Heavenly Titania

Heavenly Titania
Chapter 7 - Ambisi.



Sebagai ketua kelas, Nanako langsung memberi perintah kepada Hiroki untuk membawa Frank, Niichi, dan Manabu ke UKS untuk diberikan perawatan. Sementara itu terlihat Shiori yang mengintip suasana kelas dari bawah meja.


"Keluarlah, Shiori. Konflik mereka sudah berakhir. Hebat, Akizumi! Dia menghajar Frank, Niichi, dan Manabu hingga pingsan.." ucap Mei.


"Benarkah?"


Shiori pun keluar dari bawah meja dan berdiri sembari melihat kondisi kelas. Shiori menghembuskan nafas panjangnya, dia merasa lega karena konflik di kelas sudah berakhir.


Beberapa saat kemudian, Hikari berjalan keluar dari kelas dengan tergesa-gesa. Keiko yang masih mengamati Hikari pun semakin menaruh rasa curiga terhadapnya, "Sebaiknya aku ikuti Hikari dari belakang. Mungkin aku akan menemukan sesuatu yang menarik.." batin Keiko.


Keiko pun berjalan keluar kelas secara diam-diam diikuti dengan Mio yang berjalan dibelakangnya. Disisi lain, Julian masih terlihat tenang dibangkunya sembari membaca sebuah buku novel. Lalu, Evelyn dan Helena memutuskan untuk pergi menuju ke perpustakaan.


Lalu, Tatsuya juga bergegas meninggalkan kelasnya, dia menuju ke suatu tempat.


Kini dikelas hanya tersisa 4 orang. Julian yang masih tenang di bangkunya sembari membaca sebuah novel. Nanako yang sedang menjalankan tugasnya sebagai ketua kelas yaitu mencatat absen kehadiran murid kelas 1A. Sementara Mei dan Shiori saling mengobrol satu sama lain, entah mereka mengobrol tentang apa.


...****************...


Sementara itu di lantai 2. Tampaknya di lantai 2 ada sesuatu yang membuat menarik perhatian murid-murid kelas 1. Banyak dari murid kelas 1 yang berkumpul di lantai 2, dan dari ekspresi raut wajah mereka yang seolah-olah terkagum-kagum akan sesuatu hal yang sangat hebat.


"M-mereka bertiga kan?!


"Benar. Mereka bertiga adalah murid Academy kelas tiga. Mereka juga dijuluki sebagai Big Three karena mereka adalah tiga murid terkuat di Academy."


"Oi-oi! Kenapa murid kelas tiga ada gedung ketiga?!"


Murid-murid yang berada di lantai 2 merasakan aura dari ketiga orang ini yang begitu kuat, bahkan murid-murid kelas 1 sampai berkeringat ketika merasakan aura dari ketika sosok ini. Mereka adalah Shibayanagi Ryuma, Matsuzaki Reina, dan Kinoshita Eisei.


"Walah. Mereka terlihat begitu menyeramkan."


"Ada urusan apa mereka datang ke gedung tiga?!"


Ryuma, Reina, dan Eisei berhenti dari jalannya tepat ditengah keramaian murid kelas 1 yang berkumpul melihat kedatangan mereka bertiga. Ryuma berjalan menghampiri salah satu murid perempuan untuk menanyakan sesuatu.


"Yo. Apa kau tahu kelas dari anak yang bernama Akizumi?"


"A-a-aku t-tidak tahu.." Murid perempuan itu menjawab pertanyaan Ryuma dengan penuh ketakutan.


"Walah. Tidak tahu, ya? Baiklah. Aku akan mencarinya sendiri. Bye-bye.."


Ryuma, Reina, dan Eisei kembali melanjutkan jalannya. Mereka bergegas naik ke lantai 3 untuk mencari keberadaan Akizumi.


Sementara itu disisi lain. Di atap gedung dengan suasana yang sangat sepi. Bahkan murid-murid lainnya tidak ada sama sekali yang naik ke atap gedung Academy. Terlihat Akizumi yang tiduran di sudut atap gedung Academy dengan bantal empuk miliknya.


"Ah, sangat nyaman sekali. Sepi. Sendiri. Penuh dengan kesendirian-"


"Akizumi!"


Ketika Akizumi sudah berekspektasi bahwa dirinya akan bisa tidur dengan nyenyak, tiba-tiba saja Hikari datang ke atap gedung Academy untuk menemuinya.


"Astaga.. Siapapun juga, kumohon sehari saja biarkan aku tidur dengan nyenyak.." Akizumi bangun dari tidurnya lalu duduk bersandar di tembok pembatas, "Ada apa, Hikari?"


"Kenapa kau bisa menguasai Qi Conqueror? Siapa sebenarnya dirimu, Akizumi?"


Akizumi beranjak berdiri. Ia mengikis lengan panjang seragamnya sampai ke siku lalu menunjukkannya kepada Hikari. Setelah itu Hikari sungguh terkejut karena ia melihat banyak luka dan sayatan di kedua tangan Akizumi.


"Untuk menjadi yang terkuat, Hikari. Aku membutuhkan waktu tujuh tahun untuk menuju ke titik ini. Dan aku merasa bahwa diriku ini belum sepenuhnya menjadi kuat."


"Kenapa kau bisa mengatakan bahwa dirimu ini tidak kuat? Mungkin hanya kau disini yang bisa menguasai Qi Conqueror seperti itu-"


"Tapi tidak untuk yang terkuat di dunia. Masih banyak orang-orang yang lebih kuat di dunia luar sana, Hikari. Apa kau ingat koran yang aku baca waktu berangkat ke Academy?"


"Y-ya.."


"Shunyuan Eaglesword. Salah satu kriminal terkuat di dunia. Lalu.. Apa kau tahu tentang empat belas Titania?"


"Aku tahu. Aku pernah mendengarnya dari Ayahku.."


"Aku tidak tahu suatu saat salah satu diantara mereka akan menjadi teman atau musuh. Tapi hanya dengan bermodalkan kekuatan spesial dari Gen manusia itu tidaklah cukup."


"Lalu sekarang, apa ambisimu, Akizumi?"


"M-menghancurkan Republik Silvershine?"


"Ya. Aku punya tanggung jawab besar yang harus kuselesaikan, Hikari. Dan sepertinya ceritaku sudah cukup sampai disini saja, Hikari. Karena ada seseorang yang menguping pembicaraan kita saat ini.."


"A-apa? Menguping? Siapa?"


Setelah itu Keiko datang dari tangga lalu berjalan menghampiri Akizumi dan Hikari. Keiko tersenyum lebar seolah-olah dirinya tidak bersalah.


"Kau hebat, Akizumi. Kau hebat bisa mengetahui hawa keberadaanku.."


"Teman sekelas, ya?"


"Namaku Ashikawa Keiko. Salam kenal, Akizumi.. huehehe."


"Ya."


"Tak kusangka Hikari dan Akizumi sudah saling mengenal satu sama lain ya. Kau curang, Hikari! Katanya kau belum mengenal Akizumi sama sekali.."


"M-maaf, Keiko. Sebenarnya aku sudah bertemu Akizumi kemarin. Aku memarahi nya agar masuk Academy hari ini. Kemarin dia bolos Academy, karena aku adalah anak dari seorang Pahlawan Kerajaan! Aku tidak akan mentolerir aksi bolos Academy!" ucap Hikari sembari menunjukkan wajah kesalnya kepada Akizumi.


Kemudian Keiko pun membisikkan sesuatu ke telinga Hikari, "Hoo.. Tak kusangka kau begitu perhatian dengan Akizumi, apa kau menyukainya, Hikari?"


"Tidak!!!" Hikari menjawab pertanyaan Keiko secara mentah-mentah. Perlahan pipi Hikari memerah karena malu.


"Huh? Apa yang kalian bicarakan? Kalian sedang membicarakanku, ya?" tanya Akizumi.


"Tidak. Aku sedang tidak membicarakanmu, Akizumi." ucap Ryuma.


"!!!!!"


Tiba-tiba saja Ryuma sudah berdiri tepat dibelakang Akizumi. Sontak hal tersebut membuat Akizumi sangat terkejut karena ia tidak bisa merasakan hawa kehadiran dari Ryuma. Lalu, dengan cepat Akizumi bergerak kesisi Hikari dan Keiko.


"D-dia kan Shibayanagi Ryuma!!!" ucap Keiko.


"Dia yang dijuluki sebagai Big Three Academy, ya?" tanya Hikari.


"Benar-"


Tak berselang lama kemudian, Reina dan Eisei datang dari tangga. Mereka berdua berjalan menghampiri Ryuma.


"Shibayanagi Ryuma. Matsuzaki Reina. Kinoshita Eisei. Mereka adalah Big Three. Mereka adalah murid kelas tiga sekaligus tiga murid terkuat di Academy ini.." ucap Keiko.


"Lalu a-ada urusan apa mereka datang kesini?!" Hikari masih kebingungan.


"Sepertinya.. tujuan mereka kesini adalah untuk mencariku." ucap Akizumi.


Akizumi mengeluarkan keringat dingin dari dahinya. Tubuhnya gemetar ketika melihat kehadiran tiga orang yang sangat kuat bagi dirinya. Akizumi bisa merasakan mereka kuat atau tidaknya dari aura yang dipancarkan oleh Ryuma, Eisei, dan Reina.


"Hikari, kau juga merasakan aura mereka, kan?"


"Ya.."


"Apa dengan kekuatanmu yang sekarang bisa untuk mengalahkan mereka?"


"K-kurasa tidak.."


"Itu benar. Kau harus terus berkembang agar bisa sekuat mereka, bahkan untuk mengalahkan mereka.."


"Akizumi. Bergabunglah dengan klub kami. Aku tidak ingin mendengar dirimu menjawab kata 'tidak' selain 'iya'."


Ryuma kembali mengajak Akizumi untuk bergabung dengan klub miliknya. Akan tetapi, Akizumi tersenyum menyeringai dan menatap tajam Ryuma.


"Bagaimana kalau aku menolaknya?"


"Tentu saja aku akan memaksamu untuk bergabung. Walaupun harus bertarung." ucap Ryuma.


B E R S A M B U N G