Heavenly Titania

Heavenly Titania
Chapter 33 - Kata-Kata.



...Ujian bertahan hidup hari kedua....


Sugimoto dan Ninsei pingsan dengan banyak luka di sekujur tubuhnya setelah terkena serangan Inferno Destroyer dari Niichi. Selain itu, efek yang ditimbulkan oleh serangan Niichi yaitu tumbangnya beberapa pohon yang berada disekitar lokasi pertarungan.


Kepulan asap tebal menyelimuti lokasi pertarungan. Hikari dan Mei sangat khawatir dengan kondisi Niichi setelah melesatkan serangan yang menimbulkan efek besar tersebut. Sementara itu, Yuji mulai merasa ada sedikit kekesalan di hatinya setelah melihat Niichi yang dibilang cukup berhasil membuat dirinya kerepotan.


Roussel yang masih mengamati diatas pohon dari kejauhan pun tersenyum lebar dengan lepas. Roussel melihat suatu pertarungan yang cukup menarik.


Kepulan asap perlahan mulai menghilang. Lalu terlihat sosok Niichi yang berdiri dengan postur tubuh sedikit membungkuk. Sekilas kedua kaki robot Niichi yang beberapa kali mengeluarkan percikan api layaknya sebuah mesin yang sedang konslet.


Niichi berjalan ke arah Yuji.


"Dua rekanmu sudah aku kalahkan. Sekarang giliranmu." ucap Niichi.


"Dasar bedebah yang memuakkan. Jangan terlalu sombong karena bisa mengalahkan dua temanku. Dengan kondisimu yang sangat buruk setelah melesatkan serangan terakhirmu itu, aku bisa dengan mudah mengalahkanmu.." ucap Yuji.


Yuji memasang posisi kuda-kuda bersiap untuk menyerang sembari memegang pedang katananya dengan kedua tangannya. Api pada pedang katananya semakin membesar dan berkobar-kobar, perlahan hawa di sekitar juga mulai panas.


"Hentikan, Niichi!" Mei berlari ke arah Niichi, ia memasang raut wajah panik, "Kalau kau memaksakan dirimu, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada kedua kakimu!" Mei sangat panik setelah melihat kondisi kaki robot Niichi yang mulai timbul munculnya konselting dan kerusakan.


Niichi tersenyum menyeringai bersemangat, "Kau tak perlu mengkhawatirkanku, Mei. Setelah aku berhasil mengalahkan orang ini, sisanya tergantung dengan kalian. Peranku tampaknya sudah sampai disini.." Gerigi mesin yang ada di betis Niichi mulai berputar kembali dengan sangat cepat.


Sementara itu Mei yang berlari untuk menghentikan Niichi pun tak sengaja terjatuh setelah tersandung batu seperti moment pada sinetron-sinetron yang suka terjatuh ketika moment yang tidak tepat.


Hikari hanya bisa menatap kosong dan tak tahu harus berbuat seperti apa.


Niichi meluncur ke arah Yuji dan berniat untuk melesatkan serangan terakhir. Namun..


"I Counterattacked The Enemy With The Fiery Sword.." ucap Yuji. Tiba-tiba saja Yuji bergerak dengan kecepatan tak terlihat dan sudah berdiri tepat dibelakang Niichi begitu saja, "Final Strike!"


"Kenapa dia tiba-tiba sudah berada dibelakangku?!" batin Niichi, ia terkejut dan tak menyadari pergerakan Yuji yang sudah berada dibelakangnya begitu saja.


Dan disaat yang bersamaan juga kobaran api muncul di dada Niichi hingga menembus ke punggung dengan membentuk menyilang.


"Aghhhh!!!!!" Niichi teriak meringis kesakitan setelah terkena serangan pedang api dari Yuji, "Brukkk!!!" Niichi yang tak bisa menahan rasa sakit pun ambruk dan pingsan.


Niichi gugur di ujian pertama.


Tak berselang lama kemudian, Hikari melompat ke arah Yuji dan mencoba untuk menyerang dengan kombinasi tebasan pedang dan kekuatan bunga mawarnya, "Hyaaa!!! Aku akan membunuhmu!!!"


Ini adalah pertama kalinya Hikari bertarung sangat serius dengan dibekali niat membunuh. Sorot matanya berubah begitu tajam setelah melihat kekalahan Niichi. Tatapan mata Hikari memperlihatkan seolah-olah dirinya telah dikuasai oleh kebencian.


"Rose Sword Technique: Black Rose!" Tebasan pedang dari Hikari disertai dengan serangan beberapa bunga mawar hitam yang tajam melesat ke arah Yuji.


Ketika Yuji hendak menangkis serangan dari Hikari, tiba-tiba saja sebuah api biru muncul dan melenyapkan serangan Hikari dalam sekejap. Melihat hal itu sontak membuat Hikari lagi-lagi dibuat tak percaya, bagaimana tidak serangan yang ia lesatkan itu berhasil dilenyapkan oleh api biru dalam sekejap.


Yuji merasa sangat panik dan gemetaran setelah melihat api biru yang baru saja muncul, "Oey-oey! Jangan bilang kalau dia ada disini?! Kenapa dia datang disaat yang tidak tepat!" Yuji mengamati sekitar.


"Api biru?!" Mei mencoba untuk bangun dan berdiri kembali.


Hikari juga mengamati sekitar. Dia juga merasa hawa kehadiran seseorang yang perlahan mulai mendekat, "Darimana munculnya api biru ini? Berani-beraninya kau menganggu pertarungan kami!"


Api biru muncul kembali di udara, diantara Yuji dan Hikari. Beberapa saat kemudian api biru itu perlahan membesar. Kemudian, muncullah seseorang dari dalam api biru yang besar tersebut.


"Pertarungan kalian sangatlah menarik sampai-sampai diriku tidak bisa berhenti terpukau. Tapi waktu kalian sudah habis.." ucap Roussel yang datang di tengah-tengah pertarungan.


• Roussel Von Sebastian.


Kekuatannya adalah Blue Fire atau Api Biru.


Roussel bisa menciptakan api biru dan memanipulasinya sesuai apa yang ia inginkan.


"R-Roussel?! Bagaimana bisa kau ada disini?!" tanya Yuji.


"Sudah cukup lama aku telah mengamati pertarungan kalian, Yuji. Tapi aku sudah tidak sabar untuk segera beraksi dan merebut dua ratus point dari dua tim." ucap Roussel yang tersenyum tipis menatap Yuji.


"Apa maksudmu?! Kau berniat melawanku juga?! Oey, tunggu dulu! Kita ini kan teman sekelas! Seharusnya kita bekerjasama untuk melawan tim dari kelas lain, kan?!" Yuji benar-benar sangat ketakutan setelah datangnya Roussel.


"Rekan sekelas, ya? Aku tidak peduli dengan kalian. Aku hanya berniat mencari point sebanyak-banyaknya agar lolos ke ujian kedua." ucap Roussel.


Roussel berjalan ke arah Yuji sembari menggelengkan kepalanya. Sementara Yuji yang berjalan mundur beberapa langkah kebelakang sembari bersiap melesatkan serangan teknik pedang apinya ke arah Roussel.


Ketika Yuji hendak menyerang Roussel, tiba-tiba Roussel menghilang dari pandangan Yuji begitu saja. Yuji terlihat kebingungan dengan keberadaan Roussel.


"Eh? Dimana dia?"


"Burn Falcon.." Dalam sekejap Roussel sudah berdiri langsung tepat dihadapan Yuji. Roussel menyentuh perut Yuji dengan telapak tangan kanannya. Setelah itu, api biru langsung membakar sekujur tubuh Yuji.


"Uaghhhh!!! Panas!!!" Api biru Roussel memang telah membakar Yuji, namun Roussel bisa mengatur agar Yuji tidak hangus karena api biru miliknya. Jadi, Yuji hanya merasakan rasa panas yang luar biasa tanpa ada efek yang berpengaruh pada kulit, layaknya api biasa pada umumnya.


Yuji masih teriak meringis kesakitan karena rasa panas dari api biru yang membakar sekujur tubuhnya, "Aku menyerah!!!" Setelah berteriak menyerah, Yuji pun pingsan dan ambruk di tanah, "Brukk!!"


Yuji gugur dari ujian pertama. Seratus point telah di konversi ke Tim Roussel.


Setelah berhasil mengalahkan Yuji dengan mudah, Roussel pun bergerak dan berdiri menghadap ke Hikari dan Mei.


"Hikari dan Mei dari kelas A. Kalian berdua sepertinya cukup hebat, terutama kau, Hikari, anak dari Pahlawan Kerajaan. Tapi sampai saat ini aku masih belum melihat dimana letak kehebatanmu, dasar payah!" ucap Roussel.


"A-aku payah? Tidak.." ucap Hikari. Kata-kata yang baru saja dilontarkan oleh Roussel sedikit membuat hati Hikari merasa tersakiti.


"Hikari adalah sosok yang hebat! Kau yang bukan siapa-siapa tak pantas untuk mengatakan hal yang sangat kejam begitu ke Hikari!!!" ucap Mei.


Mei menciptakan puluhan pisau di sekujur tubuhnya dan berniat untuk menyerang Roussel.


Roussel melapisi telapak tangan kanannya dengan api biru lalu bergerak cepat dan mencekik Mei, "Hei-hei.. kurasa aku salah, kelas A ternyata begitu lemah, ya? Bahkan yang terkenal kuat hanya sosok Tatsuya saja."


"Akh! L-lepaskan a-aku!" Mei memberontak dan mencoba melepaskan tangan Roussel yang mencekik lehernya.


Karena Mei sudah tidak bisa menahan rasa sakit dari cekikan Roussel, ia pun pingsan. Roussel langsung melemparkan Mei yang pingsan ke tanah, "Brukk!!"


"Mei!!!" teriak Hikari.


"Awalnya aku sedikit tertarik padamu, Hikari. Namun setelah melihat pertarungan yang cukup panjang itu, aku sedikit kecewa setelah tak menemukan kehebatan dalam dirimu. Aku benar-benar sangat kecewa, Hikari.." ucap Roussel, ia berjalan mendekat ke arah Hikari.


"A-aku tidak hebat?"


"Yeah, kau tidak hebat, kau hanya menumpang nama dari kehebatan ayahmu saja."


"Menumpang nama?"


"Iya, hanya numpang nama! Banyak murid lain yang takut kepadamu bukan karena kekuatan dirimu yang hebat, melainkan takut dengan sosok nama Pahlawan Frederick yang selalu menyertaimu, apa aku benar?"


"Bregg!!" Pedang Hikari terjatuh ke tanah setelah terlepas dari genggamannya. Hikari memasang raut wajah tatapan kosong. Kata-kata dari Roussel benar-benar sangat menusuk hatinya.


Hikari terjatuh dalam posisi terduduk, "T-tapi aku sudah berlatih keras, bahkan aku berlatih dengan pendekar pedang terbaik di Kerajaan, Danjurou.. tapi aku masih lemah.." Hikari melihat dirinya sendiri.


"Berlatih bersama pendekar pedang terbaik pun percuma kalau kau sangat payah, Hikari. Ayahmu dan guru yang melatihmu pasti sangat kecewa saat melihat sosokmu yang payah seperti ini.." ucap Roussel.


"Tidak! Itu tidak benar!" Hikari mulai meneteskan air mata. Kondisi hatinya kini begitu campur aduk antara rasa kesal, sedih, dan marah.


Kini Roussel sudah berdiri dihadapan Hikari. Roussel mengepalkan tangan kanannya, dan api biru yang ada di tangan kanannya berkobar-kobar semakin besar.


"Aku akan mengalahkanmu dan ini adalah akhir bagimu, Hikari. Kau bisa merenungkan hal ini di Basecamp Area.." ucap Roussel.


Roussel hendak melesatkan pukulan api biru ke Hikari dan menyelesaikan akhir dari pertarungan ini dengan cepat. Akan tetapi, Akizumi datang dan menahan tangan Roussel yang dilapisi api biru dengan tangan kanannya yang telah diselimuti oleh kilat petir hitam.


Roussel terkejut setelah melihat kedatangan Akizumi dan menahan tangannya yang telah dilapisi oleh api biru dengan mudah. Roussel juga dibuat lebih terkejut lagi setelah melihat kilat petir hitam yang mengalir di tangan Akizumi.


"Kilat petir hitam? Qi Conqueror, kah?" batin Roussel.


"Berani-beraninya kau mengatakan kata-kata jahat seperti itu kepada Hikari dan membuat dirinya menangis.." ucap Akizumi yang menatap sinis Roussel.


"Akizumi.." ucap Hikari.


"Siapa kau? Tunggu dulu. Jangan-jangan kaulah yang dulu bertarung dengan Ryuma-senpai diatas atap?" tanya Roussel.


"Ya! Namaku Akizumi, dari kelas A!"


B E R S A M B U N G