
"Evelyn, aku menemukannya.."
Akizumi menemukan sebuah informasi tentang sesosok Monster yang tersegel di sebuah hutan yang tidak diketahui namanya. Monster itu bernama Minotaur, seekor monster berkepala banteng dengan tanduk yang tajam serta memiliki tubuh manusia setinggi 5 meter.
Di dalam buku yang dibaca Akizumi tertulis bahwa Monster Minotaur pernah hidup ratusan sampai ribuan tahun yang lalu. Dahulu kala, Minotaur pernah menghancurkan beberapa negara kecil dengan kekuatan mengerikan miliknya. Hingga suatu ketika seorang ksatria yang nama serta asalnya tidak diketahui berhasil menyegel Minotaur itu di dalam sebuah hutan. Namun, di buku tidak tertulis nama hutan yang merupakan tempat Minotaur itu disegel.
Hanya informasi singkat dari Minotaur yang tertulis dalam buku tersebut. Meski begitu, Akizumi dan Evelyn menganggap monster ini adalah clue pertama atau puzzle pertama dari kepingan puzzle informasi dari Monster yang tersegel di Hutan Angleleaf.
"Akhirnya, setelah dua jam, aku bisa menemukan informasi tentang Monster yang tersegel didalam hutan, ya meski informasi singkat ini tidak bisa dijadikan bukti valid bahwa Monster Minotaur ini disegel didalam hutan Angleleaf." ucap Akizumi yang merasa sedikit lega.
Sementara itu, Evelyn melihat jam dinding yang menunjukkan waktu 10 menit lagi jam pelajaran Academy akan segera dimulai, ia pun memutuskan pergi meninggalkan ruang perpustakaan dan menuju ke kelasnya, disusul dengan Akizumi yang berjalan dibelakang Evelyn menuju ke kelas.
Beberapa saat kemudian ketika Evelyn dan Akizumi memasuki kelas secara bersamaan, Helena langsung berlari ke arah Evelyn dan langsung memeluknya erat.
"Nona Evelyn!! Aku kira kau kabur entah kemana!!! Tolong jangan kabur meninggalkanku lagi!!" Helena menangis histeris.
Keiko melebarkan kedua matanya saat melihat Akizumi dan Evelyn berjalan berdua memasuki kelas secara bersamaan. Tiba-tiba saja ia tampak begitu girang, "Hikari-Hikari. Baru kali ini aku melihat Evelyn berjalan berdua bersama pria.. Apa jangan-jangan mereka sudah pacaran secara diam-diam??" bisik Keiko ke telinga Hikari.
"Mana mungkin. Lagipula Akizumi dan Evelyn adalah rekan satu tim di ujian bertahan hidup, itu sudah sewajarnya, mungkin mereka sedang membahas strategi.." ucap Hikari.
"Hmpphh. Kau selalu saja positif thinking, Hikari. Padahal kalau itu benar. Mungkin akan menjadi topik terhangat di Academy, seorang putri bangsawan pacaran dengan pria yang bukan dari kalangan bangsawan. Bayangkan, pacaran dengan status beda kasta. Seperti pada novel-novel romance-" Keiko semakin berbicara ngelantur.
"Stop, Keiko! Lagipula mana ada cewek yang suka dengan cowok yang senang main rahasia-rahasiaan.." ucap Hikari.
"Kau benar juga, Hikari.."
Akizumi berjalan ke arah bangkunya. Ketika pelajaran Academy berlangsung, Akizumi selalu memikirkan tentang Monster Minotaur dan misteri hutan Angleleaf. Akizumi memikirkan hal itu sembari melihat pemandangan keluar jendela dengan tatapan kosong.
Hikari melirik ke arah Akizumi. Hikari merasa bahwa Akizumi sudah mengetahui sesuatu tentang si Pengkhianat itu. Bahkan ketika sore hari, pelajaran sudah selesai dan murid-murid telah diizinkan untuk pulang. Akizumi memutuskan untuk bergegas menuju ke perpustakaan kembali. Ia mencoba mencari kepingan puzzle yang lainnya. Setelah menemukan clue pertama yaitu monster Minotaur, kini Akizumi mencoba untuk mencari buku tentang hutan hutan di dunia.
Akizumi berhasil menemukan cukup banyak buku yang berisi informasi tentang hutan, namun tidak ada sama sekali hutan yang bernama Angleleaf.
"Aku sudah membaca semua buku tentang hutan disini. Tapi aku sama sekali tidak menemukan hutan yang bernama Angleleaf. Apa jangan-jangan nama Angleleaf adalah sebuah nama samaran?"
Akizumi membaca ulang semua buku itu namun tak ada hutan satu pun yang mirip seperti hutan Angleleaf. Karena hari sudah senja menuju petang, Akizumi memutuskan untuk bergegas pulang karena beberapa jam lagi ia harus bekerja part time.
Suasana di Academy perlahan mulai sepi. Hanya terlihat beberapa murid saja yang berada di halaman Academy, itu pun mereka berasal dari murid-murid kelas 3.
Ketika Akizumi menuju ke loker miliknya, ia secara tak sengaja melihat ke arah perempuan berambut panjang berwarna perak dengan kedua matanya yang memiliki warna berbeda. Perempuan yang ia temui kemarin serta perempuan yang dimaksud oleh Mio. Dia adalah Hashizume Nagisa.
"Dia kan.. Hashizume Nagisa, murid kelas D."
"Pesan ancaman, ya.."
Akizumi datang menghampiri Nagisa lalu merebut surat berisi pesan ancaman tersebut dari tangan Nagisa. Kemudian Akizumi membaca pesan ancaman tersebut.
Disini Akizumi menemukan sebuah celah kecil. Akizumi merasa tak asing dengan tulisan pada pesan ancaman tersebut. Tulisan pada surat ancaman tersebut mirip dengan tulisan seseorang, namun Akizumi susah untuk mengingatnya.
"Eh?"
Nagisa sedikit terkejut karena Akizumi yang tiba-tiba datang lalu merebut surat ancaman itu dari tangannya.
Akizumi merobek-robek surat pesan ancaman tersebut menjadi berkeping-keping, lalu berjalan melewati Nagisa begitu saja. Lalu, Akizumi berhenti dari jalannya sembari menoleh ke arah Nagisa.
"Tenang saja, kau tak perlu khawatir. Aku akan menemukan dalang dibalik orang yang menulis pesan ancaman ini. Takkan kubiarkan dia membunuhmu dan juga murid-murid lainnya.." ucap Akizumi sembari tersenyum lebar.
"Degg!!"
Tiba-tiba jantung Nagisa berdetup kencang. Ia menjadi gugup dan pipinya memerah ketika melihat Akizumi tersenyum lebar ke arahnya. Ditambah pemandangan langit yang berwarna kemerah-merahan. Hal itu membuat Akizumi terlihat begitu keren dimata Nagisa.
"Aku pergi dulu-"
"Tunggu sebentar! Beritahu aku siapa namamu?"
"Namaku Akizumi. Aku dari kelas 1A. Salam kenal. Namamu Hashizume Nagisa, kan?? Aku sudah mengetahuinya dari temanku! Ah, maaf aku buru-buru! Aku tidak boleh telat bekerja part time!!"
Akizumi langsung berlari dengan cepat keluar dari Academy kemudian bergegas menuju ke stasiun Kota Lost Hawk. Seperti biasa, Akizumi selalu ingin tepat waktu saat bekerja part time agar gajinya tidak dikurangi.
"Akizumi, ya." Nagisa tersenyum tipis.
Sementara itu diatap gedung ketiga. Terlihat seluet seorang pria yang sedang mengamati Akizumi dari atap gedung.
"Entah kenapa aku merasa anak itu sangat berbahaya. Aku juga merasa anak itu bisa merusak semua rencana yang telah kususun selama ini. Kalau begitu, aku cukup memastikan dirinya tidak ikut campur dalam urusanku nanti saat di ujian pertama."
Seluet pria itu berjalan ke arah lain.
"Hanya tinggal selangkah lagi.. Kalau dia mencoba menganggu rencanaku, aku hanya tinggal membunuh dirinya. Dia hanya anak tanpa kekuatan yang bermodalkan Qi Conqueror. Aku bisa membunuhnya dengan mudah."
B E R S A M B U N G