau bisa tahu? Siapa kau? Kubunuh kau!" Suaranya terdengar agak panik.


"Ah!" Tian Boguang berteriak kaget, lalu, "Bruk!", rupanya ia telah melompat dari ranjang ke lantai. Terdengar suara seorang wanita berkata, "Tuan besar, kau sedang apa?"


Qu Feiyan berseru, "Tian Boguang, kau cepat lari! Gurumu datang kesini untuk membuat perhitungan denganmu". Tian Boguang memaki, "Guru dan murid apa, bapakmu ini ditipu oleh si bocah Linghu Chong itu! Begitu biksuni kecil itu datang, akan langsung kubunuh". Yilin berkata dengan suara bergetar, "Benar, aku tak akan datang kesana, kau jangan kesini". Qu Feiyan berkata, "Tian Boguang, kau terhitung seorang tokoh di dunia persilatan, kenapa kata-katamu tak bisa dipegang? Kau tak mengakui mengangkat dia sebagai guru? Ayo cepat kemari bersujud". Tian Boguang mendengus dan tak menjawab.


Yilin berkata, "Aku tak mau dia bersujud padaku, juga tak mau melihat dia, dia......dia bukan muridku". Tian Boguang cepat-cepat berkata, "Betul. Biksuni kecil ini memang tidak ingin bertemu denganku". Qu Feiyan berkata, "Baiklah, terserah. Aku beritahu kau, kami baru saja datang, ada dua maling kecil yang sembunyi-sembunyi mengikuti kami, cepat hajar mereka. Aku dan gurumu akan beristirahat disini, kau berjaga di luar, siapa pun tak boleh masuk menganggu kami berdua. Kalau kau melakukan beberapa hal ini dengan baik, tentang kau mengangkat biksuni kecil ini sebagai guru, setelah ini tak akan kusebut-sebut lagi. Kalau tidak, aku akan mengumumkannya supaya semua orang di kolong langit ini tahu".


Tiba- tiba Tian Boguang berteriak keras-keras, "Maling kecil, kau punya nyali!". Terdengar suara kisi-kisi jendela didobrak, di atas atap terdengar dua kali dentang senjata beradu, lalu dua buah senjata terjatuh di genting. Disusul suara seseorang yang berteriak kesakitan, juga terdengar suara langkah kaki, lalu seseorang melayang turun dan melarikan diri.


Terdengar lagi suara gedubrakan dari kisi-kisi jendela, rupanya Tian Boguang telah melompat kembali ke kamarnya. Ia berkata, "Yang satu sudah kubunuh, dia maling kecil dari Qingcheng Pai, yang satunya lagi lari". Qu Feiyan berkata, "Kau memang tak berguna, bagaimana kau bisa biarkan dia lari?"


Tian Boguang berkata, "Aku tak bisa membunuh orang itu, dia......dia adalah biksuni Hengshan Pai". Qu Feiyan tertawa, "Ternyata paman gurumu, tentu saja tak boleh kau bunuh". Yilin terkejut, ia berbisik, "Dia adalah kakak seperguruanku? Sekarang bagaimana?"


Tian Boguang bertanya, "Nona kecil, kau siapa?" Qu Feiyan tertawa, "Kau tak usah tanya. Kau diam saja dan menurut. Gurumu selamanya tak akan mencarimu untuk membuat perhitungan denganmu". Tian Boguang benar-benar tak bersuara lagi.


Yilin berkata, "Nona Qu, ayo cepat pergi dari sini!" Qu Feiyan berkata, "Tapi kau belum melihat orang yang terluka itu. Bukankah kau mau bicara dengan dia? Kalau kau takut gurumu marah, dan mau pulang sekarang juga, bagiku tidak apa-apa". Yilin bergumam pada dirinya sendiri, "Karena kita sudah terlanjur datang, kita......kita lihat saja orang itu". Qu Feiyan tersenyum, ia berjalan ke sisi ranjang, lalu menjulurkan tangannya untuk mendorong tembok sebelah timur, sebuah pintu perlahan membuka, ternyata di tembok itu ada sebuah pintu rahasia. Qu Feiyang melambaikan tangannya kepada Yilin dan masuk ke dalamnya.