
***
Aku hanya bisa terdiam sambil menutupi pipi yang terasa panas.
"Bomi,apa kamu sudah gila? Kenapa kamu tiba-tiba datang dan langsung menampar Gisel.Salah dia apa?" tanya kak Herin kesal.
"Karena dia sudah berani mendekati Chan,pakai acara kasih Chan minum segala." balasnya.
"Apa? Asal kamu tahu,dia itu satu kelas dengan Ku." timpal kak Chan.
"Maka dari itu,dia pasti sedang berusaha untuk mendekati kamu."
"Kamu benar-benar sudah kelewatan," balas kak Chan.
Dia pun langsung menarik tangan Bomi dan membawanya menjauhi lapangan.
"Aku tidak habis pikir,bagaim mana dia punya pemikiran serendah itu." ucap Kak Herin.
"Gisele,sebaiknya kita klinik untuk memberikan salep pada pipi mu." ajak Aeri.
Aku dan Aeri pun langsung meninggalkan lapangan menuju klinik terdekat.Sedangkan kak Herin menyusul kak Chan dan Bomi.
Setibanya di kliniknya,Aeri langsung mencarikan Ku salep untuk pipi Ku yang kemerahan.
"Sepertinya,ini akan terasa perih.Kamu tahan yah," ucap Aeri sambil mengolesi salepnya dengan pelan.
"Aku tadi benar-benar kaget.Bisa-bisa nya ada cewek kayak gitu." lanjut Aeri.
"Apalagi Aku," timpal Ku.
"Padahal,dimana letak kesalahan nya yah? Kita kan sebagai teman satu kelasnya hanya bantu dia ngasih minum.Kalau nggak terima,kenapa nggak dia aja yang kasih." gerutu Aeri.
"Berarti emang benar,gosip yang berkeliaran di kampus ini tentang dia.Bisa-bisanya kak Chan di jodohin sama perempuan kayak gitu." lanjut Aeri.
"Hush......"
"Kalau bicara jangan terlalu berlebihan," lanjut Ku.
"Ini itu fakta Gisele.Aku tidak mengada-ngada." timpal Aeri.
"Sudahlah,lagi pula sekarang Aku sudah merasa baikan kok.Tadi Aku hanya terkejut saja,"
"Iya lah pasti.Kejadian tadi,buat kamu jadi pusat perhatian anak-anak yang ada di sana." timpal Aeri.
"Sekarang masalahnya,bagaimana Aku menyembunyikan nya dari Daniel nanti.Pasti dia akan langsung melihatnya."
"Ceritain saja yang sebenarnya seperti apa.Kalau kamu nggak jelasin nantinya Daniel malah akan salah paham sama kamu" timpal Aeri.
"Iya sih,benar apa yang kamu katakan."
Tidak lama setelah itu,Aku dan Aeri langsung keluar dari klinik untuk langsung pulang saja.
"Gisele...." seru kak Herin dari kejauhan.Dia pun langsung berlari ke arah Ku.
"Kamu mau ke mana?" tanyanya.
"Aku mau pulang kak." balas Ku.
"Ya ampun,Aku minta maaf yah.Aku tidak menyangka,kalau Bomi akan melakukan hal seperti itu."
"Iya,lagi pula Aku hanya terkejut saja tadi."
"Ya udah,kalau kamu mau pulang.Aku juga mau ngambil tas milik Chan di loker." jelas kak Herin.
"Kak Chan nya memang ke mana?" tanya Aeri.
"Dia langsung pulang membawa Bomi.Aku tidak berani untuk ikut dengan dia,sepertinya Chan benar-benar marah sekarang." jelas kak Herin.
"Ya udah,kalau gitu Aku duluan ya kak."
"Dah,sampai ketemu besok....." ucap Ku langsung melangkah pergi.
Aku dan Aeri pun langsung menuju gerbang depan.Karena sedari tadi Daniel sudah menelpon Ku beberapa kali.
"Jelasin sama dia semuanya." bisik Aeri sebelum kami berpisah.
"Iya,Aku mengerti....." balas Ku.
Aku pun langsung menghampiri Daniel dan benar saja,dia tampak terkejut melihat kondisi pipi Ku yang memerah.
"Gisele,apa yang terjadi?" tanya nya.
"Ah itu,sebaiknya kita cerita di dalam mobil saja." balas Ku.
Sampai akhirnya dia memberhentikan mobilnya di tepi jalan yang agak sepi dengan lalu lalang kendaraan.
"Sekarang ceritakan pada Ku,kenapa pipi kamu bisa merah seperti itu." ucap Daniel langsung.
"Jadi begini,"
"Hari ini di kampus ada acara perlombaan antar kelas.Terus Aku dan yang lain ikut menonton untuk memberikan semangat sama kak Chan.Karena dia merupakan salah satu,perwakilan di kelas Ku."
"Pas istirahat ronde pertama,kak Chan langsujg menghampiri Aku,Aeri dan kak Herin.Karena Aku dan kak Herin memang sudah membeli minuman untuk kita semua,jadi Aku kasih lah sama kak Chan." lanjut Ku.
"Terus masalahnya apa?" tanya Daniel kembali.
"Tiba-tiba saja,tunangan kak Chan datang dan langsung menampar Ku."
"Sepertinya dia salah paham terhadap Ku.Dia menganggap Aku berusaha menggoda kak Chan.Hanya karena Aku kasih dia minuman" lanjut Ku.
"Ada yah cewek kayak gitu." timpal Daniel.
"Ya adalah,buktinya itu tunangannya kak Chan." balas Ku.
"Ini pasti terasa perih," ucap Daniel sambil mengelus pipi Ku.
"Bukan masalah sakitnya,tapi malu nya di lihatin anak-anak lain yang ada di sana.Kejadian tadi tuh jadi pusat perhatian orang-orang yang ada di sana.Semua mata tertuju ke arah Ku." jelas Ku.
"Memangnya Chan udah tunangan lagi?"
"Kata Aeri sih,dia di jodohin gitu.Hanya saja kak Chan berusaha menolak perjodohannya itu.Tapi,ceweknya yang terus ngejar-ngejar katanya." balas Ku.
"Hem,jadi kamu yang terkena imbasnya sekarang." ucap Daniel.
"Ya sudah kita pulang yah.Kita kompres supaya tidak berbekas nantinya." lanjut Daniel.
***
Sesampainya di rumah,Daniel langsung meminta Ku untuk duduk di sofa yanga ada di ruang tamu.Sementara dia menyiapkan kompresannya di dapur.
Tidak lama kemudian,Daniel pun datang menghampiri Ku dengan kompresan di tangannya.
"Ini akan terasa sakit,tahan yah.Kamu pegang aja baju Ku kalau terasa sakit." ucapnya.
Daniel pun perlahan mengompres luka Ku dengan pelan.
"Ah sakit," teriak Ku.
"Aku tahu,tapi kalau tidak di kompres lukanya bakalan kelihatan dalan beberapa hari kedepan." jelasnya.
"Pegang saja baju Ku." lanjutnya.
Aku pun langsung mencengkram bajunya dengan kuat.
"Pelan-pelan," rengek Ku.
"Iya sayang.Aku akan pelan-pelan ini juga." balasnya.
Setelah selesai mengompres,Daniel langsung mengantar Ku ke kamar dan meminta Ku untuk beristirahat terlebih dulu.
Sedangkan Daniel,dia sedang memasak untuk makan malam kami berdua.
***
Setelah menunggu beberapa saat,Daniel pun datang ke kamar Ku sambil membawa makanan yang telah dia buat.
"Nah sekarang,kamu makan dulu." ucapnya sambil menyimpan makanannya dinatas meja.
"Aku sengaja membuat bubur untuk kamu,supaya kamu mudah untuk mengunyahnya." jelas nya.
"Hem,padahal Aku ingin makan ramen sama chiken." timpal Ku.
"Kalau kamu udah baikkan,nanti kita bisa memasaknya dan memesan chiken kesukaan kamu itu." jelasnya kembali.
"Baiklah."
Daniel pun langsung menyuapi Ku,
"Bagaimana?"
"Enak,tentu saja enak.Nanti kalau Aku bilang tidak enak kamu pasti ngambek." balas Ku.
"Tidak lah,lebih baik kamu jujur."
"Tapi,ini emang benar-benar enak.Aku tidak bohong kok." balas Ku.