Heavenly Titania

Heavenly Titania
Chapter 42 - Dynamite Super Shock!



...Ujian bertahan hidup hari ketiga...


Aragaki, Keizo, dan Ryuzo terkena pukulan telak dari Ushijima saat mereka berada didalam Ilusion Zone. Mika dengan sepasang sayap burungnya terlihat masih terbang di udara. Mika benar-benar tak menyangka dengan kekuatan milik Ushijima.


Mika terbang ke arah Ushijima dengan cukup cepat disertai dengan beberapa bulu burung tajam yang siap ia lesatkan, "Blade Feather!" Mika melesatkan bulu burung tajam tersebut ke arah Ushijima.


"Jlebb!!!" Dalam pengelihatan Mika, ia melihat Ushijima yang terkena serangan miliknya. Dia sedikit lega. Namun, perlahan Ushijima yang terkena serangannya mulai lenyap, kemudian Ushijima yang lainnya datang dari samping Mika.


"Percuma kalian menyerangku. Sejak awal kalian sudah berada dalam Ilusion Zone milikku.." ucap Ushijima, "Buaghh!!" Ushijima menendang pundak Mika hingga terjatuh ke tanah dengan cukup keras, "Kalian terlalu meremehkanku.."


Sementara itu Mio, Nanako, dan Julian hanya bisa menyimak pertarungan yang dilakukan oleh Ushijima karena mereka bertiga tidak diberi kesempatan oleh Ushijima untuk menyerang Aragaki dan yang lainnya.


"Hebat, Ushijima!" Nanako memuji kekuatan Ushijima.


"Sepertinya cukup dirinya saja untuk mengalahkan Aragaki and the geng.. Dengan ini aku bisa menghemat staminaku.." ucap Julian.


"Baru kali ini aku melihat Ushijima bertarung dengan serius.." ucap Mio.


Aragaki, Keizo, Ryuzo, dan Mika mencoba untuk bangkit dan berdiri kembali. Meski mereka berempat terkena serangan kuat dari Ushijima, itu bukan membuat alasan untuk mereka kalah. Mereka masih bisa melanjutkan pertarungan.


Aragaki tersenyum menyeringai, "Ushijima. Terimakasih karena telah membuatku ingin bertarung dengan serius." Setelah itu Ushijima tertawa terbahak-bahak dengan sangat keras.


"Menyerah saja, Aragaki! Serangan yang kalian lakukan akan sangat percuma. Itu karena kalian sudah berada dalam Ilusion Zoneku.." ucap Ushijima.


"Ilusion Zone, ya? Aku kira kekuatanmu adalah cloning. Ternyata semua ini hanya sebuah ilusi." ucap Aragaki, "Dan, jangan konyol untuk menyuruhku menyerah! Mika, Ryuzo, Keizo! Aku beri kalian waktu tiga menit untuk segera menjauh dari lokasi ini.."


Seketika raut wajah Mika, Ryuzo, dan Keizo panik.


"Tunggu dulu, Aragaki! Jangan-jangan kau akan menggunakan-" ucap Mika.


"Yeah, waktu kalian untuk pergi dari sini hanya tiga menit! Kalian pergilah sejauh mungkin! Ini perintah seorang Kapten!" perintah Aragaki.


Terpaksa Mika, Ryuzo, dan Keizo pun segera berlari menjauh dari lokasi sesuai dengan perintah Aragaki.


"Aragaki, apa kau sengaja menyuruh mereka pergi karena setelah tahu kalau kalian tidak akan bisa mengalahkan kelas A?" tanya Ushijima dengan nada sedikit sombong.


"Kau salah besar. Justru aku ingin mengalahkan kalian dalam satu kali serang tanpa melukai teman-temanku!" ucap Aragaki.


"A-apa satu kali serang?!" Mio sedikit tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Aragaki.


"Jangan konyol bisa mengalahkan kami hanya dalam sekali serang! Apa kau berbicara ngelantur karena tidak bisa mengalahkan kami?! Serangan apapun yang kau lesatkan itu percuma selama masih berada didalam Ilusion Zone!" ucap Ushijima.


"Kau benar. Serangan yang kulesatkan pasti tidak akan berhasil mengenai kalian selama diriku masih berada dalam Ilusion Zone milikmu, Ushijima! Tapi apa kau yakin? Apa kau yakin serangan dalam skala besar tidak akan berhasil melukai kalian?" Aragaki mengangkat tangan kanannya ke atas.


Gelembung kecil perlahan muncul diatas telapak tangan kanan Aragaki. Gelembung kecil itu kemudian ukurannya mulai membesar. Ushijima, Julian, Nanako, dan Mio sedikit terkejut dengan apa yang diciptakan oleh Aragaki.


"J-jadi ini alasannya kau menyuruh teman-temanmu untuk pergi menjauh, ya? Meski begitu, apa kau berniat untuk bunuh diri?" tanya balik Julian.


"Tidak. Ini adalah kekuatanku. Tentu aku juga bisa mengetahui cara mengantisipasinya. Apa kalian yakin bisa lolos dari ledakan gelombang kejut yang sudah semakin besar ini?" tanya lagi Aragaki.


"Nanako, Mio, Julian! Cepat segera menjauh dari sini! Kalau yang dikatakan Aragaki itu benar, jadi dia berniat meledakkan dan menghancurkan lokasi di sekitar sini! Sial, Aragaki benar-benar gila!" perintah Ushijima.


Ushijima, Mio, Nanako, dan Julian pun segera berlari menjauh dari Aragaki. Sementara itu Aragaki tersenyum licik menyeringai saat minat Ushijima dan yang lainnya pergi menjauh.


"Kalian terlambat! Rasakan ini, mahakarya terhebat dari sebuah ledakan yang indah! Teknik ini kunamakan Dynamite Super Shock! Enyahlah kalian, bang!" ucap Aragaki.


"Bummmmmmm!!!!!" Gelombang kejut yang diciptakan Aragaki meledak dengan cukup hebat. Ledakannya mencapai skala radius 500 meter. Ledakan tersebut membuat apapun yang dilewatinya menjadi hancur, bahkan pepohonan yang rimbun serta monster yang didekatnya hancur dalam seketika.


Julian berhenti dan melihat kebelakang. Ledakan dari gelombang kejut tersebut bergerak cepat ke arahnya dan teman-temannya. Dia juga merasa bahwa lari bukanlah pilihan yang tepat. Itu karena mereka sudah terlambat untuk pergi menjauh.


Julian merentangkan kedua tangannya, "Aku akan mencoba membuat pertahanan yang solid sebagai perisai! Unlimited Ice : Ice Area!!!" Suhu dingin yang Julian ciptakan menciptakan dinding es yang sangat besar dan tinggi. Dia mencoba menahan ledakan dari gelombang kejut tersebut dengan pertahanan es miliknya.


Ledakan gelombang kejut tersebut selain menghancurkan apapun yang dilewatinya juga menciptakan gemuruh dan getaran seperti sebuah gempa besar. Tzegyr, Hideshiro, dan Naivara yang melihat hal itu dari layar monitor pun juga dibuat terheran-heran dengan serangan berskala besar tersebut.


"Aragaki, ya? Semangat bertarungnya terlalu tinggi sampai menciptakan ledakan dan menghancurkan sebagian kecil wilayah hutan Angleleaf." ucap Tzegyr.


"Tinggu dulu, apa serangan itu tidak akan membunuh tim Ushijima? Orang normal kalau terkena ledakan besar seperti itu pasti akan mati.." ucap Hideshiro.


"Benar juga, ya. Mereka mati atau tidak ya?" Tzegyr bertanya-tanya.


"Woy, Tzegyr-san! Bisa gawat kalau ada murid kelas satu yang mati hanya gara-gara ujian ini!" ucap Hideshiro panik.


"Kau memang cerewet, Hideshiro. Tapi kali ini aku setuju denganmu. Kalau begitu aku pergi sebentar.." Dalam sekejap, Tzegyr melakukan teleportasi ke hutan Angleleaf kembali.


Disaat yang bersamaan di hutan Angleleaf. Kala itu Akizumi, Evelyn, Shiori, Hiroki, dan Hikari yang sedang berjalan menuju ke rumah pohon tiba-tiba dikejutkan dengan suara ledakan besar. Bahkan mereka berlima juga merasakan gempa yang dihasilkan oleh ledakan besar tersebut.


Disisi lain, terlihat Eddie yang bersembunyi dibalik pohon besar karena masih dikejar oleh sosok Nagisa yang membuatnya ketakutan. Selain rasa takut yang disebabkan oleh kejaran Nagisa, Eddie juga dibuat takut dengan suara ledakan dan getaran gempa. Kala itu Eddie menangis histeris, dia merasa tak mampu mengikuti ujian pertama yang seperti berada dalam sebuah medan perang.


Selain itu, Nagisa berhenti mengejar Eddie setelah perhatiannya teralihkan dengan suara ledakan yang sangat besar.


Tidak hanya mereka saja. Semua murid kelas satu yang masih mengikuti ujian pertama juga merasakan hal yang sama. Merasakan sebuah gempa kecil disertai suara ledakan. Bahkan, Tatsuya mulai menyadari bahwa ledakan besar ini berasal dari rivalnya, Aragaki.


"Dia itu benar-benar bodoh. Sepertinya dia melakukan segala cara untuk memenangkan pertarungan. Apa dia lupa aturan pertama dalam ujian kali ini adalah dilarang membunuh? Kemungkinan pikirannya sudah dikuasai oleh hasrat untuk ingin menang, semoga saja dia tidak didiskualifikasi, aku ingin menghadapinya di ujian kedua.." ucap Tatsuya sembari tersenyum bersemangat.


Kembali ke tempat Ushijima, Julian, Nanako, dan Mio berada. Julian menciptakan dinding es raksasa berlapis-lapis, dan berharap bahwa dinding es tersebut dapat menahan ledakan itu begitu saja.


Akan tetapi, Tzegyr datang tepat di udara, diatas mereka berempat dengan kemampuan teleportasinya. Tzegyr membacakan sebuah mantra aneh. Kemudian sebuah cahaya putih membentuk sebuah bola langsung melindungi Julian, Ushijima, Nanako, dan Mio. Lalu, mereka berempat berteleportasi bersama bola cahaya putih tersebut. Setelah itu, Tzegyr juga melakukan teleportasi sebelum ledakan itu mengenainya.


B E R S A M B U N G