
Yilin menjadi pusat pasi karena ketakutan, untuk sesaat ia tak tahu harus berbuat apa. Ia menghampiri ranjang dan berkata, "Linghu Shixiong, Linghu Shixiong, dia......dia sudah pergi". Namun saat itu obat sedang bekerja dengan kuat, Linghu Chong sedang dalam keadaan sepenuhnya tak sadar, maka ia sama sekali tak bisa menjawab. Sekujur tubuh Yilin gemetar, rasa takutnya tak terlukiskan, setelah beberapa saat, ia menarik daun jendela hingga terbuka, pikirnya, "Aku harus cepat-cepat pergi dari sini, kalau Linghu Shixiong sadar dan berbicara denganku, nanti bagaimana?" Namun ia mempertimbangkan hal itu kembali, "Ia menderita luka yang begitu parah, saat ini seorang anak kecil pun dapat menusuk dia sampai mati dengan mudah. Bagaimana aku bisa tak merawat dia dan malah melarikan diri?" Di tengah kegelapan malam, dari lorong yang jauh sekali-kali terdengar suara lolongan anjing, selain itu keadaan sunyi senyap. Semua orang lain di bordil itu sudah lama lari tunggang langgang, seakan di muka bumi ini selain Linghu Chong yang berada di balik kelambu, sama sekali tiada orang lain.
Ia duduk di atas kursi, tak berani bergerak, setelah beberapa saat lamanya, kokok ayam terdengar dari berbagai penjuru, fajar telah menyingsing. Yilin lagi-lagi cemas, "Hari sudah terang, bagaimana kalau ada orang datang?"
Dari kecil ia hidup membiara, seumur hidupnya ia diurus oleh Dingyi Shitai, ia sama sekali tak punya pengalaman untuk mengatasi masalah dalam kehidupan nyata, saat ini selain merasa cemas, ia sama sekali tak bisa memikirkan jalan keluar. Saat ia sedang kebingungan, tiba-tiba ia mendengar suara langkah kaki, rupanya ada tiga atau empat orang yang datang dari lorong. Karena di sekitarnya sunyi senyap, suara langkah kaki itu terdengar makin jelas. Beberapa orang itu tiba di depan pintu bordil, lalu berhenti sejenak, terdengar suara seseorang berkata, "Kalian berdua cari di sebelah timur, kami berdua cari di sebelah barat, kalau kalian melihat Linghu Chong kalian harus menangkapnya hidup-hidup. Ia terluka parah, tak akan bisa melawan".
Ketika Yilin untuk pertama kalinya mendengar suara orang, ia sangat ketakutan, ketika ia mendengar orang itu berkata bahwa ia ingin menangkap Linghu Chong, ia membuat sebuah keputusan, "Bagaimanapun juga aku harus sepenuhnya melindungi Linghu Shixiong, aku tak boleh membiarkannya jatuh ke tangan orang jahat". Begitu ia mengambil keputusan itu, rasa takutnya berkurang, pikirannya langsung menjadi terang. Ia bergegas pergi ke samping ranjang, mengangkat seprai yang ada di atas kasur, membungkus tubuh Linghu Chong, membopongnya, meniup lilin hingga padam, pelan-pelan mendorong pintu kamar, lalu menyelinap keluar.
Saat itu ia tak perduli apakah ia menuju ke timur, barat, utara atau selatan, ia hanya berjalan ke arah yang sebaliknya dari tempat suara-suara itu terdengar. Tak lama kemudian, ia melewati sebuah kebun sayur, lalu tiba di pintu belakang. Ia melihat bahwa pintu itu setengah terbuka, rupanya ketika orang-orang Wisma Kumala buru-buru melarikan diri lewat pintu itu, pintu belakang dibiarkan terbuka tanpa ditutup kembali. Ia membopong Linghu Chong keluar dari pintu belakang, lalu lari keluar dari gang kecil. Sesaat kemudian dia tiba di sisi tembok kota, ia berpikir, "Lebih baik keluar kota, musuh-musuh Linghu Shixiong di Kota Heng Shan terlalu banyak". Dengan cepat ia menyusuri tembok kota, ketika ia tiba di gerbang kota, fajar telah menyingsing dan pintu gerbang telah dibuka, maka ia bergegas menuju keluar.
* * *
Ia berlari tanpa henti sejauh tujuh atau delapan li, ia hanya menuju ke bukit-bukit yang tandus, setelah tak ada jalan lagi, ia tiba di sebuah lembah yang keempat penjurunya sepi dari manusia. Pikirannya terasa agak tenang, ketika ia menundukkan kepala untuk melihat Linghu Chong, nampak bahwa ia sudah sadar. Senyum mengembang di wajah pemuda itu dan ia sedang memandangi dirinya.
Ketika ia tiba-tiba melihat wajah Linghu Chong yang tersenyum, hatinya terguncang, sepasang tangannya gemetar, ia tak bisa mengendalikan tangannya sehingga tubuh Linghu Chong hampir jatuh ke tanah. "Aiyo!", ujarnya, lalu cepat-cepat melancarkan jurus 'Membawa Kitab Suci', tubuhnya membungkuk dan lengannya menjulur menyangga tubuh pemuda itu. Ia melancarkan jurus itu dengan sangat cepat, sehingga Linghu Chong tidak terjatuh ke tanah, namun pijakan kakinya sendiri menjadi goyah sehingga ia terhuyung-huyung. Ia maju ke depan beberapa langkah, lalu berhenti dan berkata, "Maafkan aku, apa lukamu sakit?"
Linghu Chong tersenyum kecil dan berkata, "Aku tak apa-apa! Kau istirahatlah dulu".
Barusan ini ketika Yilin melarikan diri dari kejaran murid-murid Qingcheng, ia bertekad untuk dengan cara bagaimanapun menghindarkan Linghu Chong dari tangan jahat para musuhnya. Ia sama sekali tak perduli bahwa ia sangat lelah, sekarang ia merasa bahwa sekujur tubuhnya seperti akan hancur lebur, ia berusaha sekuat tenaga untuk meletakkan Linghu Chong dengan lembut di atas tanah berumput, setelah itu ia tak bisa lagi berdiri dan jatuh terduduk dengan napas terengah-engah.
Ketika Linghu Chong melihatnya begitu bahagia tak terperi, hatinya merasa tersentuh, sembari tersenyum ia berkata, "Ini adalah berkat obat mujarab perguruanmu yang mulia". Tiba-tiba ia menghela napas dan berkata dengan penuh kebencian, "Sayang sekali aku terluka parah, sehingga kita bisa dianiaya oleh bajingan-bajingan itu. Barusan ini kalau kita jatuh ke tangan beberapa bocah Qingcheng Pai itu, mati pun tak apa-apa, tapi kukira mereka pasti akan menghina kita dulu".
Yilin berkata, "Jadi kau sudah mendengar semuanya?" Ia berpikir bahwa ketika ia membawanya lari sebegitu lamanya, ia tak tahu sejak kapan ia membuka matanya dan memandangi dirinya, mau tak mau wajahnya merona bagai lembayung senja.
Linghu Chong tak tahu bahwa Yilin tiba-tiba merasa rikuh, ia hanya mengira bahwa setelah lari begitu lama, tenaganya telah terlalu banyak terkuras, maka ia berkata, "Shimei, duduklah dan aturlah napasmu sesuai dengan ilmu perguruanmu yang mulia supaya kau tak menderita luka dalam".
Yilin berkata, "Baik". Ia segera duduk bersila dan mengatur napasnya dengan ilmu yang diajarkan gurunya, namun suasana hatinya tak tenteram, ia tak pernah berhasil menenangkan diri, tak lama kemudian, matanya melirik ke arah Linghu Chong untuk melihat bagaimana keadaan lukanya, lalu lagi-lagi melihat apakah ia sedang memandanginya. Setelah melirik empat kali, kebetulan pandangan matanya bertemu dengan pandangan mata Linghu Chong. Ia terkejut dan cepat-cepat memejamkan matanya, tapi Linghu Chong hanya tertawa terbahak-bahak.
Kedua pipi Yilin memerah, dengan malu-malu ia berkata, "Kenapa......kenapa kau tertawa?" Linghu Chong berkata, "Tidak apa-apa. Kau masih muda, tak betah bersemedi, kalau kau tak bisa tenang, tak usah dipaksakan. Dingyi Shibo pasti telah mengajarimu bahwa kalau kau terlalu keras berlatih, kau malah akan menemui halangan. Latihan pernapasan semacam ini harus dilakukan dalam keadaan tenang". Ia beristirahat sejenak, lalu berkata lagi, "Kau jangan khawatir, tenagaku sedikit demi sedikit sudah mulai pulih, kalau anak-anak Qingcheng itu datang mengejar lagi, kita tak usah takut, kita suruh saja mereka menunjukkan.......menunjukkan pantat menghadap belakang......menghadap belakang......" Yilin tersenyum, "Menunjukkan jurus 'Angsa Mendarat Di Pasir' Qingcheng Pai". Linghu Chong tertawa, "Benar. Bagus sekali! Pantat menghadap belakang apa, kedengarannya tidak enak. Kita seharusnya menyebutnya 'Jurus Angsa Mendarat......di Pasir Qingcheng Pai'!" Ketika mengucapkan beberapa kata terakhir itu ia hampir tak bisa bernapas.
Yilin berkata, "Kau jangan banyak bicara, lebih baik kau tidur saja dulu".
Linghu Chong berkata, "Shifuku sudah tiba di Kota Heng Shan. Aku ingin sekali bangun dan pergi ke rumah Liu Shishu untuk melihat keramaian".
Begitu Yilin melihat bibirnya pecah-pecah dan rongga matanya kering, ia tahu bahwa ia telah kehilangan darah yang tidak sedikit, ia harus banyak minum air, maka ia berkata, "Aku akan pergi mencari air untuk kau minum. Kau pasti haus, benar tidak?" Linghu Chong berkata, "Di jalan tadi, aku lihat di sebelah kiri ada kebun yang banyak buah semangkanya. Pergilah kesana untuk memetik beberapa buah". Yilin berkata, "Baik". Ia berdiri dan meraba-raba tubuhnya, tapi uang sekepeng pun ia tak punya, maka ia berkata, "Linghu Shixiong, kau punya uang atau tidak?" Linghu Chong berkata, "Untuk apa?" Yilin berkata, "Untuk beli semangka!" Linghu Chong berkata, "Untuk apa beli? Langsung petik saja. Di sekitar sini tak ada orang. Orang yang punya semangka pasti tinggalnya sangat jauh dari sini, kau mau beli semangka dari siapa?" Yilin berkata dengan terbata-bata, "Tidak diberi tapi mengambil, itu namanya......namanya mencuri. Ini adalah larangan kedua dari kelima larangan, aku tak bisa melakukannya. Kalau tak punya uang, harus minta sedekah, mohon diberi sebuah semangka, mungkin mereka sudi memberikannya". Linghu Chong merasa agak tak sabar, ia berkata, "Kau biksuni kecil......" Tadinya ia hendak memakinya 'biksuni kecil yang linglung', tapi ia sadar bahwa Yilin sekarang sedang berusaha menolongnya, begitu ia mengucapkan kata "kecil" itu ia segera berhenti bicara.