
Hikari, Keiko, Nanako, Mio, Ushijima, dan Hiroki terkejut setelah mendengar pernyataan bahwa Akizumi lah si pengkhianat tersebut. Akan tetapi, Akizumi yang awalnya tersenyum licik menyeringai, raut wajahnya tiba-tiba berubah menjadi datar.
"Aku hanya bercanda. Bagaimana kalau aku ini ternyata adalah si pengkhianat? Kalian benar-benar lengah. Aku juga heran kenapa kalian bisa mempercayaiku.." ucap Akizumi.
"Sialan kau, Akizumi! Kami sedang serius disini, tapi kau malah bercanda!" Hiroki kesal dengan apa yang dilakukan Akizumi.
"Lagipula spekulasi kalian terlalu lemah. Kalau aku berada di posisi si pengkhianat, aku pasti mempunyai tujuan yang sulit ditebak. Namun, spekulasi yang kalian ucapkan itu terlalu mudah. Aku yakin tujuan si pengkhianat bukanlah itu.." ucap Akizumi.
"Lalu, kalau spekulasi kami terlalu mudah untuk ditebak, lantas apa spekulasimu yang menurutmu sulit untuk ditebak?" tanya Ushijima dengan raut wajah serius.
"Entahlah. Karena bukan aku yang menjadi target pembunuhan, jadi aku tidak begitu peduli. Tapi.. kalian berhati-hatilah, terkadang orang yang paling dekat dan nyaman bagi kalian, itu adalah calon musuh yang paling berbahaya." ucap Akizumi.
Akizumi beranjak dari sofa, kemudian berjalan menuju ke pintu keluar ruangan Karaoke.
"Tunggu, Akizumi. Jadi, apa kau mencurigai ada pengkhianat diantara kami disini?" Hiroki berdiri dari sofa dan menanyakan hal itu pada Akizumi.
"Entahlah. Siapapun bisa menjadi musuh dalam selimut. Akan tetapi, bila musuh kalian adalah orang terdekat, itu akan sangat sulit untuk dilawan. Melawan musuh dengan perasaan jauh lebih sulit dan menyakitkan. Sampai jumpa besok di Academy.. Aku juga akan mencari informasi tentang ini juga." ucap Akizumi.
"Baiklah, Akizumi.." ucap Hikari.
"Oh iya. Jangan katakan pada siapapun kalau aku juga akan mencari informasi tentang si pengkhianat ini. Aku akan membantu kalian untuk menemukan siapa si pengkhianat ini dari balik layar.." ucap Akizumi.
"Baiklah. Kalau itu bisa membantu. Aku akan menuruti apa yang kau katakan, Akizumi." ucap Ushijima sembari tersenyum bersemangat.
Setelah itu mereka semua pun memutuskan untuk pulang setelah selesai dalam pembahasan tentang pengkhianat di Academy yang mencoba membunuh murid-murid dari keturunan bangsawan.
...****************...
Masih di Kota Glysien. Setelah keluar dari tempat Karaoke, Akizumi mengeluarkan handphonenya dan mengirim pesan ke seseorang. Akizumi mengirim pesan untuk mengajak seseorang tersebut untuk bertemu dengannya di Kota Glysien.
Beberapa saat kemudian, Akizumi bergegas menuju ke sebuah kedai minuman. Akizumi memesan minuman murah sembari menunggu seseorang yang ia ajak untuk bertemu datang ke tempat ini.
10 menit kemudian, seseorang tersebut pun akhirnya datang ke kedai minuman tersebut. Sosok yang diajak bertemu oleh Akizumi ini adalah Dokter Hideshiro. Dokter Hideshiro yang telah datang pun langsung duduk di sebelah Akizumi sembari memesan minuman beralkohol.
"Hari ini kita bertemu lagi setelah sekian lama, Sensei.."
"Kau benar, Akizumi. Aku juga tak menyangka kau sudah menguasai Qi Conqueror di umur yang masih muda."
"Itu juga berkatmu yang dulu mengajariku tentang Qi, Sensei. Lagipula, aku juga harus menjadi kuat untuk melawan Republik Silvershine. Aku tidak akan membiarkan kematian kakakku sia-sia begitu saja.."
"Aku juga, Akizumi. Selama ini aku juga terus berlatih untuk meningkatkan kekuatanku. Saat ini militer Kerajaan Euthoria juga masih dalam proses pemulihan setelah tragedi delapan tahun lalu terpuruk. Musuh diluar sana juga kekuatannya diluar nalar semua."
"Aku memintamu untuk bertemu disini karena ingin menanyakan sesuatu, Sensei.."
"Bertanya tentang apa?"
Minuman yang dipesan Dokter Hideshiro pun telah datang diantar oleh pelayan.
"Tentang pengkhianat di Academy yang mencoba membunuh murid-murid dari keturunan bangsawan.."
"Jadi kau sudah tahu tentang hal itu, ya." Dokter Hideshiro meneguk minumannya, "Aku datang ke Academy karena permintaan kepala sekolah. Aku juga masih menyelidiki tentang hal itu."
"Beberapa teman-temanku dikelas telah mengetahui hal itu dan mencoba untuk mencari informasi secara diam-diam. Mereka mencurigai bahwa si pengkhianat itu datang dari murid-murid.."
"Apa kau mempercayai hal itu, Akizumi?"
"Tentu saja, tidak."
"Aku juga. Aku merasa si pengkhianat itu berasal dari kalangan para Sensei."
"Bukan bukti. Melainkan spekulasiku sendiri. Aku juga mengikuti rapat para guru untuk membahas tentang lokasi ujian pertama, ujian bertahan hidup. Sungguh tidak masuk akal memberi ujian bertahan hidup kepada para murid kelas satu di Hutan Angleleaf."
"Memangnya kenapa?"
"Hutan Angleleaf adalah hutan kematian. Hutan berbahaya. Banyak rumor mengerikan tentang hutan Angleleaf yang beredar di masyarakat."
"Berbahaya?! Lantas kenapa Aiyama Sensei mengatakan bahwa hutan tersebut hanya berisi monster-monster lemah?"
"Semua guru sampai kepala sekolah pun juga mengatakan hal tersebut. Mereka bersikukuh untuk menyelenggarakan ujian bertahan hidup di hutan Angleleaf. Padahal sebenarnya mereka sudah tahu itu hutan yang berbahaya, namun mereka semua tetap bersikukuh."
"Aneh sekali.."
"Kurasa pikiran para guru telah dimanipulasi oleh seseorang. Orang tersebut mungkin berencana melakukan sesuatu di hutan Angleleaf. Demi keamanan para murid, aku dan beberapa juniorku telah mengajukan ke pihak Academy sebagai sukarelawan. Kau juga mengikuti ujian tersebut kan, Akizumi?"
"Ya.."
"Aku sarankan kau jangan pergi terlalu jauh dari jangkauan drone pengawas. Hutan Angleleaf sangatlah luas, puluhan drone tak mungkin bisa menjelajahi hutan Angleleaf secara bersamaan. Ditambah lagi banyak misteri yang belum terungkap tentang hutan itu.."
"Apa kau tahu apa saja rumor yang beredar tentang hutan Angleleaf, Sensei?"
"Tidak semua. Tapi aku mendengar ada rumor yang mengatakan bahwa di suatu tempat di Hutan Angleleaf bagian terdalam, bahkan mungkin tempat itu belum terjamah sama sekali oleh manusia, ada yang mengatakan bahwa ada monster kuat yang disegel ditempat itu sejak ratusan tahun yang lalu."
"Tapi itu hanya rumor. Kebenaran rumor hanya bisa dipercaya lima puluh persen. Bisa jadi itu juga rumor hoax yang disebarkan kepada masyarakat dengan tujuan untuk menakut-nakuti, Sensei."
"Bisa jadi. Karena hutan Angleleaf yang penuh menyimpan misteri, maka seseorang dengan sengaja membuat sebuah cerita mistis yang menakutkan untuk menakut-nakuti masyarakat. Akan tetapi presentasi lima puluh persen juga tidak bisa dianggap remeh."
"Baiklah. Saat ujian nanti. Aku akan menemukan si pengkhianat itu dan menguak motif apa yang ia gunakan dengan mengirim surat ancaman kepada para murid. Aku sudah berjanji kepada teman-temanku untuk membantu dari balik layar.."
"Tunggu dulu, Akizumi! Kau jangan bertindak sembrono. Akan sangat berbahaya bila kau melakukan itu sendirian. Lagipula kita tidak tahu apa rencana musuh yang sebenarnya."
"Tenang saja, Sensei. Aku masih punya senjata rahasia.." Akizumi tersenyum.
"Jangan bilang kau akan menggunakan kekuatan itu untuk melawan si pengkhianat itu?! Kalau kekuatan itu sampai diketahui oleh publik, ini akan membuat seluruh Kerajaan Euthoria gempar. Kau tidak boleh menggunakan kekuatan itu tanpa izin Frederick-san.."
"Banyak nyawa murid-murid di Academy yang terancam. Aku takkan membiarkan mereka terbunuh begitu saja. Penyesalanku adalah gagal untuk melindungi Risa, jadi aku tak boleh membiarkan mereka bernasib sama seperti Risa."
"Astaga. Kalau begitu aku tidak bisa melarang dirimu. Aku tak ingin kau merasakan penyesalan sekali lagi."
"Terimakasih, Hideshiro-sensei.."
"Ya. Aku akan meminta maaf kepada Frederick-san nanti. Usahakan jangan sampai kekuatanmu diketahui oleh murid-murid lainnya.."
"Tentu saja, aku akan berhati-hati."
"Kalau kau menemukan si pengkhianat itu jangan segan-segan untuk menghubungiku, aku akan segera datang untuk membantumu."
"Baiklah, Sensei. Aku sangat berterimakasih karena sudah datang untuk menemuiku, dan yang terpenting tolong bayar minumanku juga, Sensei!!!" ucap Akizumi, ia pun langsung kabur berlari keluar dari kedai minuman, "Maafkan aku, Sensei!! Suatu saat aku akan mengganti uangmu!!"
"Woy!!!"
Hideshiro pun menepuk jidatnya setelah melihat kelakuan Akizumi yang memaksa untuk membayar tagihan minumannya juga. Namun, setelah itu Hideshiro tersenyum.
"Izuyama, adikmu perlahan menjadi sosok yang kuat. Apa kau sudah melihat tentang hal ini juga, Izuyama?" gumam Hideshiro tersenyum lembut.
B E R S A M B U N G