Dimension - Y

Dimension - Y
Arc 1 - Observation



Setelah satu jam mengudara, mereka telah sampai di wilayah netral sebelah timur laut dari Conqueron.


“Baiklah, kita sampai.” Kata Raska.


Raska menurunkan mereka setelah sampai di tempat tujuan.


“Aku hanya melihat sekilas saat dari atas, tetapi saat dilihat dari lebih dekat ternyata lebih mengagumkan!” kata Miho.


“Bahkan ada danau di dalamnya!” Kata Harunio.


“Kalian bisa masuk terlebih dahulu, aku akan memeriksa area sekitar terlebih dahulu.” Kata Darkos.


“Apa tidak apa-apa?” tanya Harunio.


“Silahkan bersenang-senang, tetapi jangan lupa tugas kalian.” Kata Darkos.


“Ah, itu mengingatkanku. Tabunganku dikuras habis oleh Yudai dan ...” Harunio memberi kode untuk dipinjamkan uang.


“Biar aku saja yang membayar tiket masuknya.” Kata Miho.


“Miho, ssstt! Aku merasa tidak enak jika kau yang harus membayarnya.” Kata Harunio dengan pelan.


“Aku tidak keberatan, anggap saja permintaan maafku untuk misi sebelumnya.” Kata Miho.


“A-aku tidak mempermasalahkan misi sebelumnya, kau tidak perlu membalas budi.” Harunio sedikit canggung.


“Sudahlah,terima saja niat baiknya.” Kata Darkos.


“Hhh ... baiklah kalau begitu. Maaf merepotkanmu, Miho.” Kata Harunio.


“Iya, serahkan saja kepadaku!” Kata Miho dengan senang.


“Kami pergi terlebih dahulu.” Kata Harunio.


“Ya, selamat bersenang-senang.” Kata Darkos.


Lalu Harunio dan Miho pergi.


“Anak itu ... dia sudah membangkitkan Extensinya?” tanya Raska.


“Ya, itu sudah lama sekali.” Kata Darkos.


“Bisakah kau mulai menjelaskan rencanamu?” tanya Raska.


“Setelah aku memeriksa catatan yang ditinggalkan Shura, dia menyembunyikan sesuatu yang sangat penting di dalam sebuah danau di wilayah Netral. Karena tempat ini dipenuhi dengan berbagai macam pasangan Emylier atau Normus, aku jadi malas memeriksanya.” Kata Darkos menjelaskan.


“Kau hanya iri karena datang seorang diri, kan.” Kata Raska.


“Berisik, aku hanya tidak punya waktu untuk memikirkan perempuan karena tugas ini. Camkan itu!” kata Darkos.


“Baik, baik.” Kata Raska dengan santai.


“Kedatangan Harunio kemari hanya sebagai umpan, lalu jika berhasil dia akan menunjukkan dirinya sendiri.” Kata Darkos.


“Bagaimana kau tahu?” tanya Raska.


“Gadis itu adalah salah satu idola di Conqueron, menghabiskan waktu di sini bersamanya adalah impian banyak Emylier laki-laki. Dalam waktu singkat anak itu sudah cukup dekat dengan perempuan itu, aku yakin dia sudah tersihir oleh pesonanya. Cepat atau lambat Harunio pasti akan mengajak perempuan itu datang lagi kemari.” Kata Darkos.


“Tadi kau bilang idola di Conqueron? Bukankah itu akan lebih sulit?” tanya Raska.


“Itu bukan masalah, anak itu pasti akan mengajak perempuan itu kemari bagaimanapun caranya. Sejak dulu dia selalu berjuang mendapatkan apa yang dia inginkan, bahkan untuk hal bodoh sekalipun.” Kata Darkos.


Sementara itu, Harunio dan Miho telah memasuki taman.


“Waaah!! Indah sekali!” Miho kagum dengan seisi taman.


“Maaf membuatmu harus membayar tiket masuknya ...” Harunio masih memikirkan hal itu.


“Aku sudah bilang, kan? Aku tidak keberatan. Tidak perlu difikirkan lagi, ya!” Kata Miho dengan gembira.


“Y-ya, baiklah. Lain kali aku akang menggantinya.” Kata Harunio.


“Baiklah, aku menantikannya.” Kata Miho.


“Kalau begitu! Saatnya –” tiba-tiba perut Harunio berbunyi.


“Uhuhuhu! Bagaimana kalau makan siang terlebih dahulu? Aku yang traktir!” kata Miho.


“B-baiklah ... maaf merepotkanmu lagi ...” Harunio hanya bisa menerima tawaran Miho.


“Sudahlah, sekarang kau yang terus menerus minta maaf.” Kata Miho.


“Haha, aku benar-benar payah ...” Harunio sedikit malu.


“Oh, ya ... Aku lupa untuk meminta jatah Ration untuk mereka.” Kata Darkos yang memantau mereka dari luar sambil memakan makanan kalengnya.


“Kau benar-benar kejam …” kata Raska dengan pelan.


Harunio dan Miho beristirahat sambil makan siang di salah satu tempat makan yang ada di sana.


“Aku baru tahu jika kau tidak suka daging.” Kata Miho.


“Y-ya, setidaknya dengan begitu aku bisa menghemat pengeluaranku.” Harunio sedikit malu.


“Di tempat asalku semuanya suka daging, meski kami sering menghematnya tetapi disitulah yang membuatnya terasa enak! Bagaimana bisa kau tidak suka daging?” tanya Miho.


“K-karena ... baunya ...” kata Harunio.


“Baunya? Kau pasti hanya kurang terbiasa.” kata Miho.


“Y-ya, mungkin saja ... Sistem pencernaanku memang sensitif.” Kata Harunio.


“Aku minta maaf karena langsung memesan tanpa menawarkannya terlebih dahulu.” Kata Miho.


“Begitu, ya. Syukurlah!” kata Miho dengan senang.


“Hah?! Gadis itu yang membelikanmu?! Aku tidak salah dengar?!” kata Blues dari meja di dekat mereka.


"Ternyata dia ..." kata Harunio dalam fikirannya


Ia merasa tidak ingin terlibat dengan Blues lagi.


“Hei, lihat itu!” kata Raska


“Huh? Ada apa di sana?” kata Darkos yang masih mengawasi.


“Blues!” kata Finyx dengan pelan.


“Apa? Aku hanya tidak tahan dengan kelakuannya!” kata Blues.


“Diamlah! Kau terlalu menarik perhatian ...!” kata Finyx.


“K-kami minta maaf jika perbincangan kami mengganggumu.” Kata Miho.


“Miho ...! Sudahlah, jangan terpancing olehnya.” Kata Harunio.


“Tetapi ...” tanya Miho.


“Aku hargai usahamu, tetapi jangan melibatkan diri –”


“Ohh? Bahkan tidak memperdulikan niat baik Partnernya, aku benar-benar kasihan pada gadis itu.” Kata Blues.


Miho langsung tersipu malu.


“Sudahlah, aku tidak punya uang untuk menutup mulut penjilatmu itu!” kata Harunio.


“...! Penjilat ...?! Hmph! Ternyata dugaanku benar, pasti perempuan itu yang membayar tiket masukmu!” kata Blues.


“...! Sial ...! Te-terserah kau saja! Ayo pergi, Miho.” Kata Harunio.


Harunio langsung menarik tangan Miho dan melangkah pergi.


“T-tunggu, Harunio.” Kata Miho.


“Ya! Pergilah dari sini! Kau hanya mencemari suasana saja!” kata Blues.


“Yang mencemari suasana itu kau, dasar bodoh!” kata Finyx.


Harunio langsung berhenti setelah mendengarnya.


“Hei ...! Jika kau punya masalah denganku, langsung katakan saja ...!” Harunio sedikit mengancam Blues karena terlalu banyak bicara.


“...! I-ini gawat ...” kata Blues dengan pelan.


“T-tolong maafkan dia yang bicara seenaknya! Hei, cepat minta maaf!” kata Finyx dengan pelan.


“Maaf saja, sepertinya dia sangat kesal padaku. Bagaimana kalau kita selesaikan ini dengan duel satu lawan satu? Jangan harap meminta bantuan ...!” kata Harunio.


“Ha-Harunio ...?” Miho sedikit panik.


“Maaf, aku sudah tidak tahan melihatnya mempermainkan perasaanmu. Aku melakukannya bukan untuk menebus apa yang kau lakukan untukku hari ini, tetapi ini atas keinginanku sendiri!” kata Harunio.


“Cepat minta maaf!” kata Finyx kepada Blues.


Namun Blues masih panik, setelah semua yang diucapkannya ternyata tidak sebanding dengan tindakannya.


“Tolong maafkan dia karena melukai perasaan gadis itu. Jika kau masih bersikeras ingin bertarung, aku sendiri yang akan menggantikannya.” Kata Phinyx.


“Ohh? Baiklah! Aku menerima tantanganmu!” kata Harunio.


Darkos tiba-tiba muncul dan langsung memukul kepala Harunio, “Dasar ceroboh!”.


“...! Apa yang kau lakukan?!” kata Harunio dengan kesal.


“Lihat sekitarmu!” kata Darkos.


Seluruh pengunjung taman menyaksikan pertengkaran mereka, dan mereka tidak memberikan tatapan yang bagus.


"Kalau mereka bertarung hanya karena masalah konyol ini, aku yakin masalah baru akan terus bermunculan ... Selain itu lawannya juga bukan Emylier biasa, jika dibiarkan situasinya bisa semakin buruk." Kata Darkos dalam fikirannya.


Darkos mencoba mencari solusi terbaik untuk menyelesaikan masalah ini.


“Jika kalian benar-benar ingin menyelesaikan masalah ini dengan pertarungan, maka selesaikan dengan pertarungan yang adil!” kata Darkos.


“Apa maksudmu ...?” Harunio tidak mengerti dengan apa yang ia bicarakan.


“Tentu saja, berlatih tanding satu lawan satu. Bagaiman menurut hadirin sekalian? Aku akan memastikan keamanan kedua peserta sebagaimana tugasku sebagai Agen Conqueron.” Kata Darkos.


“Jika hanya berlatih tanding pasti tidak apa-apa.”


“Sepertinya menarik!”


“Agen Conqueron juga ada, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”


Para pengunjung terlihat menyutujui Darkos.


“Boleh juga!” kata Harunio.


“Baiklah, menurutku itu lebih baik.” Kata Phinyx.


“Kalau begitu! Saatnya tirai utama dibuka!” kata Darkos.


“Hei, sudahlah. Hentikan candaanmu itu ...” kata Harunio.