
****
" Sepertinya itu orang yang sama," balas Daniel.
"Maksud kamu,orang yang mau mencelakai kak Chan tadi siang?"
"Sepertinya,sebaiknya kamu kembali ke kamar.Aku akan menelpon pihak keaman untuk melihat CCTV nya."
Aku pun langsung kembali ke kamar dengan perasaan yang campur aduk.
*****
Pagi harinya saat aku turun ke lantai bawah,di sana sudah ada beberapa orang yang tengah membersihkan pecahan kaca bekas semalam.
Aeri sendiri,dia tengah duduk termenung di kursi sambil melihat petugasnya.
"Aku sama sekali tidak mendengar apa-apa semalam,hanya saja pas tadi pagi aku turun semuanya sudah berantakan seperti ini dan ada 2 orang polisi yang tengah memeriksanya." jelas Aeri.
"Terus,Daniel ke mana?" tanya ku.
"Dia sedang pergi ke kantor polisi untuk memberikan keterangan." balas nya.
"Mungkin nggak sih,ini orang yang sama dengan pelaku kemarin?" lanjut Aeri.
"Aku juga belum yakin,bisa saja seperti itu." balas ku.
''Semoga pelakunya segera tertangkap."
"Iyah,dia sudah buat kita ketakutan seperti ini." balas ku.
Aku dan Aeri pun memilih untuk sarapan seadanya pagi ini.Aku dan Aeri sama-sama terkejut dengan apa yang kami alami sekarang.
Bisa-bisa nya orang itu,mengincar semua orang yang ada di sekitar kak Chan dan memberikan ancaman yang cukup serius.
****
Setelah selesai bersiap untuk pergi ke kampus,tiba-tiba aja kak Herin meminta aku dan Aeri untuk menemuinya di rumah sakit.
Akhirnya aku pun tidak jadi pergi dan memikih untuk menemui kak Herin di sana.
Sesampainya di rumah sakit,aku langsung menuju ruangan yang sudah di sebutkan oleh kak Herin tadi.
Terlihat di sana,ada dua penjaga yang tengah berdiri tepat di depan ruangan kak Chan.
"Kak.....!" seru ku.
Kak Herin pun langsung beranjak dari duduknya dan langsung menghampiri ku.
"Kamu sudah datang ternyata,sebaiknya kita bicara di kantin rumah sakit saja." ajaknya.
♧ ♧ ♧ ♧ ♧
"Bagaimana keadaan kak Chan?" tanya ku.
"Dia sudah melewati masa kritisnya,tapi belum sadarkan diri."
"Pihak keluarganya,memutuskan untuk membawanya ke luar negeri untuk menjalani pengobatan di sana." jelas kak Herin.
"Maksud kakak,kemana?"
"Aku juga tidak di beritahu,mungkin ini untuk menjaga keamanan dia." balas nya.
"Oh gitu,"
"Oh iya kak,semalam ada orang yang meneror ke rumah ku.Dia melemparkan batu yang ukurannya cukup besar." jelas ku.
"Yang benar?" ucap kak Herin terkejut.
"Serius kak,aku saja sampai terbangun pas tengah malam.Padahal rumah ku berada di kawasan yang cukup aman.Tapi orang itu,berhasil lolos."
"Siapa sih dia? Kenapa dia begitu sangat terobsesi untuk menyakiti orang-orang yang ada di sekitar Chan."
"Kesalahan apa yang di buat Chan,sampai-sampai orang itu begitu kejam" lanjut kak Herin.
"Oh iya,apa kakak udah pernah mencoba untuk menanyakan tentang Soyi sama kak Bomi?" tanya ku.
"Sudah,semalam saat aku menjenguknya ke kamarnya."
"Tapi,menurut penjelasan Bomi,Soyi tidak ada keterlibatan sama sekali dengan masalah penyerangan dia waktu itu.Yang ada,menurutnya Soyi yang membujuknya untuk tudak melakukannya dan memberi tahu Bomi kalau antara kamu sama Chan itu hanya berteman."
"Kata Bomi,soalnya sekarang itu Soyi tengah mempersiapkan pertunangannya dengan pacarnya." lanjut kak Herin.
"Aku juga belum tahu,"
"Aku jadi merasa bersalah sama Soyi,karena sempat menuduh dia.Pantas saja,dia bersikeras kalau bukan dia yang menghasut Bomi." lanjut kak Herin.
"Ini akan sulit di tebak,masalahnya dulu Chan pernah dekat dengan beberapa perempuan di kampus kita." timpal Aeri.
"Ya kita tunggu saja,perkembangan yang sedang di lakukan oleh pihak kepolisian.Aku yakin,secepatnya pelakunya akan segera tertangkap.''
"Ya semoga aja," ucap ku pelan.
"Sebaiknya kalian juga lebih berhati-hati lagi.Apalagi,orang itu sudah berani memberikan ancaman sama kalian berdua." ucap kak Herin.
"Pasti kak,kami berdua akan lebih berhati-hati lagi." balas ku.
♧ ♧ ♧ ♧ ♧
Tidak lama setelah itu,aku dan Aeri pun berpamitan sama kak Herin,karena Daniel meminta ku untuk datang ke kantor polisi.
Sesampainya di kantor polisi,aku langsung oleh Daniel yang sudah menunggu ku di lobi.
"Bagaimana? Apa pelakunya sudah tertangkap?" tanya ku.
"Belum,"
"Polisi ingin memintai keterangan dari kalian berdua.Sebaiknya ceritakan saja,semua yang kalian berdua ketahui apapu itu." lanjut Daniel.
♧ ♧ ♧ ♧ ♧
Setelah selesai penyelidikannya,aku pun langsung pulang bersama Daniel.Sedangkan Aeri di jemput oleh supirnya.
Sesampainya di rumah,ternyata kaca jendela yang pecah itu sudah di ganti dengan yang baru.
Daniel pun memita beberapa polisi untuk menjaga keamanan rumah ku untuk berjaga-jaga.
♧ ♧ ♧ ♧
Pagi harinya seperti biasa,aku berangkat kuliah di antarkan oleh Daniel.Sesampainya di kelas,aku tidak mendapati Aeri.Padahal,hari ini aku berangkat agak pagi,tidak seperti biasanya.
Tidak lama kemudian,beberapa siswa pun secara bergantian datang dan duduk di kursi yang telah di sediakan.Aku sempat khawatir,karena sudah hampir masuk jam pelajaran pertama tapi Aeri belum juga menampakan diri.
Untung saja,pas di akhir-akhir dia pun datang dengan berlari dan langsung duduk di samping ku.
"Kamu dari mana saja? Aku sangat khawatir tahu,aku kira kamu kenapa-kenapa." ucap ku.
"Maaf yah,soalnya tadi mobil yang aku timpangi sempat ada masalah dengan mesinnya." jelas nya.
"Tapi sekarang udah baik-baik aja kan?"
"Tentu saja,"
"Supir ku langsung menelpon orang rumah untuk segera mengirim mobil pengganti untuk mengantar ku ke sini." jelas Aeri.
♧ ♧ ♧ ♧
Jam istirahat pun telah tiba,aku dan Aeri pun langsung menuju ke kantin untuk makan.
Namun,saat kami berdua melewati tangga yang menuju ke lantai atas.Soyi memanggil kami berdua.
"Kenapa?" tanya ku.
"Ku dengar Chan sedang di rawat di rumah sakit? Bagaimana keadaannya.sekarang?" tanya nya.
"Kondisinya sudah membaik,hanya saja belum sadarkan diri dari kemarin." jelas Aeri.
"Aku sangat terkejut setelah mendengar berita itu,aku dengar beritanya dari teman sekelasnya kak Herin.Kemarin aku hendak mengantarkan surat undangan untuk dia dan Chan." jelasnya.
"Tapi, sesampainya di sana aku malah menerima kabar yang kurang menyenangkan." lanjut Soyi.
"Ya begitulah,sepertinya memang ada orang yang berusah untuk mencelakainya.Dan sepertinya memang semuanya sudah di rencana kan." balas ku.
"Ya ampun,"
"Kok ada yah,yang tega melakukan hal yang kejam seperti itu."
"Ya namanya manusia,kita tidak pernah tahu isi hati dia yang sebenarnya" timpal Aeri.
"Semoga aja,pelakunya akan segera tertangkap dan mendapatkan hukuman yang setimpal dengan apa yang telah dia lakukan." lanjut Aeri.