Heavenly Titania

Heavenly Titania
Chapter 20 - Tak Bermoral.



Akizumi memilih bungkam tentang siapa pelaku pengkhianat dalang dari surat ancaman pembunuhan terhadap murid-murid perempuan dari keturunan bangsawan. Akizumi dapat mengetahui identitas pelaku hanya dengan mengamati gaya penulisan dari setiap orang di kelasnya, apakah sama atau tidak dengan gaya penulisan dari surat ancaman.


Meski begitu, Akizumi belum bergerak untuk menindak si pelaku, ia penasaran dengan motif tujuan si pelaku pengkhianat yang mengirim surat ancaman. Apa hanya sekedar perintah dari seseorang, atau hanya bertujuan untuk menculiknya dan meminta sejumlah uang, ataukah mempunyai niat lain.


Masih ada beberapa hari lagi sebelum ujian pertama, ujian bertahan hidup dimulai..


Setiap paginya Akizumi selalu berpapasan dengan Hikari di kereta, oleh karena itu juga yang membuat mereka berdua terlihat berangkat ke Academy bersama-sama. Sifat keingintahuan dan rasa penasaran Hikari tentang seluk beluk Akizumi, sedikit membuat tidak nyaman Akizumi, meski dirinya selalu enggan untuk menjawabnya.


"Oey, Hikari. Berhenti bertanya tentang asal-usulku. Lagipula kau bukan ibuku, jadi aku tak berhak menjawabnya.."


"Pelit!! Padahal kita ini teman sekelas.. huft." ucap Hikari yang kesal sembari menggembungkan pipinya.


"Kau sudah janji untuk tidak bertanya tentangku lagi, Hikari."


"Aku tidak ingat mengatakan itu.."


"Bukan tidak ingat, tapi kau pura-pura lupa. Dasar. Apa menariknya juga diriku. Aku hanya pemuda biasa-"


"Kau pemuda biasa, tapi di umurmu sekarang kau sudah bisa menguasai Qi Conqueror, bahkan kenal dengan Dokter Hideshiro, pahlawan Kerajaan yang sama seperti ayahku. Seandainya aku juga bisa menguasai Qi Conqueror sepertimu.."


"Apa kau ingin aku mengajarimu agar bisa menguasai Qi Conqueror?" tanya Akizumi menduga-duga.


"Benarkah??? Apakah boleh???"


"Tidak. Melatih seseorang itu akan sangat merepotkan."


"Ahh!! Kau pelit, Akizumi!!"


"Diam!"


Akizumi dan Hikari berjalan memasuki gerbang Academy setelah cukup lama berbincang dan berdebat dari saat keluar kereta hingga sampai di Academy. Sementara itu, dari belakang Akizumi dan Hikari yang terpaut 20 meter, terlihat Nagisa yang berdiri melihat mereka berdua berjalan secara bersamaan.


"Sepertinya Akizumi cukup dekat dengan perempuan itu.." Nagisa berjalan menuju gerbang masuk Academy sembari menunduk.


Kembali kesisi Akizumi dan Hikari yang sudah memasuki halaman Academy. Terlihat cukup ramai murid-murid yang berkumpul untuk sudut halaman untuk melihat sesuatu.


"Akizumi, lihat disana. Sepertinya ada tontonan menarik disana.."


"Yeah, aku sama sekali tidak peduli. Aku ingin segera masuk kelas dan tidur sebentar.."


"Hikari!!!" Keiko datang dari gerombolan murid-murid yang berkumpul di sudut halaman, "Ada berita penting, Hikari!!"


"Ada apa, Keiko? Apa yang terjadi disana? Sepertinya ada hal yang menarik disana.." ucap Hikari.


"Mio! Dia ditembak murid kelas B! Ahh!! Dia begitu populer dikalangan anak kelas satu! Selain itu, Nanako juga mendapatkan surat cinta dari seseorang! Aku melihat seperti cerita romance secara real live!!" ucap Keiko dengan cukup bersemangat ketika membahas tentang masalah percintaan.


"Aku pergi dulu, Hikari. Aku tidak tertarik mendengarkan masalah percintaan orang lain." ucap Akizumi.


"Huuu!! Wajar saja pria jones menyebalkan sepertimu tidak ada cewek yang mendekatimu.." ejek Keiko sembari menjulurkan lidahnya ke arah Akizumi.


"Jo-jones katamu?!"


Disaat yang bersamaan, Nagisa berjalan melewati Akizumi, Hikari, dan Keiko yang sedang berbincang-bincang masalah percintaan. Nagisa berjalan menunduk menuju ke gedung ketiga.


Keiko masih penasaran dengan Mio, apakah Mio menolak atau menerima ajakan untuk menjadi pacar anak kelas 1B, oleh karena itu, Keiko menarik tangan Hikari dan mengajak untuk melihat ke keramaian para murid tersebut untuk melihat jawaban Mio.


Sementara itu, Akizumi yang cukup risih dengan Keiko karena terlalu bersemangat membahas percintaan pun menaikkan salah satu alisnya. Akizumi sedikit merasa heran..


"Apa menariknya ikut campur masalah percintaan orang lain, dasar.."


Akizumi berjalan menuju ke gedung ketiga. Kemudian, Akizumi memasuki gedung ketiga dan menuju ke loker miliknya untuk mengambil buku tulis dan alat tulisnya yang selalu ia tinggalkan di loker Academy. Kesimpulannya, Akizumi pergi ke Academy hanya modal membawa tas tanpa ada isinya.


"Kenapa tasku tidak aku taruh di dalam loker saja, ya. Jadi aku tidak perlu membawa tas sepulang dari Academy." Tiba-tiba saja Akizumi kepikiran untuk meninggalkan tasnya di loker Academy.


Ketika Akizumi sedang berjalan menuju tangga, tiba-tiba saja ia melihat Nagisa yang dicegat oleh 3 murid laki-laki dari kelas 1B. Akizumi mencoba mengamatinya dari jarak jauh.


"Hello, Nagisa-chan."


"Hehehe, kau anak dari kelas 1D, kan? Dilihat dari dekat kau terlihat begitu menawan.."


Steven Daniels, Jean Bradley, Drake Baxter, mereka bertiga juga salah satu berandalan yang terkenal di Academy, khususnya untuk kelas 1. Mereka bertiga adalah anak dari orang kaya yang mempunyai perusahaan besar di Kerajaan Euthoria.


Karena orang tua dari mereka bertiga adalah orang paling berpengaruh di Kerajaan, banyak dari sebagian murid kelas 1 yang enggan berurusan dengan Steven, Jean, dan Drake. Meskipun mereka bertiga melanggar hukum atau melakukan hal yang tak bermoral sekalipun, itu bukan masalah bagi mereka.


Mereka bertiga bisa menyuruh orang tuanya untuk membeli hukum di Academy ini agar mereka tidak ditetapkan bersalah dalam suatu kasus. Oleh karena itu, Steven, Jean, dan Drake, bebas melakukan apa saja di Academy.


"Kalian bertiga minggirlah." ucap Nagisa. Ia menyuruh Steven, Jean, dan Drake untuk menyingkir dari hadapannya.


"Kalau kami tidak mau, bagaimana?" tanya Jean dengan cengengesan.


Drake dan Steven berjalan dan berdiri disamping Nagisa lalu mencoba untuk merangkulnya, namun Nagisa dengan cepat langsung menepis tangan Drake dan Steven. Kemudian Nagisa mundur beberapa langkah kebelakang.


"Oey-oey! Kau berani menepis tanganku yang mencoba untuk merangkulmu?! Kau berani?!" tanya Drake dengan nada keras.


"Wah ada yang menantang nih? Gak ngaca kah? Padahal kau punya mata cacat, kau punya warna mata yang berbeda. Mata yang tidak normal.." ucap Steven.


"Diam!" Mendengat kata-kata jahat yang diucapkan dari mulut Steven, ini membuat Nagisa merasa kesal dan merasa ingin menangis setelah disebut 'cacat' oleh Steven.


"Wah-wah, kau berani membentak, ya? Kau tidak tahu siapa orang tua kami? Kami bertiga ini anak dari orang kaya. Kami bisa membeli apapun dengan mudah.." ucap Jean.


"Oey, Jean. Mumpung lagi sepi nih.." ucap Drake dengan senyum jahatnya.


Jean mengambil segebok uang dari dalam saku celananya lalu menunjukkannya kepada Nagisa, "Nagisa, bagaimana kalau aku membayarmu dengan uang yang sangat banyak ini, jadi nanti tugasmu hanya memuaskan hasrat kami, bagaimana? Kita bermain diatap, saat murid-murid sedang belajar.."


"Kau bodoh atau bagaimana?! Tentu saja aku menolaknya! Kalian ini sangat bejat.." ucap Nagisa dengan nada kesal, ia gemetaran, bahkan kedua matanya sudah berkaca-kaca namun masih menahan untuk tidak menangis.


"Oey, kau yakin menolak uang sebanyak ini? Satu perempuan memuaskan hasrat tiga pria itu bukan hal yang buruk. Tenang saja, kita pasti akan memakai pengaman huehehe.." ucap Steven dengan senyuman mesum nya.


"Tidak! Kalau kalian tidak segera menyingkir, aku akan-" ucap Nagisa.


"Akan apa?! Sudah, kita paksa saja dia!" ucap Jean.


Tanpa basa-basi, Jean pun langsung menarik tangan Nagisa, namun Nagisa memberontak. Akan tetapi, Steven dan Drake juga ikut menyeret Nagisa. Lalu, disaat yang bersamaan, Akizumi datang dan berkata,


"Lepaskan Nagisa."


Mendengar Akizumi yang datang, sontak membuat Nagisa sedikit terkejut dan menoleh ke arah Akizumi dengan raut wajah yang ketakutan. Nagisa perlahan meneteskan air matanya.


Melihat kedatangan Akizumi, Steven, Jean, dan Drake melepaskan tangan Nagisa, lalu berjalan mendekat ke arah Akizumi.


"Wow, ada pahlawan kah?" tanya Jean yang nyengir cengengesan.


"Apa kau ingin berurusan dengan kami? Kami bertiga ini anak dari orang kaya loh, kami bisa membeli hukum dan membuat kami tak bersalah loh.." ucap Steven.


"Aku sarankan padamu, lupakan masalah ini, biarkan kami membawa Nagisa. Ini juga demi keselamatanmu juga." ucap Drake.


Akizumi berjalan lebih dekat ke arah Jean, Steven, dan Drake. Akizumi memasang tatapan tajamnya yang khas. Akizumi mengepalkan tangan kanannya.


"Hah? Kau mau apa?" tanya Jean dengan wajah songongnya.


"Buaghhhh!!!"


"Bruakkk!!!"


Akizumi memukul kepala Jean ke arah bawah dengan kuat hingga kepala Jean membentur lantai dengan cukup keras.


"Aku tidak peduli kau berasal dari keluarga kaya atau bukan, tapi kau dan kedua teman bodohmu ini membuat Nagisa ketakutan.." ucap Akizumi dengan nada dingin, "Kelakuan tak bermoral kalian itu lebih buruk dari yang terburuk!!"


Nagisa terkejut dengan menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia benar-benar tak menyangka Akizumi memukul Jean hingga pingsan.


B E R S A M B U N G