Heavenly Titania

Heavenly Titania
Chapter 35 - Kenangan.



...Ujian bertahan hidup hari kedua....


Tak terasa hari mulai memasuki waktu senja. Sore yang lembut datang dengan matahari perlahan mulai terbenam. Terlihat Akizumi, Hikari, Evelyn, dan Shiori yang duduk tepat dibawah sebuah pohon tinggi besar di dekat rumah pohon. Mereka berempat duduk melingkar dengan terdapat puluhan tusuk sate rusa beralaskan dedaunan.


Selang beberapa saat kemudian Hiroki datang dengan membawa beberapa kayu di kedua pundaknya. Hiroki meletakkan kayu yang ia bawa ke tanah ditengah-tengah Akizumi, Hikari, Evelyn, dan Shiori.


Kemudian Akizumi dan Hiroki menumpuk beberapa kayu tersebut lalu membakarnya hingga tercipta sebuah api unggun. Disaat angin malam yang sangat dingin menyelimuti hutan Angleleaf, menghangatkan tubuh di depan api unggun adalah hal yang tepat.


Sembari menghangatkan tubuh, mereka berlima juga meletakkan sate rusa keatas api unggun. Untuk menunggu sate rusa yang matang, Hikari pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dengan timnya sebelum Akizumi datang untuk menyelamatkannya.


Hiroki yang benar-benar sangat marah saat mendengar kembali Frank dan Niichi telah gugur dalam ujian pertama. Evelyn dan Shiori juga sangat kesal dan marah terhadap Roussel yang telah membuat Hikari sakit hati.


Ekspresi dari Shiori terlihat begitu lucu, ia memasang ekspresi kesal dan gugup secara bersamaan hingga membuat Evelyn dan Hikari tertawa kecil. Lalu, Hiroki yang sudah lapar dengan sembrononya memakan sate Rusa yang masih sangat panas.


"Panas!!!" Hiroki menjerit sambil menjulurkan lidahnya sembari mengipas-ngipasinya dengan tangan kirinya.


"Tak usah terburu-buru, stok sate rusa juga masih banyak, cukup untuk dinikmati semalaman ini." ucap Akizumi.


Melihat reaksi lucu dari Hiroki membuat Hikari, Evelyn, dan Shiori tertawa kecil. Suasana saat ini begitu damai dan positif. Setelah memakan beberapa sate Rusa dalam sekejap, Hiroki berdiri sembari menceritakan kehebatannya dihadapan Hikari, Evelyn, dan Shiori dengan semangat.


"Aku memang memiliki tampang seorang berandalan! Tapi aku tidak bisa diam saja ketika kelas A diremehkan begitu saja oleh kelas lain! Dengan ini, aku akan bertekad untuk mengalahkan semua tim dari kelas lain!" ucap Hiroki dengan bersemangat.


Akizumi, Hikari, Evelyn, dan Shiori menikmati sate Rusa sembari mendengarkan Hiroki yang mendongeng dengan cukup bersemangat, mereka berempat juga menyempatkan untuk memberikan tepuk tangan kepada Hiroki.


"Keren.."


"Luar biasa.."


"Hebat.."


"Mengerikan.."


"Huahahaha!! Itu jelas! Karena aku adalah murid nomor satu di kelas A! Tatsuya bukanlah apa-apa dihadapanku!" ucap Hiroki.


Setelah Hiroki bercerita tentang kehebatan dirinya, kini giliran Evelyn yang bercerita tentang tanah kelahirannya, Kerajaan Rivermist. Hiroki, Hikari, dan Shiori cukup terpukau dengan Kerajaan Rivermist setelah mendengar cerita dari Evelyn.


Selesai Evelyn bercerita, kini giliran Shiori. Shiori terlihat bingung ingin menceritakan tentang apa kepada yang lainnya. Shiori tampak gugup dan salah tingkah sendiri. Dan reaksi Shiori pun membuat Hiroki, Evelyn, dan Hikari tertawa terbahak-bahak, sementara itu Akizumi hanya tersenyum tipis melihat reaksi teman-temannya yang saling tertawa satu sama lain.


Setelah Shiori, kini giliran Hikari yang bercerita tentang kehebatan ayahnya, pahlawan Kerajaan, Frederick. Hiroki, Evelyn, dan Shiori sangat terkesan dengan apa yang diceritakan oleh Hikari.


Akizumi merasa cukup senang dengan situasi damai seperti ini bersama temannya yang saling bersenda gurau satu sama lain. Setelah itu, Akizumi menunduk, perlahan kedua matanya mulai memberat seolah-olah ingin memejamkannya dan disaat yang bersamaan ia mendengar suara seorang perempuan dari telinga kanannya.


"Akizumi.."


Akizumi masih tak menghiraukannya.


"A.. ki.. zu.. mi..!"


Suara perempuan itu semakin terdengar jelas di telinga Akizumi. Kemudian dalam sekejap Akizumi melihat dirinya sudah berada di sebuah ladang bunga, tepat didataran tinggi di wilayah Kota Callbourn.


"Akizumi, bagaimana? Menyenangkan bukan tertawa bersama dengan teman-teman.."


Terlihat sosok perempuan berambut hitam panjang dengan sedikit terurai serta terdapat setangkai bunga matahari yang terselip di telinga kirinya. Perempuan tersebut berdiri tepat didepan Akizumi sambil tersenyum manis.


Akizumi melihat ke arah perempuan tersebut dengan perlahan mulai dari ujung kaki sampai ujung kepala. Kemudian Akizumi melihat wajah dari perempuan tersebut dengan begitu jelas. Akizumi terkejut, kedua matanya berkaca-kaca, lalu air matanya mulai menetes ke pipi.


"Risa.."


"Y-ya.." Akizumi tersenyum tipis, namun ia menjawabnya dengan lemas.


"Jawab dengan semangat, dong!" Risa menjitak kepala Akizumi dengan keras.


"Ya! Sungguh menyenangkan!" jawab Akizumi dengan bersemangat, terlihat benjolan yang besar dikepala Akizumi karena dijitak oleh Risa.


"Bagus, Akizumi! Meski aku sudah tidak ada disini, kau tetap harus bersemangat! Kau masih ingat janji kita, kan?"


"Tentu saja, Risa. Aku masih mengingatnya."


"Suatu saat kau harus menepatinya! Janji adalah janji! Kau tidak boleh melanggar, ya! Jadi teruslah bersemangat, Akizumi! Karena, aku akan terus mengawasimu!" Risa tersenyum lebar.


Leppp..


Akizumi membuka matanya dengan ekspresi terkejut. Kemudian ia pun menegakkan kepala nya kembali dari posisi menunduknya, dan seketika Hiroki, Evelyn, Hikari, dan Shiori menatap ke arahnya.


"Akizumi, kau.. menangis?" tanya Hikari.


"Apa kau tidak apa-apa, Akizumi?" tanya Evelyn.


Hiroki dan Shiori hanya diam mengamati.


Terlihat air mata Akizumi yang membekas di pipinya. Akizumi pun mengusapnya dan menjawab, "Ah, tidak. Aku hanya sedikit teringat dengan masa lalu.."


"Masa lalu apa??" tanya Hikari lagi.


Akizumi berdiri dari duduknya, "Entahlah, aku juga sedikit lupa tentang masa lalu apa. Oh iya, kalian habiskan saja sate rusanya, aku ingin berjalan-jalan sebentar di sekitar sini untuk melihat situasi ada tim lain atau monster yang sedang mengincar kita atau tidak.."


Akizumi berjalan pergi meninggalkan Hiroki, Evelyn, Shiori, dan Hikari yang berada di sekitar api unggun. Akizumi berjalan-jalan santai untuk mengamati sekitar sembari mengingat-ingat tentang Risa.


Namun, saat Akizumi berjalan, tiba-tiba ia merasakan sesuatu seperti ada banyak orang yang sedang mengintainya. Meski Akizumi sudah merasakan hal tersebut, namun ia tidak gegabah dan bersikap seolah-olah tidak terjadi apapun.


Setelah cukup lama, Akizumi pun berjalan kembali ke area api unggun di dekat rumah pohon. Ketika sampai disana, Akizumi hanya melihat Hiroki yang masih duduk didepan api unggun, sementara Hikari, Evelyn, dan Shiori sudah tidur didalam rumah pohon.


"Hiroki, apa yang lainnya sudah tidur?" tanya Akizumi.


"Ya. Mereka bertiga sudah tidur didalam rumah pohon. Aku disini untuk berjaga." jawab Hiroki.


"Hiroki, sepertinya besok aku harus berpisah dengan kalian untuk sementara waktu."


"Hah? Berpisah? Apa maksudmu, Akizumi? Belakangan ini kau terlihat cukup aneh.."


"Ada banyak orang yang sedang mengintaiku di sekitar sini. Mereka adalah pembunuh bayaran, aku tidak menghitung berapa jumlahnya, tapi aku yakin mereka ada seratus orang.." ucap Akizumi.


"Hoi-hoi, seratus pembunuh bayaran? Mereka mengincarmu? Biarkan aku ikut membantumu juga!" ucap Hiroki.


"Tidak perlu, Hiroki. Kalian tidak perlu menguras tenaga hanya untuk membantuku, kalian fokus saja pada ujian. Mungkin aku akan pergi pada dini hari, jadi jangan katakan hal ini pada Hikari, Evelyn, dan Shiori.." ucap Akizumi.


"Sialan, kau, Akizumi! Apa gunanya tim kalau kau egois seperti ini!" ucap Hiroki dengan kesal, "Aku tidak akan membiarkanmu bertindak sendirian, setidaknya biarkan aku membantumu-"


"Duakk!!" Akizumi memukul tengkuk Hiroki dengan cukup keras hingga membuatnya pingsan.


"Maafkan aku, Hiroki. Tapi aku tidak ingin melibatkan kalian dalam bahaya dengan bertarung melawan seratus pembunuh bayaran." ucap Akizumi, "Tampaknya murid kaya dan bejat itu serius untuk membunuhku dengan menyewa seratus pembunuh bayaran.."


B E R S A M B U N G