
...Ujian bertahan hidup hari ketiga....
Tzegyr mencengkeram kepala salah satu pembunuh bayaran yang telah bangkit dari pingsannya setelah dikalahkan oleh Akizumi. Si pembunuh bayaran itu terus memberontak dan terus mencoba melepaskan kepalanya dari genggaman tangan Tzegyr.
Namun, semua usaha yang dilakukan oleh si pembunuh bayaran itu hanyalah sia-sia.
Tzegyr mencengkeram kepala si pembunuh bayaran itu semakin kuat hingga menjerit kesakitan, lalu Tzegyr mengangkatnya sedikit ke atas. Kemudian, Tzegyr membaca sebuah mantra aneh dan seketika munculah cahaya putih ditangan kanannya yang ia buat untuk mencengkeram si pembunuh bayaran tersebut.
"Akan sangat berbahaya kalau semua orang tahu tentang kekuatan Titania yang ada pada Akizumi, aku akan segera menghapus ingatanmu yang berkaitan tentang Akizumi." ucap Tzegyr.
"Si-siapa kau sebenarnya?! Kau bukan hanya sekedar kepala sekolah biasa kan?! Aku merasakan energi yang berlimpah didalam dirimu- Agrhhh!! Lepaskan aku, Kakek tua!!" Si pembunuh bayaran itu masih mencoba untuk meloloskan diri dari cengkraman Tzegyr.
"Wooo.. " Tzegyr memajukan muncung mulutnya karena sedikit terkesan ketika si pembunuh bayaran itu bisa merasakan energi yang berlimpah didalam dirinya, "Kakak tua, ya? Kata-katamu sedikit tidak sopan. Anak muda jaman sekarang memang kurang dalam hal tata krama, ya.."
"Berisik, kakek tua!"
"Aku memang seorang kakek tua, tapi jiwaku masih terbilang muda. Gini-gini.. meski umurku sudah menginjak tujuh puluh tahun, aku masih sanggup bertarung loh.."
"Diam, kakek tua! Cepat lepaskan aku!"
"Dasar anak muda tak punya tata krama. Aku akan segera membereskan kalian semua." ucap Tzegyr yang suasana hatinya sedikit kesal karena disebut sebagai kakek tua.
"Cling!!!"
Cahaya putih yang berada ditangan Tzegyr perlahan mulai menyebar luas menyelimuti seratus Pembunuh bayaran yang berada disekitar. Tzegyr menggunakan kekuatan misteriusnya untuk menghapus ingatan seluruh pembunuh bayaran yang berkaitan tentang Akizumi.
Si pembunuh bayaran yang berada pada cengkraman tangan Tzegyr kini pingsan setelah terkena sinar cahaya putih menyilaukan yang merupakan proses dari penghapusan ingatan. Kemudian, Tzegyr melemparkan si pembunuh bayaran yang ada ditangannya itu ke tumpukan pembunuh bayaran lainnya.
"Baiklah, aku akan membawa mereka semua dan menjebloskannya kedalam penjara, semoga mereka belajar dari kesalahannya dan menjadi orang yang lebih baik lagi setelah mereka bebas beberapa tahun kedepan nanti.." ucap Tzegyr.
~
Sementara itu disisi lain hutan Angleleaf.
Terlihat Jean yang memasang raut wajah marah dan kesal setelah menerima pesan dari salah satu pembunuh bayaran yang telah ia bayar untuk membunuh Akizumi.
"Yang benar saja. Kenapa mereka bisa gagal membunuh Akizumi? Sial! Aku sudah membayar mereka dengan sangat mahal tapi gagal membunuh si brengsek itu?!!" Jean sangat marah.
Tentu saja Jean sangat marah setelah menerima pesan ini. Bukan hanya tentang soal uang, namun ini juga tentang harga dirinya yang merasa telah diinjak-injak oleh Akizumi. Karena emosinya yang sudah memuncak, Jean pun sampai membanting handponenya ke tanah hingga pecah, "Pyarr!!"
Steve dan Drake yang berada disamping Jean pun juga ikut merasa kesal. Mereka berdua menganggap seratus pembunuh bayaran itu hanya memakan gaji buta karena tidak bisa menuntaskan tugasnya dengan baik.
Sementara itu, Eddie yang berdiri dibelakang mereka bertiga pun terlihat begitu gelisah setelah melihat reaksi Jean yang dipenuhi dengan perasaan amarah.
"Apa boleh buat, kita lupakan hal itu sejenak. Untuk sementara kita fokus dengan apa yang ada didepan kita. Gara-gara si cewek ini, aku harus kehilangan harga diri!" ucap Jean dengan lantang.
Sekitar sebelas meter didepan Jean dan kawan-kawan, terlihat Inoguchi Shin dengan rekan-rekan timnya, yaitu Nagisa, Hana, dan Rin. Kedua tim secara tak sengaja bertemu saat hendak mencari monster untuk memperbanyak point mereka.
"Jaga kata-katamu terhadap Nagisa! Aku tidak akan membiarkan kalian membuat Nagisa menangis lagi!" Hana memasang kuda-kuda bertarung dan bersiap menyerang Jean kapanpun ia mau.
"Suasana hatiku saat ini sedang kacau. Apalagi, penyebabnya adalah perempuan bernama Nagisa itu." ucap Jean.
"Daritadi kau mengatakan sesuatu yang omong kosong. Aku tidak peduli apapun masalahmu. Tapi, aku tidak akan membiarkan dirimu melukai anggota timku begitu saja.." ucap Shin.
Shin bersiap menarik pedang dari sarung pedangnya yang berada di punggungnya.
"Hah?! Tidak peduli apa masalahku?! Yang benar saja! Gara-gara Nagisa, si Akizumi itu membuat harga diriku seperti tidak ada artinya sama sekali! Bahkan, aku sangat kaget, setelah menerima kabar bahwa Akizumi si brengsek itu telah mengalahkan seratus pembunuh bayaran yang telah kukirim itu sendirian!!!" teriak Jean.
Shin, Hana, Rin, dan Nagisa terkejut mendengar pernyataan dari Jean yang mengatakan bahwa Akizumi telah mengalahkan seratus pembunuh bayaran sendirian.
Shin melirik ke arah Nagisa. Shin merasakan Nagisa yang sedang melakukan gerak-gerik aneh. Ia terus mengamatinya. Namun, Hana dan Rin masih tidak menyadari sesuatu yang berbeda dari Nagisa.
"Keberadaan Akizumi?! Mana kutahu! Kenapa kau mencarinya?! Apa kau takut dan ingin meminta perlindungan kepadanya lagi?! Jangan harap dia bisa menolongmu untuk yang kedua kalinya!" jawab Jean.
"Benarkah?" tanya lagi Nagisa sembari memiringkan kepalanya. Nagisa tersenyum aneh.
"Itu benar! Eddie kemarilah! Lakukan tugasmu sekarang!" jawab lagi Jean, lalu ia memberi perintah kepada Eddie.
"Ba-baik, Tuan Jean!" Eddie mengiyakan perintah Jean begitu saja. Eddie berjalan ke hadapan Jean lalu melakukan posisi tiarap ditanah, tepat didepan Jean.
Jean, Drake, dan Steve menginjak-injakkan alas kakinya yang kotor ke punggung Eddie yang saat ini mengenakan baju berwarna putih. Tampak kotoran tanah yang ada di alas kaki mereka bertiga kini melekat dibaju Eddie.
"Hoi, kalian ini tidak mempunyai hati nurani atau bagaimana?! Kenapa rekan kalian sendiri malah dijadikan layaknya keset!!" geram Rin.
"Hah? Memangnya kenapa? Lagipula aku sudah membayar Eddie untuk menjadi budakku. Jadi, aku bebas ngapain aja dong! Kok kalian malah protes, tcih!" ucap Jean dengan nada mengesalkan.
"Itu karena... aku harus segera bertemu dengan Akizumi cepat atau lambat untuk memastikan sesuatu." ucap Nagisa tersenyum.
"Kau masih bisa tersenyum, ya? Kau sungguh membuatku menjadi semakin muak! Drake, Steve, ayo kita serang mereka! Lalu, kita beri pelajaran perempuan yang bernama Nagisa itu hingga dia berkata meminta ampun kepada kita!!" perintah Jean.
Jean, Drake, dan Steve bergerak bersiap untuk melesatkan serangan. Namun disaat yang bersemaan kedua mata Nagisa mengeluarkan sinar cahaya merah menyala. Kemudian datanglah ratusan kelelawar yang entah darimana asalnya muncul begitu saja dan langsung menyerang Jean, Steve, dan Drake.
"A-apa-apaan kelelawar ini!"
"Menyingkirlah kelelawar aneh!"
"Darimana datangnya kelelawar ini!"
Jean, Steve, dan Drake mendapatkan beberapa luka goresan yang diakibatkan dari banyaknya kelelawar yang menyerangnya hingga mengalami luka darah. Sementara Eddie yang sangat ketakutan masih melakukan posisi tiarap di tanah.
Ratusan kelelawar itu tak hanya menyerang mereka bertiga saja, namun sebagian kelelawar tersebut juga hendak menyerang dan melukai Hana, Rin, dan Shin.
"Bttsss!!!" Salah satu kelelawar berhasil menggores Rin hingga mengeluarkan banyak darah. Sontak Rin menjerit kesakitan setelah serangan kelelawar tersebut.
Shin yang sudah menaruh curiga terhadap Nagisa sejak awal, kini pun rasa kecurigaan nya sudah terbukti, "Rin! Hana! Kita menjauh dari Nagisa untuk sementara!" Shin menarik tangan Rin dan Hana untuk membawanya pergi menjauh dari Nagisa.
Nagisa menyadari hal itu. Kini Nagisa sudah dikuasai oleh sisi jahat miliknya. Nagisa mengarahkan tangan kanannya ke arah Shin yang sedang membawa Hana dan Rin pergi.
"Tangkap mereka!" perintah Nagisa.
Ratusan kelelawar menanggapi perintah Nagisa dan langsung terbang ke arah Shin, Hana, dan Rin secara berkelompok hingga seolah-olah membentuk kelelawar raksasa.
Hana melotot keheranan saat melihat kebelakang, ke arah Nagisa yang bukan seperti dia kenal, "A-apa yang sebenarnya terjadi dengan Nagisa?"
"Entahlah, aku sudah curiga sejak awal ada yang aneh terhadap Nagisa! Dia seperti Nagisa yang berbeda, bukan seperti Nagisa yang kita kenal!" ucap Shin.
Shin berhenti dari larinya dan berdiri sembari menarik pedang yang berada didalam sarung pedang dipunggungnya.
"Apa yang akan kau lakukan, Shin?!" tanya Rin yang masih berlari bersama dengan Hana.
"Kalian berdua, larilah! Aku akan menahan kelelawar-kelelawar ini! Setelah selesai, aku akan segera menyusul kalian!" ucap Shin dengan tegas. Kini Shin sudah menarik pedangnya dan mengarahkannya ke sekelompok kelelawar yang terbang ke arahnya.
Lantas apa yang akan terjadi dengan nasib Shin setelah ini? Apakah dia berhasil menahannya atau sebaliknya?
B E R S A M B U N G