
Setelah selesai mengurus semuanya dengan baik, hari sudah gelap. Hati Lin Pingzhi menjadi sedikit lega, akan tetapi ia masih agak gelisah ketika pulang ke biro pengawalan mereka. Ketika masuk ke ruang utama, ia melihat ayahnya sedang duduk di kursi dengan mata terpejam, sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Ekspresi wajah Lin Pingzhi tak menentu, ia berseru, "Ayah!"
Wajah Lin Zhennan nampak cerah, ia bertanya, "Kau pergi berburu, ya? Apakah kau dapat babi hutan?" Lin Pingzhi berkata, "Tidak". Lin Zhennan mengangkat pipa bertangkai panjang yang digengamnya, tiba-tiba ia memukul bahu Lin Pingzhi sembari tersenyum, "Kena kau!" Lin Pingzhi tahu bahwa ayahnya sering menguji kungfunya saat ia tidak menyadarinya. Seperti biasanya, ketika ia melihat sang ayah memakai jurus kedua puluh enam dari Pixie Jianfa yang bernama 'Bintang Jatuh', ia menanggapinya dengan jurus keempat puluh enam yaitu 'Bunga Mekar Memandang Sang Buddha'. Namun saat itu suasana hatinya tak menentu, ia berpikir bahwa ayahnya sudah tahu mengenai peristiwa ia membunuh orang di kedai arak kecil itu, dan sedang memukulinya dengan pipa bertangkai panjang itu. Ia tak berani menghindar dan berteriak, "Ayah!"
Tangkai pipa Lin Zhennan baru saja hendak memukul bahu sang anak, tapi tiba-tiba berhenti ketika hanya kurang tiga cun saja dari bajunya. Ia bertanya, "Kau kenapa? Kalau bertemu musuh tangguh di dunia persilatan, kalau kau begitu lamban seperti ini, apa bahumu ini masih ada?" Walaupun ada nada menyalahkan dalam kata-katanya, namun senyum masih mengembang di wajahnya.
Lin Pingzhi berkata, "Ya!" Ia menurunkan bahu kirinya, lalu memutar tubuhnya hingga ia berada di belakang punggung ayahnya, dengan mudah ia mengambil kemoceng yang ada diatas meja teh, lalu menusuk jantung sang ayah dari belakang, inilah jurus 'Bunga Mekar Memandang Sang Buddha' itu.
Lin Zhennan menganguk sembari tersenyum, "Betul". Ia menangkis serangan itu dengan pipa bertangkai panjangnya, inilah jurus 'Bermain Seruling Bambu Di Sungai'. Lin Pingzhi berkelahi dengan penuh semangat, ia menangkis dengan jurus 'Awan Ungu Dari Timur'. Setelah ayah dan anak itu bertukar lima puluh jurus lebih, pipa bertangkai panjang Lin Zhennan bergerak cepat, menyentuh dada kiri sang anak dengan pelan. Lin Pingzhi terlambat menangkis, ia merasa lengan kanannya kesemutan, kemocengnya pun terlepas dari tangannya dan jatuh ke lantai.
Lin Zhennan tersenyum, "Bagus sekali, bagus sekali. Sebulan belakangan ini, setiap hari selalu ada kemajuan. Hari ini kau bisa bertahan empat jurus lebih banyak". Ia berbalik dan kembali duduk di kursi, mengisi pipa bertangkai panjangnya dengan tembakau, dan berkata, "Ping er, kau harus tahu, hari ini biro pengawalan kita menerima kabar baik". Lin Pingzhi mengambil batu pemantik dan menyalakan pipa ayahnya, lalu berkata, "Apa ayah mendapat bisnis besar?" Lin Zhennan menggeleng seraya tersenyum, "Kalau dasar biro pengawalan kita kuat, kenapa mesti takut tak mendapatkan bisnis besar? Justru yang perlu ditakutkan ialah kalau ada bisnis besar yang mendatangi kita, tapi kita tak punya kemampuan untuk menerimanya". Ia menghembuskan asap panjang dan berkata, "Pengawal Zhang baru saja mengirim surat dari Hunan, katanya Ketua Yu dari Kuil Songfeng milik Perguruan Qingcheng dari Sichuan telah menerima hadiah yang kita kirimkan".
Lin Pingzhi, begitu mendengar dua kata itu, yaitu 'Sichuan' dan 'Ketua Yu', jantungnya tiba-tiba berdebar-debar. Ia berkata, "Telah menerima hadiah kita?" Lin Zhennan berkata, "Mengenai soal-soal yang berhubungan dengan biro pengawalan ini, aku memang jarang membicarakannya denganmu, kau juga tak mengerti. Akan tetapi umurmu makin bertambah. Ayah memikul beban yang berat ini, tapi pada akhirnya, beban ini akan berpindah ke pundakmu. Setelah ini, kalau kau banyak menaruh perhatian pada urusan biro pengawalan tentunya akan sangat baik. Nak, kita sudah tiga generasi menjalankan bisnis pengawalan. Kita bisa menjadi seperti sekarang ini, yaitu biro pengawalan besar nomor wahid di selatan Sungai Yangtze, adalah karena beberapa hal. Pertama, karena nama besar kakek buyutmu pada saat itu. Kedua, karena ilmu yang diturunkan dari generasi ke generasi di keluarga kita. Kalau kau menyebutkan empat kata 'Biro Pengawalan Fu Wei' di dunia persilatan, semua pasti akan mengacungkan jempol dan berkata dengan satu suara, "Betapa beruntungnya! Betapa bergengsinya!" Di dunia persilatan, nama baik bernilai dua puluh persen, kungfu bernilai dua puluh persen dan sisanya yang bernilai enam puluh persen, tergantung pada bagaimana kau memberi muka pada teman-teman dari golongan hitam dan putih. Coba kau pikir, kereta-kereta pengawalan Biro Pengawalan Fu Wei harus melewati sepuluh propinsi, kalau di setiap perjalanan kita harus beradu senjata dengan orang, berapa banyak nyawa yang melayang? Kalaupun kita setiap bertarung selalu menang, pepatah berkata, 'membunuh seribu musuh, melukai diri sendiri delapan ratus kali'. Kalau ada pengawal yang jadi korban, kita harus memberi santunan pada anggota keluarganya, uang yang kita terima dari jasa pengawalan tidak akan cukup, harta benda kita mana ada sisanya? Oleh karena itu, kita yang mencari makan dari jasa pengawalan, harus pertama-tama punya hubungan baik dengan orang dan murah hati. Satu kata ini, yaitu 'persahabatan', lebih penting dari ilmu silat".
Lin Pingzhi menjawab, "Ya!" Dahulu, kalau ia mendengar ayahnya berbicara bahwa
beban berat biro pengawalan pada akhirnya akan jatuh ke pundaknya, ia pasti akan sangat bersemangat, lalu berdiskusi tanpa henti dengan sang ayah, akan tetapi saat ini hatinya gundah gulana, ia hanya bisa memikirkan dua kata, yaitu 'Sichuan' dan 'Ketua Yu'.
Lin Pingzhi beberapa kali tertawa hambar untuk menemani sang ayah, akan tetapi benar-benar tak ada rasa senang di dalam tawanya itu.
Lin Zhennan tidak merasakan kegundahan sang anak dan berbicara lagi, "Orang zaman dahulu berkata, 'Selesai dengan Gansu, pandanglah Sichuan'. Ayahmu selesai dengan E, lalu memandang Shu . Rute pengawalan kita berawal dari Fujian lalu menuju ke barat, melewati Jiangxi dan Hunan, sampai ke Hubei, baru berhenti disana. Kenapa kita tidak menghiliri sungai ke barat sampai ke Sichuan? Sichuan adalah tanah yang kaya, sangat makmur dan banyak penduduknya. Kalau kita bisa melewati Sichuan, kita bisa ke Shanxi di utara, atau Yunnan di selatan, bisnis akan bertambah paling sedikit tiga puluh persen. Akan tetapi Propinsi Sichuan adalah tempat harimau mendekam dan naga sembunyi, jagoannya benar-benar tidak sedikit. Kalau kereta Biro Pengawalan Fu Wei ingin masuk ke Sichuan, tak bisa tidak kita harus berurusan dengan Qingcheng Pai dan Emei Pai. Sejak tiga tahun belakangan, setiap musim semi dan gugur, aku selalu menyiapkan banyak hadiah untuk dikirim ke Kuil Songfeng milik Qingcheng Pai dan Vihara Jinding milik Emei Pai, namun kedua ketua perguruan itu tidak pernah mau menerimanya. Pendeta Jin Guang dari Emei pernah bersedia menemui pengawal kita, mengucapkan beberapa kalimat terima kasih, mengajaknya makan makanan vegetarian, lalu belakangan mengirim kembali hadiah yang sama sekali tak disentuh kepada kita. Ketua Yu dari Kuil Songfeng lebih lihai lagi, ketika pengawal kita yang mengantar hadiah baru setengah jalan naik ke gunung, sudah dihentikan dahulu, katanya Ketua Yu sedang bersemedi, tidak bisa menemui tamu. Katanya mereka sudah punya semua, maka tak mau menerima hadiah. Pengawal kita tak bisa bilang telah bertemu Ketua Yu, gerbang Kuil Songfeng menghadap ke selatan atau utara saja mereka tak tahu. Setiap pengawal yang mengantar hadiah pasti pulang sambil marah-marah dan mengeluh, kalau tidak kunasehati bahwa tak perduli bagaimana kasarnya orang lain, kita harus tetap sopan, setelah diperlakukan seperti itu, siapa yang tidak ingin memaki-maki? Jangan-jangan mereka akan memulai perkelahian terlebih dahulu".
Ketika berbicara mengenai hal ini, ia nampak sangat bangga, lalu ia berdiri dan berkata, "Tak disangka, kali ini ternyata Ketua Yu mau menerima hadiah kita. Bahkan ia juga berkata bahwa ia telah mengirim empat murid ke Fuzhou untuk membalas kunjungan kita......" Lin Pingzhi berkata, "Empat orang? Bukan dua orang?" Lin Zhennan berkata, "Betul, empat orang murid! Coba kau pikir, Ketua Yu begitu bersungguh-sungguh, reputasi Biro Pengawalan Fu Wei bagaimana tidak menjadi gilang gemilang? Baru saja aku menyuruh penunggang kuda cepat untuk memberitahu masing-masing kantor cabang di Jiangxi, Hunan dan Hebei untuk menyambut keempat tamu terhormat dari Qingcheng Pai itu dengan baik".
Lin Pingzhi tiba-tiba berkata, "Ayah, kalau orang Sichuan berbicara, apakah selalu memangil orang lain 'anak kura-kura'? Dan menyebut dirinya 'bapakmu'?" Lin Zhennan tertawa dan berkata, "Orang kasar dari Sichuan memang begitu bicaranya. Memangnya
di Putian sini tidak ada orang kasar? Orang-orang macam ini memang mulutnya kotor. Kau dengarkan saja saat para pengiring di kantor kita berjudi, kata-katanya apa enak didengar? Kau kenapa bertanya seperti ini?" Lin Pingzhi berkata, "Tidak ada apa-apa". Lin Zhennan berkata, "Pada saat keempat orang murid Qingcheng itu sampai kesini, kau harus banyak bergaul dengan mereka, pelajarilah cara bersikap keempat murid teladan itu, bersahabatlah dengan mereka berempat, tentunya akan sangat berguna di kemudian hari".
Ayah dan anak itu berbincang-bincang lagi untuk beberapa saat, pikiran Lin Pingzhi mulai tidak tenang, ia tidak tahu apakah peristiwa ia membunuh orang itu harus diberitahukan kepada ayahnya atau tidak. Akhirnya ia berpikir bahwa ia harus berbicara dengan ibunya dahulu, setelah itu baru memberitahu ayahnya.
* * *