Heavenly Titania

Heavenly Titania
Chapter 21 - Menyalahgunakan.



Jean pingsan dengan kondisi kepalanya yang mengalami pendarahan setelah terbentur ke lantai dengan sangat keras karena 1 pukulan Akizumi yang cukup kuat.


Steven dan Drake terkejut. Mereka berdua benar-benar tak menyangka dengan apa yang Akizumi lakukan dengan membuat Jean pingsan.


"Kau memukul Jean hingga pingsan, itu berarti kau sudah membuang nyawamu sendiri." ucap Drake.


"Keputusan yang sungguh brutal dengan memukul Jean. Aku hanya bisa mengucapkan selamat tinggal kepadamu. Kau menganggu anak paling berpengaruh di Kerajaan, itu sama saja bunuh diri.." ucap Steven.


"Aku sama sekali tidak peduli, sialan." ucap Akizumi dengan menatap tajam Steven dan Drake.


"Seratus pembunuh bayaran pasti akan mengincarmu setelah ini. Tamatlah riwayatmu.." ucap Drake sembari tersenyum licik menyeringai.


Nagisa mendengar Drake yang mengatakan bahwa Akizumi akan diincar oleh seratus pembunuh bayaran, dengan cepat Nagisa berlari ke arah Akizumi lalu menariknya pergi menaiki tangga, "Ikutlah denganku.."


"Tunggu dulu, Nagisa. Aku masih ingin mendengarkan mereka-"


"Kau bodoh!"


Nagisa menarik Akizumi dan menaiki tangga menuju ke lantai 2. Ketika sudah berada di koridor lantai 2, Nagisa melepaskan tangan Akizumi. Nagisa berdiri dihadapan Akizumi sembari menangis.


"Kau bodoh, ya, Akizumi! Kenapa kau menolongku? Karena kau menolongku, kau akan diincar oleh seratus pembunuh bayaran.."


"Aku tidak peduli mereka mengirimku seratus pembunuh bayaran atau seribu pembunuh bayaran. Lagipula aku takkan mati semudah itu, jadi tak usah mengkhawatirkanku, Nagisa." ucap Akizumi, "Apa jadinya kalau aku tidak menolongmu, tak kusangka di Academy ini ada sampah seperti mereka, menyalahgunakan kekayaan dan status untuk berbuat hal yang tak bermoral.."


"Hiks.. hiks.. Kau bodoh, Akizumi." Nagisa menangis, "Tapi, aku berterima kasih kepadamu.."


"Lagipula aneh sekali mereka mengatakan bahwa kedua matamu itu cacat hanya karena berbeda warna. Padahal menurutku kedua matamu itu cukup indah saat pertama kali aku melihatnya pertama kali.."


"Be-benarkah itu, Akizumi?"


"Ya. Mereka saja yang bodoh mengatakan hal itu kepadamu."


"Terima kasih, Akizumi." ucap Nagisa yang memalingkan wajahnya karena malu setelah kedua matanya dipuji oleh Akizumi. Pipi Nagisa memerah, detak jantungnya kembali berdetup dengan kencang.


"Kelasmu ada di lantai tiga, kan? Ayo kita ke lantai tiga bersama." ucap Akizumi.


Nagisa mengangguk pelan.


Setelah itu, Akizumi dan Nagisa kembali berjalan di koridor lantai 2 dan menuju ke lantai 3. Setelah mereka berdua tiba di lantai 3, Nagisa pun langsung berpamitan kepada Akizumi untuk masuk kedalam kelas. Kelas Nagisa tepat berada di dekat tangga.


"Aku masuk ke kelas dulu ya, Akizumi."


"Ya, Nagisa. Katakan padaku lagi kalau mereka bertiga itu menganggumu. Aku akan menghajarnya untukmu.." ucap Akizumi.


"Baiklah. Tapi sebelum itu, aku ingin bertanya sesuatu padamu, Akizumi.."


"Bertanya padaku, tentang apa?"


"Siapa perempuan yang berangkat bersamamu tadi?"


"Oh itu Hikari. Dia teman sekelasku. Sebenarnya kami tidak berangkat bersama. Aku hanya tak sengaja berpapasan dengan dirinya di kereta. Memangnya kenapa?"


"Apa dia pacarmu?"


"Tidak. Dia selalu bertanya-tanya hal yang membuatku risih."


"Benarkah???" Tiba-tiba Nagisa memasang raut wajah yang bersemangat.


"Ya, benar.."


"Baiklah, sampai jumpa lagi, Akizumi!!" ucap Nagisa sembari tersenyum lebar, ia juga masuk kedalam kelasnya sembari melambai-lambai tangannya kepada Akizumi.


Setelah itu, Akizumi pun berjalan menuju kelasnya.


Nagisa masuk ke dalam kelasnya dengan air matanya yang masih membekas di pipinya. Kedua temannya yaitu Kamisaka Rin dan Himeko Hana langsung menghampiri Nagisa.


"Nagisa?? Kenapa kau menangis???" tanya Rin sembari memegang pundak Nagisa.


"Siapa yang membuatmu menangis, Nagisa? Aku akan menghajarnya!!!" ucap Hana. Ia begitu marah ketika melihat Nagisa dibuat menangis oleh seseorang.


"Tidak apa-apa. Tadi ada yang menganggu tapi untungnya Akizumi sudah datang untuk menyelamatkanku.." ucap Nagisa yang terlihat tersenyum bahagia.


"Akizumi? Murid pindahan dari kelas 1A itu ya?" tanya Hana.


"Benar.."


"Syukurlah Nagisa!!!" Rin langsung memeluk erat Nagisa.


Rin yang khawatir dengan Nagisa pun langsung memeluknya dengan erat. Lalu, Hana juga ikut memeluk Rin dan Nagisa. Mereka bertiga saling mengkhawatirkan satu sama lain karena Rin, Nagisa, dan Hana sudah bersahabat baik.


Rin dan Hana melepas pelukannya dari Nagisa.


"Saat istirahat nanti, ayo kita ke kelas A. Kita harus berterimakasih kepada Akizumi karena sudah menyelamatmu dari penganggu." Rin mengajak Nagisa ke kelas A untuk berterima kasih kepada Akizumi.


Namun, Nagisa gugup dan langsung memalingkan wajahnya yang memerah dari hadapan Rin dan Hana, "Ti-tidak usah, Rin. Aku juga sudah berterimakasih tadi."


"Tidak-tidak, aku dan Hana juga harus berterimakasih kepada Akizumi karena sudah menyelamatmu." ucap Rin.


"Baiklah kalau begitu. Kalau kalian memaksa, aku tidak akan menolak." ucap Nagisa dengan tersnyum semangat dan bahagia.


Setelah cukup lama hingga waktu siang pun telah tiba, suara bel Academy berbunyi menandakan waktu istirahat telah tiba. Akizumi yang masih berada di bangkunya pun meletakkan kepala dan kedua tangannya diatas meja, ia memasang raut wajah yang bosan.


"Ngantuk sekali.. Kemarin adalah hari yang sangat padat, apalagi sebentar lagi ujian pertama bertahan hidup akan segera dimulai, tidak ada waktuku untuk latihan.."


Akizumi mengamati suasana di penjuru kelas. Ia melihat Hikari dan Keiko yang asyik mengobrol sendiri, Nanako dan Mio yang masih mengerjakan tugas, Julian yang masih tetap di kelas sembari mendengarkan musik melalui earphone dan juga membaca novel, Tatsuya, Mei, Hiroki, Niichi, Frank, Manabu, dan Ushijima yang beranjak pergi meninggalkan kelas, Helena yang masih menceramahi Evelyn entah karena masalah apa, sementara Shiori yang masih duduk di bangkunya yang sibuk dengan kegugupannya.


Disaat yang bersamaan juga terlihat Rin, Hana, dan Nagisa yang sudah berada didepan kelas 1A. Rin mengetuk-ngetuk pintu kelas 1A, "Tok! Tok! Tok!"


"Permisi, apa orang yang bernama Akizumi ada di kelas ini?" tanya Rin.


"Akizumi? Ada. Itu disana.." Nanako menjawab pertanyaan Rin dan menunjuk ke arah bangku Akizumi.


Rin, Hana, dan Nagisa berjalan masuk kedalam kelas 1A untuk menghampiri ke bangku Akizumi. Disisi lain, Keiko terkejut setelah melihat 3 murid perempuan dari kelas D yang mencari keberadaan Akizumi. Pikiran negatif dari Keiko mulai menguasai dirinya.


"Akizumi dicari tiga cewek?? Apa mereka ingin mencari pertanggungjawaban?? Woi, tunggu sebentar!! Apa yang telah Akizumi perbuat!!! Ja-jangan.. Akizumi menjalin konflik cinta- tidak! Apakah Akizumi mencoba membuat sebuah Harem????" batin Keiko dengan raut wajah panik, ia memegang kepalanya dengan kedua tangannya sembari melirik ke arah Akizumi.


Hikari melihat Keiko dengan tatapan aneh, "Hei, Keiko. Kau pasti sedang berpikiran buruk tentang sebuah kisah romansa, kan?"


Rin, Hana, dan Nagisa sudah berada didepan bangku Akizumi. Akizumi yang menyadari kedatangan dari mereka bertiga pun langsung menegakkan tubuhnya dan berdiri.


"Ada apa, Nagisa? Apa tiga pria bodoh itu menganggumu lagi?" tanya Akizumi sembari memiringkan kepalanya.


"Ti-tidak aku kesini karena-" ucap Nagisa.


"Kami bertiga kesini karena ingin berterimakasih padamu karena telah menyelamatkan Nagisa dari para penganggu!!"


"Benar! Nagisa adalah sahabatku! Aku berterimakasih kepadamu, Akizumi!"


Hana dan Rin membungkuk berterimakasih kepada Akizumi. Sementara itu Nagisa yang tersenyum tipis melihat kelakuan kedua sahabatnya, yaitu Hana dan Rin yang membungkuk berterimakasih kepada Akizumi.


Akizumi merasa tak enak setelah melihat Rin dan Hana membungkuk dihadapannya, "Oey, jangan membungkuk begitu, aku malah menjadi pusat perhatian di kelas.."


"Akizumi menyelamatkan Nagisa dari para penganggu?!" Keiko datang menghampiri Rin dan Hana karena perkataan mereka sedikit menarik perhatiannya.


"Yap, benar." jawab Rin.


Kedua mata Keiko berbinar-binar, ia merasa Moment kejadian tersebut mirip pada sebuah novel romansa yang sering ia baca.


"Oey, Keiko. Jangan berpikiran yang aneh-aneh.." ucap Akizumi yang sedikit merasa kesal dengan ekspresi Keiko.


"Akizumi, sebentar lagi ujian pertama akan segera dimulai, semangat!" ucap Nagisa yang sedikit malu-malu saat mengatakan itu.


"Ya, kau juga, Nagisa. Karena ujian pertama adalah ujian bertahan hidup, jadi berhati-hatilah.." ucap Akizumi.


"Baik!" Nagisa tersenyum lebar.


"Oh iya, aku lupa untuk mengenalkan diriku, namaku Kamisaka Rin! Aku dari kelas D!"


"Namaku Himeko Hana, aku juga dari kelas D!"


"Salam kenal juga, namaku Eini- Ah, salah, namaku Akizumi, salam kenal!" ucap Akizumi. Akizumi sedikit terbawa suasana karena itu ia hampir memperkenalkan dirinya kepada Rin dan Hana dengan nama aslinya.


Kepala Hikari langsung menangkap sinyal terhadap Akizumi yang menyembunyikan sesuatu, Hikari berjalan menghampiri Akizumi dan kembali bertanya kepadanya.


"Akizumi, tunggu dulu. Kau tadi mengatakan apa saat memperkenalkan namamu? Eini apa? Kau sedikit panik saat mengatakan hal itu.." ucap Hikari.


"Lupakan itu, Hikari. Itu bukan urusanmu. Lagipula ini bukan sesuatu yang penting bagimu.." ucap Akizumi.


"Aku penasaran, saat pertama kali masuk ke kelas ini, kau tidak pernah mengatakan tentang nama depanmu, apa yang kau sembunyikan tentang nama depanmu?" tanya Hikari dengan cukup memaksa.


Nagisa, Hana, Rin, dan Keiko langsung menoleh ke arah Hikari.


"Benar juga ya. Akizumi belum pernah memberitahu kita nama depannya.." ucap Keiko.


"Keiko, kenapa kau malah ikut-ikutan seperti Hikari. Lagipula nama depanku ini tidak spesial, nama depanku adalah Einishimaru Akizumi." Akizumi berbohong kepada Hikari dan Keiko agar mereka berdua tidak terus-terusan bertanya kepadanya.


"Einishimaru? Benarkah?" Hikari menatap tajam Akizumi.


"Yasudah kalau tidak percaya.."


"Einishimaru Akizumi, ya? Rin, Hana, ayo kita segera kembali ke kelas, jam istirahat juga hampir selesai.." Nagisa mengajak Rin dan Hana untuk kembali ke kelasnya.


"Benar juga.." ucap Rin.


"Tapi tunggu sebentar, Akizumi, apa aku boleh meminta nomor handphonemu?" tanya Nagisa.


"Nomor handphoneku? Boleh saja." jawab Akizumi.


Rin dan Hana terkejut karena baru pertama kali mereka berdua melihat Nagisa meminta nomor handphone seorang cowok. Setelah Nagisa berhasil mendapatkan nomor handphone Akizumi, Nagisa, Rin, dan Hana pun bergegas kembali ke kelas.


Saat menuju ke kelas D, Rin dan Hana bertanya sesuatu kepada Nagisa.


"Nagisa... aku terkejut kau meminta nomor seorang cowok.." ucap Hana.


"Nagisa, apa kau menyukai Akizumi??" tanya Rin dengan tatapan penuh penasaran.


"Itu rahasia!" jawab Nagisa sembari tersenyum lepas.


Sementara itu didalam kelas 1A. Hikari masih tak percaya dengan jawaban Akizumi, Hikari terus bertanya-tanya tentang nama depan Akizumi, namun Akizumi terus menjawab dengan jawaban yang sama. Keiko juga ikut penasaran sama seperti Hikari.


"Daripada kalian berdua terus bertanya sesuatu yang tidak penting kepadaku, mending kalian bersiap-siap karena ujian bertahan hidup akan segera dimulai. Siapkan mental dan hati kalian, aku merasa si pengkhianat itu akan muncul di lokasi hutan Angleleaf untuk membunuh targetnya.." ucap Akizumi.


"Muncul di lokasi ujian? Tunggu Akizumi, ini berarti ujian pertama nanti akan sangat berbahaya bagi para murid yang menjadi target?" tanya Hikari.


"Benar."


Ujian pertama, Ujian bertahan hidup sudah semakin dekat.


B E R S A M B U N G