Heavenly Titania

Heavenly Titania
Chapter 19 - Penolakan.



Keesokan harinya. Akizumi berangkat lebih awal menuju ke Academy seperti hari kemarin untuk mencari informasi tentang hutan Angleleaf di perpustakaan. Meski Akizumi mencarinya dengan keras, hasilnya pun tetap nihil. Akizumi sama sekali tidak bisa menemukan informasi tentang hutan Angleleaf. Bahkan ia tidak menemukan informasi tentang hutan yang mempunyai kemiripan dengan hutan Angleleaf.


"Meski aku tidak bisa menemukan informasi asli tentang hutan Angleleaf, namun aku sudah mendapatkan beberapa clue. Monster dan Gaya penulisan pada surat ancaman milik Nagisa."


Akizumi mengembalikan beberapa buku yang ia baca kembali kedalam rak.


"Untuk menguak motif dari pelaku ini sangat sulit. Namun, untuk mencari siapa pelaku dibalik surat ancaman ini mungkin aku bisa menemukannya."


Beberapa saat kemudian. Jam pelajaran Academy pun sudah dimulai. Selama di kelas, Akizumi selalu mengamati penulisan dari setiap murid yang berada di kelas 1A. Akizumi mencoba membandingkan gaya penulisan pada surat ancaman dengan gaya penulisan dari teman-temannya yang berada di kelas 1A.


Karena sebelumnya Akizumi juga merasa gaya penulisan tersebut seperti tak asing dibenaknya. Jadi Akizumi beranggapan bahwa si pelaku pengkhianat itu berada di kelas 1A.


Hari ini Aiyama Sensei hanya memberikan pelajaran tentang Qi kepada murid kelas 1A. Aiyama juga menuliskan beberapa kalimat di papan tulis untuk dipahami oleh para murid.


Suasana di kelas saat itu cukup positif, karena murid-murid di kelas 1A cukup suka pelajaran tentang pengontrolan Qi. Qi adalah salah satu kekuatan yang cukup penting, karena dengan memaksimalkan Qi, maka mereka bisa menciptakan potensi yang lebih tinggi dari kekuatan Qi tersebut.


Murid-murid kelas 1A sangat bersemangat dalam pelajaran kali ini karena mereka bertekad untuk menjadi kuat dengan meningkatkan kekuatan Qi mereka. Bahkan Keiko, Hikari, Hiroki juga sering bertanya kepada Aiyama.


Aiyama menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka dengan penuh suka cita. Lalu, seseorang seperti Tatsuya yang dikenal sombong oleh teman sekelasnya pun juga cukup aktif bertanya kepada Aiyama.


Aiyama adalah guru sekaligus wali kelas yang paling disukai oleh murid kelas 1A. Bahkan sikapnya yang santai dan murah senyum membuatnya menjadi idola dari para murid. Tak jarang Aiyama juga mengajak bersenda gurau terhadap para murid-muridnya.


Hiroki, Niichi, Manabu, dan Frank yang dikenal anak paling berandalan pun dibuat tertawa terbahak-bahak oleh humor Aiyama Sensei.


Meski semua murid kelas 1A cukup menikmati dengan pengajaran pelajaran yang dilakukan oleh Aiyama, disisi lain, Akizumi masih mengamati kelas, mengamati setiap gaya penulisan setiap anak. Namun, Akizumi tidak berhasil menemukan gaya penulisan yang mirip pada surat ancaman.


Akizumi yang sibuk sendiri pun menjadi perhatian tersendiri oleh Aiyama Sensei. Aiyama menghampiri Akizumi lalu bertanya sesuatu..


"Ada apa, Akizumi? Dari tadi aku melihatmu seperti sedang mengamati sesuatu. Apa ada yang aneh di kelas?"


"Tidak ada, Sensei."


"Baiklah, fokus kembali ke papan tulis. Jangan sampai kau tertinggal dalam hal materi, Akizumi."


"Baik, Sensei.."


"Huahahaha!!! Oey, Akizumi, jangan-jangan kau mengamati orang yang suka? Siapa yang kau suka di kelas ini, Akizumi??" teriak Niichi sembari tertawa terbahak-bahak mengejek Akizumi.


"Heee!! Akizumi menyukai seseorang di kelas kita?? Cepat katakan, Akizumi!!" ucap Mei dengan bersemangat.


"Tidak ada orang yang kusukai di kelas ini. Lagipula kalau aku menyukai seseorang itu juga bukan urusan kalian, tcih.." jawab Akizumi, lalu memalingkan wajahnya ke jendela.


Niichi, Manabu, Frank, dan Mei tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Akizumi. Tatsuya dan Julian yang bersikap tidak peduli. Shiori yang gugup sendiri. Sementara itu, Hikari, Keiko, Mio, Nanako, Ushijima, dan Hiroki diam tak mentertawakan Akizumi sembari meliriknya dengan cukup serius.


Selang beberapa detik kemudian, ketika Akizumi melihat ke arah lain, tiba-tiba ia sangat terkejut setelah melihat gaya penulisan seseorang yang cukup mirip dengan gaya penulisan pada surat ancaman.


"T-tidak mungkin.." gumam Akizumi sembari memasang ekspresi terkejut.


~


Setelah cukup lama kemudian, tak terasa sore hari pun telah tiba dan jam pelajaran Academy juga sudah usai. Semua murid di kelas 1A langsung bergegas berjalan meninggalkan kelas kecuali Hikari, Keiko, Mio, Nanako, Ushijima, Hiroki, dan Akizumi.


Langit sore yang cukup indah menerangi kelas melalui beberapa jendela yang ada dikelas. Terlihat Akizumi yang berdiri di dekat bangkunya sembari bersandar pada tembok di dekat jendelanya, Keiko yang duduk didepan bangku Akizumi, Nanako yang duduk dibangku sebelah kanan bangku Akizumi, Mio yang berdiri disamping Nanako, Hiroki dan Ushijima yang duduk diatas meja bangku milik Hikari, sementara Hikari berdiri didepan Akizumi.


"Akizumi, apa kau mengetahui tentang si pengkhianat?" tanya Hikari.


"Aku tidak mengetahui motif dari si pelaku pengkhianat itu apa dengan membunuh murid-murid dengan garis keturunan bangsawan. Apalagi yang mereka incar adalah murid perempuan." jawab Akizumi.


"Banyak murid laki-laki yang berasal dari keturunan bangsawan, namun si pengkhianat itu memilih untuk mengincar murid-murid bangsawan perempuan. Memang sulit, dan tidak bisa ditebak." ucap Ushijima.


"Itu bisa disimpulkan dengan mudah! Pasti motif si pengkhianat itu hanya karena dibayar oleh seseorang dengan jumlah uang yang sangat besar!" Hiroki mencoba untuk beropini.


"Tidak. Kalau itu tujuan si pelaku, lantas kenapa dia tidak melakukannya saat secara diam-diam, dan malah memberikan surat ancaman? Aku merasa si pelaku pengkhianat juga sedang mencari momentum.." ucap Akizumi.


"Benar. Pembunuhan adalah hal yang kejam. Kita harus mencegah hal itu terjadi di Academy ini." ucap Nanako.


"Ini cukup gawat. Para Sensei juga sedang menyelidiki hal ini namun mereka sama sekali tidak menemukan bukti apapun.." ucap Mio.


Akizumi mengambil tasnya yang berada diatas meja. Ia mulai berjalan meninggalkan kelas. Namun sebelum meninggalkan kelas, Akizumi mengatakan suatu hal, "Aku memang tidak tahu motif apa yang digunakan oleh si pelaku pengkhianat itu dengan membunuh murid-murid perempuan garis keturunan bangsawan. Akan tetapi, aku sudah mengetahui si pelaku pengkhianat tersebut.."


Hikari, Keiko, Nanako, Mio, Ushijima, dan Hiroki cukup terkejut dengan perkataan Akizumi yang sudah mengetahui siapa pelaku dari pengkhianat yang mencoba membunuh murid-murid bangsawan perempuan.


"Siapa????"


"Aku tidak akan mengatakannya kepada kalian. Itu karena mungkin kalian takkan percaya dengan fakta ini." jawab Akizumi.


Hiroki langsung memasang wajah marah, dan sikap berandalannya pun muncul. Ia berjalan menghampiri Akizumi, menarik kerah Akizumi, lalu membanting Akizumi ke tembok, "Bruakk!!"


Dengan cepat suasana menjadi cukup tegang. Nanako dan Hikari langsung menghampiri Akizumi yang jatuh terduduk bersandar ditembok kelas.


"Jangan lakukan itu, Hiroki! Kau tidak boleh menggunakan kekerasan!" ucap Nanako dengan tegas.


Hikari mencoba membantu Akizumi untuk berdiri. Namun Akizumi menepis bantuan Hikari.


"Nanako, Hikari menyingkirlah." ucap Akizumi.


"Kau tahu si pelaku, tapi kenapa kau tidak ingin mengatakan hal itu kepada kami, hah?!! Nyawa murid-murid sedang terancam, sialan!!" ucap Hiroki dengan nada tinggi.


Hiroki berjalan menghampiri Akizumi lalu memukul pipinya kembali, "Buaghh!!" Akizumi hanya diam tak membalas pukulan Akizumi. Pinggir bibir Akizumi berdarah karena pukulan Hiroki.


"Kau takkan bisa mengalahkan orang itu, Hiroki. Lagipula, kau juga takkan menyangka dan takkan bisa melawan orang itu. Seharusnya kalian yang lebih paham dan harus mengetahui orang itu karena sudah lebih lama dariku di Academy.." ucap Akizumi.


Akizumi berdiri lalu memukul wajah Hiroki hingga tersungkur ke lantai, "Buaghh!!"


"Serahkan si pelaku pengkhianat itu kepadaku. Aku bisa melawannya karena tidak punya rasa emosional terhadap orang itu." ucap Akizumi dengan nada dingin.


Hiroki bangkit dan berdiri kembali. Ia masih merasa sangat kesal dengan Akizumi karena tidak ingin memberitahu tentang si pelaku kepada dirinya dan teman-temannya.


"Sialan kau, Akizumi."


"Suatu saat kalian juga akan mengetahuinya. Aku tidak ingin menghancurkan ekspetasi kalian. Sudah cukup untuk hari ini.." Akizumi berjalan meniggalkan kelas.


"Tunggu aku, Akizumi!" Hikari langsung bergegas menyusul Akizumi.


Kini dikelas hanya tersisa Mio, Nanako, Keiko Ushijima, dan Hiroki. Ushijima turun dari meja yang ia duduki, lalu berjalan ke arah Hiroki.


"Akizumi berkata bahwa dia tidak ingin menghancurkan ekspetasi kita, itu berarti akan menjadi fakta yang menyakitkan, Hiroki."


"Ya. Aku tidak peduli bila fakta itu akan sangat menyakitkan, Ushijima."


"Cepatlah pulang, hari akan malam. Ujian juga sebentar lagi akan tiba. Kau harus mempersiapkan kondisimu agar tetap fit.." ucap Ushijima.


~


Beberapa saat kemudian, Akizumi dan Hikari sudah berada di area halaman Academy. Hikari terus bertanya-tanya siapa si pelaku pengkhianat itu kepada Akizumi, namun Akizumi bersikukuh untuk menolak menjawabnya.


"Jawab, Akizumi!"


"Tidak!'


Sementara itu jauh dibelakang, terlihat Nagisa yang berdiri sembari melihat Akizumi dan Hikari yang jalan berduaan.


"Akizumi.."


B E R S A M B U N G