
...Ujian bertahan hidup hari kedua....
Rumor tentang seorang murid kelas satu yang bertarung dengan Shibayanagi Ryuma diatas atap gedung ketiga ternyata sudah menyebar di seluruh Academy, termasuk di kalangan murid kelas satu.
Kala itu yang hanya mengetahui pertarungan antara Akizumi dan Ryuma yang berada diatas atap hanyalah Hikari, Keiko, Eisei, Reina, Ushijima, Tatsuya, Dokter Hideshiro, dan pihak sekolah. Pertarungan yang cukup membuat heboh satu Academy.
Semua murid kelas satu cukup penasaran siapa sosok yang melawan Ryuma diatas atap, namun pihak Academy memilih untuk bungkam. Dan kini, Roussel telah mengetahui sesuatu yang penting, bahwa sosok murid kelas satu yang berhadapan diatap gedung ketiga Academy adalah Akizumi.
"Akizumi, dari kelas A? Ternyata oh ternyata. Tidak pernah aku duga. Kelas A mempunyai sosok yang kuat sepertimu, selain Tatsuya. Dan yang paling menarik adalah kau bertarung dengan Ryuma-senpai, nyalimu cukup besar, ya.." ucap Roussel.
Akizumi masih menahan tangan Roussel, "Ya, aku yang melawan Ryuma-senpai, tapi itu tidak ada hubungannya denganmu. Dan jangan alihkan pembicaraan ke arah lain!" Akizumi menendang tubuh Roussel.
Roussel menyilangkan kedua tangannya untuk menahan tendangan Akizumi. Meski begitu, Roussel masih tetep sedikit terpental dua meter kebelakang.
Akizumi melirik ke arah Hikari. Akizumi merasa hanya kali ini ia melihat sosok Hikari yang cukup ceria dan suka ikut campur urusannya berada dalam keadaan sedikit menyedihkan.
"Hikari, jangan pedulikan tentang ucapannya. Ayahmu tidak akan pernah beranggapan seperti itu.." ucap Akizumi.
Hikari tidak menjawab apa yang dikatakan Akizumi. Hikari yang masih terduduk di tanah hanya diam menunduk sambil merenung.
"Sialan. Apa kau tidak merasa jahat setelah apa yang kau katakan pada seorang gadis sepertinya? Hikari memang suka ikut campur urusan orang lain, tapi dia adalah sosok baik yang pernah kutemui walau baru mengenalnya." ucap Akizumi.
"Apa aku salah mengatakan fakta bahwa dia adalah perempuan payah yang hanya berlindung dibalik nama besar ayahnya?" tanya Roussel tersenyum tipis.
"Hikari tidak payah. Aku yakin suatu saat dia akan menjadi seorang pengguna pedang terbaik di Kerajaan. Hikari memiliki potensi yang sangat besar, bahkan dia bisa menciptakan teknik pedang originalnya sendiri." ucap Akizumi.
"Pengguna pedang terhebat di Kerajaan? Jangan bermimpi. Meskipun dia bisa menciptakan teknik pedang originalnya sendiri, sekali payah tetaplah payah.." ucap Roussel.
"Kau yang hanya beruntung bisa mendapat kekuatan spesial yang kuat dari lahir tidak pantas mengatakan kata-kata seperti itu. Kau yang terlahir dengan dibekali oleh keberuntungan tidak berhak mengatakan sesuatu yang buruk kepada mereka yang telah berjuang dari nol." ucap Akizumi dengan tegas.
Roussel sedikit tertampar oleh ucapan Akizumi. Namun, ia juga merasa kesal pada Akizumi karena sok menceramahinya. Lalu, Roussel pun tersenyum tipis sembari mengatur irama nafasnya kembali untuk mengontrol emosinya.
"Terlahir dengan kekuatan spesial yang kuat, ya? Aku cukup beruntung, ya? Boleh juga kata-katamu.." ucap Roussel.
Akizumi masih menatap sinis Roussel.
Sementara itu, Roussel berjalan melewati Akizumi dan Hikari begitu saja. Roussel juga memutuskan untuk mundur dan tidak melanjutkan pertarungan.
Roussel berdiri di dekat Akizumi, "Semoga kau beruntung di ujian pertama ini, Akizumi. Aku berharap kau lolos di ujian kedua. Aku sangat berharap menghancurkanmu dihadapan banyak orang.." ucapnya.
"Tentu saja aku yang akan menghancurkanmu di ujian kedua, jadi tunggulah aku.." ucap Akizumi.
"Tcih! Terserah saja. Bye-bye.. kita lanjutkan masalah ini kapan-kapan. Namaku Roussel Von Sebastian, ingat nama itu baik-baik. Itu adalah nama dari orang yang akan menghancurkanmu nanti.." ucap Roussel. Ia pun bergegas pergi dari lokasi dengan wajah kesal.
Beberapa saat kemudian..
Akizumi berdiri dihadapan Hikari yang masih terduduk menunduk sambil merenung. Akizumi mengulurkan tangannya, "Maafkan aku karena terlambat, Hikari. Bisakah kau berdiri?"
Hikari menatap ke arah Akizumi, ia mengangguk pelan lalu meraih uluran tangan Akizumi dan mencoba untuk berdiri.
"Kata-katanya memang jahat. Tapi tidak perlu kau pikirkan terlalu lama, itu hanya akan merugikanmu. Cukup buktikanlah bahwa dirimu adalah bukan seperti yang apa dia katakan. Buktikan kepadanya bahwa kau adalah sosok yang kuat sama seperti Ayahmu. Aku yakin kau mempunyai potensi yang luar biasa di masa depan.." ucap Akizumi.
"Terimakasih, Akizumi." Hikari mengusap air matanya.
Tak berselang lama setelah itu, Dokter Kerajaan datang ke lokasi dengan gerbang teleportasi untuk membawa Yuji, Ninsei, Sugimoto, Mei, Niichi, dan Frank ke Basecamp Area. Kini Tim Hikari yang tersisa dirinya seorang.
"Tapi kata-katanya ada benarnya juga, aku hanya perempuan payah yang hanya berlindung dibalik nama besar Ayahku saja." ucap Hikari sambil menunduk.
Melihat Hikari yang masih merasa putus asa, Akizumi pun langsung memegang kedua pundak Hikari. Akizumi berkata dengan lantang, "Hikari, kau masih bisa menjadi lebih kuat dari yang sekarang! Tetaplah bersemangat! Kau pasti bisa menjadi kuat seperti Ayahmu!"
"B-benarkah?"
"Benarkah?! Kau tidak bohong kan?!" Ekspresi Hikari yang awalnya putus asa kini pun moodnya berubah begitu cepat menjadi bersemangat kembali.
"Tapi ada syaratnya.." ucap Akizumi.
"Apa syaratnya?"
"Kau juga harus mengajariku cara menggunakan pedang, bagaimana? Apa kau setuju?" tanya Akizumi.
"Deal!"
"Baiklah, kita sudah sepakat untuk membantu sama lain agar menjadi lebih kuat dari yang sekarang." ucap Akizumi tersenyum lebar.
Lagi-lagi mood Hikari kembali berubah menjadi sedih ketika Niichi, Frank, dan Mei telah gugur dalam ujian yang pertama ini, "Aku jadi merasa bersalah karena mereka bertiga telah gugur dalam ujian yang pertama."
"Sudahlah, ayo ikut aku, Hikari. Hiroki, Evelyn, dan Shiori pasti sedang menunggu."
Hikari yang sudah kehilangan ketiga anggota nya pun kini ikut bergabung bersama Akizumi dan saat ini mereka berdua sedang berjalan menuju ke rumah pohon yang jaraknya lumayan cukup jauh. Selama perjalanan, mereka tidak begitu mulus, ada beberapa monster yang sudah mencegatnya.
Namun, Akizumi dan Hikari berhasil mengalahkan monster-monster itu dengan mudah. Hingga kurang lebih 20 menit berlalu, akhirnya Akizumi dan Hikari telah sampai di lokasi rumah pohon.
Hikari sedikit terpukau karena Akizumi bisa membuat rumah pohon yang cukup bagus di Hutan Angleleaf, "K-kau yang membuat rumah pohon itu sendirian?!"
"Tentu saja!" jawab Akizumi dengan bangga.
Sekilas terlihat beberapa jasad dari seekor rusa yang tergeletak dibawah pohon di dekat rumah pohon. Beberapa saat kemudian, Hiroki datang sembari membawa satu jasad seekor rusa kembali lalu meletakkan di tumpukan jasad rusa yang lainnya.
"Akizumi, kau ini lama sekali." ucap Hiroki.
"Maafkan aku, ada sedikit masalah tadi." ucap Akizumi.
Hiroki melihat Hikari yang datang bersama Akizumi. Hiroki bertanya-tanya kenapa Hikari tidak datang bersama anggota timnya.
"Oey, Hikari. Kenapa kau sendirian? Kemana Mei, Niichi, dan Frank?" tanya Hiroki.
"Mereka sudah gugur dalam ujian.." jawab Hikari.
"Apa?!! Siapa yang berani-berani mengalahkan Frank dan Niichi?!! Mereka adalah anak buah kebanggaanku!!" teriak Hiroki dengan nada kesal.
Sementara itu diatas pohon. Terlihat Shiori dan Evelyn yang baru saja keluar dari rumah pohon, lalu mereka berdua melihat Hikari yang datang bersama Akizumi memutuskan untuk menyapanya.
"Hikari!"
"Hikari, kemarilah!"
"Ya!!" Hikari tersenyum.
"Baiklah. Hiroki, ayo kita segera melakukan sesuatu pada jasad rusa-rusa ini sebelum malam tiba. Memang kita masih punya makanan lain, tapi kapan lagi kita bisa makan sate rusa kalau tidak disini.." ucap Akizumi.
"Sialan kau, Akizumi. Yang ada dipikiranmu cuma pesta, pesta, dan pesta. Pikirkanlah tentang nasib tim ini woi! Hari ini kita masih menambah sedikit point, sialan!!" ucap Hiroki dengan nada tinggi.
"Lagipula ini kan masih hari kedua. Kita tidak perlu tergesa-gesa untuk mendapatkan banyak point." ucap Akizumi.
"Kau niat atau tidak sih dalam ujian kali ini, hadeh.." ucap Hiroki sembari menepuk jidatnya.
"Daripada kita mencari keberadaan tim lain, kenapa tidak kita saja yang menunggu kedatangan mereka? Lagipula sate rusa ini sepertinya cukup enak.." ucap Akizumi.
"Woi, aku sedang tidak membicarakan sate rusa!!" teriak Hiroki.
B E R S A M B U N G