
Ryuma, Reina, Eisei, dan Akizumi duduk di sofa yang melingkar dengan ditengah-tengah nya terdapat meja bundar yang diatas meja itu terdapat minuman mahal. Karena saking mahalnya, Akizumi merasa sedikit ragu untuk meminumnya.
"Tournament antar negara. Tournament yang diadakan setiap dua tahun sekali ini adalah Tournament yang cukup bergengsi di kalangan para petarung, ksatria, bahkan militer. Orang-orang kuat dari kelima negara aliansi akan berkumpul di panggung arena untuk mendapatkan hadiah uang serta title." ucap Ryuma.
"Aku baru tahu hal ini. Bahkan aku sama sekali tidak mengerti apapun tentang Tournament ini. Apa kau bisa menjelaskan secara detail tentang Tournament ini, Ryuma-senpai??" tanya Akizumi.
"Five Nations Alliance Tournament..."
Five Nations Alliance Tournament adalah turnamen dari persatuan 5 negara aliansi yang diadakan setiap 2 tahun sekali. Tournament ini telah diadakan sejak 6 tahun lalu, dimana kelima negara mulai membentuk sebuah lembaga organisasi yang bertujuan untuk saling membantu bila kelompok negara-negara barat menyerang.
Lembaga organisasi itu bernama The United Organization of the Five Nations Alliance ( UOFA ). Anggota UOFA berisi 5 negara yaitu Republik New Fielderent, Kerajaan Rivermist, Kerajaan Euthoria, Federation Thireviel, dan Kerajaan Legesh. Kerjasama militer dari kelima negara tetangga untuk memperkuat serta melindungi wilayah dari serangan negara barat, salah satunya Republik Silvershine.
Lalu, dari hasil kerjasama dari kelima Negara tersebut agar menciptakan para petarung hebat, maka setiap 2 tahun sekali akan diadakan Tournament dengan hadiah 10 juta Gald serta para pemenang akan diberi sebuah sebuah gelar istimewa. Untuk tuan rumah Tournament kali ini akan diadakan di Republik New Fielderent.
Tournament ini adalah Tournament bertarung bersama tim. Setiap tim wajib beranggota 5 orang. Hanya 1 tim terbaik yang bisa mewakili setiap Negara, dan itu pun mereka harus melewati kualifikasi dengan bertarung melawan ratusan pendaftar.
"Begitulah tentang Tournament Five Nations Alliance. Tahun ini kami berniat untuk menjadi pemenangnya, itu karena tahun ini adalah tahun terakhir kami bertiga di Academy, dan setelah itu.. aku, Reina, dan Eisei sudah punya rencana, jadi kami bertiga tidak bisa bersama lagi.." ucap Ryuma.
"Tahun terakhir, ya?"
"Setelah lulus aku pergi mengelana untuk mencari monster-monster kuat di seluruh dunia. Karena kekuatanku adalah Summoner, jadi menaklukkan monster kuat dan menjadikan senjataku adalah tujuan utamaku. Aku berniat untuk keluar dari zona nyaman agar menjadi yang terkuat. Jadi Akizumi, jangan menjadi beban tim.." ucap Eisei.
"B-beban tim?!" Akizumi merasa seperti sedang mendapat ancaman batin.
"Jangan terlalu dipikirkan ucapan Eisei. Dia ini memang maniak monster. Wajar saja dia mempunyai tujuan yang gila.." ucap Ryuma.
"Setelah lulus aku akan pensiun dari dunia yang dipenuhi dengan pertarungan, aku berniat menjadi seorang model dan menjadi wanita tercantik di dunia.." ucap Reina.
"Wehhh... Model, ya? Tak kusangka perempuan kuat sepertimu bercita-cita ingin seorang model, Senpai.." Setelah itu, Akizumi menoleh ke arah Ryuma dan bertanya tentang tujuannya setelah lulus dari Academy, "Lalu kau, Senpai?"
"Aku tidak bisa mengatakan tujuanku. Itu adalah sesuatu yang sangat besar. Suatu saat kau pasti akan mengerti sendiri, Akizumi.." Ryuma tersenyum lebar sembari menjulurkan lidah panjangnya.
"Oey, Senpai. Kau benar-benar seperti Yokai."
"Anggap saja aku ini adalah Yokai."
"Kualifikasi akan diadakan dua bulan lagi. Lalu untuk Tournament nya itu sendiri akan diadakan satu bulan kemudian. Jadi kita semua punya waktu tiga bulan untuk berlatih dan menjadi kuat." ucap Reina sembari meneguk minuman anggur yang sangat malah.
"Benar. Aku merasa kita akan melawan sosok yang kuat nanti, salah satu orang yang mempunyai kekuatan dari empat belas Titania, dia bernama Gilbert Syneijder, dari Kerajaan Rivermist." ucap Ryuma, tiba-tiba saja ia memasang raut wajah serius.
"Titania?" gumam Akizumi, "Melawan orang yang mempunyai kekuatan Titania seperti Aniki." batin Akizumi.
"Seandainya di Kerajaan ini ada seseorang yang mempunyai kekuatan Titania, kita pasti punya kesempatan besar untuk menjadi juara. Tapi sayang sekali, Einingger Izuyama, satu-satunya orang yang mempunyai kekuatan Titania harus tewas dalam tragedi delapan tahun saat Republik Silvershine menyerang. Republik Silvershine sialan.." ucap Eisei.
"Tragedi di Kota Callbourn, ya. Padahal setelah tragedi itu Kota Callbourn masih hidup, tapi entah kenapa tiba-tiba saja Kota Callbourn menjadi kota mati. Bahkan Pemerintah bungkam akan hal itu dan tidak mengatakan apa-apa.." ucap Reina.
"Sepertinya ada sesuatu yang terjadi di Kota Callbourn setelah itu hingga membuat kota itu menjadi kota mati.." ucap Ryuma.
"Seolah-olah Pemerintah telah merahasiakan sesuatu dan menutup-nutupi hal itu kepada publik.." ucap Eisei.
Mendengar pembicaraan tentang Kota Callbourn dari Ryuma, Reina, dan Eisei, tiba-tiba raut wajah Akizumi berubah menjadi sedikit serius dan murung. Setelah itu, ia berdiri dari sofa dan berpamitan untuk pergi dari ruangan klub.
"Baiklah, Senpai. Aku harus pergi dulu karena suatu urusan."
"Baiklah, Akizumi. Sampai jumpa besok. Kita akan mengikuti kualifikasi dua bulan lagi!! Jadilah yang terkuat, Akizumi!!!" teriak Ryuma dengan bersemangat.
Pintu rahasia otomatis terbuka. Akizumi berjalan keluar dari ruangan rahasia dan perpustakaan. Hingga beberapa saat kemudian, Akizumi pun sudah keluar dari gedung pertama.
Setelah itu Akizumi berhenti dari jalannya, kemudian menghadap ke atas langit yang cerah.
"Kota Callbourn, ya."
"Wajar saja publik tidak tahu tragedi itu. Ternyata Pemerintah yang menyembunyikan Tragedi itu dari publik, ya. Mungkin hanya sebagian orang saja yang mengetahui Tragedi itu."
Akizumi melanjutkan jalannya keluar dari gerbang sembari memasukkan kedua telapak tangannya kedalam saku celananya. Akizumi menunduk murung.
"Risa.."
Ketika Akizumi berjalan dengan raut wajah murung, tiba-tiba saja seorang perempuan berambut panjang berwarna putih berlari sembari membawa tumpukan buku tepat dibelakang Akizumi. Karena jarak pandang yang terhalang tumpukan buku, perempuan berambut putih itu pun menabrak Akizumi hingga membuatnya terjatuh dalam posisi terduduk serta buku-buku yang ia bawa berserakan dijalanan.
"Aduh!!"
"Eh?"
Akizumi menoleh ke arah perempuan berambut putih tersebut yang tengah jatuh karena menabraknya.
"Ma-maafkan aku karena telah menabrakmu! Aku tidak bisa melihat jalan didepan karena membawa banyak tumpukan buku!! Sekali lagi, maafkan aku!!"
Akizumi mengulurkan tangan ke arah perempuan berambut putih yang masih dalam posisi terduduk di jalan, "Bisa berdiri?"
Perempuan berambut putih itu tidak berkata apa-apa bahkan tidak menanggapi uluran tangan Akizumi. Ia hanya memandangi Akizumi dengan waktu yang cukup lama.
"Ada yang salah denganku? Apa kau baik-baik saja?"
B E R S A M B U N G