Dimension - Y

Dimension - Y
Arc 1 - Invitation



Harunio berbaring di kamarnya sambil memeriksa Friend List De Ordernya.


“Hai, Miho. Kau masih bangun?” Harunio membuka panel chat pribadi dengan Miho.


Harunio menunggu Miho membalasnya selama beberapa menit, tetapi belum ada pesan masuk.


“Sial ... kenapa jantungku berdebar kencang ...” kata Harunio.


Meski tidak bertemu secara langsung, Harunio masih merasa canggung. Tiba-tiba ada sebuah pesan masuk.


“Akhirnya!” Harunio langsung membuka pesan itu.


Teo : “Jam kerja yang baru sudah aku dapatkan, pastikan kau tidak terlambat. 1 file dilampirkan.”


“Ya ampun, ternyata dari Teo. Mengejutkan saja.” Kata Harunio.


Harunio : "Baiklah."


Lalu sebuah pesan masuk lagi, dan Harunio langsung memeriksanya.


Yudai : “Bagaimana hari pertamamu?”


“Aku kira siapa ..." kata Harunio.


Harunio : "Ya, semua baik-baik saja. Tidak ada masalah.”


Yudai : “Syukurlah, bagaimana dengan makanan yang mereka berikan?”


Harunio : "Ya, setidaknya aku bisa bertahan hidup dengan itu.”


Yudai : “Nikmati saja sampai hutangmu lunas.”


Harunio : “Tunggu dulu, aku kira aku akan terus mendapat jatah makan selamanya.”


Yudai : “*Tentu saja tidak*! Setelah tabunganmu terisi, aku akan mencabut keringanan yang aku berikan.”


“Bukankah kau sendiri yang bilang –”


Yudai : “Jangan bercanda, kau kira anggaran yang ada di Conqueron hanya untuk menghidupimu?”


Yudai langsung membalas sebelum Harunio selesai mengetik.


Harunio : “Ya, sebenarnya tidak mungkin juga akan menjadi seperti itu. Ini adalah hari yang berat, aku ingin segera beristirahat sekarang.”


Yudai : “Ya, baiklah. Jangan bergadang terus, selamat malam.”


“Akhirnya selesai ...” kata Harunio.


Lalu sebuah pesan masuk lagi.


“Sial! Sekarang apa lagi ...?!” ternyata itu pesan dari Miho.


Miho : “Maaf baru membalas, tadi aku sedang mengurus beberapa dokumen. Tetapi sekarang sudah selesai. Ada apa, Harunio?”


“Akhirnya ...!" kata Harunio.


Harunio : "Ohh, kerja bagus, Miho.”


Miho : “Terima kasih! Kau juga baru mulai bekerja hari ini kan?”


Harunio : “Ya, benar. Aku rasa aku akan cepat menyesuaikan diri.”


Miho : “Syukurlah!”


Harunio : “Oh, ya. Tes terakhir ruang latihanku sudah selesai. Ini memang melebihi dugaanku, tetapi kau hanya akan mengetahuinya saat melihatnya secara langsung.”


Miho : “Wah! Aku jadi semakin penasaran!”


Harunio : “Jadi, kapan kau bisa kemari?”


Miho : “Maaf, beberapa hari ini kelas sedang sibuk. Aku akan memberitahumu jika aku sudah memiliki waktu luang.”


Harunio : “Begitu, ya. Kalau begitu, beritahu aku kapanpun kau memiliki waktu luang. Pintu rumahku selalu terbuka untukmu.”


Miho : “Hahaha! Kau benar-benar lucu, Harunio.”


Harunio : “Aku serius.”


Miho : “Baik, baik. Kapan-kapan aku akan mampir, kalau begitu selamat malam, Harunio.”


Harunio : “Ya, selamat malam!”


Akhir pembicaraan mereka meninggalkan bekas yang membuat Harunio merasa sangat senang.


- - -


Keesokan harinya di tempat kerja.


“Kau ini kenapa? Dari tadi terus menguap, perhatikan kemana arahmu menyapu!” Kata Teo.


“Maaf, sepertinya tadi malam aku terkena insomnia.” Kata Harunio.


“Pasti kau sedang bersemangat karena sesuatu.” Kata karyawan 1.


“Dasar, memangnya kau ini masih anak-anak yang terlalu bersemangat sampai lupa caranya tidur?” kata karyawan 2.


“Maaf saja, beginilah diriku ...” kata Harunio.


“Pastikan kau tepat waktu besok.” Kata Teo.


“Kenapa kau sangat khawatir?” tanya Harunio.


“Tentu saja aku khawatir, jika kinerjamu buruk aku juga akan terkena dampaknya!” kata Teo.


“Bagaimanapun juga Harunio yang lebih terancam.” Kata karyawan 2.


“M-memangnya ada apa ...?” Harunio sedikit panik.


“Tentu saja kau akan dipecat.” Kata karyawan 1.


“Apa?!” Harunio tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


“Jika kau mengerti jangan membuat kesalahan lagi!” kata Teo.


“Baiklah ...” kata Harunio.


Lalu beberapa pelanggan memasuki restoran.


“Oh, ada pelanggan.” Karyawan 1 langsung pergi.


“Baiklah, saatnya bekerja!” kata Karyawan 2 lalu pergi.


“Cepat selesaikan!” kata Teo.


“Baik, baik ... Ngomong-ngomong, kau tahu tentang taman Luvana?” tanya Harunio.


“Kenapa kau menanyakan hal itu?” tanya Teo.


“Hanya penasaran.” Jawab Harunio.


“Tidak banyak yang aku ketahui, hanya saja sebelum matahari terbenam tempat itu harus segera ditutup.” Kata Teo.


“Memangnya ada apa?” tanya Harunio.


“Aku sudah bilang jika aku tidak tahu kan?! Aku akui jika tempat itu memang indah.” Kata Teo.


“Begitu rupanya ... Kapan terakhir kali kau kesana?” tanya Harunio.


“Sehari sebelum ujian kelulusan, aku pergi ke sana bersama adik perempuanku untuk menenangkan fikiran.” Kata Teo.


“Aku kira dengan Partnermu.” Kata Harunio.


“Saat itu aku belum punya.” Kata Teo.


“Kalau sekarang?” tanya Harunio.


“Masih belum.” Kata Teo dengan spontan.


“Sama saja dengan dirimu yang dulu ...” kata Harunio.


“Tetapi tidak lama lagi masa-masa itu akan berakhir.” Kata Teo.


“Huh? Apa maksudmu?” tanya Harunio.


“Aku ingin mengutarakan perasaanku kepada seseorang yang aku sukai di taman Luvana dan menjadikannya sebagai Partnerku.” Kata Teo.


“Heheh! Berani juga kau memberitahuku rencanamu!” kata Harunio.


“Memangnya kenapa? Apa kau juga salah satu anggota dari 4-Lone?!” tanya Teo.


“Haha! Apa itu?” tanya Harunio.


“Oh, maksudmu kelompok unik itu!” kata Harunio.


“Unik katamu ...” kata Teo.


“Dulu aku pernah ikut dalam aksi mereka, memang konyol tetapi harus aku akui itu menyenangkan!” kata Harunio.


“Akhirnya kau mengakui jika salah satu dari mereka.” Kata Teo.


“Kapan aku pernah bilang jika aku salah satu dari mereka?!” Harunio sedikit tersinggung.


“Kau sendiri yang bilang pernah ikut.” Kata Teo.


“Ya, hanya sekali itu saja. Lalu aku pergi, setelah itu aku juga masuk dalam daftar musuh mereka, haha!” kata Harunio.


“Aku tidak terlalu terkejut jika berakhir seperti itu.” Kata Teo.


“Jadi, kapan kau lakukan?” tanya Harunio.


“Apanya?” Teo berbalik tanya.


“Bukankah kau ingin jujur pada perasaanmu?” kata Harunio.


“Oh, itu. Rencananya hari sabtu besok.” Kata Teo.


“Kau rela mengorbankan waktumu bekerja hanya untuk mengutarkannya?!” Harunio terlihat kagum.


“Tentu saja tidak, jam kerja hari sabtu memang lebih singkat.” Kata Teo.


“Begitu rupanya ...” kata Harunio.


“Kau pasti tidak melihat jadwal yang aku berikan!” kata Teo.


“Ahahaha ...! Maaf, aku lupa!” kata Harunio.


“Jangan hanya bicara, cepat selesaikan!” kata karyawan lain.


“Baik!” jawab mereka berdua.


“Ngomong-ngomong, sepertinya aku juga ingin melakukan hal yang sama.” Kata Harunio.


“Huh? Apanya?” tanya Teo.


“Mengungkapkan perasaanku di tempat itu.” Kata Harunio.


“Meniru kegiatanku di hari dan tempat yang sama ... dasar tidak kreatif. Ini tidak akan lucu jika kau menyatakannya kepada gadis yang sama.” Kata Teo.


“Hahaha! Itu kebetulan yang luar biasa!” kata Harunio.


Lalu mereka melanjutkan pekerjaannya.


- - -


Sementara itu di Headquarters, Yudai sedang berbicara dengan Emylier laki-laki yang merupakan salah satu agen dari Yumiho melalui video call.


“Masih belum ada perkembangan, ya ...” kata Yudai.


“Sayangnya begitu, tanpa petunjuk apapun kita tidak bisa mengetahui motif dibalik kasus ini.” Kata agen Yumiho.


“Untuk saat ini, kalian lanjutkan saja penyelidikannya.” Kata Yudai.


“Baik, sesuai perintah anda.”


“Jika kau membutuhkan bantuan segera hubungi kami, aku menantikan informasi selanjutnya.” Kata Yudai.


“Baik, saya mengerti.”


Dan itu mengakhiri pembicaraan mereka.


“Kasus pembunuhan berencana, ya ...” Kata Darkos.


“Ya, mungkin saja seperti itu. Tetapi kita tidak boleh mengambil tindakan tanpa fikir panjang.” Kata Yudai.


“Selain itu, aku rasa kita juga tidak bisa mengandalkan para Yumiho untuk melakukan penyelidikan.” Kata Darkos.


“Saat ini kita serahkan saja kepada mereka.” Kata Yudai.


“Cepat atau lambat kita juga harus bertindak.” Kata Darkos.


“Jika rencanamu berjalan lancar, kita bisa memanfaatkan Harunio.” Kata Yudai.


“Hoi, jangan bercanda ...!” kata Darkos.


“Kita jadikan itu sebagai rencana cadangan, setidaknya kita butuh satu bukti saja jika Yumiho juga terlibat dalam kasus ini.” Kata Yudai.


“Hmph, secara tidak langsung kita sudah mencurigai mereka.” Kata Darkos.


“Kita tidak punya pilihan lain.” Kata Yudai.


“Lalu, perintahmu?” tanya Darkos.


“Untuk saat ini kita butuh informasi, kau lanjutkan saja rencanamu.” Kata Yudai.


“Baiklah, sesuai perintah anda.” Kata Darkos.


Peristiwa ini menuntut Yudai membuat rencana besarnya yang lain.


- - -


Setelah Harunio pulang dari tempat kerja, dia langsung menulis pesan kepada Miho.


Harunio : “Miho, kau sedang sibuk?”


Miho : “Untuk saat ini tidak.”


“Aku kira akan memakan waktu seperti kemarin." kata Harunio.


Harunio : “Bisakah aku menanyakan sesuatu?”


Miho : “Tentu saja.”


Harunio : “Apakah besok sabtu kau sibuk?”


Miho : “Oh, ya. Aku bisa mencoba ruang latihanmu besok sabtu.”


Harunio : “Jadi, besok sabtu kau punya waktu luang?”


Miho : “Ya, begitulah.”


Harunio : “Aku tahu ini mendadak, tetapi bisakah kita kembali ke taman Luvana?”


Miho : “Memangnya ada apa? Apakah Darkos-san ingin kita melanjutkan penyelidikan?”


Harunio : “Ada yang ingin aku pastikan, tepatnya di ujung jalan batu yang mengarah ke danau itu.”


Miho : “Apa kau menemukan sesuatu?”


Harunio : “Untuk saat ini aku masih belum mengetahuinya, karena itu bisakah kau ikut bersamaku?”


Miho : “Baiklah, aku akan pergi bersamamu.”


Harunio : “Benarkah?”


Harunio mulai merasakan efek Heavently Lock.


Miho : “Iya, benar.”


Harunio : “Terima kasih banyak, Miho!!”


Harunio benar-benar merasa senang.


Miho : “Ya, sama-sama. Kebetulan juga aku ada janji dengan seseorang di sana.”


Harunio : “Eh? Apakah ini tidak apa-apa jika kau juga pergi bersamaku disaat yang sama?”


Miho : “Aku rasa tidak apa-apa.”


Harunio : “Kalau boleh tahu, ada perlu apa?”


Miho : “Ini rahasia~”


Harunio : “Haha! Sepertinya aku tidak akan pernah tahu jika ini sudah menjadi rahasia perempuan.”


Miho : “Uhuhu! Sepertinya begitu, ya!”


Harunio : “Kalau begitu, sampai jumpa hari sabtu.”


Miho : “Ya, sampai jumpa hari sabtu!”


“YOSHAA!!!” Harunio merasa sangat bersemangat.