
Pukulan Akizumi dan Ryuma yang dilapisi Qi Conqueror pun saling berbenturan satu sama lain hingga membuat gelombang kejut serta menciptakan perubahan langit yang awalnya cerah kini menjadi mendung, bahkan langit pun sampai terbelah.
Sebagian banyak murid dan para guru keluar dari halaman untuk melihat pemandangan tersebut. Tetsuya merasa kesal setelah mendengar informasi dari Ushijima bahwa yang membuat situasi seperti ini adalah pertarungan antara Akizumi dan Ryuma.
Kembali diatap..
Keiko memegang tangan Hikari dan menariknya, "Ayo kita pergi, Hikari. Mereka berdua bertarung sudah diluar akal. Mereka berdua sudah tidak memikirkan apa yang disekitar-"
"Tidak! Aku akan berada disini sampai pertarungan ini berakhir." ucap Hikari.
Disisi lain, setelah melancarkan pukulan, mereka berdua pun mundur beberapa langkah kebelakang. Mereka berdua mengepalkan kedua tangannya kembali, melapisinya dengan Qi Conqueror dan berniat untuk melancarkan serangan pukulan yang kedua.
Dan ketika Akizumi dan Ryuma berlari satu sama lain hendak untuk melancarkan serangan pukulannya kembali, tiba-tiba saja seorang pria berambut putih memakai kacamata serta mengenakan kaos polos berwarna hitam dengan dilapisi oleh jubah dokter berwarna putih. Pria ini muncul di tengah-tengah Akizumi dan Ryuma.
"Time Zone.."
Tiba-tiba saja Akizumi dan Ryuma sudah berada didalam gelembung waktu yang diciptakan oleh pria berambut putih tersebut. Akizumi dan Ryuma tidak bergerak sama sekali seolah-olah waktu telah berhenti sementara.
Hikari terkejut dengan kedatangan pria berambut putih tersebut, "K-kau kan.. kenapa bisa ada disini?"
"Oh, Hikari-chan, ya? Sudah lama kita tidak berjumpa. Aku kesini karena ada suatu urusan penting, dan malah melihat mereka berdua bertarung menggunakan Qi Conqueror."
"Pahlawan Kerajaan, Dokter Hideshiro!"
"Apa? Dokter Hideshiro sang pahlawan?" tanya Keiko.
"Ya. Itu dia.."
Hideshiro meledakkan gelembung waktu. Akizumi dan Ryuma terjatuh ke lantai atap, "Bruakk!!!"
"Astaga. Kalian ini sangat membuatku repot saja.." ucap Hideshiro dengan nada kesal.
Akizumi memasang ekspresi terkejut setelah melihat Hideshiro berada didepannya, "K-kenapa kau ada disini, Hideshiro-Sensei!!!"
"Sensei?!!!" Hikari dan Keiko terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Akizumi.
"Kalian semua yang berada diatap akan mendapat hukuman. Kalian dianggap telah terlibat dalam kekacauan ini.." ucap Hideshiro.
"Hah? Aku juga? Padahal aku hanya melihat kenapa aku juga harus kena hukuman!" teriak Keiko.
...****************...
Akizumi, Hikari, Keiko, Ryuma, Reina, dan Eisei mendapatkan hukuman dari pihak sekolah karena telah dianggap membuat kekacauan di wilayah Academy.
Hukuman yang mereka terima adalah membersihkan kolam renang berukuran cukup luas. Kolam renang ini berada di dibelakang gedung ketiga, yang merupakan salah satu fasilitas yang terdapat pada Academy.
Terlihat Akizumi, Hikari, Keiko, Ryuma, Reina, dan Eisei sedang memegang sebuah pel sembari berbaris rapi dihadapan Hideshiro.
"Membersihkan kolam renang, ini adalah hukuman pertama kalian karena telah mengacau di Academy. Hukuman ini perintah langsung dari kepala sekolah." Hideshiro menyampaikan pesan dari kepala sekolah yaitu hukuman pertama terhadap mereka berenam.
"Dokter Hideshiro! Kenapa aku juga harus mendapat hukuman! Aku tidak melakukan apapun-" Keiko masih terus membantah dan tidak terima karena harus ikut dalam hukuman ini, ditambah ia harus ikut membersihkan kolam renang yang ukurannya sangat luas.
"Ssstt!!" Hideshiro menutup mulut Keiko dengan jari telunjuknya. Hideshiro mendekatkan wajahnya ke wajah Keiko, "No.."
Aura ketampanan Hideshiro membuat jantung Keiko dag dig dug. Pipi Keiko memerah, bahkan ia pun menjawab perkataan Hideshiro dengan gugup, "B-baik.."
"Kyaaaa!!! Dokter Hideshiro keren! Tampan!" batin Keiko yang meronta-ronta dalam pikirannya.
"Baiklah, aku pergi dulu. Aku ada urusan, bye-bye.." Hideshiro pun berjalan pergi dari area kolam renang.
Setelah beberapa detik Hideshiro keluar dari area kolam renang, Akizumi pun berjalan dan berdiri dihadapan Reina. Dia memasang wajah kesal.
Hikari melihat ke arah Akizumi.
"Tidak. Ini hanya pisau mainan." Reina menunjukkan pisau yang tadi ia gunakan untuk menyerang Hikari. Lalu, menggoreskan pisau tersebut ke jarinya, dan tidak berdarah, "Lihatlah, ini hanya pisau mainan yang terbuat dari plastik."
"Astaga kau ini, Senpai."
"Pisau ini memang terbuat dari plastik. Tapi bila aku lapisi dengan Qi, pisau mainan ini akan menjadi tajam seperti aslinya."
"Oy-oy.." Akizumi menggerutu, "Bukannya sama aja, astaga. Tapi yasudahlah, tidak ada yang terluka.." lanjutnya.
"Akizumi.." Hikari memanggil Akizumi dengan tatapan serius.
"Ada apa, Hikari?" tanya Akizumi.
"Maafkan aku. Karena aku yang ceroboh dan memaksa untuk menyerang, tapi malah menjadi beban dan malah dirimu yang telah menyelamatkanku-"
"Tidak masalah! Terkadang kita harus mundur setelah mengetahui betapa jauh perbedaan kekuatan musuh dengan kita. Mundur bukan berarti takut. Kau bisa berlatih menjadi kuat lalu bisa melawannya tanpa ada keraguan dalam hatimu."
"Keraguan?"
"Ya. Aku melihat kau masih terlihat seperti ragu-ragu untuk menyerang karena telah mengetahui perbedaan kekuatan yang cukup besar. Jadi, berlatihlah dengan keras, kau anak dari Pahlawan Frederick, kan?" Akizumi tersenyum lebar.
Degg! Hati Hikari berdetup kencang setelah melihat Akizumi yang tersenyum lebar. Hikari memalingkan wajahnya lalu menjawabnya dengan sedikit gugup, "Y-ya. Suatu saat aku ingin menjadi seorang pahlawan seperti ayahku.."
Keiko mengepel lantai pinggiran kolam renang sembari mengamati Hikari dan Akizumi dengan serius. Lalu, Eisei yang belum beberapa menit membersihkan kolam renang pun langsung tepar di lantai pinggir kolam renang begitu saja.
"Aku capek. Tugas bersih-bersih adalah hal yang sangat berat daripada berlatih. Bersih-bersih adalah hal yang membosankan." ucap Eisei dengan nada malas.
Lalu, Ryuma berjalan menghampiri Akizumi dengan raut wajah bersemangat, "Bagaimana? Apa kau mau bergabung dengan klubku, Akizumi?"
"Oy, Senpai. Sampai kapan kau akan mengajakku kedalam klub anehmu itu. Aku menolak-"
"Yare-yare. Sayang sekali. Padahal aku sedang mencari anggota untuk mengikuti turnamen antar kerajaan."
Mendengar kata turnamen tiba-tiba saja Akizumi merasa sedikit tertarik, lalu bertanya sesuatu kepada Ryuma, "Tunggu sebentar, Senpai. Turnamen?"
"Ya. Turnamen antar negara."
"Hadiah juara berapa?"
"Sepuluh juta Gald."
"S-sepuluh juta Gald?!" Kedua mata Akizumi berbinar-binar, "Sepuluh juta Gald. Aku bisa tenang tanpa memikirkan bayar sewa penginapan!! Dan, aku tidak perlu bekerja di bar lagi!! Aku menerima untuk bergabung denganmu, Senpai!!"
Keiko dan Hikari melihat Akizumi dengan tatapan kecewa, "Power elite, ekonomi sulit.."
Akizumi dan Ryuma bersalaman satu sama lain sebagai tanda kesepakatan. Dengan ini Akizumi secara resmi bergabung dengan klub atau kelompok dari Ryuma.
"Akizumi. Kalau kau menerima penawaran segampang ini, lantas kenapa kau menolak dan harus bertarung hingga membuat kekacauan di Academy.." Hikari menatap tajam Akizumi.
"H-Hikari?!!"
"Kau telah berbohong untuk tidak bergabung dengan klub anehnya. Sebagai wakil kelas, sekaligus anak dari Pahlawan Frederick, dengan ini aku akan mendisiplinkanmu, Akizumi!"
Hikari mengambil pedangnya dari lingkaran energi yang ia ciptakan. Melihat hal itu, Akizumi pun langsung berlari, namun Hikari mengejarnya.
"Jangan lari, Akizumi!"
"Tolong aku, Senpai!"
Keiko tertawa kecil melihat aksi lucu dari Akizumi dan Hikari.
B E R S A M B U N G