
Mu Gaofeng berkata dengan heran, "Ada dendam apa diantara kau dan Yu Canghai?" Lin Pingzhi agak ragu-ragu, ia berpikir, "Kalau hanya mengandalkan kekuatanku saja, sulit untuk menolong ayah ibu, lebih baik aku mohon pertolongannya saja". Ia segera berlutut dan bersujud, "Ayah ibuku jatuh ke tangan pengkhianat itu, wanbei mohon qianbei sudi membela keadilan dan menolong mereka". Mu Gaofeng mengerutkan dahinya dan menggeleng berkali-kali, ia berkata, "Kalau tak ada keuntungan yang bagus, Mu si bongkok tak mau mengerjakannya. Siapa ayahmu? Keuntungan apa yang akan kudapat kalau aku menolong dia?"
Ketika mereka berbicara tentang hal ini, dari samping gerbang terdengar seseorang berkata dengan suara rendah, nada suaranya sangat cemas, "Cepat lapor shifu, di rumah pelacuran Wisma Kumala, satu orang Qingcheng Pai terbunuh, dan satu orang Heng Shan Pai terluka dan lari pulang".
Mu Gaofeng berbisik, "Urusanmu kita tunda dulu, saat ini ada keramaian yang enak ditonton, kalau kau ingin menambah pengalamanmu, ikuti aku". Lin Pingzhi berpikir, "Aku harus menemaninya, supaya punya kesempatan untuk memohon bantuannya". Ia segera berkata, "Ya, ya. Kemanapun lao qianbei pergi, wanbei akan ikut". Mu Gaofeng berkata," Sebelumnya kita harus bicara dulu, tak perduli dalam urusan apa, si bongkok Mu harus untung. Kalau kau pikir hanya dengan sedikit pujian, kau lantas bisa menyuruh kakekmu untuk cari masalah, perkara ini tak usah disebut-sebut lagi".
Lin Pingzhi hanya mengangguk tapi tak menjawab secara jelas. Tiba-tiba terdengar Mu Gaofeng berkata, "Mereka sudah pergi, ikut aku". Ia merasa pergelangan tangan kanannya dipegang erat-erat, lalu ia melayang, seakan berlari tanpa menyentuh tanah di jalanan Kota Heng Shan.
Setelah tiba di Wisma Kumala, ia dan Mu Gaofeng bersembunyi di balik sebuah pohon untuk mengintip kegiatan orang-orang di sana. Bagaimana Yu Canghai dan Tian Boguang bertarung, bagaimana Liu Zhengfeng memimpin orang-orangnya mengeledah tempat itu, dan bagaimana Linghu Chong menampakkan dirinya dengan berani, semua kejadian itu didengar oleh kedua orang itu. Ketika Yu Canghai lagi-lagi hendak memukul Linghu Chong, Lin Pingzhi tak sanggup menahan diri lagi, sehingga ia meneriakkan tujuh kata itu, yaitu "tua menganiaya muda, benar-benar tak tahu malu!"
Begitu kata-kata itu keluar dari mulutnya, Lin Pingzhi sadar bahwa ia telah berbuat gegabah, ia berbalik hendak bersembunyi, namun ternyata Yu Canghai datang dengan begitu cepat. Begitu ia berteriak, "Berhenti!", kekuatan tangannya telah mengungkung tubuh Lin Pingzhi. Kalau ia menggunakan tenaganya, ia bisa menguncang kelima organ tubuh Lin Pingzhi hingga hancur dan mematahkan tulang-tulangnya, namun ketika melihat penampilannya, ia menahan pukulannya, ia berkata dengan dingin, "Rupanya kau!" Pandangan matanya beralih ke arah Mu Gaofeng yang berdiri satu zhang di belakang Lin Pingzhi. Ia berkata, "Si bongkok Mu, kenapa kau terus-terusan menghasut
anak-anak muda ini untuk membuatku susah? Apa maksudmu?"
Mu Gaofeng tertawa terbahak-bahak, "Orang ini yang mengaku sebagai cucuku, tapi si bongkok Mu tak kenal dia. Dia bermarga Lin, aku bermarga Mu, apa hubunganku dengannya? Ketua Yu, aku tak takut padamu, tapi aku tak mau melindungi seorang pemuda yang tak punya nama. Kalau dengan memberi perlindungan aku bisa mendapat untung besar, seperti emas perak atau harta yang melimpah, barulah si bongkok Mu mempertimbangkannya, kalau menguntungkan, akan kulakukan. Tapi masalah ini sama sekali tak ada untungnya untukku, malah merugikan, maka aku sudah memutuskan untuk tidak melakukannya".
Yu Canghai bertambah marah, akan tetapi tujuh kata itu, yaitu "tua menganiaya anak muda, benar-benar tak tahu malu!" benar-benar tepat sasaran. Ilmu silat kedua orang yang berada di depannya ini jelas kalah jauh darinya, kalau ingin membunuh mereka, bukanlah hal yang sulit, tapi kelima kata itu yaitu "tua menganiaya muda" akan selalu menghantuinya. Dan kalau perkataan "tua menganiaya muda" itu benar, maka kelima kata berikutnya, yaitu "benar-benar tak tahu malu" tentunya juga benar. Tapi kalau ia begitu mudah memberi ampun kepada kedua orang itu, bagaimana ia bisa melampiaskan amarahnya? Ia tertawa sinis, lalu berkata pada Linghu Chong, "Mengenai masalahmu, nanti aku akan cari gurumu untuk membuat perhitungan". Ia berpaling ke arah Lin Pingzhi, "Anak muda, kau sebenarnya dari perguruan apa?"
Lin Pingzhi berkata dengan geram, "Anjing, kau telah mencerai beraikan keluargaku, sekarang kau masih bertanya padaku?"
Yu Canghai merasa heran, "Kapan aku pernah bertemu wajahmu yang jelek itu? Apa maksudmu aku telah mencerai beraikan keluargamu?" Tapi di sekitarnya banyak mata dan telinga orang lain, maka ia tidak mau bertanya secara terperinci. Ia berpaling ke arah Hong Renxiong dan berkata, "Renxiong, bunuh bocah ini dulu, nanti baru kita tangkap Linghu Chong". Kalau murid Qingcheng Pai yang turun tangan, maka tak dapat dikatakan bahwa "tua menganiaya muda". Hong Renxiong menjawab, "Baik!" Ia menghunus pedangnya dan maju ke depan.
Lin Pingzhi hendak menghunus pedangnya, tapi sebelum ia sempat melakukannya, pedang Hong Renxiong yang berkilauan telah menempel di dadanya. Lin Pingzhi berteriak, "Yu Canghai, aku adalah Lin Pingzhi......" Yu Canghai terkejut, tangan kirinya cepat-cepat memukul, angin pukulan itu menguncang pedang Hong Renxiong hingga lewat di samping lengan kanan Lin Pingzhi. Yu Canghai berkata, "Apa katamu?" Lin Pingzhi berkata, "Aku Lin Pingzhi, walaupun sudah jadi setan penasaran, aku masih akan tetap mencarimu untuk mencabut nyawamu!" Yu Canghai berkata, "Kau......kau adalah Lin Pingzhi dari Biro Pengawalan Fu Wei?"
Karena Lin Pingzhi tahu bahwa sudah tak ada gunanya lagi menyembunyikan jati dirinya, lebih baik ia terang-terangan saja dan mati dengan cepat. Sepasang tangannya mengoyak koyo yang menempel di wajahnya, lalu ia berkata dengan lantang, "Benar. Aku memang Lin Pingzhi dari Biro Pengawalan Fu Wei di Fuzhou. Putramu yang melecehkan nona dari keluarga baik-baik, akulah yang membunuhnya. Kau telah mencerai beraikan keluargaku, ayah ibuku, kau......kau......dimana kau menawan mereka?"
Berita mengenai bagaimana Qingcheng Pai telah mengalahkan Biro Pengawalan Fu Wei dalam sekali gebrak telah tersebar dan membuat geger dunia persilatan. Di dunia persilatan, tak semua orang tahu bahwa bertahun-tahun yang lalu, Zhang Qingzi telah kalah di bawah pedang Lin Yuantu, semua orang mengira bahwa Qingcheng Pai bermaksud untuk merampas kitab Pixie Jianfa milik keluarga Lin. Linghu Chong juga sudah mendengar berita itu, oleh karena itu di loteng Huiyan ia memakainya untuk memancing Luo Renjie supaya menghampirinya, lalu membunuhnya dengan pedangnya. Mu Gaofeng juga sudah tahu tentang hal itu. Saat ia mendengar bahwa si bongkok palsu yang ada di hadapannya ini adalah "Lin Pingzhi dari Biro Pengawalan Fu Wei", dan menyaksikan bagaimana Yu Canghai begitu mendengar ia memberitahukan namanya cepat-cepat menangkis pedang Hong Renxiong dengan wajah tegang, ia yakin bahwa Yu Canghai ingin mencari kitab Pixie Jianfa melalui pemuda itu.