Heavenly Titania

Heavenly Titania
Chapter 40 - Hashizume Nagisa, Emosi, Pikiran & Sisi Jahat!



...Ujian bertahan hidup hari ketiga....


Ketika sisi jahat atau sisik buruk sudah menguasai tubuh dan emosi, Nagisa pun menyerang tanpa pandang bulu entah itu lawan maupun kawan. Sisi baik Nagisa telah tenggelam jauh tertutupi oleh sisi jahat yang telah menguasai dirinya sepenuhnya.


Perasaan amarah, perasaan benci, perasaan cinta, perasaan bahagia, dan perasaan sedih.. semua emosi tercampur padu menjadi satu partikel hingga menciptakan hasrat yang ambigu. Hasrat yang ambigu menciptakan sebuah hati yang dipenuhi rasa bimbang. Dan rasa bimbang tersesat kedalam sebuah ketidakpastian. Semua komponen tersebut menjadi pemicu sisi jahat Nagisa yang semakin tidak terkendali.


Kata kunci yang dapat meredakan atau mengendalikan kembali emosi jahat yang telah menguasai Nagisa adalah "Akizumi"


Lengan kiri Rin yang tergores kelelawar yang entah darimana datangnya pun terluka dan mengeluarkan banyak darah, meski begitu ia bersama Hana masih berlari menjauh dari kejaran ratusan kelelawar yang telah diperintah oleh Nagisa untuk menangkapnya.


Rasa panik dan kebingungan membuat rasa sakit dari lengan kiri Rin yang terluka tidak terasa begitu saja. Ia dan Hana masih bertanya-tanya dalam pikirnya, apa yang sebenarnya terjadi dengan sahabatnya sendiri, yaitu Nagisa? Sekilas, mereka berdua melihat Seperti sosok yang berbeda, seperti bukan Nagisa yang mereka kenal.


Sementara itu, Shin yang diam berdiri melihat sekelompok ratusan kelelawar yang tengah terbang ke arahnya dengan pedang yang ia pegang dikedua tangannya, dan bersiap untuk melakukan sebuah serangan.


"Aku sudah mencurigaimu sejak awal ketika datang ke Basecamp Area, Nagisa. Entah apa yang terjadi pada dirimu saat ini, kau terlihat seperti sisi dirimu yang berbeda." ucap Shin. Dia mulai memfokuskan sorot mata tajamnya ke satu titik, yaitu ke arah sekelompok ratusan kelelawar.


Perlahan Shin mulai mengatur pernafasannya. Menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dari mulut secara perlahan, mengontrol penuh fokus dan emosi pikirannya.


"Absorb Focus.." ucap Shin.


Dalam sekejap, angin datang dari arah barat, berhembus pelan, beberapa detik kemudian hembusan angin semakin kencang hingga pepohonan yang berdiri kokoh disekitar mulai bergoyang-goyang satu sama lain. Suara gemuruh dedaunan terdengar begitu jelas.


Kemudian hembusan angin yang menerpa area sekitar terlihat begitu jelas bergerak dan menyelimuti pedang milik Shin.


"Absorb Absolute : Fuu-Sword No Habakiri!"


Shin melesatkan tebasan pedang yang telah diselimuti oleh energi angin ke arah sekelompok ratusan kelelawar yang terbang dan hendak menyerangnya, "Batsss!!!" Tebasan pedang yang dilesatkan oleh Shin bagaikan hembusan angin kencang yang menerjang suatu objek hingga terbelah menjadi dua bagian.


Sekelompok ratusan kelelawar itupun terbelah menjadi dua bagian. Lalu menghilang dalam hitungan detik setelah terkena serangan pedang dari Shin.


Inoguchi Shin.


Kekuatannya adalah Absorb atau penyerapan.


Shin dapat menyerap energi alam disekitarnya untuk menyerang musuh atau bertahan dari serangan musuh. Energi alam yang dimaksud ini adalah senyawa atau unsur alam yang tercipta secara alami dari alam, contohnya angin, air, api, petir, dan lain-lain.


Hana dan Rin sudah berlari semakin jauh dibelakang Shin hingga sudah tidak terlihat sama sekali. Sementara itu, di dekat Nagisa terlihat Jean, Drake, dan Steve yang pingsan setelah diserang oleh ratusan kelelawar. Mereka bertiga dinyatakan gugur dari ujian pertama. Disisi lain, Eddie masih melakukan tiarap di tanah dan berpura-pura pingsan agar tidak diserang oleh Nagisa.


Dari raut wajah Eddie yang berlinang air mata hingga membengkak, berusaha untuk tidak bergerak dan tetap diam meskipun sekujur tubuhnya yang gemetaran karena ketakutan. Namun, Eddie tetap kukuh berpura-pura pingsan demi melanjutkan ujian bertahan hidup ini, meski sendirian.


_"Aku takut! Mama! Papa! Aku ingin segera pulang, tapi aku tidak boleh berhenti disini agar nilaiku bertambah baik!"_ batin Eddie ketakutan.


Sementara itu, Nagisa terkejut ketika Shin berhasil mengalahkan ratusan kelelawar yang telah ia perintah hanya dengan satu tebasan pedang. Nagisa tersenyum licik, "Padahal aku berharap kau menyerah saja, aku tidak punya banyak waktu meladenimu, aku harus segera mencari keberadaan Akizumi.." katanya.


"Aku? Siapa? Padahal kita sudah berteman lama tapi kau tidak mengenalku sama sekali. Baiklah, aku akan memberikan pelajaran terhadapmu karena tidak menganggap ku seorang teman.." ucap Nagisa.


"Aku tidak bilang begitu-" ucap Shin, tiba-tiba saja dia dikejutkan oleh sesuatu.


Sementara itu disisi lain, di tempat Hana dan Rin berada. Terlihat mereka berdua yang masih berlari. Kini jarak antara mereka dan Shin sudah sejauh 300 meter.


Hana dan Rin yang sekilas menoleh kebelakang pun telah menyadari bahwa Shin sudah tidak terlihat lagi dibelakang, itu menandakan posisinya dan Shin sudah cukup jauh, oleh karena itu, mereka berdua memutuskan untuk berhenti sejenak dari larinya.


Keringat yang begitu deras telah membasahi sekujur tubuh Hana dan Rin. Nafas mereka terengah-engah. Kedua kaki mereka sedikit pegal karena dipaksa berlari sejauh 300 meter dalam kurun waktu singkat.


"Apa yang sebenarnya terjadi pada Nagisa? Semoga dia baik-baik saja, terutama Shin." ucap Rin. Setelah itu Rin pun meringis kesakitan setelah luka pada lengan kirinya kini mulai terasa sangat sakit.


"Aku akan memperbanmu, Rin. Jadi tenang saja." ucap Hana.


"Terimakasih, Hana." ucap Rin.


Ketika Hana sedang memperban lengan kiri Rin yang mengalami luka, tiba-tiba saja cahaya merah menyala terlihat secara sepintas, lokasi munculnya cahaya merah itu tepat berada di lokasi Shin dan Nagisa berada. Rin dan Hana yang melihat hal itu pun langsung merasakan suatu firasat buruk.


"Shin!" ucap Hana yang khawatir.


Beberapa waktu pun telah berlalu, terlihat Shin yang tergeletak pingsan di tanah. Sementara Nagisa sudah tidak berada di lokasi. Lalu, di terlihat sosok Pengkhianat yang berdiri diatas salah satu pohon yang berada di dekat area tersebut.


Sekilas, terlihat sosok Pengkhianat tersebut yang tersenyum dari balik topeng yang menutupi wajahnya.


"Luar biasa. Baru kali ini seumur hidupku, aku melihat seseorang yang mempunyai kekuatan langka diantara yang lainnya. Nagisa, ya? Sepertinya dia adalah salah satu murid yang cocok untuk menjadi tumbal persembahan untuk melancarkan rencana yang telah kubuat dan meski begitu, untuk berjaga-jaga, aku akan menangkap yang lainnya juga.." ucapnya.


Dalam sekibat mata, sosok Pengkhianat itu pergi menghilang begitu saja dari area.


Inoguchi Shin telah dinyatakan gugur dari ujian pertama.


Disisi lain, terlihat Eddie yang berlari terbirit-birit sembari menangis histeris seperti bayi karena ketakutan.


"Perempuan itu sangat menyeramkan! Aku harus segera berlari menjauh darinya! Aku tidak boleh terlibat! Bisa-bisa saja dia akan membunuhku! Aku tidak ingin mati di usia muda! Siapapun tolong aku! Mama! Papa!" teriak Eddie.


"BERITAHU AKU DIMANA AKIZUMI BERADA!" Suara Nagisa dengan nada intimidasi terdengar begitu jelas ditelinga Eddie.


Eddie semakin ketakutan. Namun ketika ia menoleh kebelakang, dirinya sama sekali tidak melihat keberadaan Nagisa yang mengejarnya, namun suara tersebut terus terdengar dan mengganggu pendengarannya.


"Tolong jangan bunuh aku! Aku sama sekali tidak tahu keberadaan Akizumi yang kau maksud itu!! Kumohon lepaskan aku!! Aku tidak berbohong! Aku benar-benar tidak tahu lokasi keberadaan Akizumi! Huaaa!!!" teriak Eddie yang masih berlari ketakutan.


B E R S A M B U N G