
...Ujian bertahan hidup hari pertama....
Hikari, Mei, Niichi, dan Frank berhasil mengalahkan beberapa monster saat pertama kali mereka berjalan ratusan meter kedalam hutan Angleleaf. Meski monster-monster itu berhasil dikalahkan dengan mudah, namun itu sedikit menguras tenaga dari mereka berempat.
Hikari menancapkan pedangnya ke tanah, "Jlebb!!!" Meski tenaga Hikari sedikit terkuras, namun ia masih terlihat begitu bersemangat. Berbeda dengan Niichi dan Frank yang terlihat cukup panik, mereka berdua tidak menyangka tekanan dalam ujian pertama kali ini begitu mengerikan.
"Kalian berdua, bersemangatlah!!" ucap Hikari.
"Itu benar. Harusnya kalian malu pada kita yang perempuan ini karena masih bersemangat, tidak seperti kalian berdua para lelaki payah.." ucap Mei dengan nada ejek. Mei berjalan dan berdiri dibelakang Hikari.
"Kalian ini bodoh atau gimana, kalau kita terus dihadapkan dengan para monster ini dan tenaga kita terkuras, ini bisa menjadi kesempatan tim lain untuk menyerang kita.." ucap Niichi yang sedikit berkeringat.
"Itu benar.. apalagi hanya empat tim dengan point terbanyaklah yang dapat melaju ke ujian kedua." ucap Frank.
"Ada satu cara.." ucap Hikari tersenyum bersemangat, "Aturan kelima.. bila kita berhasil mengalahkan monster kuat yang dimaksud Kepala Sekolah, maka tim kita akan otomatis melaju ke ujian kedua!"
"Tu-tunggu sebentar-" ucap Niichi yang merasakan firasat buruk terhadap pernyataan Hikari, "Jadi maksudmu kita akan mencari monster kuat itu?"
"Jangan konyol.. dilihat dari segi point saja dengan mengalahkan monster itu bisa mendapatkan satu juta point, pasti monster itu tidak akan bisa dikalahkan oleh murid-murid biasa seperti kita.." ucap Frank.
"Kalian ini lelaki penakut banget. Menang bagus, kalah yaudah. Justru ini akan menjadi pengalaman menarik bagi kalian berdua!" ucap Mei.
"Pengalaman matamu woi! Percuma dapat pengalaman tapi aku harus mati, aku ingin merasakan pernikahan, sialan! Aku ingin merasakan mempunyai seorang istri dan dua anak! Aku ingin merasakan menjadi keluarga bahagia!" ucap Niichi, yang dimana ia malah curhat.
"Memangnya ada perempuan yang suka padamu..?" tanya Mei dengan raut wajah tak yakin menatap ke arah Niichi.
"Mungkin sekarang tidak ada! Tapi suatu saat pasti ada!" teriak Niichi dengan percaya dirinya.
"Sudahlah, jangan berdebat lagi! Ayo kita segera mencari area aman untuk mendirikan tenda, setelah itu kita bergegas untuk mencari monster kuat itu!" Hikari berjalan kembali menyusuri hutan Angleleaf, diikuti dengan Mei yang berjalan dibelakangnya.
Dengan raut wajah pasrah, Niichi dan Frank juga berjalan dibelakang Mei dan Hikari. Niichi dan Frank berjalan sembari mengamati sekitar, selain monster yang harus diwaspadai, mereka berdua juga sedikit khawatir bila bertemu tim kuat dari kelas lain.
Drone-drone yang dikerahkan pihak Academy sudah menyebar ke Hutan Angleleaf untuk mengawasi para murid yang sedang melakukan ujian bertahan hidup. Akan tetapi..
Si pengkhianat yang kala itu mengenakan jubah dan topeng iblis sedang bergerak membelakangi drone. Si pengkhianat itu mencoba untuk menangkap salah satu drone yang berada didekatnya.
"Drone-drone itu akan sangat menganggu rencanaku.."
Si Pengkhianat menangkap drone yang terbang di dekatnya itu dari belakang, dengan cepat dia juga menghancurkan kamera yang terpasang pada drone tersebut.
Si pengkhianat turun dari udara dan berpijak ke tanah. Meletakkan drone yang ia tangkap ke atas tanah.
"Seperti yang kuduga, drone ini mempunyai sistem jaringan yang bisa menghubungkan pengelihatan kamera kepada drone-drone yang lain. Aku tidak menyangka bahwa Kerajaan Euthoria bisa menciptakan alat-alat seperti ini."
Si Pengkhianat menempelkan telapak tangan kanannya keatas drone yang baru saja ia letakkan diatas tanah. Selang beberapa detik kemudian punggung telapak tangannya mengeluarkan sebuah lingkaran cahaya berwarna merah yang membentuk simbol silang ( X ).
" Hacker System : Object Not Working.."
Si Pengkhianat meretas jaringan penghubung antar puluhan drone agar tidak berfungsi dalam sekejap melalui salah satu drone yang ia tangkap. Bahkan si Pengkhianat jaga berhasil meretas jaringan yang menghubungkan kamera drone ke monitor pengawas yang berada di Basecamp Area.
Si Pengkhianat ( Nama disamarkan )
Power : Hacker.
Dia bisa meretas sistem jaringan keamanan pada suatu objek. Selain itu, Si Pengkhianat juga bisa meretas pikiran manusia lalu mengatur dan memanipulasi pikiran manusia itu dengan mudah.
"Gawat! Apa yang sebenarnya terjadi?! Tidak mungkin semua drone rusak bersamaan secara kebetulan seperti ini, kan???"
Sontak pengawas yang berada di ruangan tersebut pun langsung berlari keluar untuk melaporkan hal ini kepada Kepala Sekolah.
Kembali ke dalam hutan Angleleaf.
"Langkah pertama dengan meretas drone akhirnya selesai. Dengan ini, para dewan guru itu takkan bisa melihat apa yang terjadi pada murid-muridnya di Hutan Angleleaf.." Si Pengkhianat itu tersenyum licik menyeringai dibalik topeng iblisnya.
Sementara itu disisi lain hutan Angleleaf. Terlihat Akizumi, Hiroki, Evelyn, dan Shiori yang masih berjalan menyusuri hutan mencari lokasi yang pas untuk mendirikan tenda.
"Sudah cukup lama kita berjalan, namun tidak ada lokasi yang cocok untuk mendirikan sebuah tenda. Akan sangat bahaya bila kita tidak mendirikan tenda saat malam telah tiba.." Hiroki sedikit kebingungan karena tidak berhasil menemukan lokasi yang cocok untuk didirikan sebuah tenda.
Tanah yang tidak rata dengan dipenuhi akar pohon serta tanah yang lembab dan juga dipenuhi semak belukar membuat lokasi tidak cocok untuk didirikan sebuah tenda.
Evelyn mengamati sekitar, "Kita tidak boleh hanya berfokus pada satu hal saja. Persediaan logistik yang kita bawa juga tidak akan mencukupi sampai enam hari kedepan. Pihak Academy juga sudah menyebarkan kotak logistik berisi makanan di hutan Angleleaf."
"Ja-jadi kita harus mencari kota logistik itu, Evelyn?" tanya Shiori yang berjalan dibelakang Evelyn.
"Benar. Kalau kita tidak segera mencari kotak logistik sesegera mungkin, maka semua kota logistik itu akan diambil oleh tim lain.." jawab Evelyn.
Akizumi hanya diam sembari menoleh kanan-kiri untuk mengatasi sekitar, "Sepertinya kita berada di area hutan yang tidak diuntungkan untuk mendirikan tenda. Untuk pergi ke sisi hutan Angleleaf yang lainnya mungkin akan membutuhkan waktu yang sangat lama, dan itu sangat tidak menguntungkan.."
"Jadi, apa kau punya rencana, Akizumi?"
"Entahlah. Tapi aku punya suatu ide yang menarik.." ucap Akizumi setelah melihat sekumpulan pohon Pinus dari kejauhan.
Akizumi memutuskan untuk berjalan menuju ke area hutan yang ditumbuhi pohon Pinus tersebut. Hiroki, Evelyn, dan Shiori mengikuti Akizumi dari belakang. Setelah beberapa saat kemudian, mereka berempat pun berhenti di area yang ditumbuhi oleh banyak pohon Pinus.
"Kita sudah sampai.." Akizumi tersenyum bersemangat ketika melihat pohon Pinus yang mempunyai tinggi 15 - 40 meter itu.
"Jadi, apa rencamamu? Pohon-pohon ini berdiri secara berdekatan, akan sangat sempit bila kita mendirikan tenda disini." ucap Hiroki.
"Kalian bertiga carilah persediaan kotak logistik di sekitar sini. Masalah tenda dan lain-lain, serahkan saja padaku." ucap Akizumi sembari memberikan jempolnya kepada Hiroki.
"Oey, setidaknya kasih tau apa yang ingin kau rencanakan disini.." ucap Hiroki.
"Aku akan membuat tempat yang menarik tempat ini. Kalian bertiga cepatlah bergegas untuk mencari kotak logistik. Kita tidak bisa menyia-nyiakan waktu yang ada. Meski aku tidak serius dalam ujian kali ini, namun aku sudah terlanjur sampai disini, jadi apaboleh buat.." ucap Akizumi tersenyum bersemangat.
"Baiklah, Akizumi. Aku serahkan segala urusan tentang tenda kepadamu, untuk pencarian kotak logistik serahkan saja pada kami bertiga.." ucap Evelyn.
Evelyn meninggalkan tas tendanya kepada Akizumi, ia mulai berjalan kembali untuk mencari kota logistik berisi makanan dan lain-lain.
"Tu-tunggu aku, Evelyn!" Shiori juga meninggalkan tas tendanya lalu berjalan dibelakang Evelyn.
"Aku pergi dulu, Akizumi.." ucap Hiroki. Dia juga meninggalkan tas tendanya kepada Akizumi, dan segera berjalan menyusul Evelyn dan Shiori.
Akizumi kembali menatap pohon Pinus yang menjulang tinggi itu sembari tersenyum bersemangat.
"Aku akan menciptakan sebuah mahakarya yang luar biasa!"
B E R S A M B U N G